Share

Janah?

Author: Syamwiek
last update publish date: 2026-10-13 10:15:21

“Em, Pak … eh, Bapak Raksa mau minum kopi?” tanya Arunika dengan perasaan takut.

Namun, dia memaksakan langkahnya mendekati kitchen island yang berantakan. Dengan cepat, dia membersihkan tumpahan kopi, lalu menatap Raksa yang masih memunggunginya. “Bapak …” panggilnya lagi.

Raksa menoleh. Mata elangnya menatap tajam ke arah ART barunya. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya, hanya tatapan datar seperti tembok.

“Buatkan saya kopi,” ujarnya.

“Iya, Bapak.”

Sebenarnya, Raksa terganggu dengan panggilan Bapak. Dia memang seorang duda, tapi rasanya dirinya belum setua itu sampai harus dipanggil Bapak.

Lantas, tangannya menunjuk mesin kopi. “Kamu bisa memakai alat ini?”

Melihat asal-usul gadis di depannya, Raksa sangat meragukan kemampuan Arunika dalam menggunakan mesin tersebut. Pasalnya, dia sendiri juga tidak tahu cara menggunakan alat itu. “Kalau tidak bisa, buang saja!” perintahnya.

“Eh ….”

Arunika tersentak kaget. Kepalanya refleks menunduk saat Raksa berjalan mendekatinya, lalu melewatinya begitu saja. Pria itu hanya meninggalkan aroma citrus yang entah bagaimana membuat kepalanya sedikit pening.

Seketika, Arunika membuang nafas yang sejak tadi ditahannya. Tangannya mengelus dada. Dalam hati, dia berdoa agar hari pertama kerjanya berjalan lancar tanpa hambatan.

Takut dimarahi, Arunika pun bergegas membuatkan kopi untuk Raksa. Kalau soal meracik kopi, dia ahlinya. Bedanya, mesin yang biasa digunakannya tidak secanggih milik majikannya.

Beberapa saat kemudian, kopi itu pun jadi. Arunika segera membawanya ke ruang kerja Raksa.

Tok … tok …

Pintu diketuk selembut mungkin. Kalau bisa lebih lembut lagi, mungkin itulah yang akan dipilih Arunika.

“Masuk ….” Suara bariton itu membuat bulu kuduk Arunika kembali meremang.

Sebelum masuk, dia lebih dulu menarik nafas panjang, mengisi paru-parunya dengan oksigen untuk berjaga-jaga kalau nanti dirinya lupa cara mengatur nafas saat berada di dalam.

Pintu pun terbuka perlahan. Kedua mata Arunika kembali dimanjakan oleh interior yang sangat mewah. Untuk ukuran ruang kerja di rumah, ruangan Raksa bahkan mengalahkan kantor kepala Desa Karangwening yang baru direnovasi.

“Kopinya, Bapak.”

Arunika meletakkan gelas di atas meja Raksa tanpa berani menatap wajah si empunya ruangan.

Raksa memperhatikan kopi buatan ART-nya. Rahangnya seketika mengeras.

“Kamu membuatkan saya kopi susu? Serius?”

Lalu harus membuat apa? Arunika bahkan tidak tahu kopi kesukaan majikannya. Terlebih lagi, Raka tadi tidak memberitahunya.

Ah, Arunika baru saja melakukan kesalahan. Teledor sekali! Seharusnya tadi dia menanyakan jenis kopi yang diinginkan Raksa sebelum membuatnya.

“Saya minta maaf, Bapak Raksa.” Suaranya begitu lembut hingga membuat pria garang di hadapannya kesulitan mengeluarkan bentakan. “Harusnya tadi saya tanya dulu, ya, tapi saya lupa.”

Raksa mendengkus. Dia sama sekali tidak berniat menyentuh gelas itu. “Buang, lalu ganti dengan Americano.”

“Iya, Bapak,” jawab Arunika sambil mengambil kembali gelas yang baru saja diletakkannya. “Sekali lagi saya minta maaf.”

Uap mengepul dari gelas, menari-nari sebelum masuk ke dalam hidung Raksa. Seketika, pria itu memejamkan mata, menghirup aroma yang entah bagaimana membuatnya merasa rileks.

Sejak kapan Raksa bisa merasa rileks hanya dengan mencium aroma kopi? Bahkan, kopi itu bukanlah kopi kesukaannya.

“Tunggu, Janah …,” ujarnya.

Arunika yang sudah bersiap membalikkan badan mengurungkan niatnya. Dia tetap berdiri di tempat, sementara keningnya mengernyit.

Siapa Janah?

Namanya Renjana Arunika. Dia biasa dipanggil Arunika, Arun, atau Run.

“Taruh kembali kopinya,” titah Raksa.

Dengan patuh, Arunika meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja. Dia bahkan memaksakan senyum manis sebelum berkata, “Bapak salah panggil nama saya,” adunya. Suaranya terdengar seperti rengekan di telinga Raksa. “Jangan Janah dong, Bapak. Panggilnya Arun aja.”

Raksa mengangkat sebelah alis. “Suka-suka saya. Kamu berani mengatur saya?”

Tentu saja tidak berani. Arunika tak mungkin rela kehilangan pekerjaannya pada hari pertama hanya gara-gara mempermasalahkan panggilan.

“Ya udah, deh, Pak. Janah juga bagus, kok,” sahutnya pasrah.

“Keluar!” usir Raksa.

Terus, kopi susunya bagaimana? Katanya tadi disuruh membuang, tetapi sekarang malah disuruh meninggalkannya. Arunika benar-benar dilema. Dia harus bertanya atau pergi saja?

Setelah menimbang-nimbang, dia memilih pergi. Toh, Raksa tidak memintanya membuat kopi lagi.

Sesampainya di luar, nafas Arunika terengah-engah, seolah-olah dia baru saja berjalan puluhan kilometer. Jantungnya tadi seperti berhenti sesaat. Untungnya, masih berdetak lagi.

Dia pun bergegas ke dapur untuk mengambil air dingin, lalu menyiapkan bahan-bahan masakan untuk makan malam. Pasalnya, Raka baru saja mengirim pesan yang mengatakan bahwa Raksa akan makan malam lebih awal sebelum berangkat ke luar negeri.

Akan tetapi, saat berdiri di depan lemari es dan menatap semua bahan makanan mahal di dalamnya, bibir Arunika mengerucut. Bahkan, kedua alisnya sampai menukik.

Arunika kembali membuka ponselnya, membaca ulang pesan yang dikirim Raka. Lalu, dia mengeja menu-menu itu dengan terbata-bata.

“Fettuccine Alfredo dengan ayam panggang, bruschetta al pomodoro, panna cotta.” Keningnya semakin berkerut. “Ini pomodoro bukannya nama perumahan, ya?” gumamnya polos.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Nurril Kyojin
hahahahaha.... bisa2 nya loo raksa panggil arun, jannah
goodnovel comment avatar
Iin Iin
raksa lama2 akan terbiasa entr dgn kopi dan mknan yg di buat olh arun, mknan rumahan yg sesungguhnya
goodnovel comment avatar
Wulan Ruslan
Jgn hilang
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Luka yang Bernama Cinta   Tak Sengaja Melihat

    Menu makan malam telah tersaji di atas meja. Semuanya terlihat cantik sekaligus lezat. Raksa bahkan sudah duduk di meja makan sebelum Arunika selesai memasak.Pria itu tidak memberikan alasan, dan Arunika juga tidak berani bertanya. Selain takut pada wajah sang majikan yang menyeramkan sekaligus tampan, dia juga harus fokus membuat hidangan dengan nama-nama yang membuat lidahnya belibet jika harus mengucapkannya.Begitu juga dengan Raka. Pria itu sudah datang karena akan ikut business trip bersama bosnya. Dia menatap takjub hasil karya Arunika.“Aku nggak nyangka kamu bisa membuat semua masakan yang diminta Pak Raksa, Run,” ujar Raka. “Padahal tadi kamu bilang belum pernah melihat makanan itu. Kok bisa membuatnya?”Mendengar ucapan sang asisten, sebelah alis Raksa langsung terangkat. Kalau Arunika belum pernah melihat hidangan itu, berarti dia juga tidak tahu seperti apa rasanya. Lalu… “Kamu bikinnya ngawur?” tanyanya tanpa basa-basi.Arunika mengerucutkan bibir. “Bapak belum mencoban

  • Luka yang Bernama Cinta   Janah?

    “Em, Pak … eh, Bapak Raksa mau minum kopi?” tanya Arunika dengan perasaan takut.Namun, dia memaksakan langkahnya mendekati kitchen island yang berantakan. Dengan cepat, dia membersihkan tumpahan kopi, lalu menatap Raksa yang masih memunggunginya. “Bapak …” panggilnya lagi.Raksa menoleh. Mata elangnya menatap tajam ke arah ART barunya. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya, hanya tatapan datar seperti tembok.“Buatkan saya kopi,” ujarnya.“Iya, Bapak.”Sebenarnya, Raksa terganggu dengan panggilan Bapak. Dia memang seorang duda, tapi rasanya dirinya belum setua itu sampai harus dipanggil Bapak.Lantas, tangannya menunjuk mesin kopi. “Kamu bisa memakai alat ini?”Melihat asal-usul gadis di depannya, Raksa sangat meragukan kemampuan Arunika dalam menggunakan mesin tersebut. Pasalnya, dia sendiri juga tidak tahu cara menggunakan alat itu. “Kalau tidak bisa, buang saja!” perintahnya.“Eh ….”Arunika tersentak kaget. Kepalanya refleks menunduk saat Raksa berjalan mendekatinya, lalu melewati

  • Luka yang Bernama Cinta   Umpatan di Dapur

    Seminggu tinggal di Jakarta membuat Arunika perlahan mulai terbiasa dengan hiruk-pikuk kota besar. Suara kendaraan, klakson, dan keramaian yang awalnya membuat kepalanya pusing kini sudah tidak terlalu mengganggunya.Hari ini, Arunika siap memulai kehidupan barunya.Dia sudah berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tepat di depan Ardhana Private Residence, sebuah apartemen eksklusif yang hanya dihuni kalangan tertentu. Gedungnya menjulang tinggi dengan lobby mewah, sistem keamanan ketat, dan akses khusus menuju penthouse.Lila mengantar Arunika sampai ke lobby. Gadis itu mendongak, menatap bangunan megah di hadapannya dengan perasaan gugup.Sulit dipercaya bahwa mulai hari ini, dia akan bekerja di tempat seperti ini. “Sebentar lagi asisten pribadi Tuan Raksa akan menjemputmu.” Lila menepuk pelan tangan sahabatnya. “Setiap akhir pekan kamu dapat jatah libur. Kalau bosan, hubungi saja aku. Nanti aku jemput dan kita keliling Jakarta.”“Iya. Nanti kalau aku sudah terbiasa dengan pekerj

  • Luka yang Bernama Cinta   Penthouse Sang Duda

    Bus yang ditumpangi Arunika akhirnya berhenti di salah satu terminal bayangan di Jakarta. Satu jam yang lalu, begitu terbangun, Arunika segera meraih ponselnya untuk memeriksa jam. Ternyata, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Lila. Arunika pun segera menghubunginya kembali dan memberitahukan bahwa dirinya tidak jadi naik kereta seperti rencana awal. Meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, Lila tetap datang menjemput. Bagaimanapun, Arunika baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dan belum mengetahui apapun tentang kota itu. Setelah mengambil tas dari bagasi bus, Arunika baru saja hendak beranjak ketika terdengar suara seseorang memanggilnya. “Arun...” Arunika menoleh. “Lila?” gumamnya ragu. Dia hampir tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Puluhan tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. “Ya ampun, kangen banget aku sama kamu!” Lila langsung menghampiri dan memeluk sahabatnya. “Jauh-jauh datang ke Jakarta malah bikin aku kaget. Makin cantik sa

  • Luka yang Bernama Cinta   Menuju Hidup Baru

    Raka sedang berbicara dengan kondektur bus antar kota jurusan Jakarta. Entah apa yang dibicarakan pria itu, Arunika tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Setelah beberapa saat, Raka kembali menghampirinya dan mengajak gadis itu mencari toilet.“Mau apa? Aku nggak pengen pipis.” Arunika takut jika Raka memiliki niat jahat padanya. Ditambah lagi suasana terminal bayangan ramai… penuh pria bertato.Raka kembali terkekeh. Mati-matian dia menahan rasa gemas melihat kepolosan sepupu temannya. Dia tidak berani menyentuh Arunika, hanya berjalan lebih dulu.“Ayo.” Dia tak menoleh, tau jika Arunika pasti menurut. Dengan perasaan sedikit takut, Arunika pun mengikuti Raka.Sesampainya di toilet umum, Raka menyerahkan sebuah paper bag pada Arunika. “Ganti pakaianmu dan keringkan rambut. Jangan sampai kamu masuk angin karena perjalananmu masih panjang.”Tanpa membantah, Arunika menerima paper bag itu, lalu segera masuk ke dalam toilet untuk berganti pakaian.Usai berganti pakaian, Arunika keluar

  • Luka yang Bernama Cinta   Terminal Bayangan

    Hujan mulai reda ketika Arunika dan Bagas akhirnya sampai di jalan besar. Jalan itu bukan jalan yang biasa digunakan warga desa untuk menunggu bus. Letaknya cukup jauh dari pemukiman dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas.Mereka sengaja memilih jalan itu karena jalan utama menuju desa kemungkinan sudah dijaga oleh anak buah Juragan Satrio.Bagas menghentikan motor di pinggir jalan.Arunika segera turun, lalu melepaskan jas hujan plastik yang sejak tadi melindungi tubuhnya. “Terima kasih ya, Gas.”Pakaiannya sedikit basah, tetapi rambut panjangnya tidak selamat dari guyuran hujan. Beberapa helai rambut menempel di wajahnya, sementara air masih menetes dari ujungnya.Bagas menatap Arunika sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke jalan yang masih sepi. “Kamu mau ke mana sekarang, Arun?”Arunika terdiam. Dia baru menyadari bahwa dirinya tidak memiliki tujuan yang jelas.“Aku sudah minta tolong sama temanku yang bekerja dengan orang Jakarta. Kebetulan, dia sedang mengantar bosnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status