LOGINSeminggu tinggal di Jakarta membuat Arunika perlahan mulai terbiasa dengan hiruk-pikuk kota besar. Suara kendaraan, klakson, dan keramaian yang awalnya membuat kepalanya pusing kini sudah tidak terlalu mengganggunya.
Hari ini, Arunika siap memulai kehidupan barunya. Dia sudah berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tepat di depan Ardhana Private Residence, sebuah apartemen eksklusif yang hanya dihuni kalangan tertentu. Gedungnya menjulang tinggi dengan lobby mewah, sistem keamanan ketat, dan akses khusus menuju penthouse. Lila mengantar Arunika sampai ke lobby. Gadis itu mendongak, menatap bangunan megah di hadapannya dengan perasaan gugup. Sulit dipercaya bahwa mulai hari ini, dia akan bekerja di tempat seperti ini. “Sebentar lagi asisten pribadi Tuan Raksa akan menjemputmu.” Lila menepuk pelan tangan sahabatnya. “Setiap akhir pekan kamu dapat jatah libur. Kalau bosan, hubungi saja aku. Nanti aku jemput dan kita keliling Jakarta.” “Iya. Nanti kalau aku sudah terbiasa dengan pekerjaan sebagai ART, aku bakal minta kamu temani jalan-jalan,” balas Arunika dengan ceria. Tak lama kemudian, seorang pria menghampiri mereka. “Hai, ketemu lagi kita...” sapanya pada Arunika. “Ternyata cukup berjodoh, ya, kita.” Lila mengernyit bingung. Bagaimana bisa sahabatnya sudah mengenal Raka Wisesa, asisten pribadi Ardhana Raksa? Begitu pula dengan Arunika. Dia tidak menyangka akan kembali bertemu dengan pria yang memberinya tumpangan saat dirinya melarikan diri dari desa. “Hei.” Raka mengangkat tangan dan menggerakkannya di depan wajah Arunika dan Lila yang sedang melamun. “Kalian malah nge-freeze. Aku serem, ya?” Lila segera menggeleng. “Maaf, Pak Raka. Saya kaget Bapak sudah kenal sama sahabat saya.” “Ah, itu. Aku yang memberikan dia tumpangan dari desa sampai kota,” jelas Raka. “Dan satu lagi, panggil aku Mas saja, jangan Pak. Begitu juga kamu, Arun.” Refleks, Arunika mengangguk. “Iya, Mas.” Lagi pula, sejak pertama kali bertemu, dia sudah memanggilnya dengan sebutan Mas. Raka kemudian menatap Lila. “Aku bawa Arun masuk dulu, ya, Lil. Aku antar sampai ke penthouse Pak Raksa dan jelaskan beberapa hal sebelum mulai bekerja.” Lila mengangguk. “Iya, Mas. Aku pamit dulu." Lalu menatap sahabatnya. "Kalau ada apa-apa, kabari aku, Run.” “Iya, Lil. Hati-hati.” Setelah Lila pergi, Raka memberi isyarat pada Arunika untuk mengikutinya menuju lift khusus yang mengarah langsung ke penthouse Raksa. Sebelum masuk, dia menjelaskan cara menggunakan kartu akses yang diberikan kepadanya. “Tempelkan kartu ini di sini. Setelah itu, pilih lantai tujuan.” Arunika mengangguk dan memperhatikan dengan serius. “Lift ini hanya digunakan oleh Pak Raksa. Jadi, jangan sampai kartu aksesnya hilang.” “Iya, Mas.” Begitu pintu lift terbuka di lantai penthouse, Arunika kembali dibuat terpana. Ruangan luas dengan interior mewah terbentang di hadapannya. Lantai marmer yang mengkilap membuat Arunika merasa seperti sebutir debu yang takut meninggalkan noda. Langkahnya menjadi sangat hati-hati. Raka tersenyum kecil melihat tingkahnya, lalu mengajak Arunika menuju salah satu kamar. “Ini kamar kamu.” Arunika kembali terkejut. Dia sempat mengira kamar ART hanya akan berupa ruangan kecil dan sederhana. Namun, kamar yang diberikan untuknya jauh lebih bagus daripada kamarnya di kampung. “Ganti pakaianmu dengan seragam kerja. Seragam khusus ART keluarga Pak Raksa sudah ada di dalam lemari.” Arunika mengangguk. “Aku tunggu di luar. Kalau sudah selesai, keluar saja.” Raka meninggalkan kamar ART dan berjalan menuju ruang kerja bosnya. Setelah mengetuk pintu, dia masuk dan mendapati Raksa sedang sibuk di depan laptop. “Pak, Arunika sudah sampai.” Raksa mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Ajari dia bekerja dengan benar. Saya tidak suka rumah kotor atau berantakan. Pastikan semuanya sudah rapi ketika saya pulang.” “Baik, Pak.” “Untuk makanan juga sama. Saya tidak suka terlalu sering makan makanan dari luar. Saya lebih suka masakan rumahan. Jadi, minta dia menyiapkan sarapan dan makan malam.” Raka mengangguk memahami semua pesanannya. “Baik, Pak. Akan Saya jelaskan semuanya pada Arunika.” Raka kemudian keluar dari ruang kerja Raksa dan berjalan menuju dapur. Tepat saat itu, Arunika sudah berada di sana dengan pakaian kerjanya. Seragam itu membuat penampilannya terlihat cantik sekaligus manis. Raka sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menghampirinya. “Aku sudah siap bekerja, Mas,” kata Arunika. Raka mengangguk. Dia kemudian menjelaskan semua yang tadi disampaikan Raksa. “Pak Raksa paling nggak suka tempat kotor dan berantakan. Jadi, semua harus sudah rapi sebelum beliau pulang.” Arunika mengangguk sambil memperhatikan. Setelah itu, Raka mengajarinya cara menggunakan kompor listrik dan berbagai peralatan dapur yang tersedia. Beberapa alat bahkan belum pernah Arunika lihat sebelumnya, sehingga Raka harus menjelaskan cara penggunaannya satu per satu. Dari dapur, Raka kemudian mengajak Arunika melihat ruang laundry dan ruang penyimpanan alat-alat kebersihan. Dia kembali menjelaskan cara menggunakan beberapa peralatan canggih yang tersedia di sana agar Arunika tidak bingung saat bekerja. Setelah itu, mereka kembali ke dapur. Raka membuka pintu lemari es yang dipenuhi berbagai macam bahan makanan. “Pak Raksa lebih suka makanan rumahan. Beliau nggak punya alergi makanan apa pun, tapi nggak suka makanan yang nggak sehat, seperti junk food dan mie instan.” Arunika mengangguk pelan. “Berarti saya harus memasak setiap hari?” “Iya. Sarapan dan makan malam. Untuk makan siang, Pak Raksa biasanya makan di luar atau di kantor.” Arunika merasa pekerjaan yang akan dijalaninya tidak terlalu sulit. Sejak kecil, dia sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, mulai dari memasak, mencuci, hingga membersihkan rumah. Bedanya, rumah yang dulu ditempatinya jauh lebih sederhana. Peralatan yang digunakan juga tidak secanggih milik Raksa. Karena itu, Arunika hanya perlu menyesuaikan diri dengan berbagai peralatan modern yang ada di penthouse tersebut. “Kamu mulai bersih-bersih saja dulu. Tadi, Pak Raksa sudah sarapan di rumah orang tuanya,” kata Raka. “Siap, Mas.” Arunika terlihat sangat bersemangat. Sebelum meninggalkan Arunika, Raka meminta gadis itu menyimpan nomor ponselnya. “Kalau ada yang nggak kamu mengerti, langsung hubungi aku saja. Jangan sampai salah menggunakan peralatan di sini.” Arunika mengangguk. “Iya, Mas. Terima kasih.” Hari pertama bekerja pun dimulai. Arunika menyapu dan mengepel seluruh bagian penthouse, mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, hingga ruang gym. Setelah itu, dia membersihkan tiga kamar yang ada di penthouse sebelum melanjutkan pekerjaannya dengan menyetrika pakaian. Tanpa terasa, hari sudah beranjak siang. Arunika kembali ke dapur untuk beristirahat sejenak. Namun, langkahnya langsung terhenti ketika melihat kitchen island yang berantakan. Serbuk kopi berserakan di atasnya. Bukan hanya itu, terdengar suara seseorang mengumpat kasar dari arah mesin kopi. “Brengsek!” Suara pukulan terdengar ketika tangan seseorang menghantam mesin kopi. Arunika sontak terdiam. Tatapannya tertuju pada sumber suara dengan wajah bingung sekaligus ketakutan.Menu makan malam telah tersaji di atas meja. Semuanya terlihat cantik sekaligus lezat. Raksa bahkan sudah duduk di meja makan sebelum Arunika selesai memasak.Pria itu tidak memberikan alasan, dan Arunika juga tidak berani bertanya. Selain takut pada wajah sang majikan yang menyeramkan sekaligus tampan, dia juga harus fokus membuat hidangan dengan nama-nama yang membuat lidahnya belibet jika harus mengucapkannya.Begitu juga dengan Raka. Pria itu sudah datang karena akan ikut business trip bersama bosnya. Dia menatap takjub hasil karya Arunika.“Aku nggak nyangka kamu bisa membuat semua masakan yang diminta Pak Raksa, Run,” ujar Raka. “Padahal tadi kamu bilang belum pernah melihat makanan itu. Kok bisa membuatnya?”Mendengar ucapan sang asisten, sebelah alis Raksa langsung terangkat. Kalau Arunika belum pernah melihat hidangan itu, berarti dia juga tidak tahu seperti apa rasanya. Lalu… “Kamu bikinnya ngawur?” tanyanya tanpa basa-basi.Arunika mengerucutkan bibir. “Bapak belum mencoban
“Em, Pak … eh, Bapak Raksa mau minum kopi?” tanya Arunika dengan perasaan takut.Namun, dia memaksakan langkahnya mendekati kitchen island yang berantakan. Dengan cepat, dia membersihkan tumpahan kopi, lalu menatap Raksa yang masih memunggunginya. “Bapak …” panggilnya lagi.Raksa menoleh. Mata elangnya menatap tajam ke arah ART barunya. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya, hanya tatapan datar seperti tembok.“Buatkan saya kopi,” ujarnya.“Iya, Bapak.”Sebenarnya, Raksa terganggu dengan panggilan Bapak. Dia memang seorang duda, tapi rasanya dirinya belum setua itu sampai harus dipanggil Bapak.Lantas, tangannya menunjuk mesin kopi. “Kamu bisa memakai alat ini?”Melihat asal-usul gadis di depannya, Raksa sangat meragukan kemampuan Arunika dalam menggunakan mesin tersebut. Pasalnya, dia sendiri juga tidak tahu cara menggunakan alat itu. “Kalau tidak bisa, buang saja!” perintahnya.“Eh ….”Arunika tersentak kaget. Kepalanya refleks menunduk saat Raksa berjalan mendekatinya, lalu melewati
Seminggu tinggal di Jakarta membuat Arunika perlahan mulai terbiasa dengan hiruk-pikuk kota besar. Suara kendaraan, klakson, dan keramaian yang awalnya membuat kepalanya pusing kini sudah tidak terlalu mengganggunya.Hari ini, Arunika siap memulai kehidupan barunya.Dia sudah berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tepat di depan Ardhana Private Residence, sebuah apartemen eksklusif yang hanya dihuni kalangan tertentu. Gedungnya menjulang tinggi dengan lobby mewah, sistem keamanan ketat, dan akses khusus menuju penthouse.Lila mengantar Arunika sampai ke lobby. Gadis itu mendongak, menatap bangunan megah di hadapannya dengan perasaan gugup.Sulit dipercaya bahwa mulai hari ini, dia akan bekerja di tempat seperti ini. “Sebentar lagi asisten pribadi Tuan Raksa akan menjemputmu.” Lila menepuk pelan tangan sahabatnya. “Setiap akhir pekan kamu dapat jatah libur. Kalau bosan, hubungi saja aku. Nanti aku jemput dan kita keliling Jakarta.”“Iya. Nanti kalau aku sudah terbiasa dengan pekerj
Bus yang ditumpangi Arunika akhirnya berhenti di salah satu terminal bayangan di Jakarta. Satu jam yang lalu, begitu terbangun, Arunika segera meraih ponselnya untuk memeriksa jam. Ternyata, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Lila. Arunika pun segera menghubunginya kembali dan memberitahukan bahwa dirinya tidak jadi naik kereta seperti rencana awal. Meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, Lila tetap datang menjemput. Bagaimanapun, Arunika baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dan belum mengetahui apapun tentang kota itu. Setelah mengambil tas dari bagasi bus, Arunika baru saja hendak beranjak ketika terdengar suara seseorang memanggilnya. “Arun...” Arunika menoleh. “Lila?” gumamnya ragu. Dia hampir tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Puluhan tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. “Ya ampun, kangen banget aku sama kamu!” Lila langsung menghampiri dan memeluk sahabatnya. “Jauh-jauh datang ke Jakarta malah bikin aku kaget. Makin cantik sa
Raka sedang berbicara dengan kondektur bus antar kota jurusan Jakarta. Entah apa yang dibicarakan pria itu, Arunika tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Setelah beberapa saat, Raka kembali menghampirinya dan mengajak gadis itu mencari toilet.“Mau apa? Aku nggak pengen pipis.” Arunika takut jika Raka memiliki niat jahat padanya. Ditambah lagi suasana terminal bayangan ramai… penuh pria bertato.Raka kembali terkekeh. Mati-matian dia menahan rasa gemas melihat kepolosan sepupu temannya. Dia tidak berani menyentuh Arunika, hanya berjalan lebih dulu.“Ayo.” Dia tak menoleh, tau jika Arunika pasti menurut. Dengan perasaan sedikit takut, Arunika pun mengikuti Raka.Sesampainya di toilet umum, Raka menyerahkan sebuah paper bag pada Arunika. “Ganti pakaianmu dan keringkan rambut. Jangan sampai kamu masuk angin karena perjalananmu masih panjang.”Tanpa membantah, Arunika menerima paper bag itu, lalu segera masuk ke dalam toilet untuk berganti pakaian.Usai berganti pakaian, Arunika keluar
Hujan mulai reda ketika Arunika dan Bagas akhirnya sampai di jalan besar. Jalan itu bukan jalan yang biasa digunakan warga desa untuk menunggu bus. Letaknya cukup jauh dari pemukiman dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas.Mereka sengaja memilih jalan itu karena jalan utama menuju desa kemungkinan sudah dijaga oleh anak buah Juragan Satrio.Bagas menghentikan motor di pinggir jalan.Arunika segera turun, lalu melepaskan jas hujan plastik yang sejak tadi melindungi tubuhnya. “Terima kasih ya, Gas.”Pakaiannya sedikit basah, tetapi rambut panjangnya tidak selamat dari guyuran hujan. Beberapa helai rambut menempel di wajahnya, sementara air masih menetes dari ujungnya.Bagas menatap Arunika sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke jalan yang masih sepi. “Kamu mau ke mana sekarang, Arun?”Arunika terdiam. Dia baru menyadari bahwa dirinya tidak memiliki tujuan yang jelas.“Aku sudah minta tolong sama temanku yang bekerja dengan orang Jakarta. Kebetulan, dia sedang mengantar bosnya







