Share

Sebuah Foto

Author: Syamwiek
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-14 15:28:03

Raksa akhirnya tiba di Jakarta setelah menyelesaikan urusan bisnisnya di luar negeri. Namun, alih-alih pulang ke penthouse, pria itu langsung menuju kantor dan memutuskan untuk bermalam di sana. Ada beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan, terlebih setelah tiga hari meninggalkan perusahaan.

Begitu juga dengan Raka. Dia selalu setia mendampingi bosnya ke mana pun pergi. Bahkan, selama perjalanan bisnis, dia hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat karena jadwal Raksa yang begitu
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (5)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
jgn menuduh arun tanpa bukti ya pak raksa. entr kamu nyesal lho
goodnovel comment avatar
Iin Iin
aq curiga sama Delon.
goodnovel comment avatar
Wulan Ruslan
Heyyy aku kira masih ada bab nya kan jadi kesel nya gantung
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Luka yang Bernama Cinta   Fitnah Keji

    “Siapa yang menyuruhmu mengambil foto itu, ha?!”Tangan Raksa mencengkeram leher Arunika hingga gadis itu terpaksa mendongak menatapnya.“Sa-saya nggak tahu foto apa yang Bapak maksud!” sahut Arunika dengan suara tercekat.“Masih berani berbohong di hadapan saya?!”“Pak, saya benar-benar nggak tahu!” Cairan bening pun mulai mengalir dari kedua mata Arunika. “Bapak bisa jelaskan, foto apa itu? Saya pasti akan menjawabnya dengan jujur,” lanjutnya dengan suara bergetar. Raksa semakin mengeratkan cengkramannya. Arunika berusaha melepaskan tangan pria itu, tapi tenaganya sama sekali tak sebanding dengan Raksa.“Jangan pura-pura bodoh, Arunika!”Tubuh Arunika terdorong ke belakang hingga punggungnya menghantam meja makan. Beberapa peralatan makan bergeser, bahkan sebuah sendok jatuh ke lantai dengan suara nyaring.“Awww!” Arunika meringis kesakitan. Tangannya refleks mencengkram pergelangan tangan Raksa, berusaha menjauhkan pria itu dari dirinya. “Pak … sakit!” Air matanya semakin mengalir

  • Luka yang Bernama Cinta   Sebuah Foto

    Raksa akhirnya tiba di Jakarta setelah menyelesaikan urusan bisnisnya di luar negeri. Namun, alih-alih pulang ke penthouse, pria itu langsung menuju kantor dan memutuskan untuk bermalam di sana. Ada beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan, terlebih setelah tiga hari meninggalkan perusahaan.Begitu juga dengan Raka. Dia selalu setia mendampingi bosnya ke mana pun pergi. Bahkan, selama perjalanan bisnis, dia hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat karena jadwal Raksa yang begitu padat.Pagi harinya, Raksa kembali disibukkan dengan tumpukan dokumen yang harus diperiksa. Namun, saat hendak melanjutkan pekerjaannya, dia membutuhkan sebuah dokumen penting yang ternyata tertinggal di penthouse.Raka sempat memeriksa berkas-berkas yang dibawanya, berharap dokumen itu terselip di antara tumpukan lainnya. Sayangnya, setelah mencari beberapa kali, dokumen tersebut tetap tidak ditemukan.Waktu terus berjalan, sementara Raksa harus segera menggunakan dokumen itu untuk keperluan ra

  • Luka yang Bernama Cinta   Kabar baik dan Buruk

    Tak terasa tiga hari pun berlalu begitu cepat. Dalam waktu sesingkat itu, Arunika sudah mahir membuat banyak hidangan western yang biasa dimakan Raksa. Hanya saja, lidahnya belum lancar saat menyebut nama makanan itu. Selain itu, Arunika juga sudah menguasai soal belanja mingguan juga bulanan berkat asisten pribadi yang disiapkan oleh Raksa. Dan asisten itu sudah pamit karena tugasnya telah selesai. Hidupnya benar-benar berubah drastis. Dari yang sehari-hari penuh makian, bentakan, dan pukulan dari ibu tirinya, kini dia tak perlu merasakan semuanya lagi.Meski begitu, dia merasa kesepian. Biasanya, akan ada Bude Lastri dan Bude Sumi yang datang untuk melihat keadannya atau sekedar memberikan makanan untuknya. Ada juga Bagas yang sering mengajaknya jajan martabak setiap malam Minggu. Lamunan Arunika terganggu oleh nada dering ponselnya. Dia menatap ponsel yang bergetar di atas meja balkon. Nama Bagas tertera di layar, dia pun segera mengangkatnya.“Selamat malam, gadis Jakarta,” sap

  • Luka yang Bernama Cinta   Perkara Panggilan

    Pendingin ruangan di penthouse mewah milik Raksa tak mampu mengalahkan panasnya wajah Arunika yang kini sudah berubah warna menjadi merah merona bak kepiting rebus.Bagaimana tidak?Matanya yang suci, polos dan bahkan belum pernah sekalipun membayangkan bentuk benda besar nan panjang yang letaknya tersembunyi itu kini ternodai akibat kelakuan bos-nya sendiri. Memang sih Raksa berada di kamarnya, tapi setidaknya dia memakai handuk setelah mandi. Terlebih lagi dia memanggil Arunika untuk membantunya berkemas. Bayang-bayang benda itu bahkan kini masih terngiang-ngiang di kepala si gadis polos yang sedang menepuk-nepuk kedua pipinya… berharap kewarasannya segera kembali karena dia masih harus bekerja. “Janah!” Suara bariton itu membuat Arunika tersentak. Nafasnya tersengal karena dia belum sempat menarik nafas dengan benar. “Iya, Bapak…” Arunika bergegas kembali masuk ke dalam walk in closet. Dan kedua matanya kembali dinodai pemandangan dari Raksa. “Ih, Bapak kok belum pakai baju, s

  • Luka yang Bernama Cinta   Tak Sengaja Melihat

    Menu makan malam telah tersaji di atas meja. Semuanya terlihat cantik sekaligus lezat. Raksa bahkan sudah duduk di meja makan sebelum Arunika selesai memasak.Pria itu tidak memberikan alasan, dan Arunika juga tidak berani bertanya. Selain takut pada wajah sang majikan yang menyeramkan sekaligus tampan, dia juga harus fokus membuat hidangan dengan nama-nama yang membuat lidahnya belibet jika harus mengucapkannya.Begitu juga dengan Raka. Pria itu sudah datang karena akan ikut business trip bersama bosnya. Dia menatap takjub hasil karya Arunika.“Aku nggak nyangka kamu bisa membuat semua masakan yang diminta Pak Raksa, Run,” ujar Raka. “Padahal tadi kamu bilang belum pernah melihat makanan itu. Kok bisa membuatnya?”Mendengar ucapan sang asisten, sebelah alis Raksa langsung terangkat. Kalau Arunika belum pernah melihat hidangan itu, berarti dia juga tidak tahu seperti apa rasanya. Lalu… “Kamu bikinnya ngawur?” tanyanya tanpa basa-basi.Arunika mengerucutkan bibir. “Bapak belum mencoban

  • Luka yang Bernama Cinta   Janah?

    “Em, Pak … eh, Bapak Raksa mau minum kopi?” tanya Arunika dengan perasaan takut.Namun, dia memaksakan langkahnya mendekati kitchen island yang berantakan. Dengan cepat, dia membersihkan tumpahan kopi, lalu menatap Raksa yang masih memunggunginya. “Bapak …” panggilnya lagi.Raksa menoleh. Mata elangnya menatap tajam ke arah ART barunya. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya, hanya tatapan datar seperti tembok.“Buatkan saya kopi,” ujarnya.“Iya, Bapak.”Sebenarnya, Raksa terganggu dengan panggilan Bapak. Dia memang seorang duda, tapi rasanya dirinya belum setua itu sampai harus dipanggil Bapak.Lantas, tangannya menunjuk mesin kopi. “Kamu bisa memakai alat ini?”Melihat asal-usul gadis di depannya, Raksa sangat meragukan kemampuan Arunika dalam menggunakan mesin tersebut. Pasalnya, dia sendiri juga tidak tahu cara menggunakan alat itu. “Kalau tidak bisa, buang saja!” perintahnya.“Eh ….”Arunika tersentak kaget. Kepalanya refleks menunduk saat Raksa berjalan mendekatinya, lalu melewati

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status