Home / Romansa / Luka yang Bernama Cinta / Penthouse Sang Duda

Share

Penthouse Sang Duda

Author: Syamwiek
last update publish date: 2026-09-29 22:00:41

Bus yang ditumpangi Arunika akhirnya berhenti di salah satu terminal bayangan di Jakarta. Satu jam yang lalu, begitu terbangun, Arunika segera meraih ponselnya untuk memeriksa jam. Ternyata, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Lila.

Arunika pun segera menghubunginya kembali dan memberitahukan bahwa dirinya tidak jadi naik kereta seperti rencana awal.

Meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, Lila tetap datang menjemput. Bagaimanapun, Arunika baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dan belum mengetahui apapun tentang kota itu.

Setelah mengambil tas dari bagasi bus, Arunika baru saja hendak beranjak ketika terdengar suara seseorang memanggilnya.

“Arun...”

Arunika menoleh. “Lila?” gumamnya ragu. Dia hampir tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Puluhan tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu.

“Ya ampun, kangen banget aku sama kamu!” Lila langsung menghampiri dan memeluk sahabatnya. “Jauh-jauh datang ke Jakarta malah bikin aku kaget. Makin cantik saja kamu, Run.”

Lila mengajak Arunika mencari tempat duduk yang agak sepi di sekitar terminal. Dia ingin mendengar penjelasan mengenai alasan sahabatnya tiba-tiba datang ke Jakarta.

Begitu mereka duduk, Lila menatap Arunika penuh rasa penasaran.

“Ayo, sekarang cerita. Kenapa kamu tiba-tiba datang ke Jakarta?” tanya Lila. Dulu, saat masih tinggal di Desa Karangwening, dia tahu jika orangtua Arunika termasuk keluarga berada. Karena itu, tidak mungkin sahabatnya datang hanya untuk mencari pekerjaan.

Arunika mengangguk. Dia kemudian menceritakan semuanya tanpa mengurangi ataupun menambahkan apa pun. Mulai dari rencana perjodohan yang dibuat ibu tirinya, keinginan Juragan Satrio untuk menjadikannya istri siri, hingga keputusannya melarikan diri dari rumah.

Lila mendengarkan tanpa menyela. Semakin lama Arunika bercerita, semakin jelas rasa khawatir sekaligus kesal terlihat di wajahnya.

“Aku nggak punya pilihan lain, Lil, selain kabur.” Arunika mendesah pelan diakhir cerita.

“Kok bisa Tante Mulan berubah jadi sejahat itu, Run? Perasaan dulu ibu tirimu baik banget. Malahan beliau sampai dijuluki ibu peri, kan, ya.”

“Sebenarnya, dari dulu Ibu memang sudah begitu... jahat. Hanya saja, di depan Ayah dan orang lain, beliau selalu bersikap baik sama aku. Sampai semua orang mengira, Ibu tulus menyayangiku.”

“Ya ampun, Arun. Kenapa kamu nggak pernah cerita?” Lila berdecak kesal. "Aku bisa loh bantuin jambak!"

Arunika menundukkan wajah. Jari-jarinya saling bertaut di atas pangkuan. “Aku takut, Lil. Kalau aku cerita sama Ayah, aku khawatir beliau nggak akan percaya sama aku.”

“Om Bayu itu sayang banget sama kamu, Run. Gak mungkin beliau gak percaya sama ceritamu.”

“Ibu itu pandai bersikap seperti ibu peri di depan Ayah. Kalau aku mengadu, aku takut Ayah malah mengira aku yang membenci Ibu.”

Lila mendekat, lalu merangkul Arunika dengan lembut. “Kamu pasti sangat menderita selama ini. Selain Om Bayu kamu gak ada saudara disana."

"Setelah keluargamu pindah, Bude Lastri dan Bude Sumi jadi sering nyuruh aku main ke rumahnya, Lil. Dan mereka juga sering bela aku... kalau tau Ibu sedang marahin aku."

"Arun," gumam Lila, masih sulit mencerna semuanya.

Beberapa saat kemudian, Lila merenggangkan pelukannya, tetapi tangannya masih menggenggam lengan Arunika. “Terus, Om Bayu bagaimana? Beliau pasti khawatir saat tahu kamu kabur.”

Arunika terdiam sejenak sebelum menjawab. “Ayah sudah meninggal dua tahun lalu, Lil. Beliau kena serangan jantung ditempat kerja.”

Lila kembali terkejut. Rasanya pagi ini terlalu banyak hal yang baru diketahuinya tentang hidup sahabatnya.

“Ya ampun, Run... kenapa Bagas gak pernah cerita? Padahal dia punya nomorku.”

Arunika menggeleng lemah. Mana sempat dia memikirkan soal memberi kabar? Untuk sekedar bertahan hidup setelah ayahnya tiada saja, dia sudah kewalahan.

Tak tega melihat wajah sendu sahabatnya... Lila kembali memeluk Arunika, kali ini lebih erat.

Setelah cukup lama menangkan Arunika, Lila akhirnya melepaskan pelukannya dan berdiri.

“Untuk sementara waktu kamu tinggal di kosanku saja.”

Arunika menatapnya. “Tapi, Lil, aku—”

“Nggak ada tapi-tapian. Kamu istirahat dulu di kosku. Soal pekerjaan dan masalah lainnya, kita pikirkan setelah kamu tenang.”

Arunika akhirnya mengangguk.

Lila mengambil tas Arunika dan membantunya berdiri. Mereka kemudian berjalan meninggalkan terminal untuk mencari angkutan menuju kos Lila.

Lahir dan besar di desa terpencil, Arunika sedikit kewalahan melihat hiruk-pikuk Jakarta. Sepanjang perjalanan menggunakan angkot, beberapa kali dia memijat keningnya. Suara klakson, teriakan orang-orang, serta bau asap kendaraan yang bercampur dengan aroma keringat membuat perutnya terasa mual.

Setelah perjalanan yang terasa begitu panjang, akhirnya mereka sampai di kos Lila yang hanya terdiri dari tiga petak.

Begitu pintu dibuka, Arunika langsung masuk dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.

“Capek banget...” gumamnya pelan.

Lila meletakkan tas milik Arunika, lalu masuk ke dalam untuk mengambil air dingin. Dia kembali dan memberikan gelas itu pada sahabatnya.

“Sebenarnya, setelah Bude Sumi menelepon dan meminta bantuan, aku langsung mencarikanmu pekerjaan, Run,” kata Lila begitu gelas itu diterima Arunika. “Tapi aku minta waktu sama asisten pribadi bos barumu. Kamu akan mulai bekerja minggu depan. Syukurlah, dia setuju."

“Kerja jadi apa?” tanya Arunika antusias setelah meneguk habis airnya. “Asal jangan yang bahaya, ya.”

Lila menarik pipi sahabatnya. “Ya enggak bakal aku cariin kamu pekerjaan yang berbahaya,” ujarnya gemas. “Kamu bakal jadi asisten rumah tangga di penthouse mewah milik Tuan Ardhana Raksa, si duda tampan dan kaya raya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Wulan Ruslan
Setdah si bos maen panggil Nama orng aja mana salah lagi
goodnovel comment avatar
Wulan Ruslan
Wkwkwk itu Podomoro Arun
goodnovel comment avatar
Wulan Ruslan
Wkwkkk baru kerja dibuat syok sama majikan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Luka yang Bernama Cinta   Tak Sengaja Melihat

    Menu makan malam telah tersaji di atas meja. Semuanya terlihat cantik sekaligus lezat. Raksa bahkan sudah duduk di meja makan sebelum Arunika selesai memasak.Pria itu tidak memberikan alasan, dan Arunika juga tidak berani bertanya. Selain takut pada wajah sang majikan yang menyeramkan sekaligus tampan, dia juga harus fokus membuat hidangan dengan nama-nama yang membuat lidahnya belibet jika harus mengucapkannya.Begitu juga dengan Raka. Pria itu sudah datang karena akan ikut business trip bersama bosnya. Dia menatap takjub hasil karya Arunika.“Aku nggak nyangka kamu bisa membuat semua masakan yang diminta Pak Raksa, Run,” ujar Raka. “Padahal tadi kamu bilang belum pernah melihat makanan itu. Kok bisa membuatnya?”Mendengar ucapan sang asisten, sebelah alis Raksa langsung terangkat. Kalau Arunika belum pernah melihat hidangan itu, berarti dia juga tidak tahu seperti apa rasanya. Lalu… “Kamu bikinnya ngawur?” tanyanya tanpa basa-basi.Arunika mengerucutkan bibir. “Bapak belum mencoban

  • Luka yang Bernama Cinta   Janah?

    “Em, Pak … eh, Bapak Raksa mau minum kopi?” tanya Arunika dengan perasaan takut.Namun, dia memaksakan langkahnya mendekati kitchen island yang berantakan. Dengan cepat, dia membersihkan tumpahan kopi, lalu menatap Raksa yang masih memunggunginya. “Bapak …” panggilnya lagi.Raksa menoleh. Mata elangnya menatap tajam ke arah ART barunya. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya, hanya tatapan datar seperti tembok.“Buatkan saya kopi,” ujarnya.“Iya, Bapak.”Sebenarnya, Raksa terganggu dengan panggilan Bapak. Dia memang seorang duda, tapi rasanya dirinya belum setua itu sampai harus dipanggil Bapak.Lantas, tangannya menunjuk mesin kopi. “Kamu bisa memakai alat ini?”Melihat asal-usul gadis di depannya, Raksa sangat meragukan kemampuan Arunika dalam menggunakan mesin tersebut. Pasalnya, dia sendiri juga tidak tahu cara menggunakan alat itu. “Kalau tidak bisa, buang saja!” perintahnya.“Eh ….”Arunika tersentak kaget. Kepalanya refleks menunduk saat Raksa berjalan mendekatinya, lalu melewati

  • Luka yang Bernama Cinta   Umpatan di Dapur

    Seminggu tinggal di Jakarta membuat Arunika perlahan mulai terbiasa dengan hiruk-pikuk kota besar. Suara kendaraan, klakson, dan keramaian yang awalnya membuat kepalanya pusing kini sudah tidak terlalu mengganggunya.Hari ini, Arunika siap memulai kehidupan barunya.Dia sudah berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tepat di depan Ardhana Private Residence, sebuah apartemen eksklusif yang hanya dihuni kalangan tertentu. Gedungnya menjulang tinggi dengan lobby mewah, sistem keamanan ketat, dan akses khusus menuju penthouse.Lila mengantar Arunika sampai ke lobby. Gadis itu mendongak, menatap bangunan megah di hadapannya dengan perasaan gugup.Sulit dipercaya bahwa mulai hari ini, dia akan bekerja di tempat seperti ini. “Sebentar lagi asisten pribadi Tuan Raksa akan menjemputmu.” Lila menepuk pelan tangan sahabatnya. “Setiap akhir pekan kamu dapat jatah libur. Kalau bosan, hubungi saja aku. Nanti aku jemput dan kita keliling Jakarta.”“Iya. Nanti kalau aku sudah terbiasa dengan pekerj

  • Luka yang Bernama Cinta   Penthouse Sang Duda

    Bus yang ditumpangi Arunika akhirnya berhenti di salah satu terminal bayangan di Jakarta. Satu jam yang lalu, begitu terbangun, Arunika segera meraih ponselnya untuk memeriksa jam. Ternyata, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Lila. Arunika pun segera menghubunginya kembali dan memberitahukan bahwa dirinya tidak jadi naik kereta seperti rencana awal. Meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, Lila tetap datang menjemput. Bagaimanapun, Arunika baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dan belum mengetahui apapun tentang kota itu. Setelah mengambil tas dari bagasi bus, Arunika baru saja hendak beranjak ketika terdengar suara seseorang memanggilnya. “Arun...” Arunika menoleh. “Lila?” gumamnya ragu. Dia hampir tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Puluhan tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. “Ya ampun, kangen banget aku sama kamu!” Lila langsung menghampiri dan memeluk sahabatnya. “Jauh-jauh datang ke Jakarta malah bikin aku kaget. Makin cantik sa

  • Luka yang Bernama Cinta   Menuju Hidup Baru

    Raka sedang berbicara dengan kondektur bus antar kota jurusan Jakarta. Entah apa yang dibicarakan pria itu, Arunika tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Setelah beberapa saat, Raka kembali menghampirinya dan mengajak gadis itu mencari toilet.“Mau apa? Aku nggak pengen pipis.” Arunika takut jika Raka memiliki niat jahat padanya. Ditambah lagi suasana terminal bayangan ramai… penuh pria bertato.Raka kembali terkekeh. Mati-matian dia menahan rasa gemas melihat kepolosan sepupu temannya. Dia tidak berani menyentuh Arunika, hanya berjalan lebih dulu.“Ayo.” Dia tak menoleh, tau jika Arunika pasti menurut. Dengan perasaan sedikit takut, Arunika pun mengikuti Raka.Sesampainya di toilet umum, Raka menyerahkan sebuah paper bag pada Arunika. “Ganti pakaianmu dan keringkan rambut. Jangan sampai kamu masuk angin karena perjalananmu masih panjang.”Tanpa membantah, Arunika menerima paper bag itu, lalu segera masuk ke dalam toilet untuk berganti pakaian.Usai berganti pakaian, Arunika keluar

  • Luka yang Bernama Cinta   Terminal Bayangan

    Hujan mulai reda ketika Arunika dan Bagas akhirnya sampai di jalan besar. Jalan itu bukan jalan yang biasa digunakan warga desa untuk menunggu bus. Letaknya cukup jauh dari pemukiman dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas.Mereka sengaja memilih jalan itu karena jalan utama menuju desa kemungkinan sudah dijaga oleh anak buah Juragan Satrio.Bagas menghentikan motor di pinggir jalan.Arunika segera turun, lalu melepaskan jas hujan plastik yang sejak tadi melindungi tubuhnya. “Terima kasih ya, Gas.”Pakaiannya sedikit basah, tetapi rambut panjangnya tidak selamat dari guyuran hujan. Beberapa helai rambut menempel di wajahnya, sementara air masih menetes dari ujungnya.Bagas menatap Arunika sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke jalan yang masih sepi. “Kamu mau ke mana sekarang, Arun?”Arunika terdiam. Dia baru menyadari bahwa dirinya tidak memiliki tujuan yang jelas.“Aku sudah minta tolong sama temanku yang bekerja dengan orang Jakarta. Kebetulan, dia sedang mengantar bosnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status