เข้าสู่ระบบSetelah melihat gambar yang tertera di sana, pria itu lantas menyadari bahwa sebenarnya Clara tidak pernah menjual perusahaannya, mantan kekasihnya hanya mengubah kepemilikan dan hal ini sudah terlihat jelas. "Jadi, sebenarnya Clara memiliki anak dengan Azael?"Rahang Erick mengeras ketika memikirkannya dan pria itu mulai menyadari bahwa ia sedang terjebak dalam lika-liku ketika menginginkan sebuah perusahaan yang seharusnya bisa dirinya miliki. Tak lama kemudian, pria itu segera berdiri setelah menerima pesan dari Aretha. Dirinya langsung menelepon wanita di seberang sana dengan kilatan emosi, nyatanya meskipun ia tidak mau membantu wanita tersebut, mantan kekasihnya ini memiliki berita yang bisa membuatnya emosi.Telepon tersambung dan pria itu langsung bertanya dengan nada tinggi, "Apa sebenarnya yang kau temukan di sana?!"Cukup memahami bahwa semua ini mungkin memang telah direncanakan oleh Azael sebelumnya, namun ketika pria itu tidak mendapatkan apa yang dirinya inginkan, amu
Berharap bertemu lagi di salah satu swalayan yang dulu sempat menjadi tempat mereka bertemu, kini Aretha bersikap seperti seorang penyusup dan dirinya terus memeriksa beberapa mobil yang memang terparkir di area depan swalayan.Wanita itu sudah tahu mobil mana yang dulunya sempat dinaiki oleh Clara, bahkan ia telah memotret mobil tersebut dan melihat ada dua pelayan dan seorang sopir sedang memasukkan beberapa bahan makanan dan juga keperluan lain ke bagasi.Namun, Aretha mengerutkan keningnya ketika mengetahui barang apa saja yang dimasukkan di dalam bagasi. Matanya juga langsung menyipit menyadari akan sesuatu yang membuatnya lantas berpikir kritis, "Kenapa mereka membeli popok bayi?"Hal ini aneh, namun Aretha yang sudah berada di dalam taksi tersebut lantas memperhatikan mobil itu dan sepertinya orang yang sedang berbelanja adalah dua pelayan yang bekerja bersama Clara, lalu sopir yang sedang bertugas itu merupakan orang yang biasa mengantar wanita tersebut untuk pergi ke suatu te
"Kapan kau akan memberikan bukti-bukti kepada polisi?" Azael bertanya kepada Anya ditelepon karena pria itu benar-benar merasa terganggu dengan kehadiran Erick yang membuat hari-harinya langsung memburuk, apalagi pria itu seperti tidak memiliki pekerjaan dan terus membuntutinya. "Aku sudah bilang padamu, Bukan? Kemungkinan aku harus menunggu setidaknya tiga bulan untuk memasukkannya ke penjara," jelas wanita yang ada di seberang karena Anya sendiri juga sibuk dengan segala urusannya. "Tidak bisakah dipercepat?"Azael sudah terlalu muak dengan apa yang dilakukan oleh Erick sehingga dirinya lantas berbicara langsung pada Anya. Belum lagi urusan perusahaan mantan istrinya yang benar-benar membuat pria itu penasaran sehingga membuatnya jengkel juga."Ada apa denganmu? Apa kau sedang memiliki masalah dengannya?"Pertanyaan itu jelas ada jawabannya dan Azael sendiri benar-benar muak memikirkan semuanya, ditambah dengan Erick yang terus mengejarnya dan membuatnya harus berjaga-jaga. "Dia
"Telepon, Bu."Anya yang mendapatkan telepon beberapa kali dari nomor yang sangat dirinya kenal lantas menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Jangan terima telepon apa pun dari perusahaan yang sudah kukatakan kemarin! Aku juga tidak mau membuat pertemuan dan tolong peringatkan dirinya jika mendatangi paksa perusahaan milikku!"Selain Azael yang dibuat bingung atas kedatangan Erick, kini Anya mengalami hal yang sama sehingga wanita itu benar-benar muak meskipun hanya membahas sesuatu tentang Erick meskipun hanya sebentar saja. Asistennya langsung mengerti dan kemudian mengkonfirmasikan seluruh hal ini kepada karyawan yang ada di perusahaan mereka, tidak mau melihat bosnya yang memang sudah pusing namun harus dipusingkan lagi dengan hal-hal yang tidak seharusnya. Anya sendiri meminum kopinya dan hal itu sedikit membuatnya rileks, sekarang hanya memikirkan tentang beberapa pertemuan yang dilakukan di kantor. Beruntungnya ia tidak memiliki jadwal di luar sehingga Erick kemungkinan besar
"Maaf, Tuan. Bos kami tidak bisa menemui Anda karena beliau sudah lelah dan hanya mau bertemu dengan orang yang sudah membuat janji sebelumnya!"Penegasan dari keamanan gedung besar ini lantas membuat Erick menganggukan kepalanya, paham bahwa apa yang dari ia lakukan tidak akan pernah membuahkan hasil karena pria itu benar-benar berkuasa serta tidak pernah sebanding dengannya. "Baiklah kalau begitu, aku akan membuat janji dan mendatanginya sesuai jadwal!"Setelah mengatakan itu, pria tersebut meninggalkan area parkiran kantor dengan tatapan penuh rencana. Sementara pihak keamanan kembali tenang karena mereka tidak mencium sesuatu yang aneh, meski ada banyak sekali sesuatu yang Erick rencanakan sebelumnya. "Kita memang tidak bertemu, El. Tapi, aku akan menemui langsung dan memberikan pelajaran untuk orang sombong sepertimu!" gumamnya sembari memasuki mobil dan kini dirinya mengemudi sendiri tanpa orang yang berjaga bersamanya. ***Dalam perjalanan, Azael tersenyum lebar ketika pria
"Apa yang kau lakukan? Kau mau orang berpikir jika pernikahan kita ini hanyalah pernikahan bisnis?"Arnold memandang istrinya dengan wajah kesal ketika pria itu baru saja mendapatkan laporan dari Azael saat bertemu tadi, bahkan pria tersebut merasa bahwa dirinya harus memberikan batasan lagi untuk wanita itu agar tidak membuatnya malu. Patricia yang seakan tahu bahwa suaminya telah mendapatkan laporan di luar sana lantas membalasnya dengan tatapan yang jauh lebih tegas karena wanita itu benar-benar benci jika diatur seperti ini, "Kenapa memangnya? Aku benar-benar hanya ingin berkabar dengan ibu dari pria itu, kami juga sudah lama saling mengenal dan seharusnya kau tidak cemburu!"Pria tersebut sebenarnya sama sekali tidak cemburu, namun dirinya malu dengan apa yang diperbuat oleh istrinya yang sama sekali tidak seperti dugaannya, padahal sejauh ini dirinya telah memberikan yang terbaik agar istrinya tidak mencari-cari di luar sana. "Aku sama sekali tidak cemburu, aku hanya sedang be
"Benar. Biasanya dilakukan karena memiliki utang budi, Nyonya," jelas pegawai tersebut yang membuat Monica langsung bertindak waspada. "Putraku mana mungkin memiliki utang," ujarnya santai, kembali menikmati pijatan yang ada di kepalanya dan ia sudah benar-benar pusing dengan keadaan yang sedang t
"Iya, bukannya suatu hari nanti kita akan menikah?" Aretha terlihat mencoba untuk menanyakan perihal itu karena setiap hubungan tentu saja harus memiliki ujung.Mendengar ajakan ini malah langsung membuat Erick merasa bahwa ia telah membuat sebuah harapan sehingga Aretha nampak berharap banyak pada
"Katakan padaku! Ibu mengancammu seperti apa?" Azael menatap istrinya dan memaksa wanita itu untuk berkata jujur. Clara yang tahu bahwa dirinya sudah dibela sejauh ini tentu saja tidak mau hubungan antara anak dan ibu rusak, apalagi sikap Monica yang telah kelewat batas karena kesal terhadapnya.
Clara terlihat sedikit menyeringai dan membuat Aretha langsung menggeleng cepat."Mana mungkin aku memungut sampah orang lain," balasnya sembari mengalihkan pandangan agar Clara tak curiga."Kau benar, sampah memang harus dibuang, bukan didaur ulang," tekan Clara lagi.Padahal niatnya memang hanya







