共有

Perjamuan di Balik Tirai Sutra

作者: Pena itu
last update 公開日: 2026-03-17 09:18:47

Dunia tidak langsung menjadi hitam. Dunia berubah menjadi abu-abu yang berputar, seperti pusaran air yang menyeret Kinan ke dasar laut yang paling dalam. Hal terakhir yang Kinan rasakan adalah jemari Bumi yang mungil terlepas dari genggamannya. Suara tangis anaknya terdengar sangat jauh, teredam oleh dengung panjang di telinganya. Lalu, bau parfum melati itu—bau yang sangat ia benci karena melambangkan dominasi Maria—menjadi hal terakhir yang dihirup napasnya sebelum kesadarannya padam sepenuhn
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Pesta di Atas Luka

    Jakarta malam ini tidak menyambut kami dengan pelukan, melainkan dengan taring-taring neon yang berkilau di balik kabut polusi. Mobil van butut Bima merayap pelan di aspal Menteng yang halus—aspal yang dulu pernah kujejaki dengan sepatu hak tinggi merk luar negeri, namun kini kulewati dengan sandal jepit dan daster batik yang warnanya sudah memudar. Di kursi belakang, Bumi merintih pelan dalam tidurnya. Bau antiseptik dari perban kakinya memenuhi ruang sempit mobil, bercampur dengan bau keringat dingin Fajar yang duduk kaku di sampingnya.​"Nan, lihat itu," bisik Bima sembari menunjuk ke arah gerbang raksasa berlapis emas di ujung jalan.​Rumah besar keluarga Subroto. Rumah yang seharusnya menjadi saksi bisu kejatuhan Maria, kini justru berpendar terang benderang. Ratusan lampion mawar hitam digantung di sepanjang pagar, memberikan cahaya merah yang menyeramkan ke arah jalanan. Deretan mobil mewah—Rolls-Royce, Bentley, hingga Maybach—terparkir rapi, dikawal oleh pria-pria berbadan teg

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Pesta di Atas Luka

    Jakarta malam ini tidak menyambut kami dengan pelukan, melainkan dengan taring-taring neon yang berkilau di balik kabut polusi. Mobil van butut Bima merayap pelan di aspal Menteng yang halus—aspal yang dulu pernah kujejaki dengan sepatu hak tinggi merk luar negeri, namun kini kulewati dengan sandal jepit dan daster batik yang warnanya sudah memudar. Di kursi belakang, Bumi merintih pelan dalam tidurnya. Bau antiseptik dari perban kakinya memenuhi ruang sempit mobil, bercampur dengan bau keringat dingin Fajar yang duduk kaku di sampingnya.​"Nan, lihat itu," bisik Bima sembari menunjuk ke arah gerbang raksasa berlapis emas di ujung jalan.​Rumah besar keluarga Subroto. Rumah yang seharusnya menjadi saksi bisu kejatuhan Maria, kini justru berpendar terang benderang. Ratusan lampion mawar hitam digantung di sepanjang pagar, memberikan cahaya merah yang menyeramkan ke arah jalanan. Deretan mobil mewah—Rolls-Royce, Bentley, hingga Maybach—terparkir rapi, dikawal oleh pria-pria berbadan teg

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Gema di Jakarta

    Layar televisi di ruang tunggu Rumah Sakit Umum Daerah Labuan Bajo itu tidak pernah berhenti berkedip. Berita sela demi berita sela muncul dengan latar belakang musik yang menegangkan. Wajah-wajah yang selama ini hanya muncul di kolom opini koran atau di balik meja-meja eksekutif Jakarta, kini terpampang sebagai tersangka. Nama "Mawar Hitam" menjadi tren nomor satu di media sosial. Dan di tengah pusaran badai informasi itu, ada satu nama yang terus disebut oleh para analis: Kinan Dirgantara.​Aku duduk di kursi plastik yang keras, memandangi pantulan wajahku di kaca jendela yang buram. Aku tampak seperti hantu. Lingkaran hitam di bawah mataku menceritakan lebih banyak daripada yang bisa diungkapkan kata-kata. Di sampingku, Langit tertidur pulas dengan kepala bersandar di pahaku, tidak sadar bahwa ibunya baru saja menekan tombol "hancurkan" pada sebuah dinasti yang telah berkuasa selama tiga dekade.​"Nan, minumlah," Fajar menyodorkan segelas air mineral yang sudah terbuka tutupnya. Ta

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Detak Jantung di Sela Karang

    ​Labuan Bajo tahun 2031 bukanlah lagi pelabuhan sepi yang dulu menyembunyikan luka-lukaku. Kini, deru mesin kapal pesiar dan tawa turis asing menjadi musik latar setiap pagi. Namun, di sudut warung kami, "Warung Aspal & Madu", waktu seolah berjalan lebih lambat. Aku berdiri di ambang pintu, memandangi uap kopi yang menari-nari di udara lembap sisa hujan semalam. Lima tahun telah berlalu sejak api itu melalap gubuk lama kami, namun setiap kali aku mencium aroma kayu terbakar dari panggangan ikan, jantungku masih berdesir hebat. Trauma itu seperti noda tinta di atas kertas putih; ia tidak pernah benar-benar hilang, hanya memudar menjadi abu-abu.​Aku mengusap sudut mataku yang kini dihiasi garis-garis halus. Jejak dari ribuan malam yang kuhabiskan untuk menghitung angka-angka kecil agar kami bisa makan, dan ribuan siang yang kuhabiskan untuk mengawasi setiap orang asing yang turun dari dermaga. Di sampingku, Langit yang kini berusia lima tahun, sedang asyik di atas lantai semen yang din

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Garis Baru di Aspal

    ​Suara deburan ombak Labuan Bajo pagi ini terasa berbeda. Tidak lagi terdengar seperti ancaman atau bisikan konspirasi, melainkan seperti nyanyian tua yang menenangkan. Aku berdiri di ambang pintu warung kami yang baru, menghirup aroma kayu jati yang masih segar bercampur dengan uap kopi tubruk yang baru saja kuseduh. Matahari baru saja mengintip dari balik bukit, menyirami aspal di depan warung dengan warna keemasan yang berkilau.​Di sudut warung, Fajar sedang sibuk menata kursi. Langkahnya masih sedikit menyeret, dan tongkat kayu jati dengan ukiran komodo—hadiah dari warga kampung—selalu menemaninya. Namun, sorot matanya tidak lagi kosong. Setiap kali ia melihatku, ada binar yang dulu sempat padam, kini menyala lebih terang daripada lampu mercusuar.​"Nan, kopinya jangan terlalu kental. Nanti perutmu makin mulas," tegur Fajar sembari tersenyum kecil. Ia menghampiriku, meletakkan tangannya yang kasar namun hangat di atas perutku yang kini sudah mencapai puncaknya.​"Anak ini suka ko

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sisa Abu dan Jejak yang Tertinggal

    Suara sirine pemadam kebakaran terdengar jauh, meredam oleh deburan ombak yang menghantam karang Labuan Bajo. Aku masih bersimpuh di atas aspal yang panas, memandangi api yang mulai mengecil, menyisakan kerangka bambu gubuk kami yang hitam arang. Asapnya membumbung tinggi, berwarna kelabu pekat, membawa aroma kayu terbakar dan—aku tidak sanggup memikirkannya—bau sisa kehidupan suamiku.​Hujan sudah berhenti, menyisakan genangan air di lubang-lubang aspal yang memantulkan cahaya merah dari sisa api. Aku merangkak maju, mengabaikan teriakan Pak Haji yang baru saja turun dari bukit bersama Bumi. Lututku bergesekan dengan batu-batu tajam, daster batikku robek di bagian bawah, tapi aku tidak peduli.​"FAJAR!" suaraku hilang, hanya menyisakan bisikan parau yang tertelan angin laut.​Aku sampai di depan reruntuhan pintu. Hawa panasnya masih menyengat wajahku, membuat bulu kudukku meremang. Aku mulai menggali abu panas itu dengan tangan kosong. Aku tidak butuh sekop. Aku ingin merasakan sisa-

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Cermin yang Retak

    Rumah sakit itu sunyi, hanya deru mesin oksigen yang menemani kesunyian di kamar 502. Kinan duduk di kursi kayu yang keras, matanya tak lepas dari sosok wanita yang terbaring di atas ranjang putih itu. Ratih. Nama yang selama lima tahun ini menjadi hantu dalam rumah tangganya, kini nyata di depanny

    last update最終更新日 : 2026-03-30
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Lidah Kecil yang Menagih Kebenaran

    Malam di rumah persembunyian itu terasa sangat berat. Rumah ini terletak di pinggiran Sukabumi, jauh dari keramaian, dikelilingi oleh kebun teh yang hamparannya tampak seperti samudera hijau yang gelap di bawah sinar bulan. Udara pegunungan yang dingin merayap masuk lewat celah jendela kayu, membaw

    last update最終更新日 : 2026-03-26
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sandiwara di Ujung Botol

    Angin malam di atas jembatan penyeberangan itu terasa seperti pisau yang mengiris kulit. Di bawah sana, arus kendaraan Jakarta masih menderu, lampu-lampu mobil membentuk garis panjang yang tak putus-putus. Namun, bagi Kinan, dunia seolah berhenti berputar tepat di depan anak tangga terakhir.​Mbak

    last update最終更新日 : 2026-03-21
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Benalu yang Kehilangan Pohon

    Pagi itu, apartemen kecil yang biasanya sunyi dan hanya diisi suara gesekan pulpen Kinan di atas kertas, mendadak berubah menjadi neraka kecil. Kinan baru saja selesai mandi, rambutnya masih dibalut handuk putih, dan ia baru saja akan menyeduh kopi saat suara gedoran di pintu unitnya terdengar sepe

    last update最終更新日 : 2026-03-20
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status