LOGINLembah Dirgantara kembali memanggil, namun kali ini bukan sebagai tempat pembantaian, melainkan sebagai saksi bisu penghakiman terakhir. Aku berdiri di puncak bukit yang menghadap langsung ke fasilitas server pusat The Orchard. Di kepalaku, angka-angka itu tidak lagi terasa seperti beban; mereka adalah orkestra yang siap meledak. Meskipun ingatanku tentang masa kecil masih samar, ingatanku tentang cara mencintai Fajar dan cara menghancurkan iblis sudah kembali dengan tajam."Kinan, kamu yakin?" Fajar berdiri di sampingku, tangannya menggenggam senapan dengan urat-urat yang menegang. "Begitu kamu memasukkan kode itu ke pemancar utama, tidak ada jalan kembali. Seluruh jaringan mereka akan mati, tapi posisimu akan terpampang di setiap radar mereka."Aku menatapnya, lalu menyentuh bekas luka di pelipisnya. "Aspal tidak pernah bertanya apakah ia siap menahan beban truk, Dit. Ia hanya melakukannya. Sekarang giliranku menjadi fondasi untuk masa depan kita."Kami bergerak dalam senyap. Rey
Pagi di pedalaman Flores datang dengan suara burung-burung liar yang terdengar asing di telingaku. Aku terbangun di atas dipan kayu, menatap langit-langit pondok yang terbuat dari jalinan bambu. Pikiranku masih terasa seperti hamparan salju yang putih dan dingin—tidak ada jejak kaki, tidak ada arah, hanya kekosongan yang luas. Namun, ada satu hal yang berbeda pagi ini. Ada sebuah perasaan gelisah yang merambat di ujung syarafku, seolah-olah ada sesuatu yang tertinggal di bawah bantal, sesuatu yang penting tapi tidak bisa kujangkau.Aku meraba ke samping. Tempat tidur itu sudah dingin. Pria yang memanggil dirinya Fajar itu sudah tidak ada. Aku segera duduk, rasa panik mendadak menyengat ulu hatiku. Dalam kekosongan memori ini, Fajar adalah satu-satunya jangkarku. Jika dia hilang, aku akan hanyut dalam samudra amnesia yang tidak bertepi."Fajar...?" panggilku lirih.Pintu pondok terbuka pelan. Fajar masuk dengan membawa nampan bambu berisi ubi rebus dan dua gelas teh yang masih menge
Labuan Bajo menyambut kami dengan senja yang tidak biasa. Langitnya berwarna ungu pekat, seperti memar di pipi Fajar yang belum kunjung sembuh. Bau laut yang asin bercampur dengan aroma ikan bakar dari warung-warung pinggir jalan menyengat hidungku, membawa sejuta kenangan tentang pengkhianatan yang baru saja kami lewati di Sumatera.Kami turun dari kapal feri dengan langkah yang berat. Fajar masih di kursi roda, namun kali ini ia tidak menunduk. Ia memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang merah, sementara tangannya menggenggam erat jemari Bumi yang melonjak kegirangan melihat pelabuhan. Di belakang kami, Bima memanggul tas besar berisi "Buku Hitam" yang kini sudah disita secara hukum namun salinannya tetap menjadi milik kami—sebuah asuransi nyawa."Kita pulang, Nan," bisik Fajar saat roda kursi rodanya menyentuh aspal dermaga yang kasar."Iya, Dit. Pulang ke rumah kita yang sebenarnya," jawabku sembari mengelus perutku yang mulai terasa sedikit menonjol. Gejolak di dalam
Dunia ini terasa terlalu terang. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kecil helikopter terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk mataku. Aku mengerjap, mencoba mengenali ruang sempit yang bergetar hebat ini. Bau avtur yang tajam dan suara deru baling-baling yang memekakkan telinga seharusnya membuatku takut, tapi anehnya, hatiku terasa kosong. Benar-benar kosong. Seperti sebuah neraca yang baru saja di-reset ke angka nol sebelum transaksi pertama dimulai.Aku menoleh ke samping. Seorang pria dengan wajah yang dipenuhi debu dan bekas luka sedang menatapku. Matanya merah, bengkak, seolah-olah ia baru saja kehilangan harta paling berharga dalam hidupnya. Ia menggenggam tanganku begitu erat, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, aku akan menguap menjadi udara."Nan... kamu dengar aku?" suaranya serak, bergetar di sela deru mesin.Aku menatap tangannya yang kasar, lalu menatap matanya yang memohon. Aku tahu pria ini. Bukan dengan otakku, tapi dengan sesuatu yang jauh di d
Lembah Dirgantara malam ini tidak tampak seperti tanah leluhur yang agung. Ia tampak seperti luka yang menganga di wajah Sumatera. Lampu-lampu sorot dari menara pengawas The Orchard membelah kegelapan kabut, menciptakan garis-garis cahaya yang dingin dan tajam seperti pisau bedah. Bau aspal basah bercampur dengan aroma tanah yang digali paksa menyengat hidungku. Di bawah kaki kami, tanah yang dulu menjadi tempatku berlari mengejar capung, kini tertutup oleh beton-beton raksasa fasilitas pemurnian data ilegal.Aku melangkah maju, tanganku digenggam erat oleh Fajar. Aku bisa merasakan telapak tangannya yang kasar sedikit berkeringat. Ini bukan ketakutan, ini adalah kewaspadaan seorang pelindung yang tahu bahwa ia sedang memasuki sarang naga."Nan, kalau terjadi sesuatu, jangan lihat ke belakang. Berlari saja ke arah gerbang barat," bisik Fajar tepat di telingaku.Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang kusimpan untuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa lari jika
Udara di dalam lorong bawah tanah itu terasa makin tipis, seolah-olah tanah Flores sendiri enggan memberikan ruang bagi rahasia yang kami bawa. Aku berlari dengan kaki yang terasa seperti dipimpin oleh memori yang bukan milikku. Di depanku, Ibu bergerak seperti bayangan—tangkas, dingin, dan asing. Aku menatap punggungnya, mencoba mencari sosok wanita yang dulu sering mengajariku cara membuat sambal terasi di dapur sempit kami di Jakarta. Namun, yang kulihat hanyalah seorang prajurit yang sedang pulang dari pengasingan."Kakek...?" suaraku akhirnya keluar, parau dan penuh penolakan. "Maksud Ibu, Kakek Ibrahim? Pria yang fotonya selalu Ibu simpan di dalam alkitab tua itu? Pria yang Ibu bilang mati sebagai pahlawan di perbatasan?"Ibu berhenti mendadak di ujung lorong yang berbatasan dengan dinding gua karang. Ia berbalik, cahaya lampu LED kecil di dinding menciptakan bayangan cekung di wajahnya yang kuyu."Pahlawan hanyalah label bagi pemenang, Kinan," suara Ibu terdengar seperti ges







