LOGIN“Sudah ya Dek sudah waktunya tidur. Cukup. Bilang ayah sudah cukup. Sini ya Bunda juga kangen loh sama ayah. Bunda mau bicara dulu sama ayah ya,” kata Nisha. Tentu saja Fajar mendengar itu. Dia tahu semua kata-kata itu hanya kamuflase di depan Naffa saja. Sakit rasanya, tapi itu semua dia terima dengan pasrah karena semua memang harus dia terima.“Ayah aku bobo dulu ya,” kata Zahran pamit pada Fajar. ”Iya Sayang, jangan lupa sikat gigi dan cuci kaki lalu berdoa ya,” kata Fajar tentunya.“Ya, Ayah,” lalu mereka pun bertukar salam. Zahran menyerahkan ponsel pada Nisha“Halo Ayah. Masih lama di sana kerjaannya?” tanya Nisha pada Fajar. Fajar mengerti bahwa itu hanya sandiwara Nisha saja. Pasti Naffa ada di sebelah mantan istrinya tersebut.“Besok Bunda ke Singapore ya Yah, mungkin sekitar tiga atau empat hari. Ayah kalau mau telepon sama Ade nanti ke ponselnya Ujang saja karena Bunda pergi ke Singapore atau kalau bisa, Ayah pulang nemuin Ade kalau kerjaan Ayah sudah beres. Tapi sudah
“Data tadi sudah kamu cek di luar?” tanya notaris Sugeng Riyadi SH.“Sudah. Sudah Pak. Datanya sudah benar semua. Sudah saya cek juga KTP asli maupun kartu keluarga aslinya sama seperti copy-annya. Jadi sudah tidak ada kesalahan, berkas surat tanah asli juga.”“Kalau begitu kamu print nama pembeli, lalu kita langsung berangkat ke bank. Di bank semua tanda tangan akan kita laksanakan setelah serah terima pembayaran. Jadi Ibu juga tidak akan memberikan dokumen tersebut kalau belum ada pelunasan pembayaran.”“Tapi pastinya ini sudah deal karena datanya sudah valid. Jadi seperti yang kemarin dibilang kalau data tidak valid uang yang 10% itu adalah milik Ibu tanpa dipotong. Tapi kalau datanya valid lalu Ibu membatalkan, Ibu harus mengganti 10 kali lipat dari DP yang telah Ibu terima!”“Tidak Pak. Saya tidak akan membatalkan kok. Ayo kita ke bank sehingga kita langsung serah terima uang dan serah
Renia dan Dhani benar-benar terpuruk sudah tak ada lagi harta mereka di Jakarta sekarang mereka kontrak itu pun awalnya bulanan.Kemarin Renia tidak mau beresiko terlalu tinggi. Dia membayar kontrak untuk satu tahun dengan uang yang ada di sakunya daripada nanti mereka kalang kabut harus cari kontrakan baru, saat tidak punya uang padahal ada 5 mulut anak yang butuh mereka lindungi.“Bagaimana Ma?” tanya Dhani. Biar bagaimanapun Dhani tetap hormat pada ibunya. Dia memang sangat menurut pada ibunya dan apa pun yang ibunya atur itu yang dia lakukan.“Enggak ada yang berani lebih tinggi dari penawar itu. Tapi itu sedikit di bawah harga yang kita patok. Penawar lain beraninya tiga perempat dari harga kita. Bagaimana dong?” kata Renia.”Terserah Mama. Itu kan punya Mama aku nggak berani kasih saran lagi. Akusudah bikin rumah Mama di Jakarta terpaksa kita berikan untuk Fajar gara-gara kasus aku. Jadi sekarang untuk rumah Banten
“Neng, tunggu, kita harus bicara,” ucap Fajar.“Akang bingung mau panggil apa, nggak mungkin kan panggil Bun atau Bunda lagi seperti dulu. Akang panggil Neng saja, kembali ke saat kita awal kenalan ya Neng. Karena, Akang tahu kamu tentu tak mau kalau Akang panggil Bunda. Kita bicara habis ini,” pinta Fajar saat Nisha mau keluar dari ruangan dokter.“Kita bicara tentang Naffa, tentang program penyembuhan Naffa,” jelas Fajar agar Nisha tak salah tangkap apa yang hendak dia ungkapkan. Dia ingin mereka membuat konsensus agar anak mereka bisa segera pulih.Nisha bersalaman dengan dokter dan pamit keluar. Dia tahu memang seharusnya dia bicara dengan Fajar, karena dokter sudah bilang tidak bisa kalau hanya Nisha sendiri yang menangani. Yang jadi masalah penyebabnya adalah Fajar. Jadi memang harus bekerja sama dengan Fajar.***“Kita bicara di kantin saja Kang. Enggak enak bicara di sini. Nggak leluasa,” kata
Entah apa yang Dhani bicarakan dengan ibunya tapi dia memang benar-benar sudah putus asa. Keduanya tak bisa lagi berpikir jernih bila Dhani harus dipenjara lima tahun.“Bagaimana? waktu kami sudah sangat terbatas,” Kata Profesor Sihombing sebagai pembela dari pelapor.“Apa tidak bisa dikurangi? Aset kami benar-benar tidak ada 100 M,” kata Dhani. Tadi Nisha sudah memberikan kertas keputusan terakhirnya pada pembelanya apa yang dia inginkan.“Kalau begitu bikin surat tertulis di depan Hakim bahwa rumah milik Anda berikut toko milik Anda itu, Anda serahkan sebagai pengganti penjara 5 tahun yang Anda harus hadapi,” kata Profesor Sihombing sebagai pengacara Nisha.“Pilihannya dua itu dan tak ada penawaran lagi.” Dhani benar-benar tak percaya semuanya diambil oleh Nisha dan satu kali lagi tidak ada penawaran!***Nisha langsung tersenyum sinis, Fajar melihat senyum kemenangan di wajah mantan istrinya. Itu benar-benar bukan Nisha yang dia kenal selama ini. Nisha yang lembut. Yang sekarang di
Tidak seperti persidangan biasa Hakim langsung masuk ke topik inti dibacakan tuduhan dari Nisha yang langsung Nisha bacakan sendiri.“Sejak awal terlapor dua memang sangat berniat untuk membuat saya cerai sebelum mereka menikah, tujuannya ingin harta suami saya ~saat itu~ secara full tanpa harus berbagi dengan saya,” kata Nisha.“Kenapa saya punya asumsi seperti itu? Karena saya punya bukti. Saya bukan perempuan yang tanpa bukti. Bukti akan saya serahkan pada Hakim ketua,” ucap Nisha sambil memandang tajam pada Dhani yang sejak tadi tak berani menatapnya.“Yang pertama saya tidak tahu sudah berapa lama mereka berhubungan. Saya melihat ada tanda yang dia buat di belakang leher suami saya ketika itu, yang sekarang telah mantan tentunya. Suami saya tentu nggak tahu kalau terlapor dua sengaja membuat seperti itu. Intinya terlapor dua ingin memberitahu saya, agar saya cemburu lalu saya meminta cerai. Saya bertahan saya berpikir say







