LOGINPagi itu, lobi Bandara Hang Nadim, Batam, mulai berdenyut dengan hiruk-pikuk manusia yang mengejar jadwal terbang. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui dinding-dinding kaca besar menciptakan siluet-siluet panjang yang bergerak sibuk.
Namun, di tengah keriuhan itu, langkah Karina terasa hampa. Ia menyeret koper kabinnya secara mekanis, sementara pikirannya masih tertinggal di kamar Suite Hotel Victoria. Bayangan Kapten Devran yang menyeka air mata diam-diam di depan jendela terus menghantuinya, menciptakan rasa sesak yang tak seharusnya ada di sana. "Karina! Tunggu!" Sebuah seruan memecah lamunannya. Karina berhenti dan menoleh, mendapati Ririn berlari kecil menghampirinya dengan senyum lebar yang kontras dengan suasana hatinya. "Pagi amat lo udah sampai bandara. Gimana tidurnya? Hotel kita oke, kan?" sapa Ririn riang, langsung merangkul lengan Karina dan mengajaknya berjalan menyusuri selasar terminal. Karina hanya tersenyum tipis, berusaha mengimbangi energi rekan kerjanya itu. "Lumayan, Mbak. Cuma ya gitu, masih agak capek aja." "Sama, gue juga. Tapi denger-denger hari ini kita balik bareng rombongan petinggi, jadi harus ekstra fresh," celetuk Ririn tanpa beban. Langkah Karina mendadak melambat saat matanya menangkap sosok-sosok berseragam pilot di eskalator yang bergerak turun. Di sana, di barisan depan, berdiri Kapten Devran bersama Eric dan beberapa pilot lainnya. Devran tampak sangat berwibawa dengan seragam putihnya yang kaku, namun wajahnya tertutup oleh kesibukan jemarinya yang menari di atas layar ponsel. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah sekitar, seolah-olah ada dinding kaca tak kasat mata yang memisahkannya dari dunia luar. Karina terpaku. Ada rasa cemas yang merayap di dadanya saat melihat rahang Devran yang mengeras. Ia merasa berdosa. Seharusnya pikirannya hanya tertuju pada Ferdi, suaminya yang sedang berjuang di rumah sakit Jakarta. Namun, kenyataan pahit yang ia dengar tentang nasib Devran semalam membuatnya sulit berpaling. "Kar, lo dengerin gue nggak sih? Kok malah bengong liatin eskalator?" Ririn menyenggol bahunya, membuyarkan fokus Karina. "Eh, iya Mbak, denger kok. Tadi cuma... cuma liat jadwal terbang di sana," bohong Karina gugup, segera membuang muka dan mempercepat langkahnya, berusaha mengubur perasaan aneh yang mulai tumbuh liar. Satu jam kemudian, Airbus A320 milik Samudera Airline telah bersiap di landasan. Para penumpang mulai memasuki pesawat, mencari nomor kursi mereka dengan tertib. Karina dan para pramugari lain berdiri di posisi masing-masing, memberikan salam dan bantuan dengan senyum profesional yang sudah terlatih. Tiba-tiba, suasana di pintu pesawat berubah tegang. Aura dominasi yang pekat masuk bersama sosok wanita bergaun emerald yang tajam. Renata Masayu melangkah masuk, diikuti oleh Hengki yang membawa tas kerjanya. Karina yang saat itu sedang membantu seorang ibu meletakkan tas di kompartemen atas, mendadak membeku. Melihat Karina yang hanya berdiri mematung menatapnya, Renata berhenti tepat di depan wanita itu. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap Karina dengan pandangan merendahkan. "Ngapain bengong? Kamu di sini buat kerja atau buat jadi pajangan?" tegur Renata, suaranya tajam seperti silet. Karina terperanjat, jantungnya seolah berhenti sesaat. "M-maaf, Bu Renata. Selamat pagi, silakan masuk," jawabnya buru-buru sambil membungkuk sopan, tak berani menatap mata sang CEO. Renata hanya mendengus sinis lalu berjalan menuju kursi kelas bisnis, duduk bersisian dengan Hengki. Pemandangan itu sungguh menyesakkan. Mereka berdua tampak begitu mesra, sesekali berbisik dan tertawa kecil seolah-olah tidak ada rahasia gelap yang mereka sembunyikan dari sang suami sah yang berada di kokpit depan. "Kar, fokus. Ada Bos di sini, jangan sampe bikin salah kalau nggak mau surat pecat turun hari ini juga," bisik Ririn memperingatkan saat mereka berpapasan di dapur pesawat (galley). Saat pesawat sudah mencapai ketinggian jelajah, Karina harus melakukan tugasnya menyajikan minuman. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membawa baki berisi kopi panas menuju kursi Renata dan Hengki. "Silakan, Bu Renata... Pak Hengki," ucap Karina lembut, meletakkan cangkir kopi di atas meja lipat mereka. Saat Renata sedang sibuk dengan ponselnya, Hengki diam-diam menoleh ke arah Karina. Laki-laki itu memberikan kedipan mata yang genit dan menjijikkan. Karina berusaha mengabaikannya, namun tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan merayap di bawah meja, meraba pahanya dengan kasar. Karina tersentak. Secara refleks, ia menepis tangan itu dengan kuat hingga baki di tangannya sedikit miring. "Eh, apa-apaan kamu?!" seru Hengki tiba-tiba, berakting seolah-olah dia yang terganggu. Renata langsung mendongak, matanya berkilat marah melihat keributan kecil itu. "Ada apaan sih?" "Ini, Ren. Pramugari baru kamu ini kecentilan banget. Dia sengaja nyenggol-nyenggol aku pas lagi naruh kopi. Nggak sopan banget, kan?" fitnah Hengki dengan wajah tanpa dosa. Darah Karina mendidih. "Itu nggak benar, Bu Renata! Tadi Bapak Hengki yang-" Srrruttt! Belum sempat Karina menyelesaikan kalimatnya, Renata menyambar cangkir kopi panas di hadapannya dan menyiramkannya ke punggung tangan Karina. "Akhhh!" Karina menjerit tertahan, rasa panas yang menyengat langsung menjalar ke kulitnya. Ia memegang tangannya yang mulai memerah, air mata kesakitan dan penghinaan tumpah seketika. "Berani kamu fitnah Pak Hengki?" desis Renata, matanya berkilat penuh kebencian. Renata tahu betul Hengki itu mata keranjang, tapi egonya jauh lebih besar. Ia lebih memilih menyiksa orang lain daripada mengakui bahwa pilihannya sampah. "Pergi dari hadapan saya sebelum saya siram muka kamu sekalian!" "M-maaf, Bu... maaf," isak Karina. Dengan hati yang hancur dan tangan yang melepuh, ia berjalan cepat menuju bagian belakang pesawat, meninggalkan tawa kecil Hengki yang terdengar sangat puas. .................................... Di dalam toilet pesawat yang sempit, Karina mengguyur tangannya dengan air dingin dari wastafel. Perihnya luar biasa, tapi jauh lebih perih harga dirinya yang diinjak-injak di depan rekan-rekan kerjanya. Ia menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya yang seolah terus dihantam badai tanpa henti. Tiba-tiba, pintu toilet diketuk pelan. Karina buru-buru menyeka air matanya dan membuka pintu sedikit. Ia tertegun. Kapten Devran berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di tangannya ada sebuah salep luka bakar. "Pake ini," ucap Devran singkat, menyodorkan salep itu. "Tadi saya lihat dari celah tirai. Maafin Renata." Karina ragu sejenak sebelum menerima salep itu. "Terima kasih, Kapten. Tapi harusnya Kapten nggak perlu-" "Hati-hati kalo kerja," potong Devran, suaranya terdengar sangat lelah, seolah-olah ia memikul beban seluruh pesawat ini di pundaknya. "Saya nggak mau kamu kehilangan kerjaan cuma gara-gara masalah kecil. Besok-besok kalau layani mereka, jangan lengah." "Baik, Kapten." Karina menatap salep di tangannya, lalu menatap siluet Devran yang mulai menjauh kembali menuju kokpit. Ada tanya besar di benaknya. Kenapa laki-laki setampan dan sehebat ini mau bertahan dalam pernikahan yang menjijikkan seperti ini? Istrinya berselingkuh terang-terangan dengan bawahannya sendiri, dan Devran hanya diam? Namun, Karina segera menggeleng. "Fokus, Karina! Ngapain mikirin mereka?" Ia tidak punya hak untuk ikut campur. Fokus utamanya adalah kembali ke Jakarta, melihat Ferdi, dan bertahan hidup. ................................... Di dalam kokpit yang dipenuhi pendar instrumen digital, suasana terasa sangat dingin. Devran duduk di kursi kapten, menatap kosong ke hamparan awan putih di depannya. Pikirannya melayang pada kejadian di kabin tadi. Ia benci dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat lebih banyak untuk melindungi Karina. Renata dan Hengki, mereka benar-benar keterlaluan. Eric, sang kopilot, berdehem pelan. Ia tampak ragu-ragu sebelum akhirnya bicara. "Dev... gue tau ini bukan urusan gue. Tapi, Renata sama Hengki di belakang tadi... mereka bener-bener nggak tau tempat," ucap Eric hati-hati. Devran hanya diam, tangannya mencengkeram tuas kendali dengan kuat hingga buku jarinya memutih. "Maksud gue... semua orang di maskapai ini udah mulai bisik-bisik, Dev. Apa lo beneran nggak mau ngelakuin sesuatu? Hubungan gelap mereka itu udah keterlaluan," lanjut Eric lagi. Dia prihatin pada nasib pernikahan Devran yang tidak lebih baik dari nasib pernikahannya dan Vivian. Devran menghela napas panjang, sebuah desahan yang penuh dengan keputusasaan. "Gue udah tau, Ric. Udah lama." "Terus kenapa lo diem aja? Lo berhak cerai, lo berhak dapet hidup yang lebih baik!" "Cerai?" Devran tertawa pahit, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Renata nggak akan pernah lepasin gue. Buat dia, gue ini bukan suami, tapi trofi kemenangan. Dia mau liat gue tersiksa seumur hidup sebagai bayaran atas masa lalu bokap gue. Selama gue masih napas, dia bakal pastiin gue tetep ada di bawah injekan kakinya." Eric menghela nafas panjang lalu menepuk bahu Devran. Kenapa nasib pernikahan mereka benar-benar miris? Devran kembali terdiam, menatap cakrawala yang luas namun terasa seperti penjara baginya. Selama tiga tahun pernikahan, ia sudah berkali-kali mencoba mencari jalan keluar, tapi kekuasaan keluarga Masayu selalu berhasil menyeretnya kembali ke dalam lumpur yang sama. Ia terjebak dalam Mahligai Dosa yang diciptakan oleh dendam, dan entah sampai kapan ia harus bertahan sebelum akhirnya benar-benar hancur berkeping-keping.Waktu bergulir tanpa kompromi. Tiga tahun berlalu penuh dinamika, membawa perubahan mendalam bagi mereka yang bertahan.Pagi ini, udara di luar Lembaga Pemasyarakatan Wanita terasa berbeda bagi Karina Prameswari. Hari ini adalah hari kebebasannya.Di dalam sel tahanan yang telah menjadi rumahnya selama tiga tahun, Karina berkemas pelan. Langkah kaki sipir terdengar mendekat untuk menjemputnya.Sebelum melangkah menuju pintu gerbang utama, Karina memeluk erat teman-teman satu selnya.Loli dan beberapa tahanan lain meneteskan air mata haru, melepaskan wanita yang selama ini menjadi sosok lembut di antara kerasnya dinding penjara.Di sudut ruangan, Elen—sang penguasa sel yang bertubuh tinggi tegap—hanya berdiri membisu, menyaksikan perpisahan itu tanpa niat bergabung.Karina memutar tubuhnya, menatap Elen. Wanita yang dulu selalu menindasnya di awal masa tahanan itu telah berubah menjadi sosok pelindung terdepan bagi Karina selama tiga tahun terakhir.Karina melangkah mendekat. "Kak E
Di Pulau Batam, cuaca siang terasa terik.Rain Gumilang berjalan tergesa-gesa menyusuri lobi lantai lima kantor cabang Miracle Group—sebuah gedung pencakar langit megah yang baru saja diakuisisi oleh ayahnya dan belum sempat Rain kunjungi sebelumnya."Bos!" Reza berjalan setengah berlari di belakang Rain, membawa dua tas dokumen yang tebal. "Gue tahu lo juara lari maraton waktu di militer... tapi ini di kantor! Bisa nggak pelan dikit jalannya? Gue ngos-ngosan nih! Bos!"Rain tidak peduli dengan rengekan Reza. Ia harus sampai lebih dulu dari ayahnya. Namun, saat Rain hendak berbelok di koridor utama menuju ruang rapat—BRUK!Rain berbenturan keras dengan seorang wanita yang berjalan cepat dari arah berlawanan.Tumpukan folder dokumen, kertas laporan, dan tablet yang dibawa wanita itu seketika terlepas dan berhamburan berantakan di atas lantai marmer."Aww!" wanita itu merintih, refleks memegangi lengannya.Wanita itu bernama Natasha. Berusia setara dengan Karina, Natasha memilik
"Saya enggak bisa menerimanya, Pak Malik," ucap Devran lirih namun tegas.Pak Malik terkejut. Eric yang duduk di samping Devran langsung melotot tak percaya."Kenapa, Pak Devran?" tanya Pak Malik terheran-heran. "Ini adalah hak hukum Anda sebagai suami sah beliau.""Saya merasa jijik sama diri saya sendiri kalau menerima semua ini," bisik Devran dengan nada penuh penyesalan. "Selama tiga tahun menikah, saya gak pernah membahagiakan Renata. Pernikahan kami cuma diisi kebencian. Kalau saya ambil warisan ini sekarang... saya cuma akan kelihatan seperti pria brengsek yang mengeruk keuntungan dari kematian tragis istrinya sendiri. Tolong alihkan saja semuanya."Pak Malik menghela napas berat. "Jika Anda menolak secara resmi, Pak Devran, maka sesuai klausul cadangan, seluruh aset keluarga Masayu akan dibekukan dan dialihkan ke yayasan sosial. Tapi... saya minta Anda pikirkan baik-baik."Eric yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak bisa tinggal diam lagi. Ia mencondongkan tubuhnya ke
Pagi itu, udara Jakarta terasa luar biasa dingin. Kabut tipis menyelimuti deretan pohon kamboja di Pemakaman Umum Tanah Kusir.Mobil-mobil mewah berwarna hitam berderet rapi di sepanjang bahu jalan kompleks pemakaman.Puluhan orang berseragam gaun dan setelan jas hitam berkumpul mengelilingi liang lahat yang masih menganga lebar, menunggu prosesi pemakaman dimulai.Tiga hari telah berlalu sejak malam mencekam di bangunan terbengkalai itu—malam yang diwarnai penyekapan, ledakan bom yang menewaskan Anggun dan Hexa, hingga ditemukannya jenazah kaku Renata Masayu di dalam kulkas.Hari ini, seluruh babak berdarah itu ditutup dengan keheningan yang abadi.Devran berdiri paling depan di tepi liang lahat. Pria itu mengenakan kemeja dan jas hitam, matanya tertutup kacamata hitam untuk menyembunyikan sembap dan luka memar yang belum sepenuhnya pulih. Ia datang untuk mengantarkan mendiang istrinya ke peristirahatan terakhir.Di dalam peti mati kayu jati berukir yang dihiasi hamparan mawar put
Berita penculikan kapten pilot Devran, ledakan bom di gedung tua yang menewaskan Anggun dan Hexa, hingga ditemukannya mayat tragis CEO Samudera Airlines, Renata Masayu di dalam kulkas perusahaannya sendiri, meledak menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi dan media nasional siang itu.Seluruh Indonesia menahan napas; kenyataan bahwa sang CEO dibunuh secara keji oleh saudara kembar kandungnya sendiri yang selama ini disembunyikan dari publik menjadi skandal terbesar tahun ini.Di Lapas Wanita Cipinang, suasana kantin saat makan siang mendadak hening. Televisi gantung di sudut ruangan menayangkan breaking news mengenai kematian Renata Masayu.Karina, yang sedang duduk bersama Loli dan beberapa tahanan lain, menghentikan suapannya. Matanya menatap layar televisi tanpa berkedip. Wajahnya memucat, rasa syok mendalam merayapi dadanya.Loli menyenggol lengan Karina pelan, matanya membelalak. "Kar... bukannya itu mantan bos kamu di maskapai dulu? Si Renata Masayu yang terkenal galak i
"Di mana Renata?! Apa yang sudah kalian lakukan padanya?!" bentak Devran.Anggun hanya terdiam, gemetaran dalam ketakutan.Melihat rahasia besar terbongkar dan Anggun terpojok, Hexa bergerak secepat kilat. Ia menarik pistol otomatis dari balik jasnya dan menodongkannya tepat ke dahi Devran."Tutup mulutmu, Pilot!"Namun Devran yang terlatih tidak tinggal diam. Dengan refleks secepat angin, Devran memutar tubuhnya, mengayunkan tendangan lurus yang menghantam pergelangan tangan Hexa keras.BUK!Pistol terlempar ke udara dan terjatuh di lantai beton. Perkelahian fisik yang sengit tak terhindarkan. Devran dan Hexa saling banting, melayangkan pukulan mentah di tengah kepungan debu dan reruntuhan.Di sudut lain, Anggun yang panik luar biasa berlutut di depan bom waktu. Mengingat sedikit pengetahuan tentang peledak, jemarinya yang gemetar mencabut asal salah satu kabel berwarna merah.BZZZZT!Layar digital bom mendadak mati. Penghitung waktu berhenti tepat di angka 01:12.Pada saat yang bers







