LOGINFajar di langit Batam baru saja merekah, menyapu cakrawala dengan warna oranye yang pucat dan dingin. Namun, di dalam lantai teratas Hotel Victoria, suasana terasa mencekam, seolah-olah waktu berhenti berdetak.
Karina masih meringkuk di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, jantungnya bertalu-talu menghantam rongga dada. Setiap gesekan kain seragamnya dengan dinding terasa seperti suara ledakan di telinganya. Di luar sana, di ruang Suite yang luas dan mewah itu, pintu utama terbuka dengan sentakan kasar. Renata Masayu melangkah masuk dengan keanggunan seorang predator. Matanya yang tajam dan dingin langsung menyisir setiap sudut ruangan, mencari satu celah, satu noda, atau satu helai rambut yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan harga diri pria yang berdiri di depannya. Hengki, manajer maskapai sekaligus tangan kanan Renata, mengekor di belakang dengan senyum remeh yang menghias wajahnya. Laki-laki itu selalu menikmati momen-momen saat Devran, sang pilot idaman, dipojokkan seperti binatang buruan. "Nggak nemu apa-apa, Ren?" suara Devran terdengar rendah, parau namun sarat akan kebencian. Ia berdiri dengan dada bidang yang terbuka, otot-otot lengannya menegang saat ia menyandarkan diri di dekat wastafel luar, menghalangi pandangan ke arah kamar mandi. Renata tidak menjawab. Ia berjalan mendekati ranjang, menatap alas kasur yang kusut masai-bekas insiden tergelincirnya Karina tadi. Ia menyentuh seprai itu dengan ujung jemarinya yang berpoles kutek merah darah, seolah-olah sedang memeriksa barang bukti di tempat kejadian perkara. "Ranjang lo berantakan banget, Dev. Main sendirian atau ada yang baru aja lari lewat jendela?" Renata berbalik, menatap Devran dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Inget ya, sekali aja gue liat ada perempuan di kamar ini, detik itu juga lo kehilangan sayap lo. Gue bakal pecat lo secara tidak hormat dan pastiin lo nggak akan pernah bisa nerbangin layangan sekalipun di negara ini." Devran mendengus, tawa kering lolos dari bibirnya. "Lo tau betul gue nggak serendah itu, Ren. Lagian, bukannya lo bakal seneng kalau gue bikin salah? Itu kan makanan lo setiap hari, nungguin gue jatuh ke lubang supaya lo punya bahan baru buat ngerendahin gue di depan semua orang." Renata melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma maskulin Devran yang bercampur dengan ketegangan. Ia menatap suaminya itu dengan tatapan kosong, tanpa cinta, hanya ada dendam yang terpelihara dengan rapi. "Lo emang pinter, Dev. Tapi jangan lupa, pernikahan ini terjadi bukan buat bikin lo bahagia," Renata berbisik, suaranya tajam seperti sembilu yang menyayat. "Setiap kali gue liat muka lo, gue selalu inget gimana nyokap gue nangis-nangis di depan bokap lo. Gue inget gimana nyokap gue tersiksa dalam mahligai hampa sama bokap gue cuma karena dia nggak bisa dapetin Wisnu Mahendra." Di balik pintu kamar mandi, Karina menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Air matanya mengalir tanpa suara. Ia tidak hanya mendengar rahasia besar, tapi ia mendengar bagaimana sebuah jiwa sedang dihancurkan secara sistematis. "Gue bakal pastiin lo nggak akan pernah nemuin kedamaian, Devran," lanjut Renata dengan nada yang sangat tenang, namun mematikan. "Gue mau liat lo hancur pelan-pelan. Gue mau liat lo depresi sampe lo nggak kuat lagi narik napas. Gue pengen liat lo loncat dari balkon kamar ini, persis kayak nyokap gue yang milih mati karena gila gara-gara bokap lo." Hengki yang sejak tadi berdiri di belakang Renata ikut angkat bicara, suaranya mengandung nada ejekan yang kental. "Lo denger itu, Kapten? Lo itu cuma alat. Laki-laki nggak guna yang kebetulan dinikahi sama Renata Masayu. Tanpa Renata, lo itu nggak lebih dari sampah yang nggak punya harga diri." Devran mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah mendidih di dalam dadanya, namun ia sadar bahwa melawan Renata adalah kesia-siaan. Wanita itu memiliki segalanya: uang, kekuasaan, dan kemampuan bersandiwara yang luar biasa di depan publik. Di hadapan dunia, mereka adalah pasangan sempurna, namun di balik pintu ini, Devran hanyalah alas kaki yang diinjak-injak setiap hari. "Puas?" tanya Devran dengan suara bergetar karena emosi yang tertahan. "Kalau udah puas menghina gue, silakan pergi. Gue butuh istirahat sebelum terbang lagi." Renata tersenyum sinis, sebuah senyum kemenangan yang hampa. Ia berbalik, bersiap untuk meninggalkan kamar. Namun, sebelum Hengki melangkah keluar mengikuti bosnya, laki-laki itu berhenti tepat di samping Devran. Ia mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu yang membuat dunia Devran serasa runtuh seketika. "Lo boleh bangga jadi pilot hebat di kokpit sekaligus suami CEO maskapai. Tapi jangan lupa, semalam gue yang nemenin Renata. Istri lo itu... bener-bener tau gimana cara bikin laki-laki puas," bisik Hengki sambil tertawa mengejek. Hengki menepuk bahu Devran yang kaku, lalu melangkah pergi menyusul Renata. Suara tawa Hengki yang puas menggema di koridor hotel sebelum akhirnya pintu tertutup dengan dentuman pelan namun berat. Keheningan yang mencekam kembali menguasai ruangan. Karina perlahan membuka pintu kamar mandi. Langkahnya gontai, kakinya terasa lemas setelah mendengar semua kebenaran yang begitu pahit. Ia melihat Devran berdiri mematung menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Batam yang mulai sibuk. Devran tidak menoleh. Bahunya yang lebar tampak turun, seolah memikul beban seluruh dunia. "Kamu bisa pergi sekarang, Karina," ucap Devran pelan, suaranya terdengar sangat lelah. "Pergi sebelum ada orang lain yang lihat kamu di sini." "Kapten..." Karina melangkah setindak, niat hati ingin memberikan penghiburan, namun ia sadar bahwa ia hanyalah orang asing yang terjebak dalam badai rumah tangga orang lain. "Saya bilang pergi," ulang Devran, kali ini lebih halus namun tegas. Karina terpaku saat melihat pantulan wajah Devran di kaca jendela. Pria yang selama ini dianggap sebagai dewa bagi para pramugari, pria yang tampak sempurna dan tak tersentuh itu, kini sedang menyeka air mata yang jatuh di pipinya secara diam-diam. Hati Karina berdenyut nyeri. Ia merasa iba, sebuah rasa yang tidak seharusnya ia miliki untuk pria yang bukan suaminya. Karina menyambar tas dan kopernya, melangkah menuju pintu dengan hati yang hancur. Saat ia mencapai ambang pintu, ia menoleh sekali lagi ke arah Devran yang masih berdiri di sana, sendirian dalam kesunyian yang menyiksa. "Saya nggak tahu harus bilang apa, Kapten. Tapi... makasih sudah menyelamatkan saya," bisik Karina lirih. Devran tidak menjawab. Ia hanya terus menatap langit, membiarkan luka-lukanya menganga lebar tanpa ada yang bisa menyembuhkan. Karina keluar dari kamar itu, menutup pintu dengan perlahan, seolah-olah sedang menutup sebuah babak gelap yang tak sengaja ia baca. Di koridor hotel yang dingin, Karina berjalan dengan air mata yang terus mengalir. Ia memikirkan Ferdi yang sedang terbaring sakit di Jakarta, dan ia memikirkan Devran yang hancur di Batam. Ternyata, di balik kemewahan seragam dan gedung-gedung tinggi, semua orang sedang berjuang melawan nerakanya masing-masing.Waktu bergulir tanpa kompromi. Tiga tahun berlalu penuh dinamika, membawa perubahan mendalam bagi mereka yang bertahan.Pagi ini, udara di luar Lembaga Pemasyarakatan Wanita terasa berbeda bagi Karina Prameswari. Hari ini adalah hari kebebasannya.Di dalam sel tahanan yang telah menjadi rumahnya selama tiga tahun, Karina berkemas pelan. Langkah kaki sipir terdengar mendekat untuk menjemputnya.Sebelum melangkah menuju pintu gerbang utama, Karina memeluk erat teman-teman satu selnya.Loli dan beberapa tahanan lain meneteskan air mata haru, melepaskan wanita yang selama ini menjadi sosok lembut di antara kerasnya dinding penjara.Di sudut ruangan, Elen—sang penguasa sel yang bertubuh tinggi tegap—hanya berdiri membisu, menyaksikan perpisahan itu tanpa niat bergabung.Karina memutar tubuhnya, menatap Elen. Wanita yang dulu selalu menindasnya di awal masa tahanan itu telah berubah menjadi sosok pelindung terdepan bagi Karina selama tiga tahun terakhir.Karina melangkah mendekat. "Kak E
Di Pulau Batam, cuaca siang terasa terik.Rain Gumilang berjalan tergesa-gesa menyusuri lobi lantai lima kantor cabang Miracle Group—sebuah gedung pencakar langit megah yang baru saja diakuisisi oleh ayahnya dan belum sempat Rain kunjungi sebelumnya."Bos!" Reza berjalan setengah berlari di belakang Rain, membawa dua tas dokumen yang tebal. "Gue tahu lo juara lari maraton waktu di militer... tapi ini di kantor! Bisa nggak pelan dikit jalannya? Gue ngos-ngosan nih! Bos!"Rain tidak peduli dengan rengekan Reza. Ia harus sampai lebih dulu dari ayahnya. Namun, saat Rain hendak berbelok di koridor utama menuju ruang rapat—BRUK!Rain berbenturan keras dengan seorang wanita yang berjalan cepat dari arah berlawanan.Tumpukan folder dokumen, kertas laporan, dan tablet yang dibawa wanita itu seketika terlepas dan berhamburan berantakan di atas lantai marmer."Aww!" wanita itu merintih, refleks memegangi lengannya.Wanita itu bernama Natasha. Berusia setara dengan Karina, Natasha memilik
"Saya enggak bisa menerimanya, Pak Malik," ucap Devran lirih namun tegas.Pak Malik terkejut. Eric yang duduk di samping Devran langsung melotot tak percaya."Kenapa, Pak Devran?" tanya Pak Malik terheran-heran. "Ini adalah hak hukum Anda sebagai suami sah beliau.""Saya merasa jijik sama diri saya sendiri kalau menerima semua ini," bisik Devran dengan nada penuh penyesalan. "Selama tiga tahun menikah, saya gak pernah membahagiakan Renata. Pernikahan kami cuma diisi kebencian. Kalau saya ambil warisan ini sekarang... saya cuma akan kelihatan seperti pria brengsek yang mengeruk keuntungan dari kematian tragis istrinya sendiri. Tolong alihkan saja semuanya."Pak Malik menghela napas berat. "Jika Anda menolak secara resmi, Pak Devran, maka sesuai klausul cadangan, seluruh aset keluarga Masayu akan dibekukan dan dialihkan ke yayasan sosial. Tapi... saya minta Anda pikirkan baik-baik."Eric yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak bisa tinggal diam lagi. Ia mencondongkan tubuhnya ke
Pagi itu, udara Jakarta terasa luar biasa dingin. Kabut tipis menyelimuti deretan pohon kamboja di Pemakaman Umum Tanah Kusir.Mobil-mobil mewah berwarna hitam berderet rapi di sepanjang bahu jalan kompleks pemakaman.Puluhan orang berseragam gaun dan setelan jas hitam berkumpul mengelilingi liang lahat yang masih menganga lebar, menunggu prosesi pemakaman dimulai.Tiga hari telah berlalu sejak malam mencekam di bangunan terbengkalai itu—malam yang diwarnai penyekapan, ledakan bom yang menewaskan Anggun dan Hexa, hingga ditemukannya jenazah kaku Renata Masayu di dalam kulkas.Hari ini, seluruh babak berdarah itu ditutup dengan keheningan yang abadi.Devran berdiri paling depan di tepi liang lahat. Pria itu mengenakan kemeja dan jas hitam, matanya tertutup kacamata hitam untuk menyembunyikan sembap dan luka memar yang belum sepenuhnya pulih. Ia datang untuk mengantarkan mendiang istrinya ke peristirahatan terakhir.Di dalam peti mati kayu jati berukir yang dihiasi hamparan mawar put
Berita penculikan kapten pilot Devran, ledakan bom di gedung tua yang menewaskan Anggun dan Hexa, hingga ditemukannya mayat tragis CEO Samudera Airlines, Renata Masayu di dalam kulkas perusahaannya sendiri, meledak menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi dan media nasional siang itu.Seluruh Indonesia menahan napas; kenyataan bahwa sang CEO dibunuh secara keji oleh saudara kembar kandungnya sendiri yang selama ini disembunyikan dari publik menjadi skandal terbesar tahun ini.Di Lapas Wanita Cipinang, suasana kantin saat makan siang mendadak hening. Televisi gantung di sudut ruangan menayangkan breaking news mengenai kematian Renata Masayu.Karina, yang sedang duduk bersama Loli dan beberapa tahanan lain, menghentikan suapannya. Matanya menatap layar televisi tanpa berkedip. Wajahnya memucat, rasa syok mendalam merayapi dadanya.Loli menyenggol lengan Karina pelan, matanya membelalak. "Kar... bukannya itu mantan bos kamu di maskapai dulu? Si Renata Masayu yang terkenal galak i
"Di mana Renata?! Apa yang sudah kalian lakukan padanya?!" bentak Devran.Anggun hanya terdiam, gemetaran dalam ketakutan.Melihat rahasia besar terbongkar dan Anggun terpojok, Hexa bergerak secepat kilat. Ia menarik pistol otomatis dari balik jasnya dan menodongkannya tepat ke dahi Devran."Tutup mulutmu, Pilot!"Namun Devran yang terlatih tidak tinggal diam. Dengan refleks secepat angin, Devran memutar tubuhnya, mengayunkan tendangan lurus yang menghantam pergelangan tangan Hexa keras.BUK!Pistol terlempar ke udara dan terjatuh di lantai beton. Perkelahian fisik yang sengit tak terhindarkan. Devran dan Hexa saling banting, melayangkan pukulan mentah di tengah kepungan debu dan reruntuhan.Di sudut lain, Anggun yang panik luar biasa berlutut di depan bom waktu. Mengingat sedikit pengetahuan tentang peledak, jemarinya yang gemetar mencabut asal salah satu kabel berwarna merah.BZZZZT!Layar digital bom mendadak mati. Penghitung waktu berhenti tepat di angka 01:12.Pada saat yang bers







