بيت / Romansa / MAHLIGAI DOSA / Chapter 6. Harga Diri Seorang Laki-laki

مشاركة

Chapter 6. Harga Diri Seorang Laki-laki

مؤلف: Dewa Amour
last update تاريخ النشر: 2026-04-13 19:53:06

Lampu kabin Airbus A320 itu diredupkan, menciptakan suasana remang yang menenangkan bagi para penumpang yang mulai terlelap dalam perjalanan menuju Jakarta.

Namun, di bagian belakang pesawat, ketenangan itu hanyalah fatamorgana. Karina berdiri di depan wastafel dapur pesawat, menahan perih saat air dingin membasuh luka bakar di punggung tangannya yang memerah akibat siraman kopi panas Renata.

Napasnya masih pendek-pendek, mencoba mengusir rasa terhina yang membakar dadanya lebih hebat dari luka fisik itu sendiri.

Tiba-tiba, sebuah bayangan besar menyelimuti punggungnya. Sebelum Karina sempat menoleh, dua lengan kokoh melingkar di pinggangnya, menarik tubuhnya rapat ke belakang.

Aroma parfum maskulin yang tajam dan bau minuman samar menyerbu indra penciumannya.

"Lepasin!" Karina menjerit tertahan, tubuhnya menegang hebat saat ia berusaha meronta dari pelukan itu.

Hengki menyeringai di balik pundak Karina, matanya berkilat penuh nafsu yang menjijikkan. "Nggak usah munafik lah, Karina. Saya tahu persis tipe-tipe pramugari kayak kalian. Sok suci di depan, tapi haus perhatian kalau udah di belakang," bisiknya dengan nada yang membuat bulu kuduk Karina berdiri.

Karina berhasil menyentakkan tubuhnya hingga pelukan itu terlepas. Ia berbalik dengan wajah merah padam, matanya berkaca-kaca karena amarah.

Rasanya ia ingin sekali menampar wajah sombong manajer itu, namun bayangan surat pemecatan dan kondisi Ferdi di rumah sakit menahan tangannya di udara.

"Maaf, Pak Hengki... tolong bersikap profesional. Saya sedang bertugas," suara Karina bergetar, berusaha sekuat tenaga menjaga nada bicaranya tetap sopan meski hatinya mendidih. "Saya minta maaf kalau ada sikap saya yang salah, tapi tolong... jangan ulangi lagi."

Tanpa menunggu jawaban, Karina menyambar tas kecilnya dan melangkah cepat meninggalkan area toilet.

Hengki tidak mengejar, ia hanya berdiri menyandar di dinding sambil memasukkan tangan ke saku celana. Senyum seringainya belum hilang.

"Dasar munafik," gumam Hengki pelan, suaranya dingin dan penuh keyakinan. "Nggak ada pramugari yang pernah nolak gue sampe akhir. Gue pasti dapet apa yang gue mau, termasuk lo."

........................................

Karina berjalan setengah berlari menuju bagian depan pesawat, wajahnya pucat pasi seolah baru saja melihat hantu. Ririn, yang sedang menata majalah di kursi kosong, langsung menyadari perubahan drastis pada rekannya itu.

"Kar? Lo kenapa? Muka lo kayak abis liat setan," tanya Ririn penuh selidik.

Karina menggeleng cepat, mencoba mengatur napasnya yang menderu. Ia tak berani menceritakan kebejatan Hengki; ia tahu Renata akan selalu membela selingkuhannya itu. "Nggak apa-apa, Mbak. Cuma... cuma kepikiran Ferdi aja. Rasanya pengen cepet sampai Jakarta."

Ririn tersenyum maklum, menepuk bahu Karina lembut. "Sabar ya, satu jam lagi kita landing kok. Eh, mending lo anterin kopi ini ke Kapten Devran. Eric tadi ijin ke toilet, mumpung Kapten sendirian di depan."

Karina menerima baki berisi cangkir kopi hitam yang masih mengepul itu. Dengan langkah ragu, ia mengetuk pintu kokpit dan masuk ke dalam ruang sempit yang dipenuhi pendar instrumen digital tersebut.

Di sana, Devran sedang fokus menatap cakrawala malam melalui kaca depan yang luas.

Karina berdiri diam sejenak, memandangi punggung tegap Devran yang dibalut kemeja putih pilot. Ada beban berat yang seolah membebani pundak pria itu, namun tetap terlihat gagah di tengah kesunyian kokpit.

"Kopinya, Kapten," suara Karina memecah kesunyian.

Devran menoleh, sebuah senyum tipis yang tulus tersungging di bibirnya-senyum yang sangat jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Ia bangkit dari kursi pilot untuk menerima cangkir tersebut.

Ruangan yang sangat sempit itu membuat tubuh mereka berdiri dalam jarak yang amat dekat. Karina bisa mencium aroma parfum mahal dan kelelahan dari tubuh Devran. Jantungnya berdebar kencang, sebuah debaran yang ia tahu salah, namun tak bisa ia kendalikan.

Devran menyesap kopi itu perlahan sambil menatap mata Karina dalam-dalam. "Kopi buatan kamu ini... enak banget. Pas," ucapnya lembut.

"Hm, Mbak Ririn yang buat, Kapten," jawab Karina jujur, menundukkan kepalanya karena tak kuat menahan tatapan intens itu.

Devran tertawa kecil, suara tawa yang rendah dan hangat yang jarang sekali terdengar. "Oh ya? Bilangin Ririn, lain kali kopi buatannya harus seenak ini terus."

Karina tertegun melihat tawa itu. Ada luka di balik mata Devran, namun tawa itu sejenak menghapus bayangan pria menyedihkan yang ia lihat di hotel Batam.

Untuk beberapa detik, mereka hanya berdiri dalam diam, berbagi keheningan yang terasa jauh lebih nyaman daripada kebisingan di luar sana.

.......................................

Pesawat mendarat dengan mulus di Jakarta saat fajar mulai menyingsing. Setelah semua penumpang turun, Karina masuk ke toilet untuk merapikan riasannya yang mulai luntur. Saat ia sedang membasuh tangan yang masih terbalut salep, pintu toilet terbuka.

Renata Masayu masuk dengan langkah angkuh. Ia berdiri di cermin sebelah Karina, mengabaikan sapaan sopan Karina seolah wanita itu hanyalah udara kosong. Renata mencuci tangan dengan gerakan elegan, seolah-olah air bisa membersihkan segala noda di hatinya.

"Karina," panggil Renata tiba-tiba tanpa menoleh.

"Iya, Bu Renata?"

"Selama tangan kamu belum sembuh total, jangan ikut penerbangan apa pun. Cuti saja di rumah," ucap Renata dingin. "Saya nggak mau ada pramugari yang kelihatan cacat melayani penumpang di pesawat saya."

Karina terperanjat. "Tapi Bu Renata, luka ini tidak-"

"Itu perintah, bukan diskusi," potong Renata tajam, lalu melangkah pergi tanpa sedikit pun rasa bersalah atas luka yang ia ciptakan sendiri.

Karina melangkah keluar dari toilet dengan bahu merosot. Di lorong, ia bertemu Ririn yang langsung menyadari wajah murung temannya.

Begitu Karina menceritakan perihal cuti paksa itu, Ririn menghela napas panjang, matanya memancarkan rasa tidak percaya.

"Gila ya, dia yang bikin luka di tangan lo, dia juga yang nyuruh cuti. Mana cuti sakit gitu biasanya nggak dibayar penuh," keluh Ririn sedih. "Padahal lo lagi butuh-butuhnya uang buat biaya pengobatan Ferdi."

"Nggak apa-apa, Mbak. Mungkin ini cara Tuhan supaya aku bisa fokus urus Mas Ferdi dulu," jawab Karina getir, meski dalam hatinya ia berteriak bingung memikirkan tagihan rumah sakit yang terus menumpuk.

Ibu mertuanya dan Julia jelas-jelas sudah menyatakan tidak mau membantu sepeser pun.

Saat berjalan menuju area parkir, langkah Karina kembali terhenti. Di kejauhan, ia melihat pemandangan yang membuat hatinya mencelos.

Devran sedang berjalan menuju mobil mewah miliknya. Namun yang mengejutkan, di belakangnya, Renata dan Hengki berjalan bergandengan tangan dengan sangat mesra, seolah dunia adalah milik mereka berdua.

Karina tertegun saat melihat Devran membukakan pintu untuk mereka. Renata dan Hengki masuk ke kursi tengah, duduk berdempetan dengan intim, sementara

Devran duduk di kursi pengemudi. Pemandangan itu sungguh tragis; Kapten Pilot kebanggaan maskapai itu kini tampak tak lebih dari seorang sopir bagi istrinya dan selingkuhan istrinya sendiri.

"Hina banget..." gumam Karina pelan, matanya berkaca-kaca melihat kehancuran harga diri Devran yang begitu dalam.

Namun, Karina segera menggelengkan kepala. Ia tidak boleh tenggelam dalam drama orang lain. Masalahnya sendiri jauh lebih besar. Dengan langkah cepat, ia menuju mobil taksi.

"Rumah Sakit Permata, Pak," ucapnya pada sopir taksi.

Di dalam kendaraan yang melaju membelah kemacetan Jakarta, Karina hanya bisa bersandar pada jendela, menatap gedung-gedung tinggi yang mulai bercahaya.

Ia telah kembali ke nerakanya sendiri-sebuah pernikahan yang beku, tagihan yang mencekik, dan ketidakpastian masa depan.

Di genggamannya, salep pemberian Devran terasa dingin, seolah menjadi satu-satunya sisa kehangatan di tengah hidupnya yang kian hari kian gelap.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 15. Terdampar Di Pulau Terpencil

    Malam kian melarut, namun kegelapan di pesisir Kalimantan ini terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah ia adalah entitas hidup yang siap menelan siapa saja yang terjebak di dalamnya.Di bawah pendar bintang yang samar, Devran bersandar pada sebuah batu karang besar yang dingin. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya.Kaki kirinya robek cukup dalam akibat serpihan logam pesawat, darah merembes keluar membasahi kain seragamnya yang compang-camping.Karina berdiri beberapa langkah di depannya, menatap hamparan laut yang hitam dan hutan lebat yang membentang di belakang mereka bagaikan barisan raksasa yang mengintimidasi.Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan firasat buruk. Tiba-tiba, dari kedalaman hutan, terdengar suara lolongan yang panjang dan menyayat-lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.Karina merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia tahu mereka tidak bisa terus berada di alam terbuka ini. "Kapten

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 14. Jatuhnya Airbus A380

    Sunyi yang mematikan menyelimuti kedalaman perairan Kalimantan. Bangkai logam raksasa itu kini beristirahat di dasar laut yang gelap, dikelilingi oleh gelembung-gelembung udara terakhir yang lolos dari kabin yang terendam.Di dalam sana, tak ada pergerakan. Hanya ada tubuh-tubuh yang terombang-ambing pelan mengikuti arus bawah laut, terperangkap dalam sabuk pengaman yang kini menjadi jerat maut.Di atas permukaan, pemandangannya berbanding terbalik. Deru baling-baling helikopter membelah langit yang mendung. Dari balik kacamata hitam Renata Masayu menatap keluar jendela helikopter dengan tatapan yang sulit diartikan.Begitu helikopter mendarat di area darurat yang didirikan di tepi pantai, pemandangan dramatis langsung menyambutnya. Garis pantai Kalimantan yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang.Puluhan mobil polisi dengan lampu strobo yang berkedip biru-merah memenuhi pelataran. Sepuluh ambulans berderet rapi, mesinnya tetap menyala, siap melesat kapan saja.Tim penye

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 13. Badai Di Atas Khatulistiwa

    Gemuruh mesin Airbus A320 membelah kesunyian landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing. Di dalam kokpit, Devran Mahendra menarik tuas kendali dengan presisi yang sempurna, membiarkan tubuh pesawat yang kokoh itu menanjak membelah awan menuju langit Kalimantan.Di balik seragam pilotnya, jantung Devran berdegup dengan irama yang tak biasa-bukan karena takut akan ketinggian, melainkan karena ia tahu, hanya beberapa meter di belakang dinding kokpit ini, Karina sedang melangkah anggun melayani penumpang.Di kabin, Karina dan Ririn bergerak dengan sigap. Senyum profesional terpasang di wajah mereka, menyamarkan badai batin yang sedang berkecamuk."Makasih, Kakak Cantik.""Sama-sama, Sayang."Karina tersenyum lembut menanggapi. Ia baru saja menyerahkan segelas air kepada seorang anak kecil saat ia merasakan getaran halus di bawah kakinya.Pikirannya melayang sejenak pada wajah Devran di kantin tadi pagi, namun ia segera menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus bertahan hidup

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 12. Hati Yang Rapuh

    Fajar belum benar-benar pecah di ufuk timur Jakarta, namun penthouse mewah itu sudah menyimpan ketegangan yang sunyi. Di dalam kamarnya, Devran Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan seragam pilotnya dengan ketelitian yang tidak biasa.Satu pekan telah berlalu sejak penerbangan ke Bali yang melelahkan secara mental, dan hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Namanya bersanding dengan nama Karina dalam daftar kru penerbangan menuju Kalimantan.Semalam, Devran melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan; ia tidur sangat awal. Ia menyumbat telinganya rapat-rapat dengan earphone, memutar musik klasik dengan volume tinggi hanya untuk membentengi diri dari suara-suara laknat-desahan dan tawa Renata bersama Hengki yang menggema dari kamar sebelah.Ia ingin bangun dengan wajah segar, tanpa kantung mata yang menghitam akibat frustrasi. Ia ingin terlihat sempurna saat mata Karina menatapnya nanti.Di ruang makan, Welas dan Bi Irah saling lirik dengan senyum kecil. Mereka menyadari peru

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 11. Risiko Seorang Pramugari

    Awan-awan putih berarak di bawah sayap Airbus A320, menghampar bagaikan permadani perak yang tak berujung. Di dalam kokpit yang hanya diterangi oleh pendar instrumen digital, Devran duduk seorang diri. Kesunyian di ketinggian 35.000 kaki itu biasanya menjadi meditasi baginya, namun kali ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan. Pikirannya melayang, menjauh dari tuas kendali, menembus memori tentang raut wajah Karina.Ia teringat kali pertama melihat wanita itu-seorang pramugari baru dengan binar mata penuh harapan yang kini mulai meredup akibat kerasnya hidup. Ia teringat pertemuan tak terduga di mall dua hari lalu, saat Karina tampak begitu rapuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Tanpa ia sadari, ada rasa rindu yang merayap halus, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan kebencian dan tekanan Renata."Kopi, Kapten?"Suara itu memecah lamunan Devran. Jantungnya sempat melonjak kecil, ada secercah harapan konyol bahwa suara lembut itu mili

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 10. Obsesi Sang Kapten

    Pagi menyapa Jakarta dengan langit kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan beban yang menindih bahu Devran Mahendra. Di depan cermin setinggi langit-langit kamarnya yang mewah, Devran berdiri tegak, melakukan ritual harian yang telah menjadi rutinitas hampa selama tiga tahun terakhir. Ia merapikan kerah seragam pilotnya yang putih kaku, memastikan setiap lencana dan tanda pangkat berada pada posisi yang sempurna. Siluet di depan cermin itu adalah gambaran kesempurnaan maskulin; wajah tampan dengan rahang tegas yang dicukur bersih, serta tubuh atletis yang terbentuk dari latihan disiplin. Namun, bagi Devran, pantulan itu hanyalah sebuah bungkus tanpa isi. Kesempurnaan fisik ini terasa sia-sia, sebuah panggung megah untuk pertunjukan yang tak pernah terjadi. Sebagai laki-laki di usia puncaknya, ia merasa seperti hidup dalam sel yang sangat sempit, tidak pernah benar-benar mengecap nikmatnya cinta dan kasih sayang yang tulus. Ia menarik laci kaca yang beris

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status