تسجيل الدخول"Di maskapai ini, pramugari yang sok cantik bakal dipecat!" Kalimat Renata Masayu itu bukan sekadar peringatan bagi Karina, melainkan awal dari neraka. Karina hanya ingin bekerja dengan baik sebagai pramugari baru di salah satu maskapai penerbangan terkenal, namun dilema perceraiannya dengan Ferdi membuatnya jatuh ke pelukan seorang pilot tuampan, suami CEO maskapai tersebut. Kapten Devran Mahendra, definisi laki-laki idaman para wanita--terjebak dalam pernikahan toksik dengan wanita arogan, Renata Masayu. Hingga ia menemukan kenyamanan dari hubungan terlarangnya dengan pramugari cantik, Karina Prameswari. Perselingkuhan, balas dendam dan ambisi pun dimulai. Mampukah Devran dan Karina bertahan dari kemurkaan dan kekuasaan seorang Renata Masayu?
عرض المزيد"Aah! Pelan-pelan, Kapten..."
Karina mencengkeram bahu Devran yang sedang bergerak liar di atasnya. Ia tahu ini dosa besar, namun kerapuhan dan putus asa membuatnya tak peduli apapun lagi selain mencari pelarian. .............................................. Jakarta, 2025. Langit di atas Bandara Soekarno-Hatta kelabu, seolah turut merasakan mendung yang menggelayuti hati Karina. Setiap tarikan napas terasa berat, membebani rongga dada yang sesak. Koper kabinnya terasa seperti beban berton-ton, diseretnya perlahan di koridor terminal yang lengang, gema rodanya beradu dengan langkah kaki yang hampa. Karina, 21 tahun, seragam pramugari Samudera Airline membalut tubuhnya yang ramping, namun aura profesionalnya runtuh dihempas badai berita. Wajah ayunya pias, air mata menggenang di pelupuk mata yang sembab, tak peduli pada tatapan samar dari beberapa penumpang yang berpapasan. Beberapa menit sebelumnya, ponselnya bergetar di saku, menampilkan nama yang tak asing namun kini terasa asing: Ibu Mertua. Suara di seberang sana, yang biasanya lembut dan penuh perhatian, kini terdengar pecah oleh tangis dan histeria. Ferdi mengalami kecelakaan saat pemotretan di puncak gunung. Kata-kata itu berputar-putar di benaknya, merobek ketenangan yang selama ini dipertahankannya. Suaminya, Ferdi Prasetyo, sang fotografer petualang, kini terbaring tak berdaya. Tanpa pikir panjang, Karina mengajukan pembatalan penerbangan ke manajer on duty, suaranya tercekat. Ia harus kembali ke Jakarta, harus melihat Ferdi. Di dalam taksi yang melaju membelah padatnya Jakarta, dunia terasa berputar lambat. Rintik hujan mulai membasahi kaca jendela, seolah mencerminkan air mata yang tak henti mengalir di pipi Karina. Ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata, berusaha mengusir bayangan Ferdi yang terbaring lemah. Namun, yang muncul justru kenangan setahun silam, saat dunia mereka masih sempurna. Kilau cincin kawin di jarinya memantulkan cahaya lampu jalan, membawa Karina kembali pada hari itu. Ferdi, suaminya, seorang fotografer sukses yang namanya melambung tinggi. Pria humoris, romantis, dan penuh kejutan yang tak pernah gagal membuatnya tertawa. Pernikahan mereka bagai dongeng yang menjadi nyata. Sebuah rumah baru yang megah, mobil mewah yang berkilau, semua adalah hadiah pernikahan dari Ferdi, bukti cintanya yang melimpah ruah. Karina ingat bagaimana Ferdi selalu ada, selalu mendekapnya hangat, selalu berbagi impian. Namun, segalanya berubah. Pelan-pelan, setahap demi setahap, kehangatan itu memudar. Tawa Ferdi menghilang, digantikan tatapan kosong. Sentuhan lembut berganti dengan jarak yang tak terucap. Laki-laki yang dulu selalu menemukan cara untuk membuat kejutan manis, kini berubah menjadi patung es, membisu seribu bahasa. Berbulan-bulan. Berbulan-bulan Karina hidup dalam kebisuan, dalam dinginnya tembok yang tak terlihat. Ia mencoba bertanya, mencoba mendekat, namun Ferdi hanya membuang muka, atau lebih parah lagi, menghilang dalam kesibukannya. Karina mendesah pilu, menyeka air mata dengan punggung tangan. Perih. Ini lebih perih daripada luka fisik mana pun. Ia tak pernah menyalahkan Ferdi atas kesulitan finansial yang mulai melanda. Proyek-proyek besar yang dulu menghampiri Ferdi kini jarang datang, dan Karina tahu itu membebani suaminya. Ia berusaha mengerti, berusaha mendukung, namun Ferdi justru semakin menjauh. Ia merindukan Ferdi yang dulu, Ferdi yang selalu menjadi sandaran hatinya. Taksi berhenti di depan sebuah gedung megah; Rumah Sakit Permata. Jantung Karina berdebar tak karuan. Ia melangkah masuk, merasakan atmosfer muram yang menyelimuti lobi. Bau antiseptik menusuk indra penciumannya, menambah kegelisahan. Di koridor menuju ICU, sosok Dewi, ibu Ferdi, dan Viona, kakak perempuan Ferdi, sudah menunggu. Wajah mereka bukan menyiratkan keprihatinan, melainkan tatapan sinis yang menghunus hati Karina. "Karina!" seru Dewi, suaranya tajam, sarat emosi. Tanpa basa-basi, wanita paruh baya itu menarik lengan Karina dengan kasar. "Ini semua gara-gara kamu! Ferdi jadi begini karena kamu!" Karina terkesiap, tubuhnya menegang. Ia ingin membela diri, ingin menjelaskan, namun kata-kata tertahan di tenggorokannya. Sebelum ia sempat berbicara, Viona menyambar, tatapan kakaknya menusuk. "Iya, lo sibuk sama karier lo itu! Terbang sana-sini, lupa suami! Lupa kewajiban sebagai istri!" Sakit. Hati Karina serasa diremukkan. Di tengah duka dan kekhawatiran akan Ferdi, ia justru dihantam tuduhan keji. Air mata yang sempat tertahan kembali tumpah ruah, mengalir deras membasahi pipi. Ia meraung dalam tangis, bukan hanya karena duka atas Ferdi, tapi juga karena keputusasaan. Justru ia yang selama ini tersiksa, justru ia yang selama ini berjuang menghadapi dinginnya Ferdi, dan kini ia yang disalahkan. Ketidakadilan ini terasa mencekiknya. Dewi dan Viona terus melontarkan kata-kata pedas, mengabaikan tangis Karina yang memilukan. Karina hanya bisa menunduk, bahunya bergetar. Hatinya hancur berkeping-keping. Dengan sisa kekuatan yang ada, Karina melepaskan diri dari cekalan ibu mertua, melangkah gontai menuju ruang ICU. Dari balik kaca, ia melihat Ferdi terbaring tak berdaya, wajahnya pucat pasi, kakinya dibalut gips tebal. Pemandangan itu merobek hatinya. Ia masuk, menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokannya. "Mas Ferdi..." Suaranya berbisik, serak. Ferdi, begitu menyadari kehadiran Karina, segera membuang wajahnya ke samping, menatap kosong ke dinding putih. Ada harga diri yang terlalu tinggi di balik sikap itu, ketakutan untuk terlihat lemah di hadapan Karina yang kariernya sedang meroket. Ia tak ingin Karina melihat kerapuhannya. Sikapnya yang dingin tak pernah berubah, bahkan di ranjang rumah sakit. Karina, dengan hati yang terluka, berusaha menahan kesabarannya. Ia mendekat, meraih jemari Ferdi yang tergeletak lemas di atas selimut. Jemari itu dingin, tak lagi memancarkan kehangatan yang dulu selalu ia dambakan. Air mata kembali mengalir, membasahi tangannya yang menggenggam jemari Ferdi. Ferdi merasakan sentuhan itu, merasakan kehangatan air mata Karina yang jatuh di punggung tangannya. Tanpa Karina ketahui, sebutir air mata mengalir di sudut mata Ferdi, menuruni pelipisnya dan menghilang di rambutnya. Ia memang memalingkan wajah, menyembunyikan kerapuhan, namun hatinya tak sekeras batu. Ada penyesalan, ada rasa bersalah, yang tersembunyi di balik topeng dingin itu. Sepulang dari rumah sakit, Karina kembali ke rumah yang terasa hampa. Suasana sepi mencekik. Belum sempat ia menenangkan diri, ponselnya kembali berdering. Panggilan dari Samudera Airline. Besok, ia harus bertugas. Menggantikan pramugari senior yang berhalangan. Jantung Karina mencelos. Besok? Ferdi masih di rumah sakit, masih membutuhkan dirinya. Ia ingin menolak, ingin berteriak bahwa ia tak bisa, namun keberanian itu menguap begitu saja. Ia hanyalah pramugari baru, belum genap setahun bergabung dengan maskapai elite ini. Untuk bisa menjadi bagian dari Samudera Airline, perjuangannya tidak mudah. Ada persaingan ketat, pelatihan berat, dan tuntutan profesionalisme yang tinggi. Menolak tugas, terutama tugas mendadak seperti ini, bisa berakibat fatal bagi kariernya yang baru menanjak. Ia menghela napas pasrah. Lagi-lagi, ia harus mengesampingkan perasaannya demi pekerjaan. Pagi-pagi buta, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Karina sudah mengenakan seragam pramugarinya yang rapi. Ia menyempatkan diri kembali ke rumah sakit, ingin melihat Ferdi sebelum terbang ke Batam. Di samping ranjang Ferdi, ia berbisik lembut, "Mas, aku harus terbang ke Batam hari ini. Menggantikan senior." Ferdi mengangguk pelan, tatapannya kosong. Sebuah izin yang terasa hambar. Karina membungkuk, mencium punggung tangan Ferdi, berharap ada kehangatan yang terpancar, namun yang ia rasakan hanya dingin. Pamitnya terasa berat, meninggalkan Ferdi dalam kondisi seperti itu. Saat melangkah keluar dari kamar rawat, di koridor, ia berpapasan dengan Dewi dan Viona. Keduanya berdiri tegak, dengan tatapan menghakimi. Dewi menatap sinis pada seragam pramugari Karina, seolah seragam itu adalah simbol ketidakpedulian. "Lihat tuh, Bu." ujar Viona dengan nada tajam, "Suami lagi sakit, kakinya patah, malah mau pergi kerja. Istri macam apa itu? Dasar nggak tahu diri!" Karina merasakan hatinya kembali nyeri, namun ia mencoba menahan diri. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. Dengan seulas senyum tipis, ia berusaha menyapa Dewi, hendak mencium tangannya sebagai bentuk hormat. Namun, ibu mertuanya segera mundur, menatapnya jijik. Karina tercekat. Penghinaan ini terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata. "Harusnya kamu itu mikir, Karina. Ferdi sudah meninggalkan segalanya demi nikah sama kamu. Jadi orang kok nggak tahu diri banget," cetus Viona, menatap jijik pada wanita cantik berseragam pramugari di hadapannya. Melihat jam di pergelangan tangannya, Karina memutuskan untuk tidak meladeni mereka. Ia akan terlambat jika terus berdebat. "Maaf, Mbak Vio, Ibu... aku harus berangkat." Dengan langkah cepat, ia bergegas meninggalkan rumah sakit, meninggalkan tatapan sinis dan kebencian yang menusuk. Setibanya di kantor maskapai, suasana sudah ramai. Pramugari dan pramugara Samudera Airline, mengenakan seragam biru tua yang elegan, berbaris rapi, siap untuk penerbangan. Karina segera bergabung di barisan, berusaha menata perasaannya yang kacau balau. Ia harus profesional. Ini adalah pekerjaannya, satu-satunya penopang finansial mereka saat ini. Kemudian, pintu terbuka, dan seorang wanita muncul. Sosoknya tinggi semampai, mengenakan setelan blazer hitam yang pas di tubuh, rambutnya diikat rapi. Wajahnya tegas, dengan sorot mata tajam yang memancarkan otoritas. Dia, Renata Masayu, CEO Samudera Airline, sang pemilik maskapai. Renata berjalan perlahan di sepanjang barisan, menatap setiap pramugari dan pramugara dengan teliti, seolah memindai setiap detail. Tatapannya berhenti pada Karina. Ia menyipitkan mata, menatap Karina lebih lama dari yang lain, seolah menemukan sesuatu yang mencolok, yang entah mengapa menarik perhatiannya. Deg. Karina merasakan kegugupan menyeruak, namun ia mencoba mempertahankan sikap profesional. Setelah memberikan beberapa arahan singkat, Renata membubarkan barisan. Namun, saat semua mulai bergerak, Renata memanggil Karina. "Kamu, ikut saya sebentar." Suara Renata dingin, tanpa emosi. Karina segera menghadap, merasa hormat sekaligus segan. Ia tidak tahu apa salahnya. "Dengar," ucap Renata, menatap lurus ke mata Karina, "Di Samudera Airline ini, kami tidak membutuhkan pramugari yang kecentilan dan sok cantik. Paham?" Karina terkejut, napasnya tertahan. Jantungnya berdebar kencang. Kecentilan? Sok cantik? Ia tak mengerti. Ia merasa tidak pernah melakukan hal seperti itu. Air muka Renata tidak menunjukkan sedikit pun keramahan, selain tatapan dingin. "Sekarang, pergi. Susul yang lain," perintah Renata, tanpa memberikan Karina kesempatan untuk menjelaskan diri. Karina hanya bisa mengangguk, bingung dan malu. Ia segera bergegas pergi, menyusul rekan-rekannya menuju pesawat. Ada perasaan tidak nyaman menyelimutinya. Apa maksud Renata? Apakah ia melakukan kesalahan fatal tanpa menyadarinya? Di dalam pesawat, ia bertemu dengan Ririn, seorang pramugari senior Samudera Airline yang dikenal ramah. Ririn menyambut Karina dengan senyum hangat. "Lo Karina, kan? Yang baru gabung?" sapa Ririn. "Selamat datang di Samudera. Ini penerbangan eksklusif pertama lo, ya?" Karina mengangguk, membalas senyum Ririn. "Iya, Mbak Ririn. Mohon bimbingannya." "Santai aja," kata Ririn, sambil menata troli makanan. "Nanti gue kasih tahu aturan-aturan nggak tertulis di sini. Yang nggak ada di kontrak kerja." Karina mengangguk, merasa sedikit lega dengan kehangatan Ririn. "Mbak, boleh tanya sesuatu?" "Boleh. Tanya apa?" "CEO kita... Bu Renata... dia kayaknya agak judes gitu, ya?" tanya Karina ragu-ragu. Ririn tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat makna. "Bu Renata memang begitu. Dingin, angkuh, tapi profesional kok. Dia sangat menjunjung tinggi standar maskapai ini. Jadi, jangan heran kalau dia kelihatan agak judes." Belum sempat Karina bertanya lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara pramugari lain menyapa dengan antusias. "Kapten Devran! Selamat pagi!" Karina dan Ririn menoleh ke arah kokpit. Sesosok pria tegap melangkah keluar, mengenakan seragam pilot Samudera Airline yang gagah. Wajahnya tampan sempurna, rahang tegas, hidung mancung, dengan sorot mata yang teduh namun memancarkan kharisma. Rambutnya hitam legam, tersisir rapi. Senyumnya begitu menawan, mampu meluluhkan hati setiap wanita. Dialah Kapten Devran Mahendra, pilot idaman para pramugari, bintang di maskapai ini. Pria yang dielu-elukan karena parasnya yang menawan dan kemampuannya yang tak diragukan. Ia adalah definisi kesempurnaan seorang laki-laki. Devran menoleh, senyumnya semakin lebar saat matanya bertemu dengan Karina. Sebuah senyum ramah, tulus, yang langsung menembus ke dalam hati Karina. Untuk sesaat, segala keputusasaan dan duka yang membelenggunya terlupakan. Ada getaran aneh, sebuah percikan kecil, yang tiba-tiba muncul. Ririn menyenggol lengan Karina pelan, tatapan matanya memperingatkan. "Awas kecantol, Karina. Kapten Devran itu suaminya Bu Renata, CEO kita." Karina tertegun, pandangannya beralih dari Devran ke Ririn, lalu kembali ke Devran. Suami Bu Renata? CEO yang dingin dan angkuh itu? Dunia serasa mengejeknya lagi. Sebuah kenyataan pahit, dan peringatan yang tegas. Jika Bu Renata tahu, Karina bisa dipecat. Senyum menawan Kapten Devran Mahendra kini terasa seperti racun yang mematikan, menjanjikan bahaya yang tak terlihat. Karina menunduk, kembali merasakan keputusasaan yang lebih dalam pada nasib pernikahannya dengan Ferdi. Laki-laki yang begitu ia cintai, kini menjauh. Dan di hadapannya, ada sosok sempurna yang terlarang, yang seolah mengejek penderitaannya.Malam kian melarut, namun kegelapan di pesisir Kalimantan ini terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah ia adalah entitas hidup yang siap menelan siapa saja yang terjebak di dalamnya.Di bawah pendar bintang yang samar, Devran bersandar pada sebuah batu karang besar yang dingin. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya.Kaki kirinya robek cukup dalam akibat serpihan logam pesawat, darah merembes keluar membasahi kain seragamnya yang compang-camping.Karina berdiri beberapa langkah di depannya, menatap hamparan laut yang hitam dan hutan lebat yang membentang di belakang mereka bagaikan barisan raksasa yang mengintimidasi.Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan firasat buruk. Tiba-tiba, dari kedalaman hutan, terdengar suara lolongan yang panjang dan menyayat-lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.Karina merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia tahu mereka tidak bisa terus berada di alam terbuka ini. "Kapten
Sunyi yang mematikan menyelimuti kedalaman perairan Kalimantan. Bangkai logam raksasa itu kini beristirahat di dasar laut yang gelap, dikelilingi oleh gelembung-gelembung udara terakhir yang lolos dari kabin yang terendam.Di dalam sana, tak ada pergerakan. Hanya ada tubuh-tubuh yang terombang-ambing pelan mengikuti arus bawah laut, terperangkap dalam sabuk pengaman yang kini menjadi jerat maut.Di atas permukaan, pemandangannya berbanding terbalik. Deru baling-baling helikopter membelah langit yang mendung. Dari balik kacamata hitam Renata Masayu menatap keluar jendela helikopter dengan tatapan yang sulit diartikan.Begitu helikopter mendarat di area darurat yang didirikan di tepi pantai, pemandangan dramatis langsung menyambutnya. Garis pantai Kalimantan yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang.Puluhan mobil polisi dengan lampu strobo yang berkedip biru-merah memenuhi pelataran. Sepuluh ambulans berderet rapi, mesinnya tetap menyala, siap melesat kapan saja.Tim penye
Gemuruh mesin Airbus A320 membelah kesunyian landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing. Di dalam kokpit, Devran Mahendra menarik tuas kendali dengan presisi yang sempurna, membiarkan tubuh pesawat yang kokoh itu menanjak membelah awan menuju langit Kalimantan.Di balik seragam pilotnya, jantung Devran berdegup dengan irama yang tak biasa-bukan karena takut akan ketinggian, melainkan karena ia tahu, hanya beberapa meter di belakang dinding kokpit ini, Karina sedang melangkah anggun melayani penumpang.Di kabin, Karina dan Ririn bergerak dengan sigap. Senyum profesional terpasang di wajah mereka, menyamarkan badai batin yang sedang berkecamuk."Makasih, Kakak Cantik.""Sama-sama, Sayang."Karina tersenyum lembut menanggapi. Ia baru saja menyerahkan segelas air kepada seorang anak kecil saat ia merasakan getaran halus di bawah kakinya.Pikirannya melayang sejenak pada wajah Devran di kantin tadi pagi, namun ia segera menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus bertahan hidup
Fajar belum benar-benar pecah di ufuk timur Jakarta, namun penthouse mewah itu sudah menyimpan ketegangan yang sunyi. Di dalam kamarnya, Devran Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan seragam pilotnya dengan ketelitian yang tidak biasa.Satu pekan telah berlalu sejak penerbangan ke Bali yang melelahkan secara mental, dan hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Namanya bersanding dengan nama Karina dalam daftar kru penerbangan menuju Kalimantan.Semalam, Devran melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan; ia tidur sangat awal. Ia menyumbat telinganya rapat-rapat dengan earphone, memutar musik klasik dengan volume tinggi hanya untuk membentengi diri dari suara-suara laknat-desahan dan tawa Renata bersama Hengki yang menggema dari kamar sebelah.Ia ingin bangun dengan wajah segar, tanpa kantung mata yang menghitam akibat frustrasi. Ia ingin terlihat sempurna saat mata Karina menatapnya nanti.Di ruang makan, Welas dan Bi Irah saling lirik dengan senyum kecil. Mereka menyadari peru












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.