LOGIN"Nad, jangan seolah-olah menjadi korban!" tegas Alya. Kalimat itu sukses membuat Nadia terbelalak,matanya membulat sempurna. "Apa maksud Ibu?" Alya menghela napas panjang. Dengan kantong belanjaan yang masih menggantung di tangannya, ia memutar bola mata malas. "Apa maksud Ibu bicara begitu? Sekarang Ibu juga mau menghakimiku?" teriak Nadia lantang. Matanya tajam, urat lehernya menegang karena tak terima dengan sebuah fakta yang di ucapan ibunya. "Jaga bicaramu, Nadia! Kenapa kamu hobi sekali meninggikan suara?" sela Alya dengan nada yang dingin namun lugas. "Alah, Bu! Kenapa aku harus menjaga nada bicaraku di saat Ibu sendiri gaak peduli dengan keadaanku? Bukannya membantu, Ibu malah asyik belanja begini. Seolah ingin pamer kalau Ibu punya banyak uang, iya?!" "Cukup, Nadia!" Alya menatap manik mata putrinya dengan sorot yang sulit diartikan. "Kenapa kamu seolah tak terima?" desisnya. "Aku ini ibumu. Tapi kenapa kamu selalu tak suka, bahkan sepertinya iri pada ib
Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, membiaskan warna jingga yang menandakan sore telah tiba. Keduanya pun bersiap untuk menyudahi permainan dan pertemuan panas itu. Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan, keheningan sempat menyelimuti sebelum akhirnya Alya bersuara. "Turunkan aku di supermarket depan, ya. Kamu pulang duluan saja," Rama menoleh sejenak, gurat keberatan tampak di wajahnya. "Sudahlah, Bu. Bareng saja sampai rumah, nanti kita cari alasan yang pas." Alya menggeleng tegas. "Jangan gila, Ram. Alasan seperti itu sudah terlalu sering kita pakai. Itu sama saja mengundang kecurigaannya," tepis Alya tajam, tak ingin mengambil risiko. Rama menghela napas panjang, akhirnya menyerah pada keputusan mertuanya. “Ibu pulang naik taksi?” tanyanya pelan saat mobil menepi di pinggir jalan. Alya mengangguk singkat. Ia membuka pintu dan turun perlahan, lalu menoleh sebentar. Sebuah lambaian kecil ia berikan. Rama hanya membalas dengan tatapan sejenak. Tak lama
Rama menyeringai puas. Ia benar-benar telah memegang kendali penuh atas mertuanya. satu kata darinya, dan Alya akan luluh tanpa daya. Tanpa membuang waktu, Rama merapat, menciumi ceruk leher Alya dengan rakus. Sesekali jemarinya menjawil titik paling sensitif Alya yang sudah sangat reaktif. Entah sudah berapa kali Alya mencapai puncaknya hari ini, namun gairah yang membakar keduanya seolah tak pernah padam. Satu ronde tidak akan pernah cukup untuk memuaskan dahaga mereka. Akhirnya, tubuh keduanya terkulai lemas lagi di atas ranjang. Mereka baru menyadari bahwa waktu sewa penginapan hampir habis, sementara mereka bahkan belum sempat memejamkan mata untuk beristirahat. "Aku mau mandi dulu," ucap Alya sambil bangkit dengan perlahan. Ia meringis merasakan otot-ototnya yang seolah remuk setelah pergulatan panjang tadi. "Ikut!" sahut Rama sigap. Ia langsung bangkit dan membopong tubuh Alya menuju kamar mandi. "Ram, ah... jangan... shhh..." Protes Alya menguap begitu saja saat Ra
Rama terus memompa dari belakang, matanya merem melek merasakan betapa sempitnya milik mertuanya itu. Sensasi ini benar-benar membuatnya candu, bahkan ia hampir lupa bagaimana rasanya bercinta dengan istrinya sendiri lantaran sudah terlalu lama mereka tak berbagi ranjang. Pernikahan Rama dan Nadia kini terasa semakin hambar, hanya menyisakan sikap dingin dan kesibukan masing-masing. Terlebih lagi, Rama sengaja mengecoh istrinya menggunakan akun anonim yang dioperasikan oleh Indra. Dengan begitu, ia bisa leluasa berduaan dengan Alya tanpa gangguan Nadia sedikit pun. Biarlah Nadia sibuk dengan masalahnya sendiri sampai dia melupakan keberadaanku dan ibunya, pikir Rama dengan seringai tipis yang mematikan di wajahnya. Tiba-tiba tubuh Alya kembali bergetar hebat. Ia hampir ambruk jika Rama tidak sigap menangkap perut rampingnya. "Orgasme kedua, Bu?" bisik Rama dengan nada kemenangan. Alya hanya mampu mengangguk lemah, napasnya tersengal-sengal. Tanpa banyak bicara, Rama
"Ya, terus Sayang... terus sebut namaku tanpa embel-embel 'Ibu'. Aku lebih suka kau memanggil namaku saja, lupakan status mertuamu ini," desah Alya seraya mencengkeram kedua pipi Rama, menuntut tatapan langsung dari pria itu. Keringat mulai membasahi pelipis Alya. Rambutnya yang berantakan justru menambah kesan liar dan menggoda. Tatapan matanya yang penuh gairah membuat sosoknya terlihat sempurna di mata Rama. "Sebut namaku lagi, Rama," pinta Alya lirih, bibirnya nyaris bersentuhan dengan bibir pria di hadapannya. Napasnya terengah-engah, berusaha menahan gelombang hasrat yang kian memuncak. Rama mengangguk pelan, seolah terhipnotis oleh pesona wanita yang seharusnya ia hormati itu. "Alya..." ucapnya lembut dengan suara serak yang berat. Mendengar namanya disebut tanpa sekat, Alya memejamkan mata, meresapi panggilan yang terdengar seperti pemujaan itu. Tanpa menunggu lama, ia menarik wajah Rama dan melumat bibir menantunya dengan ganas. Tangan Alya turun ke bawah, me
"Engh... mmmm...." Alya mendesah pasrah saat tangan kasar Rama mulai menjamahi lekuk tubuhnya. Pemandangan itu terasa sangat kontras dengan penderitaan Nadia di mansion, yang saat ini tengah berjuang menghadapi teror tanpa henti dari Indra dan Ambar. "Yes, Ram... ahh!" Alya memekik kecil ketika jemari Rama dengan berani menyelinap masuk ke dalam celana ketatnya yang masih ia kenakan. "Ibu suka?" bisik Rama tepat di telinga Alya. Permainan jemarinya yang lincah sukses membuat Alya melenguh panjang dengan napas yang mulai tak beraturan. "Tentu saja, Sayang... ahh!" Rama tidak membiarkan satu detik pun terbuang. Ia menyesap setiap inci kulit Alya, melucuti pakaian mertuarnya satu per satu sambil menatap tubuh di hadapannya dengan tatapan lapar yang memabukkan. Tanpa aba-aba, Rama menyambar bibir mungil Alya dengan ganas, sementara tangannya meremas kuat gundukan kenyal yang menggoda indranya. "Ram... ahh, terus Sayang... nikmat Sayang... yes!" Alya meracau tanpa henti, keh
Rama melangkah kembali ke dalam kamar dengan langkah gontai. Di telapak tangannya, kalung berbandul batu hitam itu terasa sejuk, kontras dengan suhu tubuhnya yang masih panas akibat panggilan video tadi. Ia menatap benda itu lekat-lekat di bawah lampu kamar yang temaram. "Aneh... Aku baru pertam
Di dalam sana, di balik meja kekuasaannya, pria tua yang terlihat begitu berwibawa dan terhormat itu sedang menyesap dada anak tirinya sendiri. Tidak ada penolakan dari wanita itu; ia justru menyandarkan tubuhnya dengan pasrah di pelukan ayah tirinya. Rama membeku, jantungnya berdegup kencang ka
“Apa saya mengganggu hari santaimu?” tanya pria itu. Suaranya rendah namun berwibawa, dengan tatapan mata yang seolah mampu membaca isi kepala orang di hadapannya. Rama segera menggeleng pelan, berusaha menetralkan rasa canggung yang mendadak menguasainya. “Ah, tentu saja tidak, Tuan. Justru sebu
Rama tiba di Kuala Lumpur dengan perasaan campur aduk. Alamat yang diberikan oleh bosnya ternyata bukanlah alamat kantor biasa, melainkan sebuah gedung pencakar langit megah milik Tan Sri Mukhriz—salah satu konglomerat terkaya di Malaysia. Ia berdiri sejenak, menengadah menatap bangunan tinggi ya