Masuk
“Mas, aku berangkat dulu, ya!”
Nadia berpamitan pada suaminya. “Bukannya ini hari Minggu, Nad? Setidaknya berikan waktumu sedikit untuk aku,” pinta Rama memelas, berharap istrinya mau mengalah. Mendengar perkataan sang suami, bukannya merasa bersalah, Nadia justru menatap tajam ke arahnya. “Terus kenapa kalau Minggu? Kamu lupa siapa yang sudah membangun rumah megah ini? Mobil dan semua isinya? Aku, kan? Ya kalau aku nggak kerja, gimana hidup kita? Aku nggak mau susah lagi, Mas. Udah, ah! Jangan ajak aku debat lagi!” Suara Nadia melengking, membuat Rama tak bisa berkutik sama sekali. Rama menghela napas panjang, memandang istrinya dengan getir. Pria 28 tahun itu hanya bisa pasrah. Ia bekerja sebagai sales yang gajinya tak seberapa. Sementara istrinya, Nadia, 25 tahun, cantik dan muda, bekerja sebagai sekretaris di sebuah kantor ternama di Indonesia. Awalnya Rama keberatan, tapi melihat keadaan rumah tangga mereka yang benar-benar pas-pasan, ia akhirnya mengizinkan—setidaknya sampai ia mendapat pekerjaan yang lebih layak. Saat Rama bersiap berangkat kerja, ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk. Tanpa menunda, Rama langsung menyambar ponselnya. Nama istrinya tertera di sana. “Mas, mamaku akan datang. Tolong siapkan kamar tamu, ya.” “Iya, Sayang.” Rama membalas tanpa penolakan. Lagi-lagi ia menghela napas, meratapi nasibnya yang terasa tak berpihak padanya. “Kapan ya aku punya pekerjaan yang layak?” gumamnya pelan sebelum akhir nya turun ke lantai bawah untuk membersihkan kamar tamu. Ting-tong. Bel berbunyi tepat ketika Rama selesai menata kamar tamu. Ia belum pernah bertemu ibu Nadia sebelumnya, karena saat mereka menikah, mertua perempuannya tak datang—katanya sedang menjalani pengobatan di Malaysia. Ceklek. Rama membuka pintu. Seketika matanya terpaku melihat perempuan muda dan cantik yang berdiri di depannya. “Maaf, siapa?” tanya Rama ragu. Perempuan itu tersenyum manis. Wajahnya kencang seperti gadis 25 tahun. “Kamu suami anak saya?” Rama mengerutkan dahi. Apa mungkin ia salah orang? “Perkenalkan, nama ibu Alya. ibu Nadia.” Tangannya terulur pada Rama. Mata Rama membulat. Ia benar-benar tak percaya. Bagaimana mungkin perempuan secantik itu adalah ibu istrinya? Kulitnya kencang, tubuhnya ideal—bahkan lebih sintal dari tubuh Nadia sendiri. “Ibu… ibu mertuaku?” Rama tergagap. Alya terkekeh pelan. “Iya, Nak. Memang kenapa? Ada yang salah?” Rama menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Bukan begitu, Bu… tapi Ibu kelihatan seperti anak gadis, nggak kelihatan seperti ibu-ibu.” Mendengar itu, Alya tertawa kecil, merasa terhibur. “Ah, kamu ada-ada saja, Rama,” balas nya,sambil menepuk kecil pundak rama. “Masuk, Bu. Oh iya… maaf, Rama nggak bisa nemenin Ibu. Rama harus segera berangkat kerja. Masuk saja, anggap rumah sendiri.” Setelah menyalami mertuanya yang masih muda dan cantik itu, Rama buru-buru pamit mengendarai motor bututnya. Ia memilih tetap bekerja—bisa saja ia libur, tapi ia merasa kecil di hadapan istrinya. Ia ingin bekerja keras agar suatu hari bisa memberi hadiah mewah untuk Nadia. Lagi pula, dengan adanya ibu mertua di rumah, ia merasa canggung. Lebih baik cepat berangkat. “Mertuaku mengandung Nadia umur berapa ya? Kok kayak kakak-adik, bukan ibu dan anak,” gumam Rama sepanjang jalan. Sesampainya di kantor, ponselnya kembali berdering—lagi-lagi Nadia. “Iya, Nad?” Rama menjawab cepat, karena kalau telat sedikit saja, Nadia biasanya langsung mengomel dan menuduhnya tak sayang lagi. Sejak saat itu, Rama selalu mengutamakan panggilan Nadia. “Mas, aku lupa beli bahan makanan lagi. Ibu sudah datang? Tolong beliin makanan, ya. Makanan jadi pun nggak apa-apa.” “Maaf, Sayang. Mas sedang di kantor, nant—” “Apa? Kamu berangkat kerja saat mamaku datang? Mas? Kok tega sih? Ngapain juga kerja di hari Minggu! Gajinya juga dikit! Mending libur aja sekalian!” Nadia langsung menyela dengan nada khasnya. Rama spontan menjauhkan ponsel dari telinganya. “Kamu juga kerja di hari libur, Nad…” “Ya aku beda, Mas! Bonusku bahkan lebih besar dari bonus kamu! Seminggu kamu kerja itu bonus sehari aku kerja, Mas!” Nada Nadia begitu angkuh, seolah semua pencapaian itu hanya dari dirinya. Rama mengepalkan tangan, menahan kekesalan. Namun ia tetap diam—karena ia mencintai istrinya. Ia hanyalah pria biasa yang bekerja serabutan sejak kecil. Sementara Nadia berasal dari keluarga berada—dibiayai kuliah oleh Alya, seorang janda kaya raya. Kenapa Nadia mau dengan Rama? Karena Rama tampan, gagah, dan berjiwa lembut. “Ya sudah, nanti Mas belikan pas pulang kerja, ya,” balas Rama lembut, berusaha menahan semuanya. “Ck! Udahlah, Mas! Gausah! Biar Mama aku suruh pesan makanan online aja!” Belum sempat Rama bicara, Nadia sudah menutup telepon sepihak. Rama hanya bisa menatap ponselnya sambil geleng-geleng kepala. Ia mengusap dada beberapa kali, berusaha menguatkan diri menghadapi Nadia—perempuan yang begitu ia cintai. Rama kemudian mengambil beberapa lembar brosur di kantor untuk ia bagikan di jalanan. Hari Minggu selalu ramai, maka ia ditempatkan untuk membagikan brosur. Ia memilih taman sebagai lokasi. Dengan ratusan brosur di tangan kirinya, ia mulai membagikan pada orang-orang. “Bapak, Ibu, bisa dilihat dulu,” ucapnya ramah. Tak sedikit gadis diam-diam mencuri pandang, terpesona oleh kegagahannya. “Pria itu kayak pemain film action Bollywood, ya?” bisik para gadis. Rama hanya menggeleng, geli melihat anak sekolah memandangnya penuh birahi. Saat sedang membagikan brosur, tiba-tiba matanya tertuju pada ujung seberang jalan. Ia menyipitkan mata, mencoba memastikan. “Astaga… Nadia?” ucapnya kaget. “Sama siapa dia?” Rama berjalan tergesa-gesa mengikuti sosok perempuan yang mirip Nadia. Namun ia kehilangan jejak. Bruk! “Duh!” Semua brosur berhamburan ke mana-mana, terbang terbawa angin. Rama terkejut,hampir terjatuh bersama seorang gadis yang tak sengaja ia tabrak.Satu bulan berlalu setelah serangkaian kejadian memprihatinkan yang menimpa Rama. Akhirnya, sekarang ia menetap di Malaysia, tentu saja dengan membawa Alya bersamanya. Setelah melihat kiriman foto dari nomor baru Nadia sebulan lalu, keduanya justru merasa lega. Itu artinya Nadia benar-benar tidak akan ada lagi di sekitar mereka. Bahkan dari jauh pun Nadia masih menunjukkan keangkuhannya.Namun, Rama sedikit curiga. Menurutnya, pria seperti Indra tidak mungkin benar-benar tulus mencintai Nadia. Pasti ada maksud tersembunyi hingga pria itu rela menikahinya, pikir Rama. Meski begitu, Rama dan Alya telah menegaskan bahwa mereka tidak akan lagi membahas masa lalu masing-masing. Walaupun di benak Alya, bayangan masa kecil Nadia—yang dia asuh sejak lahir hingga berusia 25 tahun—masih sangat membekas dan sulit dilupakan, ia tetap berusaha membuka lembaran baru demi pria yang sejak awal telah memikat hatinya. Bagaimana dengan Anggita dan Sofia? Kedua perempuan itu akhirnya hanya bisa pas
Rahang Rama mengeras mendengar apa yang baru saja dikatakan Alya. Ia mengeratkan genggamannya, seolah tak akan membiarkan perempuan itu pergi lagi dari pandangannya. "Sudahlah, Bu. Yang penting kamu sudah menyelesaikan apa yang harus kamu selesaikan. Nadia sudah dewasa, dia bisa mengurus dirinya sendiri," ucap Rama mencoba memberi pencerahan. Wajah Alya terus saja murung, air matanya menetes seolah kehilangan Nadia adalah sesuatu yang sangat menyedihkan. Padahal, Rama merasa lega saat mendengar Nadia pergi—bahkan jika harus menikah lagi. Bagi Rama, itu artinya perempuan itu tidak akan pernah mengganggu dirinya maupun Alya lagi. Setelah beberapa menit keheningan yang hanya diisi oleh isakan lirih Alya, Rama kembali bersuara, "Ikutlah denganku. Aku janji akan membahagiakanmu." Seketika, isakan Alya terhenti. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah dibayangkan olehnya. Selama ini, Alya selalu berusaha untuk bisa dekat dengan Rama, dan kini segalanya seolah mimpi yang menjadi ke
Nadia sama sekali tak memperedulikan ponselnya yang tergeletak di lantai. Ia langsung melangkah lebar kembali mendekat, lalu membanting koper yang ia bawa tadi. "Apa maksud Ibu, hah?! Kenapa ngomong gitu?!" tanya Nadia, kesal bukan main. Rahangnya mengeras seketika, matanya menatap tajam ke arah Alya. Alya sudah menduga reaksi ini. Jika Nadia tahu kebenarannya, perempuan itu tidak akan merasa malu ataupun bersalah. Nadia hanya akan merasa kesal. Karena itu, Alya hanya mengangguk lemah tanpa berkata apa pun lagi. "Bu!" teriak Nadia lantang. Ia maju dan menyentak tangan Alya dengan kasar. Beruntung, Bi Ninu dan Bi Nunu segera sigap memisahkan keduanya. "Nyonya enggak apa-apa?" bisik Bi Nunu cemas. Alya menanggapi dengan anggukan lemah. "Saya oke." Melihat hal itu, emosi Nadia kian menyala. "Kalian para pembantu kenapa ikut campur, sih?! Pergi! Saya pecat kalian sekarang!" ucap Nadia lantang ke arah kedua asisten rumah tangga tersebut. Namun, kedua asisten itu tidak
Alya langsung tersipu, semburat merah tipis muncul di pipinya. "Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Alya, mencoba mengalihkan. Rama mengangguk lambat. "Baik... namun buruk." Alya kembali mengernyitkan dahi, menatap menantunya—ah, mantan menantunya—itu dengan heran. "Maksudnya?" Rama menyunggingkan senyuman nakal yang memikat. "Baik karena akhirnya aku bisa mengambil keputusan tegas yang seharusnya sudah kulakukan sejak beberapa tahun lalu. Namun buruknya... kamu gak ada di sisiku saat aku pergi dari mansion itu. Kamu seperti sengaja menghindar dariku," keluh Rama, menumpahkan seluruh ganjalan hatinya tanpa ada yang ditutupi lagi. Alya tersenyum tipis, ada guratan sesal di wajahnya. "Maaf ya, Sayang. Aku... aku..." "Ssst, it's okay, Bu... emm, maksudku, Al." Rama terkekeh canggung. "Rasanya masih agak aneh ya, sekarang aku memanggilmu langsung dengan nama." Alya menggelengkan kepala pelan. "Seharusnya memang begitu, kan? Aku mulai berpikir... mungkin sekarang kita bisa
Matahari menyingsing naik ke atas langit, menandakan hari sudah mulai beranjak siang. Namun, pria itu masih terkapar di atas ranjang. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak sejak pertama kali ia memejamkan mata tadi malam. Beberapa menit setelahnya, Rama mengerang pelan. Ia membuka matanya perlahan, merasakan seluruh otot tubuhnya sedikit kaku akibat posisi tidur yang terlalu miring. Ia mengedipkan mata beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran, menghirup udara kamar dalam-dalam, lalu bangkit dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya. Rama langsung beranjak menuju lemari, mengambil selembar handuk bersih. Ia sama sekali tidak menyadari ponselnya yang masih tergeletak di atas nakas, dengan layar yang perlahan meredup setelah pesan itu masuk. Rama keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Ia mulai memilih pakaian dengan santai. Rencana hari ini adalah menemui klien yang akan mengelola bisnis sang ayah di Indonesia, karena setelah semua urusan ini se
Bagai dihantam petir, Nadia langsung membeku. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan air mata yang luruh deras membanjiri pipi mulusnya. "Mas, tarik kembali ucapanmu itu! Apa-apaan ini? gak ada kata cerai di antara kita! Aku menerima jika kamu membebaskanku, aku gak peduli jika kamu tidak mau menyentuhku lagi, tapi aku mohon... jangan katakan itu, Mas!" Untuk pertama kalinya dalam sejarah pernikahan mereka, Nadia memohon dengan amat sangat. Dan tentu saja, itu adalah pertama kalinya Rama mendengar kata 'mohon' keluar dari bibir istrinya yang angkuh. Di saat yang sama, Alya ternyata sudah keluar dari persembunyiannya dan berdiri diam di belakang Nadia. Ia merekam jelas seluruh kalimat tegas yang diucapkan oleh menantunya. Rama menoleh sekilas, menatap Alya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Rama membalikkan badan dan langsung melangkah pergi meninggalkan tempat itu, mengabaikan Alya yang terpaku dan Nadia yang masih terus menangis hi
Alya membuka pintu kamarnya dengan sisa tenaga yang ada. Tangannya masih bergetar hebat, dan meski ia berusaha menahan isak tangisnya, suara sesenggukan itu tetap lolos, menyayat kesunyian lorong. Air mata yang terus mengalir membasahi pipinya membuat sosok wanita berdarah Belanda itu tampak begit
"Ngapain bawa dia?!" teriak Nadia lagi, suaranya melengking tinggi membuat semua orang di ruangan itu spontan berdiri. "Nadia, kamu datang-datang kenapa teriak-teriak? nggak sopan!" sela Alya muak dengan sikap putrinya yang semakin tak tahu tatakrama. Nadia menatap nyalang ke arah suaminya, me
Setelah mendapat informasi dari rekan kerjanya, Rama benar-benar gelisah. Ia sebenarnya sudah menduga pria itu akan datang ke kantornya, tempat ia bekerja sekarang. Sejak kepulangannya dari Malaysia, Rama bahkan belum pernah menyalakan ponsel utamanya lagi. Ia memilih menghindar, terlalu takut men
Tanganku langsung menyusuri setiap lekuk tubuhnya dengan penuh damba. Ia memejamkan mata, kepalanya mendongak, seolah setiap inci sentuhan lembutku adalah aliran listrik yang menyengat sarafnya. Aku membalikkan tubuhnya hingga ia membelakangiku. Dari posisi ini, lekuk pinggangnya terlihat begitu







