Share

SIAPA PEREMPUAN ITU?

Author: Ayuwine
last update publish date: 2025-12-14 06:10:08

“Maaf, maaf, Mbak,” ucap Rama sambil langsung memunguti brosur yang bertebaran ke mana-mana.

“Eh, ya ampun!”

Pekik sang gadis kaget. Beruntung ia tidak sampai terjatuh.

Saat gadis itu menoleh, tatapannya menelisik wajah Rama dengan ragu.

“Rama?” panggilnya, takut salah orang.

Rama yang sedang sibuk memunguti brosur spontan menoleh.

“Dinda?” jawabnya, sedikit kaget.

Rama baru ingat—Dinda adalah teman Nadia. Ia pernah melihat gadis itu beberapa kali saat Nadia masih sering membawa teman-temannya ke rumah.

“Aduh, Rama, maaf ya,” ucap gadis bernama Dinda itu.

Dengan sigap ia ikut berjongkok, memunguti beberapa brosur yang masih berserakan.

“Ah, nggak apa-apa, Mbak. Aduh, makasih ya, repot-repot bantuin saya,” jawab Rama tak enak hati, karena ia yang menabrak gadis itu.

Keduanya berdiri. Dinda menyerahkan beberapa brosur yang sudah ia pungut.

“Nggak libur, Ram? Nanti Nadia kesepian, lho. Hari weekend dipakai kerja gini,” tanya Dinda dengan candaan ringan.

Rama terkekeh kecil, menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Ya gimana lagi, Mbak. Nadia juga ambil lemburan. Daripada diem di rumah sendirian, mending ambil lemburan juga.”

“Lemburan?” Dinda terheran.

“Lemburan apa, Ram? Jelas-jelas kantor sekarang lagi cuti. Masa kamu lupa? Aku juga kerja di sana, Ram!”

Mendengar perkataan Dinda, Rama refleks menatap lekat wajah manis gadis itu.

“Apa itu benar?” tanyanya pelan, nyaris tak percaya.

Jantungnya berdetak tak karuan, pikirannya melayang ke mana-mana.

“Apa tadi benar Nadia?” gumamnya dalam hati.

“Kenapa, Ram?” tanya Dinda heran melihat raut wajah suami dari temannya itu.

“Jadi kantor libur sekarang?” tanya Rama cepat.

Dinda mengangguk. Namun saat ia hendak mengatakan sesuatu, seseorang memanggilnya dari kejauhan.

“Dinda!”

Spontan keduanya menoleh.

“Ram, pacarku sudah datang. Maaf ya soal tadi. Aku duluan ya, bye,” ucap Dinda cepat sambil berlari kecil, tak lupa melambaikan tangan pada Rama.

Sepeninggal Dinda, Rama tertegun. Semangat kerjanya hilang begitu saja. Pikirannya menjadi kalut, takut jika sosok yang ia lihat tadi benar-benar istrinya.

“Kenapa Nadia berbohong?” ucapnya bergetar.

“Tapi… bukannya Dinda hanya staf biasa? Apa mungkin pekerjaannya beda?” selanya lagi, berusaha berpikir positif.

Cukup lama bergulat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Rama memutuskan pulang. Semangat kerjanya benar-benar hilang.

Ia mengendarai motor bututnya dengan lesu.

Sesampainya di rumah, Rama masuk begitu saja, lupa bahwa di rumah kini ada mertuanya.

Saat berjalan menuju dapur, matanya terbelalak kaget. Langkahnya langsung kaku.

Di hadapannya, mertuanya sedang memasak, mengiris bawang dengan earphone di telinga.

Bukan itu masalahnya.

Yang membuat jantung Rama berdetak cepat adalah pakaian yang dikenakan ibu mertuanya—benar-benar mencetak tubuh.

Bokongnya yang semok dan sintal membuat Rama beberapa kali menelan ludah dengan susah payah.

“Eh, astaga, Rama!”

Alya kaget saat berbalik dan mendapati Rama berdiri di hadapannya.

Rama tergagap, salah tingkah.

“Eh… anu, Bu. Maaf, Bu. Rama nggak pencet bel dulu. Rama benar-benar lupa.”

Mendengar kegugupan menantunya, Alya tersenyum manis, berusaha membuat Rama tak merasa bersalah.

“Gapapa, Rama. Ibu paham.”

Rama mengangguk kaku. Fokusnya kini tertuju pada dada mertuanya—begitu bulat dan padat.

“Ehem.”

Alya berdehem, menyadari arah pandangan menantunya.

Lagi-lagi Rama salah tingkah.

“Em… anu, Bu. Rama izin ke atas ya, Bu.”

Tanpa menunggu jawaban, Rama langsung berbalik dan naik ke atas dengan tergesa, merutuki kelakuannya sendiri.

“Aduh, ada apa dengan aku? Kenapa aku seperti ini?” batinnya.

***

Sore harinya, hal yang tak pernah terjadi kini terjadi.

Nadia pulang pukul empat sore. Untuk pertama kalinya, Rama merasa bahagia—pasalnya sudah sebulan hasratnya tak tersalurkan.

“Sayang, kamu pulang cepat?” ucap Rama antusias, mengekori istrinya dari belakang.

Nadia hanya mengangguk, tak menjawab.

“Mas, aku lapar. Siapkan makanan ya. Aku mau mandi dulu,” ucap Nadia memerintah, seolah Rama adalah kacungnya.

Langkah Rama terhenti. Ia terdiam, merasa amat tersinggung. Namun lagi-lagi ia hanya mengusap dada, menenangkan diri.

“Mas, kenapa diam?!” Nadia menoleh tajam.

“Aku nggak beli apa-apa. Ibu sudah masak banyak untuk kita,” jawab Rama melemah.

“Baguslah,” balas Nadia singkat lalu melanjutkan langkahnya.

“Kapan dia akan berubah?” lirih Rama, menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kamar lantai atas.

“Mana istrimu?” tanya Alya.

Rama sudah duduk di meja makan bersama mertuanya, sementara Alya sibuk menata lauk.

“Bu, biar Rama bantu?” alih-alih menjawab, Rama menawarkan bantuan.

Alya menggeleng. “Tak usah, Ram. Biar ibu saja. Ibu sudah biasa.”

Rama kembali diam. Namun pandangannya tak bisa teralihkan dari mertuanya. Entah karena hasrat yang lama terpendam atau apa, ia benar-benar dibuat panas dingin.

“Maaf lama menunggu.”

Suara cempreng Nadia mengagetkan lamunan Rama.

“Lama banget mandinya, Nad,” tanya Alya sambil menyendokkan nasi ke piring Rama.

“Iyalah, Bu. Mandi air susu biar kulit mulus dan licin,” jawab Nadia bangga.

Alya tersenyum samar. “Aduh, bakal ada gempa nih,” ujarnya bercanda.

Rama tersenyum canggung, hatinya berbunga-bunga.

“Apakah Nadia sudah mempersiapkan semuanya untuk aku?” pikirnya senang.

Setelah makan malam, Alya gesit membereskan meja. Tubuh sintalnya bergerak ke sana kemari—hal yang tak pernah Nadia lakukan.

Dulu Nadia gadis rajin dan ulet, namun setelah punya pekerjaan dan uang, sikapnya berubah menjadi angkuh.

“Nad, kenapa nggak kamu aja yang beresin? Kasihan Ibu, dari sore masak sampai sekarang cuci piring,” bisik Rama.

Nadia mendelik tajam.

“Apasih, Mas? Aku capek. Kenapa nggak kamu aja?!”

Rama menghela napas panjang, lalu bangkit menghampiri mertuanya.

Pikirannya masih benar-benar kalut. Ia ingin menanyakan soal kejadian tadi siang pada Nadia, namun ia sudah yakin Nadia tak akan pernah jujur, apalagi ia tak memiliki bukti yang kuat.

“Bu, biar Rama aja,” ucapnya.

Alya terkejut. “Eh, Ram. Gapapa, biar ibu saja.”

“Gapapa, Bu. Ibu istirahat saja. Rama lihat Ibu capek sejak tadi.”

Rama mengambil alih piring, namun tangannya tak sengaja menyentuh dada Alya. Benda itu bergetar.

Rama terdiam. Hawa terasa panas.

“Em… anu, Bu. Rama nggak sengaja. Maaf,” ucapnya bergetar.

Alya hanya terkekeh, seolah gemas dengan wajah gugup menantunya.

Rama merasa aneh—kenapa mertuanya selalu menanggapi dengan santai, tanpa rasa canggung sedikit pun.

**

Rama berdiri cukup lama di depan pintu kamar Nadia.

Lampu masih menyala. Sunyi.

Ia mengangkat tangannya, ragu untuk mengetuk. Namun akhirnya pintu itu terbuka pelan.

Nadia sudah terbaring di atas ranjang, punggungnya membelakangi Rama. Napasnya teratur, seolah dunia di sekitarnya tak lagi penting.

Rama melangkah masuk. Dadanya terasa sesak.

Ia mencintai istrinya—namun, ia merasa begitu sendirian di dalam pernikahannya.

Tatapannya jatuh pada ponsel Nadia di atas meja. Layar menyala, ada pesan masuk…

Rama menelan ludah.

Entah kenapa, wajah Alya terlintas di benaknya—senyum tenangnya, caranya menatap Rama tanpa tuntutan.

Rama menggeleng cepat.

“Sial…,” gumamnya pelan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
kayaknya Rama punya banyak wanita di pikirannya,heheh
goodnovel comment avatar
Ayuwine
Hai semuanya 🤍 Makasih buat kalian yang setia baca kisah Rama ... Buat yang sudah support dan buka koin, aku bener-bener berterima kasih 🫶 Yuk terus lanjut baca dan buka koinnya ya… ceritanya bakal makin seru! Love 🤍
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   END

    Kehidupan Rama terasa semakin sempurna. Ia tidak pernah menyangka di balik ujian yang datang bertubi-tubi sejak kecil hingga dewasa—terutama saat dirinya masih bersama Nadia—balasan yang diterimanya dari takdir akan seindah ini. Bahkan, Rama pun tak pernah menduga bahwa ia akan bertemu dengan sosok ayah kandungnya, seseorang yang sejak kecil selalu ia impikan namun ia kira sudah lama meninggal dunia. “Mas, lagi apa?” tanya Alya lembut sambil berjalan menghampiri, dengan menggendong bayi mungil mereka yang kini sudah berusia empat belas hari. ​Rama spontan menoleh. "Sayang, kenapa kamu yang menggendongnya? Mana baby sitter?" Rama seketika panik saat melihat sang istri berjalan ke arahnya. ​Melihat kekhawatiran yang tersurat jelas di wajah suaminya, Alya hanya bisa terkekeh geli. Demi memastikan istri dan bayinya terjaga dengan baik, Rama memang bersikap sangat protektif sampai menyewa tiga orang baby sitter profesional sekaligus. ​Tangan Rama terulur ke depan, dengan hati-hati

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   ANTARA HIDUP DAN MATI UNTUK ALYA

    Rama panik bukan main. Ia langsung membopong tubuh Alya dengan tergesa-gesa menelepon sopir dan siapa saja yang nomornya yang ia ingat. Tangannya bergetar hebat, dan wajahnya mendadak pucat pasi. ​"Mas, tolong, Mas... sakit banget, Mas," rintih Alya sambil meremas kerah leher baju suaminya dengan kuat. ​"Iya, iya, sabar, Sayang," jawab Rama panik, keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipisnya. ​Tak berselang lama, sopir pribadi mereka datang dan langsung membantu Rama dengan membukakan pintu mobil. Begitu mereka masuk ke dalam kabin, Rama langsung menghubungi dokter kandungan pribadi yang sudah ia pesan jauh-jauh hari. ​Perjalanan menuju rumah sakit tiba-tiba terasa begitu lama dan menegangkan. Atmosfer di dalam mobil terasa mencekam, apalagi saat Rama menatap wajah sang istri yang tengah menahan siksaan rasa sakit yang luar biasa. ​Hingga beberapa puluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah sakit ternama. Rupanya, Tan Sri sudah memesan satu area

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   RAMA JUNIOR ?

    Suasana sore di Eropa membuat dunia serasa begitu cantik dengan matahari yang mulai bergerak terbenam. Di sudut sebuah toko, seorang perempuan dengan tangan lembutnya tengah memegang teko penyiram tanaman berwarna merah muda. Alya tersenyum simpul, memandangi setiap kelopak bunga yang nampak cantik dan berwarna-warni di hadapannya. ​Ia sesekali mengusap pelan perutnya yang saat ini sudah berusia sembilan bulan—ukuran yang cukup besar dan sedikit membuatnya sedikit sulit untuk bergerak bebas. ​"Kalau kamu lelah, sudah lah, Sayang. Kita pulang yuk," ucap Rama yang sejak tadi duduk di pojokan toko. Ia menatap cemas ke arah sang istri yang sedari tadi berdiri menyiram tanaman tanpa henti. ​Alya menggeleng kepala sambil mengerucutkan bibirnya manja. "Sebentar dulu, Sayang. Ini tanggung loh. Yang lain sudah aku siram, masa yang satu ini enggak!" balasnya sedikit ketus. ​Toko bunga mereka sekarang sudah menjadi sangat megah setelah hasil renovasi bulan lalu. Perubahan itu membuat

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PENYESALAN YANG TAK ADA UJUNGNYA

    Dada Nadia sesak bukan main. Ia meraup seluruh pasokan udara di sekitarnya, namun oksigen seolah-olah lenyap begitu saja dari bumi. ​Ia masih diam mematung di sana untuk beberapa menit. Padahal, siaran berita di televisi sudah berakhir dan kini beralih menampilkan film kesukaannya yang baru saja mulai tayang. Namun, fokusnya telah mati. ​Ingatannya masih tertancap kuat pada tayangan tadi. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Pikirannya mulai berputar kembali pada kejadian sebulan lalu saat ia melihat bahkan memarahi Alya dan Rama di toko bunga. “Apa mereka sudah menikah?” lirihnya . Nada suaranya bergetar hebat, ia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri. ​"Astaga..." rintihnya. ​Tubuhnya langsung luruh, terjatuh di atas lantai apartemen yang masih penuh dengan debu. Ia bahkan menarik rambutnya sendiri dengan sangat kuat, menjambaknya demi mencoba menyadarkan diri bahwa semua kenyataan pahit ini hanyalah mimpi buruk. ​Namun, usahanya sia-sia. In

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PUNCAK KEJAYAAN DAN PENYESALAN DI AKHIR

    Nadia tak menjawab. Ia tahu Indra pasti selalu punya cara untuk membungkam setiap protes atau perkataannya. ​Nadia sangat ingin mengakhiri hubungan beracun ini, namun di sisi lain, ia terlanjur gengsi jika harus menyandang status sebagai janda lagi. Terlebih, ia tidak siap jika harus hidup miskin. Jika ia nekat berpisah dari Indra sekarang, ia tak akan memiliki apa-apa lagi. ​"Dengar aku. Jangan pernah mengganggu kehidupan mereka lagi. Jangan pernah menginjakkan kakimu di toko bunga itu lagi! Jika aku melihatmu melakukan hal gila itu sekali lagi, aku bisa dengan mudah membuangmu. Dan kamu tahu sendiri, kan? Kamu akan berakhir jadi gembel di negeri orang!" desis Indra penuh ancaman. ​Nadia tetap tak bergeming. Tatapannya kosong menatap lurus ke depan, seolah sudah pasrah dengan takdir pahit yang harus dijalaninya. ​Seketika, bayangan indah saat dirinya masih bersama Rama kembali terngiang di kepalanya. Dulu hidupnya begitu senang, tenang, dan bahagia; memiliki suami yang san

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   DENDAM INDRA PADA NADIA

    Setelah acara pernikahan yang cukup mewah itu selesai, keduanya masuk ke dalam apartemen yang disewa oleh Nadia. Bahkan, seluruh biaya pernikahan ditanggung sepenuhnya oleh Nadia dengan mengambil uang dari perusahaan milik mendiang ibunya yang baru saja ia pegang. ​Indra awalnya menolak, tetapi Nadia yang gengsian tidak mau merayakan pernikahan dengan sederhana. ​Indra langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang super empuk. Nadia tersenyum geli. Ingatannya kembali berputar pada masa dimana saat ia diam-diam bermain gila dengan Indra ketika masih berstatus sebagai istri sah Rama. ​Dengan senyum malu-malu, Nadia ikut naik ke atas ranjang setelah menanggalkan pakaiannya hingga hanya menyisakan tank top dan celana pendek. Namun, alih-alih sambutan hangat, yang Nadia dapatkan justru tepisan tangan yang sangat kasar dari Indra. ​"Mas?" panggil Nadia. Ia begitu kaget pasalnya tatapan hangat Indra seketika berubah drastis 360 derajat. “Jangan lancang, Nadia. Aku menikahimu bu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status