Masuk“Lagi pula, saya punya satu fantasi baru,” tambah Rayden santai. “Fantasi apa?” Aurin menyipitkan mata, merasa ada yang tidak beres dengan nada bicara suaminya itu. Rayden mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik sangat pelan agar hanya Aurin yang bisa mendengar. “Sepertinya … bercinta di dalam tenda akan terasa menyenangkan. Mau coba nanti?” Wajah Aurin seketika memerah padam. Ia segera menepuk pelan lengan Rayden sambil menunduk malu-malu, suaranya terdengar berbisik keras. “Apa-apaan sih! Ada Mama dan Cici di sini, jangan bicara sembarangan begitu!” Rayden hanya tersenyum menggoda. “Saya cuma sekadar meminta pendapat istri saya saja. Ada yang salah?” “Bukan begitu, kamu bukan meminta pendapat, tapi justru sedang menggodaku,” sahut Aurin ketus, meski di dalam hatinya ada rasa hangat yang muncul melihat Rayden kini terasa begitu lepas dan tidak canggung lagi bersamanya. “Dan kamu sebenarnya suka
“Mau ikut bergabung dan melihat kebucinan kami, Dok?” Ken mencebik. Rasa kesalnya tak sedikit pun berkurang, justru makin memuncak mendengar ucapan itu. Akhirnya ia hanya memutar badan dan membiarkan dua sejoli itu bermanja-manja. Meski merasa muak, Ken sadar ia tak punya pilihan lain. Lagipula, Aurin tampak benar-benar bahagia.Ken berbalik langkah hendak pergi, namun kakinya terhenti seketika. Ia terkejut melihat Meisya, ibunya, dan Kylie—kakaknya—berjalan mendekat sambil membawa tikar lebar serta teko berisi jus yang masih mengepulkan aroma segar.“Mama, Kylie, mau apa kalian membawa barang-barang ini?” Ken tercengang. Sejak tadi, ia mengira ibu dan kakaknya berpihak padanya, ingin membatasi hubungan Rayden dan Aurin. Nyatanya, mereka justru berjalan mendekati tenda dengan wajah santai, seolah hendak ikut serta bersantai. “Menantu Mama berniat mengadakan piknik dan barbeque, dan Mama diundang. Jadi, tak ada salahnya Mama
“Apa yang akan dilakukannya? Mengapa ia membawa begitu banyak barang?” gumam Aurin dengan perasaan heran. Matanya menyipit tajam saat menangkap sosok Rayden yang kembali melangkah menuju halaman rumah ibunya. Dari atas balkon, ia melihat pria itu berjalan santai sambil menenteng beberapa tas besar, seolah-olah ia hendak pergi berlibur, bukan baru saja diusir oleh kakak iparnya sendiri. “Turunlah!” seru Rayden dari bawah, namun Aurin belum menjawab. Khawatir Rayden kembali menimbulkan masalah dan memancing amarah Ken yang sedang mudah tersinggung, Aurin segera bergegas keluar dari kamar. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat ia melangkah keluar dari pintu lift di lantai dasar. Ia berjalan perlahan sambil mengintai ke sekeliling, memastikan tidak ada tanda-tanda keberadaan Ken di sekitar situ. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya malam ini. Seolah semesta sengaja memudahkan langkahnya, ruang teng
“Sudah bucinnya?” tanya Ken ketus, lengkap dengan sebelah alis yang terangkat tinggi, siap menjadi penghancur momen paling menyebalkan bagi Rayden.“Kalau sudah, silakan pergi. Waktu kalian sudah habis.”“Baru juga semenit, Ko,” keluh Aurin dengan bibir mengerucut sebal. Ia menatap kakaknya dengan pandangan protes yang kentara. “Koko ini seperti gak pernah muda aja!”“Bukan tidak pernah muda! Tapi pria itu ….” Telunjuk Ken meruncing tajam ke arah wajah Rayden yang berada di balik teralis. “... adalah sumber bencana di kehidupan kamu. Tahu alasan saya begini, ‘kan, Mei?”Aurin mengembuskan napas pendek, bahunya merosot. “Tahu, Ko. Tapi, jangan berlebihan.”“Tidak ada yang berlebihan. Rayden, pergi! Atau—”“Saya pergi, Ko,” potong Rayden cepat sebelum Ken sempat memanggil penjaga rumah atau melakukan hal nekat lainnya. Pria itu sadar posisinya sedang di ujung tanduk di mata sang kakak ipar. Suasana hati Ken memang sedang benar-benar buruk saat ini, dan jika Rayden terus keras kepala be
“Sebaiknya kita segera pindah, di sini tidak aman,” bisik Rayden teramat pelan, nyaris tak terdengar. Aurin spontan menatap ke atas, melirik Ken yang masih berdiri tegap mengawasi mereka. Bisikan berbau rencana pelarian dari Rayden ini jelas tidak boleh sampai terdengar oleh telinga tajam kakaknya. Setelah memastikan Ken sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya, Aurin sedikit mencondongkan tubuh ke depan lalu menyahut pelan. “Pindah ke mana? Singapura?” “Tidak,” geleng Rayden mantap. “Kalau hanya ke sana percuma, Dea bisa dengan mudah menemukan kita. Kita harus pergi yang jauh ... ke Paris misalnya.” “Ide bagus. Tapi, bagaimana dengan rencana pernikahan kita?” tanya Aurin sangsi, mengingat persiapan yang mungkin sudah berjalan. “Perutku juga semakin besar. Tidak mungkin aku pindah ke sana sini, Rayden.” “Pernikahan diadakan setelah kamu melahirkan. Jadi, tidak ada salahnya kit
“Benar, suruh dia ke sini. Saya temani. Barangkali dia mengajak kamu kabur, ‘kan?”“Ko, janganlah keterlaluan gitu.” Aurin memelas, menatap sang kakak dengan mata berkaca-kaca, berharap hati batu Ken bisa sedikit melunak demi suaminya yang malang di luar sana.“Kalau tidak begini, dia tidak tahu caranya melindungi kamu,” sahut Ken dingin tanpa ekspresi.Ia melangkah maju, lalu dengan santai bersandar pada bingkai jendela, tepat di samping nampan berisi air mineral dan camilan yang tadinya disiapkan Aurin untuk Rayden. Netra tajam sang dokter lurus menatap ke luar, mengawasi setiap pergerakan adik iparnya yang sebentar lagi pasti akan bergeser ke arah mereka sesuai arahan pesan singkat tadi.Keposesifan Ken yang begitu mendarah daging memang bukan tanpa alasan. Di balik sikap diktator dan amarahnya yang meledak-ledak hari ini, semua itu murni bersumber dari rasa sayang yang teramat besar kepada adik bungsunya.Sebagai seorang kak
“Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.







