공유

4. Kesepakatan

작가: OTHOR CENTIL
last update 게시일: 2026-03-11 11:12:54

“Saya … saya sangat butuh uang itu untuk membayar hutang, Nyonya. K–kalau tidak bisa separuhnya, … sepersepuluhnya pun tidak apa-apa.”

Aurin tahu, ini agak lancang. Tetapi, dia butuh uang itu segera untuk menutupi hutang. Ia tak mau ibunya digebuki oleh para debt collector itu karena menunggak pembayaran dan berimbas bunganya yang naik, kian mencekik.

Beberapa saat kemudian, tak terdengar jawaban dari mulut Dea, membuat Aurin resah dan mendongak. Tetapi begitu matanya menatap ke depan, dia tak mendapati sang nyonya ada di sana.

Spontan Aurin menengok ke sekeliling. Di sudut ruangan, ternyata, majikannya ada di depan brankas, tampak sedang mengambil sesuatu.

Aurin menduga, itu adalah uang yang akan diserahkan padanya. Dan benar saja, Dea kembali ke arahnya sembari membawa beberapa gepok uang.

Begitu wanita itu duduk, ia langsung menyerahkannya pada Aurin. “Hanya itu,” kata Dea, menunjuk meja di depannya dengan dagu.

Aurin memperhatikan uang tersebut. Sekilas pandang, uang itu memiliki nominal 10 juta pada setiap gepoknya. Kalau di atas meja itu ada sepuluh, maka nominal nya ada 100 juta. Yang mana artinya, itu lebih dari cukup untuk melunasi hutang-hutang yang ditinggalkan ayahnya.

Saat Aurin bungkam, Dea menambahkan dengan kalimat lugas. “Ambil itu, anggap saja DP-nya. Sisanya, bisa kamu dapatkan setelah kamu hamil dan melahirkan. Mulai hari ini, sering-seringlah berinteraksi dengan suamiku. Jalin chemistry dengannya agar saat malam pertama kalian nanti, kamu tidak gugup dan membuat kesalahan.”

“B–baik, Nyonya.” Aurin menurut. “Tapi, bagaimana caranya saya bisa tidur dengannya, Nyonya?”

“Itu urusanku. Keluar.”

Saat Dea mempersilakan dia keluar, Aurin langsung mengamankan uang tersebut dan menyimpannya dengan baik di kamarnya.

.

.

Sejak sore tadi, Aurin tak henti-hentinya hilir mudik di dapur. Kabar dari Dea—majikannya, mengenai rencana kedatangan seorang tamu penting sukses membuatnya sibuk.

Jarum jam terus bergerak hingga nyaris menyentuh angka tujuh, menandakan waktu pertemuan yang dijanjikan oleh majikannya sudah di depan mata.

Tak berselang lama, Rayden—suami majikannya—muncul lebih dulu dari arah tangga.

Pria itu tampak maskulin dalam balutan kemeja longgar yang sengaja dibiarkan terbuka pada tiga kancing teratasnya, sementara ujung kemeja terselip rapi ke dalam celana formal.

Pemandangan itu membuat Aurin tak sengaja menahan napas. Di matanya, Rayden tampak seperti Dewa Yunani yang dipahat begitu sempurna.

Langkah kaki Rayden yang ringan saat meniti anak tangga, seolah menciptakan irama yang langsung mendominasi keheningan ruangan.

Sambil menuruni anak tangga, tangan Rayden sibuk merapikan kancing kemeja di lengan. Aroma parfum woody musk yang berkelas mulai memenuhi ruangan, membuat Aurin salah tingkah sendirian.

Sejenak, Aurin memaku di tempatnya berdiri. Kedua tangannya sibuk meremas ujung celemek guna menyembunyikan getar gugup yang makin menggila di dadanya.

Di matanya, Rayden adalah sosok pria yang sempurna. Terlalu indah untuk dipandang dengan berani, namun terlalu sayang untuk sekadar diacuhkan.

Aurin masih terpaku pada lamunannya saat Rayden sudah menapak di lantai ruang makan.

Tepat saat Rayden berhenti di ujung meja, dia bertanya pada Aurin, “Sudah siap?”

“Hah?” Aurin mengerjapkan kedua matanya seolah jiwanya baru saja ditarik paksa kembali ke raga. Ia menatap Rayden dengan bingung, otaknya pun agak nge-lag.

Rayden menatap sinis, “Tamu sebentar lagi tiba. Kenapa kamu justru mematung di sana?”

Aurin segera membungkuk, meminta maaf agar pria ini tidak ilfeel padanya. “M–maaf, Tuan. Saya salah. Saya akan kembali ke dapur.”

Rayden mengangguk tak acuh. Dia kemudian memberikan perintah, “Pastikan semuanya sempurna. Jangan sampai ada yang salah.”

“S–sebenarnya s–sudah siap, Tuan. Semuanya aman,” jawab Aurin terbata sembari berusaha merapikan kegugupannya yang berantakan. “Anda tidak perlu khawatir.”

Tanpa menyahut, Rayden kemudian menggeser kursi dan duduk di ujung meja oval.

Setelahnya, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Namun, Aurin masih tak bergeming di posisinya, seolah kakinya tertanam di lantai dapur.

Merasa diperhatikan, Rayden mengangkat wajah. Tatapannya yang tajam langsung menghujam Aurin yang masih mematung di depannya. Merasa terusik, pria itu menegur dingin, “Kenapa kamu belum pergi? Ada yang ingin kau katakan?”

Aurin gugup setengah mati. Namun, ia berusaha menjadi pelayan yang baik dengan menawarkan, “M–maaf, Tuan. Anda mau saya buatkan minuman selagi menunggu kedatangan tamu?”

Tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel, Rayden menyahut singkat, “Ambilkan saja minuman isotonik dingin.

“Siap, Tuan.” Aurin segera beranjak dari sana dengan langkah tergesa.

Begitu sampai di depan lemari pendingin, dia segera mengambil minuman isotonik yang diinginkan sang majikan dengan tangan gemetar. Lalu, dia kembali ke meja dapur menemui Rayden, menyodorkannya tepat di depan dada pria itu agar mudah dijangkau.

“Ini minumannya, Tuan,” ucap Aurin pelan sembari menjaga nada suaranya agar tetap stabil, tidak terlalu kentara kalau ia tengah gugup.

“Terima kasih.” sahut Rayden pendek tanpa mengalihkan pandangan sepenuhnya.

Niat hati, Aurin ingin segera menarik kembali tangannya, menjauh dari aura Rayden yang begitu dingin dan mematikan. Namun, di saat yang bersamaan, Rayden justru bergerak cepat untuk meraih botol itu.

Tanpa diduga, telapak tangan pria yang besar dan hangat itu mendarat tepat di atas punggung tangan Aurin, mengunci pergerakannya dalam satu sentuhan yang tak disengaja.

Seketika, telapak Aurin bagai disengat listrik ribuan volt yang menjalar hingga ke dada. Secara refleks, ia menarik napas pendek.

Lalu dengan gerakan panik, Aurin segera menarik tangannya kembali lalu menunduk sedalam-dalamnya. Pipinya memanas lantaran terbakar rasa malu yang luar biasa saat dia bicara, “Maafkan saya, Tuan.”

Rayden terlihat melirik Aurin sekilas. Tapi setelahnya, pria itu tak memberikan respon, kembali tak acuh.

Aurin mundur selangkah. Gerakannya tadi tidak terlalu lancang, ‘kan?

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   350. Kejutan Yang Mengejutkan

    “Sudah bucinnya?” tanya Ken ketus, lengkap dengan sebelah alis yang terangkat tinggi, siap menjadi penghancur momen paling menyebalkan bagi Rayden.“Kalau sudah, silakan pergi. Waktu kalian sudah habis.”“Baru juga semenit, Ko,” keluh Aurin dengan bibir mengerucut sebal. Ia menatap kakaknya dengan pandangan protes yang kentara. “Koko ini seperti gak pernah muda aja!”“Bukan tidak pernah muda! Tapi pria itu ….” Telunjuk Ken meruncing tajam ke arah wajah Rayden yang berada di balik teralis. “... adalah sumber bencana di kehidupan kamu. Tahu alasan saya begini, ‘kan, Mei?”Aurin mengembuskan napas pendek, bahunya merosot. “Tahu, Ko. Tapi, jangan berlebihan.”“Tidak ada yang berlebihan. Rayden, pergi! Atau—”“Saya pergi, Ko,” potong Rayden cepat sebelum Ken sempat memanggil penjaga rumah atau melakukan hal nekat lainnya. Pria itu sadar posisinya sedang di ujung tanduk di mata sang kakak ipar. Suasana hati Ken memang sedang benar-benar buruk saat ini, dan jika Rayden terus keras kepala be

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   349. Sudah Bucin-nya?

    “Sebaiknya kita segera pindah, di sini tidak aman,” bisik Rayden teramat pelan, nyaris tak terdengar. Aurin spontan menatap ke atas, melirik Ken yang masih berdiri tegap mengawasi mereka. Bisikan berbau rencana pelarian dari Rayden ini jelas tidak boleh sampai terdengar oleh telinga tajam kakaknya. Setelah memastikan Ken sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya, Aurin sedikit mencondongkan tubuh ke depan lalu menyahut pelan. “Pindah ke mana? Singapura?” “Tidak,” geleng Rayden mantap. “Kalau hanya ke sana percuma, Dea bisa dengan mudah menemukan kita. Kita harus pergi yang jauh ... ke Paris misalnya.” “Ide bagus. Tapi, bagaimana dengan rencana pernikahan kita?” tanya Aurin sangsi, mengingat persiapan yang mungkin sudah berjalan. “Perutku juga semakin besar. Tidak mungkin aku pindah ke sana sini, Rayden.” “Pernikahan diadakan setelah kamu melahirkan. Jadi, tidak ada salahnya kit

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   348. Seperti Narapidana

    “Benar, suruh dia ke sini. Saya temani. Barangkali dia mengajak kamu kabur, ‘kan?”“Ko, janganlah keterlaluan gitu.” Aurin memelas, menatap sang kakak dengan mata berkaca-kaca, berharap hati batu Ken bisa sedikit melunak demi suaminya yang malang di luar sana.“Kalau tidak begini, dia tidak tahu caranya melindungi kamu,” sahut Ken dingin tanpa ekspresi.Ia melangkah maju, lalu dengan santai bersandar pada bingkai jendela, tepat di samping nampan berisi air mineral dan camilan yang tadinya disiapkan Aurin untuk Rayden. Netra tajam sang dokter lurus menatap ke luar, mengawasi setiap pergerakan adik iparnya yang sebentar lagi pasti akan bergeser ke arah mereka sesuai arahan pesan singkat tadi.Keposesifan Ken yang begitu mendarah daging memang bukan tanpa alasan. Di balik sikap diktator dan amarahnya yang meledak-ledak hari ini, semua itu murni bersumber dari rasa sayang yang teramat besar kepada adik bungsunya.Sebagai seorang kak

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   347. Larangan

    “Dok, saya minta maaf, Dok. Tolong buka pintunya, Dok! Saya ingin bertemu Aurin! Dokter Ken! Dok!”Aurin, yang duduk gelisah di sofa ruang tamu, menatap penuh kecanggungan pada sang kakak. Ken tetap bergeming di tempat duduknya, melipat kedua tangan di dada dengan wajah sedingin es. Di samping Aurin, Kylie dan Meisya—mama mereka—hanya bisa saling pandang dengan raut cemas, tidak berani membantah keputusan kepala keluarga sementara di rumah itu.Sudah satu jam lebih Rayden memanggil-manggil di luar sana tanpa memedulikan harga dirinya, dan sudah dua jam lebih Ken berada di rumah setelah insiden baku hantam di apartemen.Namun, sejak menapakkan kaki di rumah ini, Ken dengan tegas melarang semua pelayan, bahkan Aurin, Kylie, maupun Meisya untuk membukakan pintu.“Ko ….” Aurin akhirnya memberanikan diri bersuara, memecah keheningan di antara mereka. Suaranya cicit, sarat akan rasa bersalah sekaligus tidak tega mendengar suara suaminya yang mulai serak di luar sana. “Rayden sudah lama d

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   346. Batalkan Semuanya

    “Kalau kamu tidak becus mengawasi istrimu, lebih baik kembalikan padaku! Aku kakaknya, lebih berhak melindunginya daripada kamu!”Bugh!Satu pukulan mentah berkecepatan tinggi melayang telak dari tangan Ken, menghantam rahang dan hidung Rayden tanpa ampun. Pukulan yang didorong oleh rasa muak dan kecemasan seorang kakak itu begitu kuat hingga menciptakan bunyi hantaman yang mengerikan di lobi yang sunyi.Rayden yang sama sekali tidak siap langsung kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terdorong ke belakang dan jatuh terkapar di atas lantai marmer yang dingin. Hantaman keras itu membuat bokong dan tulang ekornya berdenyut sakit, namun rasa nyeri itu langsung terkalahkan oleh sensasi panas yang menjalar di wajahnya.“Akhh ….”Rayden meringis kesakitan. Ia segera memegangi hidungnya yang kini mulai mengalirkan darah segar di sela-sela jarinya. Pria yang biasanya selalu tampil berwibawa, rapi, dan tak tersentuh itu kini terduduk tak berdaya di lantai lobi, menunduk sambil menahan denyutan

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   345. Ceraikan Dia!

    “Ambulans sebentar lagi datang dan perbuatanmu sudah terekam CCTV di lobi ini. Jadi, jangan macam-macam lagi atau Aku pastikan Aurin menuntutmu!” Ken memberikan peringatan tegas. Untuk saat ini, dia tidak perlu mengungkapkan statusnya sebagai kakak kandung Aurin demi menjaga keamanan adik. Namun agaknya, Dea tidak mau menerima itu dan dia tetap mengamuk, mengabaikan rasa perih di perutnya. “Kenapa kamu menolong si jalang murahan itu?” Ken, yang sedang membereskan peralatan kedokterannya menatap Dea nyalang. Kata ‘jalang murahan’ yang diucapkan Dea memantik emosinya. Namun alih-alih terlihat marah, dia justrua berujar dingin dan datar. “Atas dasar kemanusiaan. Kamu lupa? Dia sedang mengandung tiga nyawa. Membunuhnya sama saja menghilangkan tiga anaknya juga. Ingat, dia sudah sering kamu siksa, kamu maki-maki, dan bahkan pernah kamu tlpukuli. Dan sekarang, kamu masih berniat membunuhnyas!” “Dia memang pantas m

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   24. Malam Panas Hingga Lemas

    Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   16. Aroma Familiar

    “Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   9. Datanglah Ke Kamarku

    “Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   8. Gerakkan Pinggulmu, Sayang

    “Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status