Se connecter“Saya … saya sangat butuh uang itu untuk membayar hutang, Nyonya. K–kalau tidak bisa separuhnya, … sepersepuluhnya pun tidak apa-apa.”
Aurin tahu, ini agak lancang. Tetapi, dia butuh uang itu segera untuk menutupi hutang. Ia tak mau ibunya digebuki oleh para debt collector itu karena menunggak pembayaran dan berimbas bunganya yang naik, kian mencekik. Beberapa saat kemudian, tak terdengar jawaban dari mulut Dea, membuat Aurin resah dan mendongak. Tetapi begitu matanya menatap ke depan, dia tak mendapati sang nyonya ada di sana. Spontan Aurin menengok ke sekeliling. Di sudut ruangan, ternyata, majikannya ada di depan brankas, tampak sedang mengambil sesuatu. Aurin menduga, itu adalah uang yang akan diserahkan padanya. Dan benar saja, Dea kembali ke arahnya sembari membawa beberapa gepok uang. Begitu wanita itu duduk, ia langsung menyerahkannya pada Aurin. “Hanya itu,” kata Dea, menunjuk meja di depannya dengan dagu. Aurin memperhatikan uang tersebut. Sekilas pandang, uang itu memiliki nominal 10 juta pada setiap gepoknya. Kalau di atas meja itu ada sepuluh, maka nominal nya ada 100 juta. Yang mana artinya, itu lebih dari cukup untuk melunasi hutang-hutang yang ditinggalkan ayahnya. Saat Aurin bungkam, Dea menambahkan dengan kalimat lugas. “Ambil itu, anggap saja DP-nya. Sisanya, bisa kamu dapatkan setelah kamu hamil dan melahirkan. Mulai hari ini, sering-seringlah berinteraksi dengan suamiku. Jalin chemistry dengannya agar saat malam pertama kalian nanti, kamu tidak gugup dan membuat kesalahan.” “B–baik, Nyonya.” Aurin menurut. “Tapi, bagaimana caranya saya bisa tidur dengannya, Nyonya?” “Itu urusanku. Keluar.” Saat Dea mempersilakan dia keluar, Aurin langsung mengamankan uang tersebut dan menyimpannya dengan baik di kamarnya. . . Sejak sore tadi, Aurin tak henti-hentinya hilir mudik di dapur. Kabar dari Dea—majikannya, mengenai rencana kedatangan seorang tamu penting sukses membuatnya sibuk. Jarum jam terus bergerak hingga nyaris menyentuh angka tujuh, menandakan waktu pertemuan yang dijanjikan oleh majikannya sudah di depan mata. Tak berselang lama, Rayden—suami majikannya—muncul lebih dulu dari arah tangga. Pria itu tampak maskulin dalam balutan kemeja longgar yang sengaja dibiarkan terbuka pada tiga kancing teratasnya, sementara ujung kemeja terselip rapi ke dalam celana formal. Pemandangan itu membuat Aurin tak sengaja menahan napas. Di matanya, Rayden tampak seperti Dewa Yunani yang dipahat begitu sempurna. Langkah kaki Rayden yang ringan saat meniti anak tangga, seolah menciptakan irama yang langsung mendominasi keheningan ruangan. Sambil menuruni anak tangga, tangan Rayden sibuk merapikan kancing kemeja di lengan. Aroma parfum woody musk yang berkelas mulai memenuhi ruangan, membuat Aurin salah tingkah sendirian. Sejenak, Aurin memaku di tempatnya berdiri. Kedua tangannya sibuk meremas ujung celemek guna menyembunyikan getar gugup yang makin menggila di dadanya. Di matanya, Rayden adalah sosok pria yang sempurna. Terlalu indah untuk dipandang dengan berani, namun terlalu sayang untuk sekadar diacuhkan. Aurin masih terpaku pada lamunannya saat Rayden sudah menapak di lantai ruang makan. Tepat saat Rayden berhenti di ujung meja, dia bertanya pada Aurin, “Sudah siap?” “Hah?” Aurin mengerjapkan kedua matanya seolah jiwanya baru saja ditarik paksa kembali ke raga. Ia menatap Rayden dengan bingung, otaknya pun agak nge-lag. Rayden menatap sinis, “Tamu sebentar lagi tiba. Kenapa kamu justru mematung di sana?” Aurin segera membungkuk, meminta maaf agar pria ini tidak ilfeel padanya. “M–maaf, Tuan. Saya salah. Saya akan kembali ke dapur.” Rayden mengangguk tak acuh. Dia kemudian memberikan perintah, “Pastikan semuanya sempurna. Jangan sampai ada yang salah.” “S–sebenarnya s–sudah siap, Tuan. Semuanya aman,” jawab Aurin terbata sembari berusaha merapikan kegugupannya yang berantakan. “Anda tidak perlu khawatir.” Tanpa menyahut, Rayden kemudian menggeser kursi dan duduk di ujung meja oval. Setelahnya, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Namun, Aurin masih tak bergeming di posisinya, seolah kakinya tertanam di lantai dapur. Merasa diperhatikan, Rayden mengangkat wajah. Tatapannya yang tajam langsung menghujam Aurin yang masih mematung di depannya. Merasa terusik, pria itu menegur dingin, “Kenapa kamu belum pergi? Ada yang ingin kau katakan?” Aurin gugup setengah mati. Namun, ia berusaha menjadi pelayan yang baik dengan menawarkan, “M–maaf, Tuan. Anda mau saya buatkan minuman selagi menunggu kedatangan tamu?” Tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel, Rayden menyahut singkat, “Ambilkan saja minuman isotonik dingin. “Siap, Tuan.” Aurin segera beranjak dari sana dengan langkah tergesa. Begitu sampai di depan lemari pendingin, dia segera mengambil minuman isotonik yang diinginkan sang majikan dengan tangan gemetar. Lalu, dia kembali ke meja dapur menemui Rayden, menyodorkannya tepat di depan dada pria itu agar mudah dijangkau. “Ini minumannya, Tuan,” ucap Aurin pelan sembari menjaga nada suaranya agar tetap stabil, tidak terlalu kentara kalau ia tengah gugup. “Terima kasih.” sahut Rayden pendek tanpa mengalihkan pandangan sepenuhnya. Niat hati, Aurin ingin segera menarik kembali tangannya, menjauh dari aura Rayden yang begitu dingin dan mematikan. Namun, di saat yang bersamaan, Rayden justru bergerak cepat untuk meraih botol itu. Tanpa diduga, telapak tangan pria yang besar dan hangat itu mendarat tepat di atas punggung tangan Aurin, mengunci pergerakannya dalam satu sentuhan yang tak disengaja. Seketika, telapak Aurin bagai disengat listrik ribuan volt yang menjalar hingga ke dada. Secara refleks, ia menarik napas pendek. Lalu dengan gerakan panik, Aurin segera menarik tangannya kembali lalu menunduk sedalam-dalamnya. Pipinya memanas lantaran terbakar rasa malu yang luar biasa saat dia bicara, “Maafkan saya, Tuan.” Rayden terlihat melirik Aurin sekilas. Tapi setelahnya, pria itu tak memberikan respon, kembali tak acuh. Aurin mundur selangkah. Gerakannya tadi tidak terlalu lancang, ‘kan?“N–nyonya, tempat apa ini?”Aurin menelan ludah kala melihat bangunan besar di hadapannya. Ia sempat memperhatikan, itu adalah klinik kandungan.Saat Aurin masih kebingungan, Dea hanya memerintah, “Ayo masuk.”Meski ingin bertanya ‘mengapa kita ke sini’, namun Aurin memilih mengangguk dan menurut saja. Kemudian, ia mengekori Dea masuk ke dalam sana dan keduanya lantas dibimbing ke ruangan khusus—yang mana pada akhirnya Aurin ketahui itu adalah ruang pemeriksaan kesehatan.Di sana, Aurin langsung diperiksa oleh dokter yang berpengalaman. Setelah dirinya dipastikan subur dan siap hamil, Dea membawanya pergi dari sana.Di jalan, Dea memuji, “Bersyukurlah, hasilnya bagus. Dalam waktu dekat, kamu akan melakukan rencana yang telah kita sepakati. Kamu siap?”“B–baik, Nyonya.” Aurin hanya menjawab singkat. Tetapi sejujurnya, ia terus bertanya-tanya. Mengapa Dea berkata Aurin harus bersyukur karena subur? Apa sebenarnya, Dea sendiri tidak subur dan tidak bisa hamil?Aurin tak sempat memikirka
“Maaf atas kecerobohan saya, Tuan. Permisi.”Saat Rayden memilih tak peduli pada sentuhannya tadi, Aurin tak berani lagi mengangkat wajah. Ia lantas melangkah mundur dengan gerakan terburu-buru. Sambil bersandar di salah satu tembok dapur, Aurin merutuki kebodohan jemarinya yang seolah tak bisa diajak kerja sama di depan pria itu. “Mengapa kamu melakukannya, Aurin?” gumam Aurin pada diri sendiri.Belum sempat Aurin menetralkan debar di jantungnya, Rayden terdengar menggeser tempat duduk hingga menimbulkan derit di lantai.Tapi begitu Aurin membalikkan badan, pria itu sudah beranjak pergi menuju depan sana. Tak lama kemudian, kesunyian rumah itu pecah oleh deru mesin mobil yang memasuki halaman. Aurin tahu betul, itu adalah suara mobil Dea. Dengan langkah pelan, ia mengekor di belakang Rayden. Begitu pria itu berbelok menuju ruang tamu, Aurin terus melangkah lurus ke arah pintu utama. Dan nyaris pada detik yang sama, suara bel berbunyi.“Sebentar,” sahutnya cukup nyaring. Aurin sege
“Saya … saya sangat butuh uang itu untuk membayar hutang, Nyonya. K–kalau tidak bisa separuhnya, … sepersepuluhnya pun tidak apa-apa.”Aurin tahu, ini agak lancang. Tetapi, dia butuh uang itu segera untuk menutupi hutang. Ia tak mau ibunya digebuki oleh para debt collector itu karena menunggak pembayaran dan berimbas bunganya yang naik, kian mencekik.Beberapa saat kemudian, tak terdengar jawaban dari mulut Dea, membuat Aurin resah dan mendongak. Tetapi begitu matanya menatap ke depan, dia tak mendapati sang nyonya ada di sana.Spontan Aurin menengok ke sekeliling. Di sudut ruangan, ternyata, majikannya ada di depan brankas, tampak sedang mengambil sesuatu. Aurin menduga, itu adalah uang yang akan diserahkan padanya. Dan benar saja, Dea kembali ke arahnya sembari membawa beberapa gepok uang. Begitu wanita itu duduk, ia langsung menyerahkannya pada Aurin. “Hanya itu,” kata Dea, menunjuk meja di depannya dengan dagu.Aurin memperhatikan uang tersebut. Sekilas pandang, uang itu memilik
“Benarkah itu Tuan Rayden? Mengapa dia ... setampan itu?”Aurin berdiri dari sofa, mematung. Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Begitu Rayden melangkah masuk ke dalam kamar ini, pria itu tampak memancarkan aura luar biasa berkelas, yang bisa menjadi daya tarik bagi setiap wanita—tak terkecuali Aurin.Sosoknya begitu dominan dengan rahang tegas dan dagu belah yang menambah kesan maskulin nan kaku. Rambut hitam kecokelatannya tersisir rapi menggunakan pomade, menciptakan kontras tajam dengan kulit putihnya yang bersih. Di bawah naungan alis tebal, tatapan matanya menghujam sedingin es, sementara tubuh tegap dan bulky miliknya memancarkan aura mengintimidasi.Bahunya yang lebar bersanding sempurna dengan rahang tegas berhias jambang halus dan hidung mancung. Namun yang paling mengagumkan adalah otot bisepnya yang tercetak kuat di balik kemeja press body, menegaskan sosok yang begitu maskulin.Aurin bergegas keluar dari ruangan tersebut. Setelah ia sampai di lorong lantai dua, ia
“T–tapi, saya tetap tidak bisa, Nyonya. Semua yang Anda tawarkan ini … cukup beresiko.” Aurin menolak permintaan itu. Ia tak mau terlibat terlalu jauh pada keluarga ini.“Kalau mau uang, ya harus terima resiko,” sahut Dea tak acuh. Aurin beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa tak pantas duduk bersisian dengan sang majikan lantaran dia sadar betul kalau mereka tidak sederajat.Setelah berdiri, Aurin kemudian bersimpuh di bawah kaki Dea sembari menunduk dalam-dalam. “Maaf, Nyonya. Sekali lagi saya mohon maaf karena saya tidak menerima ini. Saya … tidak bisa berhubungan dengan suami orang,” tuturnya sembari menangis.Dea tak kekurangan akal. Dia pun ikut duduk di lantai, lalu sebelah tangannya memegangi pundak kiri Aurin. Pelan sekali tanpa penekanan, tetapi cukup mampu membuat Aurin mendongak untuk menatapnya.“Tidak bisa berhubungan?” ulang Dea lagi.“B–benar, Nyonya,” angguk Aurin kaku.Lalu setelah Aurin mendonga, Dea makin murka. “Astaga, Aurin! Bukannya kamu janda? Harusnya, …
“Lahirkan anak untuk suamiku!”Aurin menelan ludah. Permintaan gila macam apa ini? Majikannya meminta ia untuk hamil anaknya? Apa tidak salah?“Begitu kamu berhasil mengandung anak suamiku, 500 juta ini akan menjadi milikmu.” Dea, majikannya yang cantik nan modis, duduk sambil menyilangkan kaki pada sofa tunggal. Setelah menunjuk cek bernilai 500 juta di atas meja dengan dagunya, Dea bersedekap, kemudian menatap Aurin—sang pelayan yang baru bekerja tiga bulan di rumahnya—dengan tatapan penuh intimidasi.Aurin terdiam. Wajahnya yang ayu tanpa perlu polesan membuat pipinya merah mendengar permintaan itu.Saat sang majikan berkata begitu, Aurin terkejut. Seiring dengan tangannya yang gemetar di pangkuan, matanya menyorot sang nyonya penuh pertimbangan, pun bibir tipisnya ikut tergagap kala dia berbicara, “S–saya tidak salah dengar, ‘kan, Nyonya?”“Tidak!” jawab Dea lugas. Dagunya terdongak angkuh, tatapannya setajam silet pada Aurin begitu dia bicara dengan gamblang, “Aku tidak suka men