مشاركة

5. Sebuah Sandiwara

مؤلف: OTHOR CENTIL
last update تاريخ النشر: 2026-03-11 11:14:12

“Maaf atas kecerobohan saya, Tuan. Permisi.”

Saat Rayden memilih tak peduli pada sentuhannya tadi, Aurin tak berani lagi mengangkat wajah. Ia lantas melangkah mundur dengan gerakan terburu-buru.

Sambil bersandar di salah satu tembok dapur, Aurin merutuki kebodohan jemarinya yang seolah tak bisa diajak kerja sama di depan pria itu. “Mengapa kamu melakukannya, Aurin?” gumam Aurin pada diri sendiri.

Belum sempat Aurin menetralkan debar di jantungnya, Rayden terdengar menggeser tempat duduk hingga menimbulkan derit di lantai.

Tapi begitu Aurin membalikkan badan, pria itu sudah beranjak pergi menuju depan sana. Tak lama kemudian, kesunyian rumah itu pecah oleh deru mesin mobil yang memasuki halaman.

Aurin tahu betul, itu adalah suara mobil Dea. Dengan langkah pelan, ia mengekor di belakang Rayden.

Begitu pria itu berbelok menuju ruang tamu, Aurin terus melangkah lurus ke arah pintu utama. Dan nyaris pada detik yang sama, suara bel berbunyi.

“Sebentar,” sahutnya cukup nyaring. Aurin segera membukakan pintu dengan gerakan formal. Begitu terbuka, dia langsung mengucap, “Selamat datang, Nyonya dan … Tuan.”

Aurin bingung. Pandangannya tertuju pada ekspresi Dea yang tampak begitu sumringah dan kedekatan yang ditunjukkan pada pria tadi, menyiratkan sebuah ketertarikan yang tak dapat disembunyikan. Dari situ, ia menduga kalau mereka berdua memiliki hubungan.

Tetapi, Aurin tak mau berprasangka buruk terlebih dulu. Dia segera membuka pintu itu dengan lebar, lalu bergerak mundur dan memberi hormat pada mereka berdua.

Aurin segera menyiapkan makanan pembuka. Setelah menyajikannya di meja, ia kembali ke dapur yang berjarak tiga meter dari meja makan tersebut.

Cukup lama Aurin terpaku mengamati keadaan dari sudut yang tak terlihat. Tepat saat Rayden beranjak menuju toilet, suasana di meja makan berubah drastis.

Dea dan pria yang duduk bersisian dengannya itu tak lagi menjaga jarak.

Aurin menahan napas saat melihat keduanya saling mendekat dengan tergesa. Tanpa memedulikan resiko, mereka langsung memagut bibir satu sama lain dengan intim.

“Eumh.”

Lenguhan itu membuat mata Aurin yang sempat terpejam, kini terbuka lebar. Dari tempatnya, ia menyaksikan adegan yang sebenarnya tak perlu ia saksikan.

Lidah Dea tampak saling membelit dengan pria itu, keduanya terlihat sangat bernafsu. Gerakan mereka begitu liar dan terburu-buru, seolah ingin menuntaskan gairah yang sedari tadi tertahan di bawah meja makan. Dea juga mempersilakan kala pria itu meremas dada dan menyelipkan tangan ke dalam rok yang ia kenakan.

Sejenak, Aurin mematung dengan jantung berdebar kencang, menyaksikan pengkhianatan yang begitu nyata tepat di depan matanya.

Batinnya bertanya-tanya, “Kalau Nyonya berani melakukan hal nekat itu di rumah ini, maka artinya di luar sana … dia telah melakukan hal yang lebih menjijikkan dengan pria itu, ‘kan? Astaga, Nyonya jahat sekali pada Tuan Rayden. Salah apa Tuan Rayden sampai Nyonya berselingkuh? Kurang apa pria itu?”

Tak lama setelah pagutan Dea dan pria itu terlepas, Rayden pun kembali. Ia duduk di tempat semula. Dea dan tamu tadi pun bersikap biasa saja, seolah-olah tak ada apa-apa di antara mereka.

Aurin masih menyaksikan dari kejauhan. Ia merasa perutnya mual melihat betapa lihainya Dea bersandiwara.

****

Pagi harinya, Aurin menyiapkan sarapan seperti biasa. Suasana dapur yang tenang mendadak terasa menyesakkan saat ia melihat Dea begitu manja pada Rayden di meja makan. Dea sesekali menyandarkan kepala dan tersenyum manis, seolah kejadian pengkhianatan semalam tidak pernah ada.

Dari balik tembok dapur, Aurin menyaksikan sikap Dea yang begitu manja pada Rayden. Akan tetapi, Rayden tak bergeming. Tangannya yang kekar memegang gagang cangkir, lalu menyesap kopi itu dengan gerakan perlahan.

Rayden juga tak membalas pelukan Dea, sebab matanya tetap tertuju pada tablet di depannya dengan tatapan yang serius.

Aurin memperhatikan dari kejauhan, jemarinya meremas kain serbet saat menyaksikan interaksi yang begitu timpang itu.

“Honey, pagi ini aku ingin belanja bulanan di supermarket,” ucap Dea dengan nada yang dibuat semanis mungkin. “Aku akan mengajak Aurin.”

Sementara itu, Rayden tetap bergeming, matanya tidak lepas dari layar tablet. Ia hanya menanggapi dengan gumaman rendah yang dingin. “Hm.”

Sikap acuh tak acuh itu justru disambut senyum lebar oleh Dea. “Jatah bulan ini belum kamu kirimkan, ‘kan? Bisa kamu men-transfernya sekarang?”

Tanpa kata-kata manis atau basa-basi, Rayden meletakkan ponselnya di atas meja, menyodorkannya ke arah Dea dengan gerakan santai. “Kamu bisa mengirimnya sendiri," ucapnya datar.

“Thanks, Honey,” balas Dea cepat. Sembari meraih ponsel itu, ia memberikan kecupan singkat di pipi Rayden.

Aurin membuang muka, dadanya terasa sesak. Pemandangan itu terasa begitu ironis. Rayden telah memberikan kepercayaan penuh pada wanita yang semalam baru saja mengkhianatinya di meja yang sama.

Rasanya, Aurin ingin segera menghampiri Rayden dan mengatakan apa yang terjadi semalam antara Dea dan tamu itu. Namun, itu tidak mungkin dia lakukan sebab ia sadar betul akan posisinya.

Terlebih lagi, Aurin terikat oleh perjanjiannya dengan Dea. Jika ia lancang membuka mulut tanpa bukti yang kuat, maka Rayden yang dingin itu belum tentu akan mempercayainya.

Alih-alih menjadi pahlawan yang dianggap berjasa menyelamatkan harga diri pria itu, Aurin justru akan didepak keluar dengan tangan kosong. Lebih buruknya, Dea pun bisa membinasakannya tanpa jejak.

Kini, Aurin hanya bisa mengepalkan tangan kuat-kuat sambil menyaksikan Rayden yang menyedihkan karena terus dikelabui.

Tak lama setelahnya, Aurin memperhatikan Rayden yang mulai beranjak dari meja dapur. Dea pun segera mengekor di belakang suaminya dengan langkah manja.

Rasa ingin tahu yang membuncah membuat Aurin bergerak perlahan, mengikuti mereka secara sembunyi-sembunyi dengan langkah berjingkit-jingkit. Ia tidak berani muncul di teras rumah seperti yang dilakukan oleh Dea, melainkan hanya melirik dari balik jendela di samping pintu utama.

Dari sana, Aurin melihat Rayden berdiri di samping mobil, rahangnya tampak tegas di bawah cahaya matahari pagi.

“Aku pergi,” ucap Rayden datar.

“Hm. Hati-hati,” balas Dea sembari memeluk singkat. Setelah Rayden masuk ke mobil, Dea melambaikan tangan dan memasang senyum manis.

Begitu mobil yang dikendarai sopir itu melaju menuju gerbang, Aurin segera berlari cepat kembali ke dapur. Di sana, ia berpura-pura sibuk agar tidak tertangkap basah sedang mengintip majikannya.

Tak berselang lama, langkah kaki Dea yang angkuh terdengar mendekat. Dea muncul di ambang pintu dapur, menatap Aurin dengan tatapan memerintah. “Bersiaplah! Kamu ikut aku nanti.”

Aurin berbalik badan. Meski benaknya dipenuhi tanda tanya tentang ke mana tujuan mereka, tapi ia hanya bisa mengangguk patuh. “Baik, Nyonya.”

Tepat pukul sembilan pagi, Aurin berangkat. Ia hanya berdua dengan Dea, tanpa sopir pribadi yang biasa mengantar wanita itu.

Cukup lama kendaraan yang mereka tumpangi merayap di antara padatnya jalanan kota, hingga perlahan memasuki sebuah kawasan yang tampak asing bagi Aurin.

Jantungnya berdegup kencang saat mobil akhirnya berhenti di sebuah area yang sama sekali tidak terlihat seperti supermarket.

Aurin terpaku di kursinya, matanya membelalak tak percaya. Tempat yang ada di hadapannya sekarang benar-benar membuatnya syok.

Sembari melirik ke samping, Aurin bertanya, “N–nyonya, ini … tempat apa?”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   214. Menyentuh Sisi Hati 21+

    “Aurin, ada yang salah?” “Ah! Iya, iya, tidak apa-apa.” Panggilan keras Rayden menyadarkan Aurin dari lamunannya. Mata Aurin berkedip-kedip bingung, ia menyahut tergagap. “Yakin perutmu tidak apa-apa?” tanya Rayden lagi, memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Aurin tersenyum canggung, “Iya, Tuan, saya baik-baik saja.” Meski begitu, Rayden mendecakkan lidahnya pelan. Lalu, ia menghela napas. Ia juga menyeletuk, “Akhir-akhir ini, kamu aneh.” “A-aneh?” Aurin menatap Rayden takut-takut. “Aneh bagaimana, Tuan? Saya … baik-baik saja. Sungguh.” “Entahlah,” tanggap Rayden tak acuh. “Kamu sering sekali melamun dan bengong di dekat saya. Kenapa? Takut sama saya yang agak galak ini?” Pertanyaan itu membuat Aurin panik. “I-iya, Tuan … eh, bukan! Bukan! Bukan itu maksud saya, Tuan!” Rayden mendengus mendengar jawaban jujur itu. Sudut bibirnya berkedut, sedikit terangkat. Aneh sekali rasanya saat bicara dengan Aurin. Selama ini, Rayden terbiasa berhadapan dengan wanita yang badas,

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   200. TERBONGKAR

    “T-tuan, a-pa yang Anda lakukan di sini?”Tubuh Aurin gemetar saat menahan rasa takut, ia juga terbata-bata saat bertanya pada pria itu.Kaki Rayden tergerak maju selangkah demi selangkah.Satu langkah Rayden maju, Aurin akan mundur dua langkah—bahkan lebih, hingga tidak ada lagi ruang untuk lari. Wanita itu benar-benar terpojok di sudut kamar.Rayden segera memangkas jarak. Ia mendekatkan tubuhnya pada wanita itu, hingga nyaris tak ada sekat di antara mereka. Tatapannya tajam bak seekor elang, kini tengah menyorot Aurin yang nampak kerdil. Aurin bagai kelinci di padang pasir yang siap dicabik-cabik oleh pemangsanya.Saat Aurin benar-benar tak berkutik, Rayden menempelkan kedua telapak tangannya ke dinding—tepat di samping telinga Aurin. Kali ini, Aurin terkurung di antara kedua lengan kekar Rayden. Wajahnya ia tundukkan beberapa sentimeter lebih dekat—sangat dekat hingga berada tepat di depan wajah Aurin yang sangat t

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   199. Bersiap Membongkar Semuanya

    “Apa belum ada kabar dari Aurin?”Rayden menyesap minuman yang ada. Meskipun ekspresi yang terpancar di wajahnya datar dan dingin seperti biasa, namun tetap tersirat sebuah rasa gelisah saat pertanyaan itu terlontar pada asisten pribadinya. Pandangannya mengarah lurus ke depan, menatap permukaan kolam yang tenang. Sementara Rega yang ada di sampingnya, ikut duduk lalu melapor, “Belum, Tuan. Dia belum keluar kamar sejak pagi tadi,” jelas Rega sambil melirik pergelangan tangan kanannya, waktu sudah menunjuk ke angka 10 pagi.“Shit!” Rayden mengumpat pelan, rasa kesal dan khawatir bercampur aduk menjadi satu dalam dadanya. Dia pun menoleh ke arah Rega dan mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi membelit dirinya. “Apa menurutmu, setelah ditampar Dea, pipinya bengkak?”“Saya tidak tahu pasti, Tuan.” Rega menjawab jujur. “Saat saya hubungi tadi, dia tidak menjawabnya.”Rayden beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan mondar-mandir

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   198. Teror

    “Aaaaaa! Siapa yang melakukan ini?” Sebuah pekikan nyaring memecah kesunyian malam. Rayden, yang memang pura-pura tidur, kali ini juga pura-pura tersentak. “Ada apa?” tanyanya basa-basi pada Dea. Padahal sejak tadi, Rayden sama sekali belum memejamkan mata. Dalam diam, ia selalu memperhatikan gerak-gerik istrinya itu. Kegelisahan yang tak mampu disembunyikan oleh Dea, tatapan gelisahnya, hingga langkah pelannya saat keluar dari kamar, Rayden tahu semuanya. Bahkan saat Dea mengendap-endap pergi meninggalkan kamar seperti seorang pen, Rayden memanfaatkan celah itu untuk melakukan ‘seauatu’. Dan kali ini, Rayden memasang wajah seolah-olah dia sangat panik dengan kondisi Dea. Dengan nafas yang sedikit memburu, Rayden bangkit dari tempat tidur lalu menghampiri istrinya yang terduduk lemas di lantai. “Ada apa? Kenapa kamu ….” Rayden tidak melanjutkan ucapannya. Dia membelalakkan ma

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   197. Unboxing

    “Saya baik-baik saja, tidak usah cemas.”Rayden menatap Aurin datar, namun wajahnya tak sedingin biasanya. Ada sedikit kehangatan yang dapat dirasakan oleh Dea.Aurin pun terdengar agak lega. “Syukurlah, Tuan. Saya hubungi Dokter Evelyn dulu, beliau pasti membawa obat merah. Bibir Anda di sebelah kiri berdarah.”Sedari tadi, Dea memperhatikan mereka tanpa menyela sedikit pun. Bahkan setelah ia dan rombongan kembali ke hotel, ia tak mampu memejamkan mata hingga tengah malam—kepalanya terus memikirkan interaksi antara Aurin dan suaminya tadi. Menurut Dea, Aurin sangat berani memperhatikan suaminya. Entah kenapa, hati Dea justru diliputi keresahan. Jawaban Rayden yang cukup ramah dan nada lega yang terkandung dalam suara Aurin, benar-benar membuatnya tidak fokus.Dea tahu ia tidak boleh menunjukkan taring di depan mereka, sebab ancaman Aurin nyata, dan bisa menjadi kenyataan kapan saja. Sementara suaminya sendiri—Rayden—bisa membuangnya kap

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   196. Mencemaskan Keadaan

    Ketika berjalan mendekat ke area loket, Rayden tidak benar-benar menikmati suasana indah di sekitar sana seperti wisatawan yang lain. Tatapannya terus bergerak, mengamati, sekaligus memindai setiap wajah yang lewat dengan cermat. Kebiasaannya sebagai pria yang terbiasa menjaga kendali membuat insting kewaspadaannya sulit dimatikan, terlebih lagi setelah ancaman Vince beberapa waktu terakhir pada Dea. Karena itu, tanpa sadar, fokus Rayden mengarah pada Dea dan Aurin. Meski dia tahu sebagian anak buahnya masih berada di sekitarnya dan membayangi setiap langkahnya agar tak terlalu mencolok, namun ia harus tetap waspada. Keramaian di sekitar menara Eiffel cukup padat malam itu. Wisatawan tampak berlalu lalang dan suara berbagai bahasa tercampur menjadi hiruk pikuk yang sangat melelahkan. Dan di tengah antrian yang bergerak perlahan itu, mata Rayden menatap

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   24. Malam Panas Hingga Lemas

    Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   23. Memelukmu Sampai Pagi

    “Ahhh …. Jangan hanya diam dan menatapku seolah aku ini monster,” bisik Rayden. Jari jemarinya yang kasar membelai paha Aurin dan memberikan tekanan yang menuntut. “Tunjukkan padaku betapa kamu menginginkanku. Kendalikan aku sesuka hatimu atau kamu akan menyesali hukuman yang kuberikan nanti ka

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   9. Datanglah Ke Kamarku

    “Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   8. Gerakkan Pinggulmu, Sayang

    “Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status