LOGIN“Maaf atas kecerobohan saya, Tuan. Permisi.”
Saat Rayden memilih tak peduli pada sentuhannya tadi, Aurin tak berani lagi mengangkat wajah. Ia lantas melangkah mundur dengan gerakan terburu-buru. Sambil bersandar di salah satu tembok dapur, Aurin merutuki kebodohan jemarinya yang seolah tak bisa diajak kerja sama di depan pria itu. “Mengapa kamu melakukannya, Aurin?” gumam Aurin pada diri sendiri. Belum sempat Aurin menetralkan debar di jantungnya, Rayden terdengar menggeser tempat duduk hingga menimbulkan derit di lantai. Tapi begitu Aurin membalikkan badan, pria itu sudah beranjak pergi menuju depan sana. Tak lama kemudian, kesunyian rumah itu pecah oleh deru mesin mobil yang memasuki halaman. Aurin tahu betul, itu adalah suara mobil Dea. Dengan langkah pelan, ia mengekor di belakang Rayden. Begitu pria itu berbelok menuju ruang tamu, Aurin terus melangkah lurus ke arah pintu utama. Dan nyaris pada detik yang sama, suara bel berbunyi. “Sebentar,” sahutnya cukup nyaring. Aurin segera membukakan pintu dengan gerakan formal. Begitu terbuka, dia langsung mengucap, “Selamat datang, Nyonya dan … Tuan.” Aurin bingung. Pandangannya tertuju pada ekspresi Dea yang tampak begitu sumringah dan kedekatan yang ditunjukkan pada pria tadi, menyiratkan sebuah ketertarikan yang tak dapat disembunyikan. Dari situ, ia menduga kalau mereka berdua memiliki hubungan. Tetapi, Aurin tak mau berprasangka buruk terlebih dulu. Dia segera membuka pintu itu dengan lebar, lalu bergerak mundur dan memberi hormat pada mereka berdua. Aurin segera menyiapkan makanan pembuka. Setelah menyajikannya di meja, ia kembali ke dapur yang berjarak tiga meter dari meja makan tersebut. Cukup lama Aurin terpaku mengamati keadaan dari sudut yang tak terlihat. Tepat saat Rayden beranjak menuju toilet, suasana di meja makan berubah drastis. Dea dan pria yang duduk bersisian dengannya itu tak lagi menjaga jarak. Aurin menahan napas saat melihat keduanya saling mendekat dengan tergesa. Tanpa memedulikan resiko, mereka langsung memagut bibir satu sama lain dengan intim. “Eumh.” Lenguhan itu membuat mata Aurin yang sempat terpejam, kini terbuka lebar. Dari tempatnya, ia menyaksikan adegan yang sebenarnya tak perlu ia saksikan. Lidah Dea tampak saling membelit dengan pria itu, keduanya terlihat sangat bernafsu. Gerakan mereka begitu liar dan terburu-buru, seolah ingin menuntaskan gairah yang sedari tadi tertahan di bawah meja makan. Dea juga mempersilakan kala pria itu meremas dada dan menyelipkan tangan ke dalam rok yang ia kenakan. Sejenak, Aurin mematung dengan jantung berdebar kencang, menyaksikan pengkhianatan yang begitu nyata tepat di depan matanya. Batinnya bertanya-tanya, “Kalau Nyonya berani melakukan hal nekat itu di rumah ini, maka artinya di luar sana … dia telah melakukan hal yang lebih menjijikkan dengan pria itu, ‘kan? Astaga, Nyonya jahat sekali pada Tuan Rayden. Salah apa Tuan Rayden sampai Nyonya berselingkuh? Kurang apa pria itu?” Tak lama setelah pagutan Dea dan pria itu terlepas, Rayden pun kembali. Ia duduk di tempat semula. Dea dan tamu tadi pun bersikap biasa saja, seolah-olah tak ada apa-apa di antara mereka. Aurin masih menyaksikan dari kejauhan. Ia merasa perutnya mual melihat betapa lihainya Dea bersandiwara. **** Pagi harinya, Aurin menyiapkan sarapan seperti biasa. Suasana dapur yang tenang mendadak terasa menyesakkan saat ia melihat Dea begitu manja pada Rayden di meja makan. Dea sesekali menyandarkan kepala dan tersenyum manis, seolah kejadian pengkhianatan semalam tidak pernah ada. Dari balik tembok dapur, Aurin menyaksikan sikap Dea yang begitu manja pada Rayden. Akan tetapi, Rayden tak bergeming. Tangannya yang kekar memegang gagang cangkir, lalu menyesap kopi itu dengan gerakan perlahan. Rayden juga tak membalas pelukan Dea, sebab matanya tetap tertuju pada tablet di depannya dengan tatapan yang serius. Aurin memperhatikan dari kejauhan, jemarinya meremas kain serbet saat menyaksikan interaksi yang begitu timpang itu. “Honey, pagi ini aku ingin belanja bulanan di supermarket,” ucap Dea dengan nada yang dibuat semanis mungkin. “Aku akan mengajak Aurin.” Sementara itu, Rayden tetap bergeming, matanya tidak lepas dari layar tablet. Ia hanya menanggapi dengan gumaman rendah yang dingin. “Hm.” Sikap acuh tak acuh itu justru disambut senyum lebar oleh Dea. “Jatah bulan ini belum kamu kirimkan, ‘kan? Bisa kamu men-transfernya sekarang?” Tanpa kata-kata manis atau basa-basi, Rayden meletakkan ponselnya di atas meja, menyodorkannya ke arah Dea dengan gerakan santai. “Kamu bisa mengirimnya sendiri," ucapnya datar. “Thanks, Honey,” balas Dea cepat. Sembari meraih ponsel itu, ia memberikan kecupan singkat di pipi Rayden. Aurin membuang muka, dadanya terasa sesak. Pemandangan itu terasa begitu ironis. Rayden telah memberikan kepercayaan penuh pada wanita yang semalam baru saja mengkhianatinya di meja yang sama. Rasanya, Aurin ingin segera menghampiri Rayden dan mengatakan apa yang terjadi semalam antara Dea dan tamu itu. Namun, itu tidak mungkin dia lakukan sebab ia sadar betul akan posisinya. Terlebih lagi, Aurin terikat oleh perjanjiannya dengan Dea. Jika ia lancang membuka mulut tanpa bukti yang kuat, maka Rayden yang dingin itu belum tentu akan mempercayainya. Alih-alih menjadi pahlawan yang dianggap berjasa menyelamatkan harga diri pria itu, Aurin justru akan didepak keluar dengan tangan kosong. Lebih buruknya, Dea pun bisa membinasakannya tanpa jejak. Kini, Aurin hanya bisa mengepalkan tangan kuat-kuat sambil menyaksikan Rayden yang menyedihkan karena terus dikelabui. Tak lama setelahnya, Aurin memperhatikan Rayden yang mulai beranjak dari meja dapur. Dea pun segera mengekor di belakang suaminya dengan langkah manja. Rasa ingin tahu yang membuncah membuat Aurin bergerak perlahan, mengikuti mereka secara sembunyi-sembunyi dengan langkah berjingkit-jingkit. Ia tidak berani muncul di teras rumah seperti yang dilakukan oleh Dea, melainkan hanya melirik dari balik jendela di samping pintu utama. Dari sana, Aurin melihat Rayden berdiri di samping mobil, rahangnya tampak tegas di bawah cahaya matahari pagi. “Aku pergi,” ucap Rayden datar. “Hm. Hati-hati,” balas Dea sembari memeluk singkat. Setelah Rayden masuk ke mobil, Dea melambaikan tangan dan memasang senyum manis. Begitu mobil yang dikendarai sopir itu melaju menuju gerbang, Aurin segera berlari cepat kembali ke dapur. Di sana, ia berpura-pura sibuk agar tidak tertangkap basah sedang mengintip majikannya. Tak berselang lama, langkah kaki Dea yang angkuh terdengar mendekat. Dea muncul di ambang pintu dapur, menatap Aurin dengan tatapan memerintah. “Bersiaplah! Kamu ikut aku nanti.” Aurin berbalik badan. Meski benaknya dipenuhi tanda tanya tentang ke mana tujuan mereka, tapi ia hanya bisa mengangguk patuh. “Baik, Nyonya.” Tepat pukul sembilan pagi, Aurin berangkat. Ia hanya berdua dengan Dea, tanpa sopir pribadi yang biasa mengantar wanita itu. Cukup lama kendaraan yang mereka tumpangi merayap di antara padatnya jalanan kota, hingga perlahan memasuki sebuah kawasan yang tampak asing bagi Aurin. Jantungnya berdegup kencang saat mobil akhirnya berhenti di sebuah area yang sama sekali tidak terlihat seperti supermarket. Aurin terpaku di kursinya, matanya membelalak tak percaya. Tempat yang ada di hadapannya sekarang benar-benar membuatnya syok. Sembari melirik ke samping, Aurin bertanya, “N–nyonya, ini … tempat apa?”“Kalian naik saja sendiri! Aku ingin membujuk suamiku dulu!” Dokter Evelyn sempat tidak setuju. Pasalnya, Aurin bahkan tak dipersilakan naik oleh Dea. “Tapi—”“Cepat!” seru Dea tegas sembari mengibaskan telapak tangannya pada rombongan. Mihat petugas sudah mulai mendesak karena kereta akan segera berangkat, akhirnya Rega—asisten pribadi Rayden— dan yang lain memutuskan untuk tetap pergi, meninggalkan Aurin. Toh, Aurin juga sudah bersama majikan mereka, ‘kan?Mungkin mereka juga memikirkan tiket yang sudah dibayar lunas, sayang kalau dibiarkan hangus begitu saja. Setelah kereta berangkat, tak seperti ucapannya, alih-alih mengejar Rayden, Dea justru berbalik arah dan berjalan cepat menghampiri Aurin yang berdiri mematung. Tanpa ba bi Bu, Dea langsung menampar Aurin dengan keras.Plak!Aurin, ya g sedang asyik mengagumi pemandangan Kota Paris yang begitu indah dan menakjubkan, sek
“Ayo naik!” Dea melambaikan tangan kecil ke arah Rayden sambil berdiri di dekat kereta wisata yang akan membawa mereka berkeliling area sekitar menara Eiffel. Rayden tak langsung mengiyakan, dia malah menggoda Dea dengan kekehan santai. Nadanya turun, penuh godaan. “Menaikimu, hm?” Tak hanya memberikan godaan, Rayden juga menarik dagu Dea dan ia mengecupnya pelan. Sengaja melakukan itu agar Dea tidak bengong lagi seperti tadi. “Jangan bicara sembarangan!” desis Dea memperingatkan. Refleks, dia langsung memukul pelan lengan kekar suaminya, dan wajahnya ikut memerah—malu bercampur kesal. “Mereka bisa mendengar kita!” Meski bibir Dea tersenyum, namun Rayden bisa melihat dengan jelas kalau senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya. Ada kegelisahan yang terus terpancar di wajah cantiknya sejak beberapa menit berlalu. Sayangnya, Rayden belum tahu apa penyebabnya. Ia mengira Dea hanya lelah. A
“Apa yang membuatmu tersenyum-senyum sendirian seperti itu?” Sebuah suara familiar itu datang tiba-tiba. Rayden.sedikit.tersentak dari lamunannya sebab dia baru saja membayangkan hal indah bersama anak-anaknya dan Aurin. Saat Rayden menoleh ke samping, dia mendapati istrinya sudah ada di sana. Dia bahkan tidak sadar sejak kapan wanita—yang tengah hamil palsu itu—sudah berdiri di dekatnya sambil membawa dua cup es krim di tangannya. Namun, keterkejutan itu hanya berlangsung selama sepersekian detik. Rayden tetap bisa menguasai keadaan—terlalu terbiasa menyembunyikan pikirannya. Rayden segera menaruh perhatian pada sang istri. Dengan gerakan santai dan terukur, dia melingkarkan lengannya di pinggang ramping Dea dari belakang—seolah semuanya baik-baik saja. Sambil mendaratkan janggutnya ke pundak kanan Dea, Rayden berujar pelan, “Aku hanya berpikir … bagaimana kalau setelah triplets
“Tuan, apa yang terjadi?”Rayden keluar dengan penampilan yang kacau. Jack dan Rega segera menopang tubuh pria itu.Di belakangnya, Vince berjalan sempoyongan. Kedua tangannya menyibak kerumunan dan berkata, “Minggir!”Rayden tak bergeming. Dia tetap di ambang pintu, tubuh besarnya tidak menghalangi jalan Vince untuk keluar dari sana, justru pintu itu masih cukup lebar kalau hanya digunakan lewat.Saat Vince berada tepat di dekat Rayden, ia menatapnya dengan sengit. “Pecundang!” Rayden tak berniat memberi bogem mentah lagi ke wajah Vince, ia memilih membiarkan pria itu berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun.Setelah tubuh Vince menghilang di ujung lorong, Rayden menatap beberapa anak buahnya yang menatapnya dengan cengo.“Tuan, ada apa?” Rega mendesak, dia sempat berpikir apakah tuannya itu memukuli Vince dengan brutal?“Dia mengakui semuanya, tentang perselingkuhannya dengan Dea,” sahut Rayden ringan, tega
“Bajingan! Keparat! Mati saja kamu! Mati! Mati!”Rayden memukuli wajah Vince yang tampan itu dengan kepalan tinjunya. Terhitung lebih dari sepuluh kali dia menghantamkannya pada Vince.Sayangnya, Vince seperti memiliki ajian kebal diri. Pria itu bahkan masih bisa mendorong Rayden, setelah Rayden membuatnya babak belur. Rayden terjengkang ke belakang, dia jatuh terduduk di karpet dengan kasar. Dia kesal pada diri sendiri—terlalu kesal karena dia harus menjadi pria bodoh yang dikhianati, di depan Vince pula.Sebenarnya, Rayden sudah tidak peduli pada Dea dan Vince yang kerap kali ‘bermain kuda’ di belakangnya.Meskipun dia telah menerima pengkhianatan itu dan bersikap biasa saja—pada perselingkuhan Dea dan Vince— tapi Rayden tidak boleh gegabah, bukan?Bersikap biasa saja akan menimbulkan masalah. Kalau Vince bicara mengenai ini pada Dea, maka Rayden juga yang akan rugi. Dia belum memberi pelajaran pada Dea, dan dia ingin Dea mend
“Kamu mencariku?” Rayden memotong ucapan pria angkuh itu. Dia baru saja dikabari oleh anak buahnya untuk segera turun karena urgent, dan dia mengiyakannya. Namun sesampainya di sini, dia dikejutkan dengan kedatangan selingkuhan istrinya itu yang ingin sekali menemuinya.Pikirannya bercabang ke mana-mana. Ada apa pria ini menemuinya? Ingin mengajaknya berduel untuk memperebutkan Dea, atau ada hal lain yang ingin pria itu lakukan.Vince menoleh ke belakang. Dia menyeringai tipis melihat orang yang dia ingin temui sudah berdiri tak jauh darinya. “Tepat sekali kamu ada di sini, Rayden Wisesa. Aku … ingin bicara denganmu empat mata. Bisa?”Rayden takut kalau ajakan bicara empat mata itu adalah jebakan Vince— yang mungkin ingin mencelakainya. Maka, dia tak mau mengambil resiko. Biar bagaimana pun, ada ketiga anaknya yang membutuhkan kehadirannya nanti. Jangan sampai ia gegabah.Rayden menyahut pelan, “Dalam rangka apa? Katakan saja di sini!”
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.
Langkah Aurin mendadak tertahan di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri Rita Wisesa—ibunya Rayden. Meski belum pernah bertemu Rita sebelumnya, tapi Aurin pernah melihat sosok wanita ini ada di foto dekat ruang keluarga. Ia pun menebak demikian.“Mengapa wajahmu merah?” tanya wanita itu s
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R
“Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk







