LOGIN“Kalau begitu saya permisi, Dok. Saya akan kembali besok sore.”
Dokter itu menganggukkan kepala dan berpesan agar Dea beristirahat total. Ia juga memberi imbauan pada Dea untuk tidak mengambil kesimpulan sebelum hasil konfirmasi keluar. Namun pada kenyataannya, nasihat itu nyaris tidak masuk ke telinga Dea. Kepala wanita itu masih dipenuhi bayangan dua garis merah mengerikan pada alat tes tadi. Dengan langkah yang lemas, ia keluar dari ruang prak“Kalau Anda meminum obatnya secara disiplin, maka peluang hidup Anda sama saja dengan orang yang tidak mengidap HIV, Nyonya. Bisa puluhan tahun, bisa sampai usia tua, bahkan bisa seumur hidup layaknya orang normal pada umumnya.” Dokter itu menjeda ucapannya sejenak, menatap Dea serius. “Taoi ingat, semua itu bergantung pada diri Anda sendiri. Selama obat itu diminum tepat waktu dan tidak pernah putus, maka virusnya akan melemah.” Dea pulang dengan langkah gontai dan berat, seolah olah kedua kakinya terikat batu berton-ton beratnya. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, seakan tenaga dan jiwanya dicabut paksa bersamaan dengan keluarnya ia dari ruang periksa tadi. Sepanjang perjalanan, pandangannya kosong. Ia menatap jalanan yang padat merayap, namun ia tak peduli dengan apa yang ada di sekelilingnya. Entag mengapa, ia tak memiliki semangat hidup sedikit pun. Segala ambisi, harga diri, dan rencana-rencana indah yang ia susun
“Mengingat kita sudah berkomitmen untuk serius, saya tahu kamu sangat ingin acara lamaran itu segera diadakan. Tapi ….” Aurin menjeda kalimatnya. Ia mengulurkan tangan, lalu menyentuh telapak tangan besar Rayden dengan lembut. Jari jemarinya yang mungil menyusup erat di sela jemari pria itu, seolah mencari kekuatan. Wajahnya serius, penuh pertimbangan ketika berucap, “Saya tidak mau nama kita berdua dicap buruk oleh keluarga Nyonya Dea. Pasti mereka akan hadir di acara baby gender reveal itu, ‘kan?” Rayden terdiam sejenak, ia mengangguk dengan berat. “Benar. Tidak mungkin mereka absen begitu saja pada momen sebesar itu.” “Maka dari itu, lebih baik kita adakan acara lamaran di lain waktu saja,” usul Aurin tegas. Ia menatap lekat wajah pria tampan di hadapannya. “Kamu tidak keberatan ‘kan mengadakan acara seperti itu lagi? Meski … yeah … saya tahu itu berarti harus merogoh kocek lebih. Nanti kalau kamu merasa keberatan soal b
“Saya sudah duda!”“Duda? Bagaimana bisa?”Di ruang private sebuah restoran, Aurin memekik histeris saat Rayden mengakui statusnya. Yang ia tahu, pria ini baru mengurus perceraian sekitar dua minggu yang lalu. Tapi, mengapa status pria itu berubah secepat ini?“Panjang ceritanya,” jawab Rayden. Ia mengambil satu kentang goreng dari piring Aurin dan memasukkannya ke dalam mulut. “Yang pasti, minggu depan akta cerai saya keluar.”Karena masih belum paham, Aurin bertanya lagi. Ia mendekatkan badannya sambil tersenyum. “Apa ini karena bukti perselingkuhan Nyonya sangat kuat dan jelas sampai pihak pengadilan mengabulkannya secepat itu? Karena yang saya tahu, tetangga saya dulu cerah harus nunggu 6 bulan pisah rumah dulu, atau tidak dinafkahi suami lebih dari tiga bulan, baru bisa lancar prosesnya.”“Benar.” Rayden kembali mengambil kentang goreng itu, lalu menyuapkannya ke mulut Aurin. “Karena bukti dan
“Baik, persidangan untuk perkara gugatan perceraian antara saudara Rayden—selaku penggugat, melawan Saudari Dea selaku tergugat dimulai.”Tiga ketukan palu terdengar di ruangan yang hening itu. Rayden menegakkan punggung, persidangan secara tertutup ini akan segera digelar dan ia harus berkonsentrasi.Hari ini, Rayden menghadiri sidang kedua. Ia duduk dengan tenang sembari mendengarkan hakim ketua membacakan berita acara.“Seperti yang telah kita lalui pada persidangan sebelumnya, upaya perdamaian atau mediasi telah dilaksanakan pada sidang pertama, namun dinyatakan GAGAL. Kemudian, hari ini kita berkumpul untuk melaksanakan mediasi Tahap kedua sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Namun, setelah dipanggil selama dua kali melalui juru sita dan ditunggu dengan cukup lama di ruang sidang selama satu jam, ternyata Saudari Dea selaku Tergugat tidak hadir, dan tidak mengutus kuasa hukumnya. Padahal, dia telah dipanggil secara sah dan patut.”Rayden tersenyum tipis. Bagaima
“Kamu sangat hebat!”Di sela hembusan napasnya yang masih memburu, Aurin memuji Rayden. Ia menatap wajah pria itu yang basah oleh keringat. Sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya, ia tersenyum penuh arti. Seolah menunjukkan bahwa ia teramat puas dengan permainan pria itu. “Saya hebat?” ulang Rayden, napasnya pun masih tersengal-sengal dan detak jantungnya belum mau tenang. Aurin mengangguk, ia mendekati pria itu, lalu ia lingkarkan lengannya ke perut pria itu sambil mendongak, “Ya, kamu hebat. Saya … sangat puas. Terima kasih.”“Syukurlah kalau kamu puas.” Rayden membalasnya dengan usapan lembut di kepala Aurin. Dan untuk sejenak, dunia seperti milik mereka berdua saja. Aurin menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu, dan Rayden sendiri memberikan curahan kasih sayang padanya.“Lakukan lagi. Saya mau kehebatan kamu yang lain.”“Tentu.”Saat Aurin memujinya, Rayden merasa canggung.
“Ah … pelan sedikit, Rayden!” desis Aurin tertahan. Tangannya mencengkeram lebih erat lengan kekar pria yang menindihnya itu, berharap Rayden memberi kelembutan. Mendengar rintihan itu, Rayden seketika menghentikan gerakannya. Napasnya masih memburu saat ia menatap wajah Aurin yang tampak kesakitan. Ia bertanya dengan nada khawatir, “Kenapa? Apa saya bergerak terlalu kasar dan keras? Apa itu sakit?” “Em ….” Aurin mengangguk pelan, bibirnya mengerucut menahan rasa bergemuruh dalam dadanya Menurutnya, setiap tumbukan yang dilancarkan Rayden sejak lima menit lalu memang terlalu kuat, terlalu dalam dan menekan. Ujung kejantanan pria itu terus-menerus menghantam mulut rahimnya, menciptakan rasa linu yang mendadak menjalar ke seluruh pinggangnya. Meskipun separuh dari rasa itu terasa nikmat, hangat sekaligus membuatnya lemas tak berdaya, namun separuh sisanya terasa menusuk-nusuk. Terlalu dalam hin
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.
Langkah Aurin mendadak tertahan di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri Rita Wisesa—ibunya Rayden. Meski belum pernah bertemu Rita sebelumnya, tapi Aurin pernah melihat sosok wanita ini ada di foto dekat ruang keluarga. Ia pun menebak demikian.“Mengapa wajahmu merah?” tanya wanita itu s
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R







