Masuk“Benarkah itu Tuan Rayden? Mengapa dia ... setampan itu?”
Aurin berdiri dari sofa, mematung. Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Begitu Rayden melangkah masuk ke dalam kamar ini, pria itu tampak memancarkan aura luar biasa berkelas, yang bisa menjadi daya tarik bagi setiap wanita—tak terkecuali Aurin. Sosoknya begitu dominan dengan rahang tegas dan dagu belah yang menambah kesan maskulin nan kaku. Rambut hitam kecokelatannya tersisir rapi menggunakan pomade, menciptakan kontras tajam dengan kulit putihnya yang bersih. Di bawah naungan alis tebal, tatapan matanya menghujam sedingin es, sementara tubuh tegap dan bulky miliknya memancarkan aura mengintimidasi. Bahunya yang lebar bersanding sempurna dengan rahang tegas berhias jambang halus dan hidung mancung. Namun yang paling mengagumkan adalah otot bisepnya yang tercetak kuat di balik kemeja press body, menegaskan sosok yang begitu maskulin. Aurin bergegas keluar dari ruangan tersebut. Setelah ia sampai di lorong lantai dua, ia tak bisa mengontrol detak jantungnya yang makin menggila. Selama bekerja di sini, dia tak pernah melihat sosok Rayden secara langsung sebab pria itu sibuk dengan bisnisnya di luar negeri. Dia hanya melihat dari beberapa foto Rayden yang terpajang di dinding rumah. Dan ternyata jika dibandingkan dari foto dan aslinya, pria itu sangat berbeda. Menggeleng sembari memejamkan mata, Aurin tak mau memikirkan hal itu. Ia berusaha mengenyahkan debar dalam dada itu. Sayangnya, Aurin tak akan pernah bisa melupakan itu lantaran ia masih terjebak di sini. Sembari berjalan, dia kembali memikirkan tawaran sang majikan—yang sebenarnya sayang sekali dilewatkan begitu saja. Di satu sisi, Aurin memang butuh uang agar dia dan ibunya tak dikejar-kejar debt collector— yang selalu membayangi kehidupan mereka selama beberapa tahun belakangan. Tetapi di sisi lain, hati Aurin menjerit kencang, merasa kalau dia menerima tawaran itu, dia akan sangat berdosa pada Tuhannya. Sesampainya di kamar, Aurin mengambil tas selempang miliknya dan bersiap pulang. Mau tak mau, dia harus mempertimbangkan ini sekaligus membicarakan dengan sang ibu apakah setuju atau tidak. “Aku tidak boleh naif. Aku butuh uang itu. Jadi, aku harus meminta persetujuan ibu dulu. Setuju atau tidaknya Ibu nanti dengan tawaran ini, Ibu harus tahu.” Maka, Aurin tak berlama-lama. Usai menaiki ojek dan turun di depan gang, dia segera kembali ke rumah kontrakannya. Namun baru saja menapakkan kaki di pelataran rumah, tubuhnya terasa lemas kala mendapati kejadian yang tak pernah dia sangka-sangka dalam hidupnya. “Ibu!” jerit Aurin panik. Dia berlari tunggang langgang menuju ibunya yang dipukuli dan diinjak-injak oleh debt collector. Aurin menjerit keras. Dia langsung meraih kepala ibunya dan memeluknya. Bahkan, tubuhnya ikut dipukuli oleh dua pria di kanan dan kiri tubuhnya itu. Bertubi-tubi Aurin mendapatkan pukulan. Tak hanya di badan, tetapi wajahnya juga tak luput dari hantaman. Sakit, perih dan pusing. Merasa bila dia tak bisa menahannya lebih lama lagi, Aurin menjerit, “Jangan lakukan ini! Berhenti! Berhenti!” Dua debt collector itu langsung berhenti. Dengan nafas terengah, salah satunya berbicara sembari menunjuk wajah Aurin yang memar. “Gue beri waktu lo seminggu buat lunasin hutang bokap lo! Kalau dalam kurun waktu itu lo gak bisa membayar beserta bunganya, maka lo yang akan bos jadiin jaminan!” Sambil terkekeh pelan, salah satu temannya menambahkan sembari berjongkok, “Dan lo tahu apa akibatnya, ‘kan? Kalau lo gak bisa bayar ….” Jemari kanan pria itu menyentuh wajah Aurin. Tetapi, Aurin langsung memalingkan wajah. “Maka ibu lo yang akan jadi jaminannya.” Aurin menangis tersedu-sedu usai dua pria itu meninggalkan rumah kontrakannya. Dengan wajah yang babak belur, ia menyeret ibunya yang setengah sadar itu untuk masuk ke dalam rumah. Beberapa tetangga Aurin yang sempat menyaksikan itu dari kejauhan, segera mendekat dan memberitahu kalau mereka tidak bisa menolong karena takut ikut dipukuli. *** Hal itulah yang membuat Aurin kembali menemui Dea keesokan paginya. Dia duduk di sofa—dalam kamar Dea— dengan perasaan takut luar biaasa. Sambil memangku tangan, ia berusaha menyenyahkan rasa gugup yang membelenggu jiwa. Begitu Dea menghampirinya, dia menyapa dengan hormat, “Selamat pagi, Nyonya.” “Pagi.” Dea duduk. Kemudian dia menelisik wajah Aurin yang sejak tadi tampak gusar. Sejenak, ada senyum meremehkan di kedua sudut bibir Dea. Benak telah menduga kalau kedatangan Aurin di kamarnya, pasti untuk menerima tawarannya itu. Dea berdehem sejenak, sebelum akhirnya bertanya pada Aurin dengan nada jutek, “Ada apa?” Dengan perasaan takut, Aurin mendongakkan wajahnya pelan sekali untuk menatap Dea. Lalu, dia mengangguk mantap, “B–begini, Nyonya. Mengenai tawaran Anda yang semalam, s–saya setuju. Saya mau hamil dan melahirkan anaknya Tuan Rayden untuk Anda.” Dea cukup terkejut. Pasalnya semalam, Aurin menolak usulannya mentah-mentah. Dan sekarang, wanita itu dengan tam tahu diri mendatanginya, mengemis padanya. Aurin menggigit bibir bawahnya. Ia menelan ludah saat Dea tak menanggapi, hanya menatapnya sinis. “Maaf kalau semalam saya menolaknya, Nyonya. Tapi setelah saya pikir matang-matang, ucapan Anda benar juga.” “Yang mana?” tanggap Dea dingin. “S–soal kemarin, Nyonya,” aku Aurin jujur. “J–jadi, apakah tawaran itu masih berlaku? Kalau masih, saya mau melakukannya.” Dea menaikkan sebelah alisnya. “Yakin?” “Yakin, Nyonya,” angguk Aurin berulang, seolah ia tak mau kehilangan kesempatan ini. “Sangat yakin.” Dea mempertimbangkannya cukup lama, hampir lima menit lamanya. Setelah dia yakin Aurin tak berubah pikiran, maka dia berujar, “Baiklah, tunggu sebentar.” Dea lekas beranjak dari tempat duduknya, lalu mengambil dokumen dan pena yang telah ia simpan dan siapkan di dalam brankas sejak lama. Setelahnya, Dea membawanya ke depan Aurin, meletakkannya di atas meja. Sambil menyilangkan kaki dan bersandar, dia menunjuk dokumen itu dengan dagunya. “Tanda tangani berkas perjanjian itu.” “B–baik.” Aurin mengangguk setuju. Ia tak langsung meraih pena di atas meja atau sekadar membaca isi perjanjian, tetapi menatap Dea penuh permohonan. “T–tapi … m–maaf kalau saya lancang, Nyonya. Apa … setelah menandatangani berkas ini, saya bisa mendapatkan separuh uangnya dulu? Saya tidak mau cek, Nyonya, apa saya boleh cash?” Aurin kemudian memperhatikan Dea yang tengah melipat kening. Sejenak, ia bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa ia terlalu lancang?Begitu mereka menginjakkan kaki di Hong Kong Disneyland, jarum jam baru saja menunjuk tepat pada pukul 9 pagi. Udara pagi yang bersih dan hangatnya sorot mentari menyambut kedatangan mereka, bersinergi dengan alunan musik khas Disney yang menggema ceria di sepanjang jalan.Begitu melewati gerbang pemeriksaan, mereka langsung disuguhkan oleh pemandangan Main Street, U.S.A. yang dipenuhi bangunan-bangunan berarsitektur klasik dengan warna-warni megah yang memanjakan mata. Di ujung jalan, kemegahan Castle of Magical Dreams berdiri dengan anggun, menara-menaranya yang menjulang tinggi seolah mengundang siapa saja untuk masuk ke dalam dunia dongeng.Pemandangan menakjubkan itu seketika menerbitkan senyum lebar di wajah Nora dan Aurin. Nora bahkan sampai melompat-lompat kecil di tempatnya, menunjuk-nunjuk ke arah kastel dengan pekikan heboh yang tidak bisa ia tahan lagi. Rasa lelah akibat perjalanan sama sekali tidak bersisa, digantikan oleh
Setelah empat jam mengudara membelah langit, jet pribadi mereka akhirnya mendarat dengan selamat. Sesampainya di gerbang kedatangan, perlahan Nora membuka kedua matanya. Sisa kantuk yang masih menggelayut membuat bocah kecil itu merengek pelan sembari mencari-cari kehangatan yang familiae di setiap paginya.“Mommy ... Mommy .…”Aurin, yang kebetulan baru saja dari toilet, segera melangkah cepat menghampiri sang putri lantaran Rega mencarinya. “Nyonya, Nora menangis.”“Saya akan ke sana.” Aurin mempercepat langkah. Begitu di dekat stroller anak-anaknya, Nora sudah terbangun. Sementara kedua putranya masih terlelap. “Oh, Princess Mommy sudah bangun rupanya. Mau apa, hm?”Nora yang masih setengah sadar merentangkan kedua tangan mungilnya ke atas, menuntut untuk didekap dengan sikap yang teramat manja.Namun, tepat setelah Aurin mengangkat dan menggendongnya, sepasang mata biru jernih milik Nora mengerjap beberapa kali. I
“Hoaaaa! Daddyyyyy!”Teriakan Nora yang melengking tidak wajar dari seberang telepon seketika membuat Rayden tersentak dan langsung beranjak dari posisi duduknya. Jantungnya berdegup kencang. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya bertanya dengan nada setengah memekik panik, “Nora?! Ada apa? Kamu terluka?!”Rayden sudah bersiap menyambar ponsel dan dompetnya di atas meja, bersiap menarik kedua putra kembarnya untuk berlari menyusul sang istri dan putrinya. Namun, seruan heboh Nora selanjutnya yang menggema lewat pesan suara yang baru masuk ke ponsel Aurin—dan diteruskan ke ponselnya—malah membuat pria itu termenung bodoh di tempatnya.“Tidak! Ini seru sekali, Daddy! Hoaaaaa! Seru banget!”Rayden mengerutkan keningnya dalam-dalam. ‘Seru? Memangnya mereka sedang di mana dan melakukan apa?’ pikir Rayden bingung, campur aduk antara lega dan kesal.Saking paniknya mengira anak dan istrinya kenapa-napa di tempat umum, Rayden tetap tidak bisa tenang. Ia bergegas menatap Reinh
Setelah menuntaskan seluruh urusan administrasi dan memastikan masa depan Daisy terjamin dengan baik di panti asuhan, Rayden menepati janjinya. Akhir pekan itu, ia memboyong Aurin dan ketiga anak mereka untuk bersenang-senang di Universal Studios Singapore.Wahana Transformers: The Ride menjadi destinasi pertama yang mereka tuju. Suasana antrean yang dirancang mirip seperti markas rahasia N.E.S.T. langsung menyambut kedatangan keluarga tersebut dengan dekorasi militer futuristik dan layar-layar digital raksasa yang menampilkan pesan darurat dari Optimus Prime.Begitu melangkah masuk ke area dalam, Reinhard dan Reynand yang memang sangat menggilai robot-robot alien ini langsung berdecak kagum dengan mata berbinar-binar. Atmosfer tegang namun seru di dalam wahana benar-benar membuat mereka merasa seperti sedang berada di dalam film.“Dad, lihat! Itu Bumblebee!” tunjuk Reinhard heboh, jarinya mengarah lurus ke sebuah replika mobil Chevrolet Camaro kuning ikonis yang dipajang di salah sat
“Halo, saya Rayden dan ini istri saya, Aurin. Kami ada keperluan mendesak dengan salah satu anak di yayasan ini. Apakah benar di sini ada anak dari saudari Dea Estrella? Namanya Daisy, dan ini foto mendiang Dea.”Setelah dipersilakan masuk dan berkenalan singkat, Rayden kini bertemu dengan kepala yayasan bernama Noor.Ketua yayasan bernama Noor itu meraih ponsel yang disodorkan oleh Rayden. Usai mengamati wajah Dea di layar dengan saksama, ia langsung mengangguk mantap untuk membenarkan.“Benar, Tuan,” tutur Noor ramah. “Nyonya Dea memang kerap berkunjung ke sini setiap satu bulan sekali untuk menemui Daisy.”“Apakah Daisy adalah putri kandungnya?” tanya Rayden memastikan.“Benar. Usianya kini hampir empat belas tahun, tapi dia memiliki sedikit keterbatasan fisik dan mental. Bisa disebut dia adalah anak istimewa,” terang Noor lembut. Raut wajah wanita paruh baya itu mendadak berubah sendu setelah membahas Dea. “Tapi sejak beberapa tahun b
“Nanti kita langsung serahkan saja pada walinya di panti asuhan itu. Bagaimana menurutmu? Apa nama panti asuhannya sudah tertulis di surat wasiat itu, atau justru kita harus menebak-nebak lagi?”Setelah keheningan yang sempat merayap selama beberapa saat, akhirnya Aurin kembali bersuara. Ekspresi wajahnya tampak biasa-biasa saja. Rayden yang sejak tadi memperhatikannya dengan saksama tidak mendapati adanya guratan kecemburuan atau rasa iri yang kentara di sana. Ternyata, gumaman ‘oh’ tadi murni karena istrinya sedang berfokus pada kelanjutan nasib anak tersebut.Rayden pun mengembuskan napas lega dan mengesampingkan kekhawatiran konyolnya. Ia langsung menanggapi pertanyaan sang istri dengan anggukan pelan. “Boleh, Sayang. Nama panti asuhannya sudah tertera jelas di lembar akhir surat wasiat. Tapi letaknya cukup jauh dari sini. Kamu ... tidak keberatan kalau kuajak melakukan perjalanan jauh?”“Kenapa harus keberatan?” Aurin membalas dengan senyuma
“T–tapi, saya tetap tidak bisa, Nyonya. Semua yang Anda tawarkan ini … cukup beresiko.” Aurin menolak permintaan itu. Ia tak mau terlibat terlalu jauh pada keluarga ini.“Kalau mau uang, ya harus terima resiko,” sahut Dea tak acuh. Aurin beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa tak pantas duduk b
“Lahirkan anak untuk suamiku!” Aurin menelan ludah. Permintaan gila macam apa ini? Majikannya meminta ia untuk hamil anaknya? Apa tidak salah? “Begitu kamu berhasil mengandung anak suamiku, 500 juta ini akan menjadi milikmu.” Dea, majikannya yang cantik nan modis, duduk sambil menyilangkan ka
“Jadi … istriku ternyata anak dari keluarga yang kaya raya?” Rayden sungguh tak sanggup menyangka. Mengapa kenyataan hidup ini terjalin begitu rumit dan berbelit-belit? Meski belum ada bukti resmi yang
“Saya … saya sangat butuh uang itu untuk membayar hutang, Nyonya. K–kalau tidak bisa separuhnya, … sepersepuluhnya pun tidak apa-apa.”Aurin tahu, ini agak lancang. Tetapi, dia butuh uang itu segera untuk menutupi hutang. Ia tak mau ibunya digebuki oleh para debt collector itu karena menunggak pemb







