LOGIN“Test pack hanyalah pembuktian awal. Pembuktian yang sesungguhnya tetap melalui USG. Jadi, apakah kehamilan itu nyata atau tidak.”
Aurin mendengar semuanya dari luar kamar. Ia menengok ke dalam melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Di sana, Rita mengibaskan kipas bulunya di depan wajah, kemudian berbicara pada Dea dengan nada sengit.Demi apapun!Aurin tak dapat berkata-kata lagi. Rita adalah sosok berbahaya yang patut dihindari. Usai mendengar“Mana yang sakit?” Rayden datang dengan langkah tergesa-gesa. Begitu sampai di dekat ranjang, ia langsung memegang perut Aurin, meraba-raba, mencoba merasakan kehadiran tiga bayinya. Saat tak ada gerakan apapun, pria iru semakin resah. Nadanya terdengar kian mendesak, menuntut kejelasan sedetail-detailnya, “Perutmu sakit, kram, atau semacamnya?” Aurin, yang saat itu ketakutan dengan perubahan sikap majikannya, beringsut menjauh. Perhatian ini bukan seperti yang ia harapkan. “T-tuan, saya baik-baik saja, sungguh.” Rayden tersinggung saat Aurin menjauhinya. Ia naik ke atas ranjang dan mengejar wanita itu yang hendak berlari. “Kamu … yakin?” Mengangguk, Aurin benar-benar gugup saat itu. “S-saya baik. Kata Dokter Ken, saya hanya—” “Dia hanya memeriksamu di luar tubuh, tapi kondisi di dalamnya dia tidak tahu!” tukas Rayden, menyela ucapan Aurin. Aurin bungkam, ia tak tahu harus berea
“Apa yang kamu lakukan, Dea!” Suara itu membuat Dea menelan ludah, gugup. Di sana, Rayden menyorotnya. Saat Rayden berjalan ke arah Dea, tatapan pria itu mengeras, tajam, dan menusuk, seolah ingin menelan Dea bulat-bulat. Dea melihat Rayden berada tepat di samping Aurin. Ia pun beralasan, “Dia … memijatku terlalu keras. Aku hanya memperingatkannya.” “Cukup!” Rayden menyela, cepat dan tak memberi Dea mengungkapkan alibinya. Rayden, yang cemas akan bayinya, segera menolong Aurin. Dia menopang tubuh wanita itu dengan kedua lengan kekarnya. Sambil membawa Aurin berdiri, ia mengutuk perbuatan Dea. “Kenapa kamu tidak menjaga sikap, huh? Aurin itu ha—” “Siapa yang harus menjaga sikap, huh?” Dea memotong lantang. “Aku atau kamu?” Rayden bungkam. Hampir saja ia salah bicara. Dea semakin menjadi. Sambil memegangi tiang infus, ia berjalan mendekati Rayden, lal
“Mana suamiku, Rega? Kenapa dia tidak di sini?” ucap Dea ketika melihat asisten pribadi Rayden masuk ke dalam kamar ini, tapi Rayden tak bersamanya.Rega menjawab, ekspresinya dingin. “Beliau ada di kamar sebelah, Nyonya.”Tubuh Dea menegang. “Di kamar Aurin?”“Bukan, Nyonya. Ada di kamar depan sana.” Menggeleng, Rega jabarkan semuanya pada Dea, mengenai Rayden yang mual dan muntah hebat, kemudian Rayden yang hampir pingsan.Setelah itu, Dea membiarkan Rega pergi dengan perasaan malu luar biasa. “Sial! Jadi, Rayden melihatku saat … aaaaaargh!”Dea tak melanjutkan ucapannya. Ia segera menjambak rambutnya, frustasi.Jelas saja Rayden mual dan muntah melihatnya dalam kondisi menjijikkan seperti itu.Saat ini, Dea sebenarnya ingin menemui Rayden di kamar sebelah. Tapi, dokter bilang ia tidak boleh pergi kemana-mana lantaran kondisinya sangat lemah.Hingga akhirnya, Dea hanya pasrah menunggu sambil menatap selang inf
“Dea! Buka pintunya!”Rayden menggedor pintu berulang-ulang. Nadanya memang terdengar mendesak, namun yang ia lakukan justru jauh dari kata khawatir sungguhan. Pria itu hanya bersandar pada samping kusen pintu kamar mandi. Satu tangannya mengetuk-ngetuk pintu dengan keras, seolah terburu-buru. Padahal, Rayden hanya sedang berakting. Dia berusaha menunjukkan kesan prihatin dan cemas pada wanita yang ada di dalam sana.Di balik topeng itu, batinnya justru terkikik kegirangan. Akhirnya, ia bisa membalaskan rasa kesalnya satu persatu pada Dea. Dan rasa mulas dari obat pencahar itu, hanyalah permulaan yang manis.Mendengar tidak ada sahutan dari dalam, Rayden memilih kembali menggedor untuk memastikan apakah Dea sudah parah atau belum.“Dea! Dea, kamu dengar aku? Kenapa pintunya dikunci?” Suara Rayden terdengar keras, sengaja dibuat bergetar seolah ia panik. Tak lupa ia juga menekan handle pintu ke bawah secara berulang-ul
“Ah …” Rayden berdecak. “Mengapa kamu terburu-buru?” Ia hampir saja membentak saat Dea tiba-tiba menubruknya dari belakang. Kedua tangan wanita itu mulai menggerayangi selangkangannya. Ekspresi Dea bahkan sudah lebih baik dari pada ketakutannya kemarin. Bahkan, Dea juga menyelipkan telapak tangan ke dalam celana bahan panjang yang ia kenakan, lalu meraih dua biji rambutannya yang berharga. Yang ditanyai justru terkikik geli. Jemari Dea terus mengocok dan menguyel-uyel kejantanan suaminya dengan nakal, gemas. “Nafsu ibu hamil ‘kan memang tinggi. Jadi, wajar saja kalau aku begini,” ucapnya manja. Rayden mengetatkan rahang. Otot-otot di lehernya ikut menegang kaku. Ia kesal, mood-nya bahkan hancur lebur, dan tak ada sedikit pun hasrat yang ada di hatinya. Tapi anehnya, tubuhnya merespons lain. Saat ia terus menerus dipancing dan disentuh sepert
“Aku mau makan di luar saja, Yang.”“Tapi, bukannya kamu sedang diteror? Apa tidak masalah?”“Aku bosan makan di sini,” dengkus Dea. “Lagi pula, ada banyak pengawal yang bisa menjamin keselamatan kita, ‘kan? Ayolah, kita ke taman kota.”Dea berucap santai, seolah apa yang dia inginkan akan dipenuhi oleh suaminya. “Aku lihat, tempatnya jauh lebih bagus daripada yang dulu. Jadi, ayo makan di sana sekalian nostalgia.”Rayden menahan gejolak amarah di dalam dadanya saat mendengar permintaan aneh itu. Tangannya mengepal kuat di samping tubuh, marah, emosi mulai memuncak tetapi ia tidak boleh melampiaskannya detik itu juga. Bagaimana bisa ia tidak marah dan geram? Mereka baru saja sampai di restoran seafood yang buka 24 jam. Akan tetapi, Dea justru bersikap seenaknya sendiri dan banyak mau. Terlebih lagi, taman kota mana yang buka di jam-jam seperti ini? Rayden mencoba membujuk. Ia berusaha membawa Dea masuk ke dalam restoran ini aga
“Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Ahhh …. Jangan hanya diam dan menatapku seolah aku ini monster,” bisik Rayden. Jari jemarinya yang kasar membelai paha Aurin dan memberikan tekanan yang menuntut. “Tunjukkan padaku betapa kamu menginginkanku. Kendalikan aku sesuka hatimu atau kamu akan menyesali hukuman yang kuberikan nanti ka
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.







