Share

67. Informan Rahasia

Author: OTHOR CENTIL
last update publish date: 2026-04-11 22:05:14

“Kalau Nyonya Rita tahu siapa yang sebenarnya sedang berusaha memberinya ahli waris, lantas apakah tanggapannya padaku akan sedingin ini?”

Aurin bimbang. Pikirannya berkecamuk hebat antara rasa takut dan ambisi gelap yang mulai membakar hati.

“Apa sebaiknya kukatakan saja perselingkuhan Nyonya Dea padanya? Agar Nyonya Besar mau melirikku?” gumam Aurin.

Ia tampak mempertimbangkan kartu as yang baru saja jatuh ke tangannya. Namun, i
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   403. Tergelincir Mengenaskan

    “Apa kamu bilang? Mau membuangku?!”Rita memekik dengan nada tinggi, tak percaya dengan kelancangan wanita di hadapannya. Ia meringis kesal karena cengkeraman tangan Aurin pada lengannya masih mengunci kuat, membuatnya tak bisa berkutik. Mengabaikan rasa sakitnya, Rita langsung menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Rayden, mencoba memprovokasi putranya agar tidak terpengaruh oleh ucapan Aurin.“Kamu dengar sendiri, ‘kan? Baru jadi pacarmu sebentar saja, dia sudah berani mengancam Mama! Lihat satu atau dua tahun lagi, kamu akan dikuasai sepenuhnya olehnya! Jadi, dia itu bukan wanita baik-baik, Rayden. Buka matamu! Jangan buta hanya karena cinta! Dia itu hanya wanita miskin yang mau panjat sosial menggunakan nama keluarga Hartono!”Rayden tidak terpancing. Ia melangkah maju dengan tenang, mengikis jarak di antara mereka. Bukannya membalas makian sang mama dengan urat yang tegang, Rayden justru berjongkok dengan anggun di hadapan Rita yang posisinya masih sedikit membungkuk menahan

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   402. Belai Ancaman Di Altar

    “Jangan sakiti anakku!”Meisya, yang sedari tadi berada di bawah altar bersama Ken dan Kaylin, menjerit lantang dengan suara yang melengking panik. Pertahanannya runtuh seketika saat melihat ujung logam tajam itu mengancam nyawa putri kandungnya. Namun, gerakannya yang hendak menerjang maju untuk mendekati Rita dan Aurin langsung ditahan kuat oleh Ken.“Hentikan, Ma! Jangan mendekat! Semakin Mama dekat, Mei-Mei bisa semakin celaka!” tegur Ken dengan napas memburu. Kedua tangannya mencengkeram bahu sang mama, menahan bobot tubuh Meisya yang terus merangsek maju. Teguran Ken sebetulnya sangat masuk akal. Dalam kondisi psikologis Rita yang sedang tidak stabil, gerakan mengejutkan justru bisa memicu instingnya untuk langsung menusuk Aurin.Meisya masih terus memberontak di dalam dekapan putra sulungnya, menangis histeris dengan tenaga yang kian terkuras. Bagaimana tidak? Melihat putrinya yang mengenakan gaun pengantin kini sedang diancam dengan senjata tajam seperti itu, ia takut seten

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   401. Tragedi Di Pernikahan

    “Kamu ....”Dada Rita terhentak hebat seperti dihantam gada tak kasat mata. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Kakinya seketika terasa lemas dan lunglai, tak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri begitu melihat wajah sang menantu rupanya sangat berbeda dengan apa yang ia sangkakan selama ini. Harapan tinggi yang ia bangun untuk bersanding dengan keluarga Hartono mendadak hancur berkeping-keping.Rasa syok itu dengan cepat berubah menjadi amarah dan kepanikan yang membakar akal sehatnya. Tak sadar, ia bangkit berdiri dari kursi VIP dan mulai berjalan ke arah altar.Di tengah riuh rendah tepuk tangan para kerabat dan tamu undangan yang masih merayakan kebahagiaan kedua mempelai, Rita maju tergesa-gesa. Tangan kanan dan kirinya mencengkeram kuat ekor gaun mewahnya yang menjuntai, yang sempat beberapa kali menyulitkannya melangkah dan membuatnya hampir tersandung. Namun, ia tidak peduli. Matanya hanya tertuju pada dua orang di atas sana.Begitu mengin

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   400. Momen Mengharukan

    “Amazing.”Dada Rayden berdebar sangat kencang, dentumannya terasa begitu nyata hingga memicu gemuruh aneh di dalam rongga dadanya. Ini bukan pertama kali mereka bertemu, bukan pula pertama kali ia melihat wanita itu mengenakan pakaian formal. Namun, getaran yang menyengat itu tetap ada, bahkan terasa jauh lebih dahsyat menguasai seluruh akal sehatnya. Rasa tidak percaya, haru, dan ledakan cinta yang sempat ia pasung, kini membuncah hebat hingga membuat sekat di tenggorokannya terasa menyempit.Kaylin Anastasya Hartono alias Aurin, istrinya.Wanita yang selama ini ia sebut dalam doa, wanita yang telah ia nikahi secara sah dan sempat ia takutkan akan hilang dari genggamannya, kini tengah berjalan santai penuh keanggunan menuju ke arahnya.Perlahan tapi pasti, setiap ketukan langkah Aurin di atas karpet merah seolah membawa kembali seluruh sisa kehidupan Rayden yang sempat mati rasa. Wanita itu tampil memukau dalam balutan gaun putih panjang. Di antara jemari lenturnya, tersemat rang

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   399. Tawa Canggung

    “Ini satu-satunya cara agar kamu tidak kehilangan si miskin itu. Jadi, jangan banyak bertingkah,” bisik Rita sekali lagi, menekankan setiap kata dengan penuh peringatan.Namun, ancaman terselubung dari sang mama kini diabaikan sepenuhnya oleh Rayden. Langkah kakinya tetap berderap lurus di atas red carpet yang membentang panjang, sama sekali tidak mempedulikan kilatan lampu blitz para fotografer yang saling bersahutan mengambil potret dirinya dari berbagai sudut.Hari ini, Rayden tampil teramat maskulin. Setelan tuksedo hitam pekat membalut sempurna tubuh kekar dan tegapnya, memberikan kesan berwibawa sekaligus mengintimidasi. Rambut hitam kecoklatannya disisir rapi ke belakang menggunakan pomade, mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan tegas. Tuksedo rancangan desainer ternama itu melekat pas di tubuhnya, menonjolkan proporsi tubuh atletis seorang pria matang yang mampu memikat siapa saja—meski tatapan matanya terasa sedingin es.Begitu sampai di depan altar setelah diantar oleh

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   398. Aset Berharga

    Setelah si kembar berusia lebih dari tiga bulan, akhirnya Rayden pulang bersama Aurin ke kediaman mereka. Bayi-bayi yang sempat lahir prematur dan harus berjuang di inkubator itu, kini tumbuh dengan sangat baik. Tubuh mereka terlihat montok sekali, lengkap dengan lipatan-lipatan menggemaskan di lengan dan paha. Bahkan, belakangan ini mereka sudah mulai aktif belajar tengkurap, membuat hari-hari Rayden dan Aurin semakin ramai. Begitu mobil mereka memasuki pelataran rumah Rayden, Rita yang sudah sangat antusias segera keluar untuk menyambut. Wanita paruh baya itu bahkan heboh sendiri, melambaikan tangan dengan senyum sumringah yang tak bisa disembunyikan sejak roda mobil berhenti sempurna. “Astaga! Cucu-cucuku ... akhirnya kalian pulang!” seru Rita penuh suka cita. Rita berjalan cepat memutari kap mobil menuju ke bagian bagasi, di mana stroller triplets baru saja diturunkan oleh sopir dan Rayden. Dan begitu posisi Reynora siap dan nyaman, Rita tidak bisa lagi menahan diri. Ia

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   174. Dihadang Lagi

    “Ini surat fit to fly yang kamu inginkan!”Dengan cepat, Ken menyodorkan kertas itu pada Dea, sebagai formalitas saja. Tapi bagi Dea, kertas itu adalah kunci kecil untuk membuka jalan yang dia mau.“Good, itu baru namanya sahabat,” kata Dea. Tanpa ragu, dia menepuk pipi kiri Ken sebanyak dua kali.

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   173. Sikap Yang Posesif

    “Kamu tidak bisa sembarangan membawanya ke sana, Dea! Jangan egois! Pikirkan kandungan Aurin! Usia kandungannya baru memasuki Minggu ke tujuh saat kamu pergi nanti! Yakin mau tetap pergi, hah? Picik sekali pikiranmu!”Bentakan itu melengking keras di dalam. Ruangan kedap suara ini. Terlalu keras da

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   171. Penyelamat Hidup

    “Satu minggu lagi kita ke Paris.”Kalimat yang diucapkan Rayden memang datar, tenang, dan tanpa penekanan. Namun, hal itu nyatanya mampu membuat Aurin membeku di tempatnya.Dia mengulang pertanyaan itu, nyaris tak percaya dengan ajakan tuannya yang mendadak ini.“Ke … P

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   169. Gugatan

    “Bagaimana, Ta? Kalau anak Rayden tidak ada yang laki-laki, kamu rela ‘kan tahta ini dipegang sama Antariksa?”Pertanyaan itu meluncur pelan dari bi Marlin, seolah pernyataan itu hanya selipan obrolan ringan di meja makan. Namun, bagi Rita, kalimat itu seperti belati yang menyayat tipis hatinya, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status