LOGINBAB 3 DIBELI SEORANG RAJA
Entah sudah berapa lama Anelies dibuat hilang kesadaran. Yang pasti semua itu Pablo lakukan agar gadis itu tidak banyak ulah. Begitu sadar Anelies sudah berada di dalam sebuah kamar yang sangat luas dan mewah. Anelies pikir Madam Lexsis benar-benar telah mendapatkan seorang pembeli kaya-raya. "Ingat jangan berani berulah atau aku akan kembali membuatmu pingsan!" Pablo berbisik di samping telinga Anelies. Dua orang wanita ikut masuk ke dalam kamar. Anelies masih sangat bingung, dia tidak tahu sama sekali dirinya sedang berada di mana. Semuanya sangat megah dengan ornamen emas dan banyak kisi-kisi di dinding yang juga berwarna emas. "Kami harus mengganti pakaianmu." Seorang pelayan menghampiri Anelies. Mereka bertugas untuk memperbaiki penampilan Anelies yang akan dipertemukan dengan tuannya. Anelies cukup patuh karena takut kembali dibuat pingsan. Anelies dipersilahkan mandi terlebih dahulu kemudian diberi parfum yang sangat harum sampai membuat kepalanya melayang pening. Dia juga diberi make-up dengan riasan mata berat hingga netra kelambunya terlihat semakin tajam dominan. Anelies melihat pantulan wajahnya di depan cermin... Sangat cantik dan benar-benar dipersiapkan seperti barang mahal yang akan dijual untuk segera dinikmati. "Pakai gaunmu." Seorang pelayan membawa abaya hitam, lengkap dengan penutup kepala dan cadar dengan warna gelap senada. Setelah semuanya siap, Anelies dibawa keluar melalui lorong berlangit-langit tinggi yang juga penuh ornamen emas. Semuanya sangat mewah dengan gaya Timur Tengah. Sebuah pintu besar berlapis emas dibuka oleh seorang penjaga dan Anelies terus dibawa masuk. Ruangannya sangat luas, selalu dengan ornamen emas di mana-mana. Pencahayaan berpendar hangat, ada sofa melengkung agak rendah untuk duduk normal tapi ukurannya sangat besar hampir di sepanjang dinding. Seorang pria tinggi besar berjubah putih segera berdiri begitu Anelies dibawa masuk. Usia pria itu mungkin sekitar enam puluh tahun, atau akhir lima puluhan, sudah sangat berumur tapi badannya masih terlihat gagah dengan jenggot tebal di pangkas rapi disepanjang tulang rahang. Anelies merinding seram melihat dirinya akan dijual pada pria berumur. "Siapa namamu?" tanya pria tersebut. "Serena." Anelies berbohong dengan namanya. "Buka penutup wajahmu!" Anelies mengikuti perintahnya untuk membuka cadar pelan-pelan dan pria itu langsung tersenyum. "Aku akan menikahinya!" Dia mengangguk pada Pablo yang terus berdiri di samping Anelies. Mereka semua nampak senang kecuali Anelies. Anelies tidak bisa protes karena Pablo segera menariknya kembali ke dalam kamar. "Aku tidak mau menikah!" Tolak Anelies pada Pablo. "Dia tidak bisa menikahiku!" "Tuan Husain punya kekuasaan dan sangat kaya, dia bisa membeli wanita manapun yang dia mau!" Desis Pablo. "Aku bukan budak yang bisa dibeli dan asal dinikahi!" "Dia akan langsung menikahimu sekarang juga dan akan segera membayar!" Pablo tidak perduli dia kembali mengunci Anelies di dalam kamar. "Buka pintunya!" Anelies terus menggedor-gedor pintu. Brak! Brak! Brak! Di juga menendang dengan kaki, tapi percuma. "Ao!" Tumit Anelies nyeri. Anelies sudah putus asa dan lelah, dia coba mengintip ke luar jendela untuk mencari jalan buat kabur. "Oh Sial!" Ternyata di luar sudah gelap dan kamarnya berada di lantai tiga dengan bentuk bangunan rata seperti kubus tanpa ornamen untuk memanjat. Anelies tidak akan bisa kabur. Jantung Anelies terus berdegup kencang dan perutnya berpusar-pusar mual. Anelies sudah tidak takut lagi untuk dicekik, tapi dia takut dilecehkan. Anelies menemui jalan buntu, tidak bisa kabur kecuali dia nekat melompat dari jendela. Tak berapa lama kemudian, pintu kamar kembali terbuka. Anelies yang sedari tadi berdiri di dekat jendela langsung menoleh. Seorang pria berjubah putih masuk seorang diri. Langkahnya tenang, tidak tergesa-gesa seperti Pablo atau para pengawal yang biasa menyeret orang dengan kasar. Pintu ditutup kembali dari dalam. Pria itu menatap Anelies dengan sorot mata tajam. "Aku tidak menyukaimu berdiri sejauh itu." Suara Tuan Husain masih tenang. Anelies tidak bergerak. "Aku tidak ingin berada di sini." Pria itu menghela napas pendek. "Kau sudah menjadi istriku." "Aku dipaksa." "Barangkali." Tuan Husai mengangguk pelan. "Tapi pernikahan itu tetap sah." Jantung Anelies berdegup semakin cepat. Tuan Husain berjalan beberapa langkah mendekat. "Aku akan memberimu nasihat." Nada suaranya tetap tenang. "Jangan membuat hidupmu lebih sulit dari yang seharusnya." "Aku tidak akan menjadi istrimu." Kali ini senyum tipis muncul di wajah pria tersebut. "Keras kepala." Anelies langsung mundur satu langkah. Pria itu tidak terlihat marah. Tidak membentak. Tidak meninggikan suara. Tapi tampak sangat yakin bahwa tidak ada seorang pun yang akan menentangnya. "Aku tidak terbiasa ditolak." Anelies terus mundur sampai bagian belakang lututnya menyentuh sisi ranjang. Tuan Husain berhenti beberapa langkah di depan Anelies "Tenanglah." Tangannya mulai melepas jubah miliknya di hadapan Aneleis. "Tidak!" Anelies berusaha melewati sisi tubuh pria besar itu untuk lari ke pintu. Namun refleks Tuan Husain masih sangat cepat. Pergelangan tangan Anelies tertangkap. "Lepaskan aku!" Anelies langsung memberontak. Kepanikan Anelies mengambil alih. Ia menendang. Mencakar. Berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku!" "Berhenti berontak." "Tidak!" Anelies mengayunkan tangan yang terbebas. Jari-jarinya mengenai mata pria itu. "Ah!" Tuan Husai refleks melepaskan cengkeramannya. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Anelies. Dengan seluruh tenaga yang tersisa, ia mengangkat lutut lalu menendang ke depan. Duk! Tubuh besar Tuan Husain terhuyung. Dia mundur dua langkah. Kemudian tiba-tiba ambruk ke sisi ranjang Bruk! Kekuatan Anelies tidak terlalu dahsyat tapi mungkin dia berhasil menendang tepat ke dadanya karena Tuan Husain langsung tersungkur. Yang Anelies rasakan hanya panik dan jijik. Dia buru-buru menjauh sampai beberapa saat ia sadar jika pria besar itu sudah tidak bergerak dan tidak bernapas cuma karena tendangannya.BAB 66 MEMBUJUK PANGERAN HABIBIKetika rombongan pengawal Pangeran Hamdan ingin berangkat ke Istana Tamir, Pangeran Habibi langsung berlari ke halaman, menangis tantrum, meraung-raung di depan barisan mobil. Habibi ingin ikut tapi Pangeran Hamdan tidak mau membawa adiknya yang jumbo dan suka ribut dengan adik-adik Pangeran Al-Waleed.Akhirnya Faaz yang turun tangan, Faaz mengendong Pangeran Habibi untuk dia bawa menyingkir dari depan mobil. Begitu dibawa naik ke atas gendongan Faaza, Habibi malah langsung bergosip, menirukan Sura lembut Putri Sofia ketika terdesak gerah akibat efek samping saffron.Faaz berusaha tetap lanjut berjalan tenang untuk membawa Pangeran Habibi ke seberang teras istana. Setelah itu Faaz juga harus membujuk Pangeran Habibi agar tidak kembali tantrum."Jangan menangis lagi, nanti lain kali saya akan menemani Anda berkuda, Pangeran Habibi."Faaz menurunkan tubuh gembul Pangeran Habibi di koridor teras istana anak laki-laki."Kau mau mengajari aku berkuda?""Ya."
BAB 65 DI ISTANA ZUBAIRDi Istana Zubair terdapat area khusus untuk anak laki-laki dan untuk anak perempuan. Masing-masing bangunannya terpisah dengan istana utama, tapi saling berhadapan sejajar, cuma terpisah oleh halaman tengah komplek istana. Pangeran Hamdan, Pangeran Husain, dan Pangeran Habibi, menempati kamar di area laki-laki. Putri Sofia beserta adik perempuannya yang lain berada di area anak perempuan. Yang Mulya Serkan dan Anelies menempati istana utama yang berada di komplek bangunan paling depan.Putri Sofia sengaja belum tidur, berdiri di balkon menatap ke seberang halaman tempat Pangeran Hamdan. Kamar Pangeran Hamdan juga masih terang benderang. Pangeran Hamdan baru kembali ke istana setelah berkumpul dengan teman-teman di yacht."Selamat malam, Pangeran Hamdan." Faaz mengantar sampai di depan pintu kamar."Besok Anda ada jadwal berkuda dengan Pangeran Al-Waleed." Faaz juga mengingatkan jadwal kegiatan Pangeran Hamdan."Beritahu Husain untuk ikut." Hamdan memberi perint
BAB 64Sejak pertama kali melihat aksi Faaza di pertandingan berkuda, Pangeran Hamdan sudah sangat mengagumi kemampuan pemuda itu. Omar juga memberitahu jika Faaz adalah adik laki-laki Zahra dan dia seorang pilot. Kemarin, ketika Pangeran Hamdan mendengar semua kehebatan serta keberanian Faaz dalam menghancurkan kapal induk musuh, saat itu juga Pangeran Hamdan memohon pada Yang Mulya Serkan agar menjadikan Faaza sebagai pengawal pribadinya."Aku akan mempercayakan Pangeran Hamdan padamu."Faaz sangat terkejut mendengar ucapan Yang Mulya Serkan."Kau akan menjadi pengawal pribadi untuk putraku.""Sungguh Yang Mulya, saya merasa tidak layak untuk mendapat kepercayaan sebesar itu.""Hanya Kau yang dapat aku percaya untuk menjaga Putra Mahkota!" Serkan justru mempertegas ucapannya.Pastinya Yang Mulya Serkan juga tidak akan sembarangan memberi kepercayaan untuk menjaga keselamatan Pangeran Hamdan. Faaz pilihan yang sangat tepat, pemuda itu bukan cuma handal, cerdik, dan pemberani, dia jug
BAB 63 BERTEMU KEMBALIDua bulan pasca perang berakhir, ketegangan politik dunia berangsur mereda perekonomian global kembali tumbuh berkembang. Tapi bagi beberapa negara korban perang mereka masih harus kembali membangun negara mereka dari kehancuran. Mereka bukan bukan cuma harus membangun infrastruktur, tapi juga membangun pemerintahan, memulihkan ekonomi dan lingkungan sosial. Semua tugas yang tidak mungkin selesai dalam satu atau dua dekade.Warga sipil korban bencana perang bukan cuma kehilangan rumah dan keluarga, mereka juga masih mengalami trauma, terutama anak-anak. Yang Mulya Serkan serta Raja Khaleed mendirikan yayasan sosial untuk membantu anak-anak korban perang. Sebelumnya Yang Mulya Serkan juga telah memiliki yayasan serupa yang didanai langsung oleh Istana Zubair, tapi kali ini Istana Tamir juga akan ikut serta menjadi penyokong dana utama dan membuat yayasan yang lebih besar.Masih dengan misi tujuan yang sama, yayasan kemanusiaan yang didirikan oleh Yang Mulya Serka
BAB 62 BERSABAR DALAM PENANTIANSiapa yang tidak menginginkan Putri Sofia. Putri Sofia bukan cuma sekedar gadis cantik jelita yang dikagumi oleh banyak pria. Putri Sofia adalah seorang Putri raja terhormat dari kerajaan kaya raya. Putri Sofia memiliki kualitas kecantikan sempurna, status sosial, serta keturunannya tidak diragukan lagi. Karena itu Putri Sofia harus bersama pria yang sepadan, pria setara yang dapat meletakkan mahkota paling mulia di kepalanya.Sebagai seorang anak gadis yang lahir dan tumbuh besar di lingkungan istana. Putri Sofia juga sangat terjaga. Sungguh beruntung bagi pria yang kelak mendapatkannya. Tapi seistimewa apapun Yang Mulya Serkan telah menjaga putri cantiknya. Sejatinya Putri Sofia tetap seperti gadis muda pada umumnya, kadang juga ingin rewel dan kesal."Kau jelek dan menyebalkan!"Kali ini Putri Sofia masih sangat kesal dengan adik laki-laki Zahra yang juga sering menyebutnya jelek dan rewel. Putri Sofia mengomel sendiri di depa cermin, sesekali merab
BAB 61Sebenarnya FX-99 dapat menembak target dari jarak jauh, tapi untuk meminimalisir dampak ledakan nuklir, Faaz harus meledakkan target dari jarak dekat. Faaz bukan cuma harus mengambil keputusan sulit, dia juga sangat berani. Faaz menabrakkan FX-99 dengan kecepatan penuh ke sisi lambung kapal induk, meledakkan pulau baja terapung itu dari bawah permukaan laut.Suara berdentum membentuk gelombang dahsyat di bawah permukaan laut, membawa sambaran api ke permukaan dengan bentangan luas. Seketika seluruh konstruksi kapal induk runtuh hingga hancur lebur tak bersisa. Tidak ada satupun yang dapat selamat, seluruh persenjataan dan tentara mereka lenyap tenggelam. Radar peringatan bahaya sampai ke pelabuhan, mereka mendeteksi ledakan nuklir serta jangkauan radiasi yang tidak aman untuk didekati.Tubuh Faaz ikut tengelam dalam, telinganya sudah tidak mendengar suara dentuman di permukaan. Faaz sudah tidak berdaya untuk menyelamatkan diri tapi pemuda itu samasekali tidak menyesal karena ta
"Anelies diculik!" Jared langsung berlari panik untuk memeriksa pondok Mato Bizil, memeriksa nadi Mato yang sudah membeku dan coba menyelami kilasan apa saja yang dapat dia lihat tapi semuanya nihil. "Aku tidak bisa melihat apa-apa!" Jared juga heran karena tidak ada jejak sama sekali termasuk pada
Pangeran Albany terus membopong Jeny sampai di kamarnya kemudian memanggil dokter untuk sekaligus membawa peralatan medis. Setelah membaringkan Jeny ke atas ranjang Pangeran Albany masih sama sekali tidak bisa tenang. Jelas terlihat jika Pangeran Albany sangat mengkhawatirkan kehamilan Jeny yang ma
Setelah mesin utama meledak seluruh cahaya ikut padam, semua ruang di gedung laboratorium gelap gulita. George memeluk Anelies yang menggigil kedinginan karena belum berpakaian dan penghangat ruangan ikut mati."Jangan takut!" bisik George.Anelies lega karena belum sempat mendapat suntikan DNA tapi d
BAB 18 ANAK SPESIAL"Hamdan, Sofia!"Kedua anak itu langsung bergegas meniggalkan kegiatannya begitu melihat Yang Mulya Serkan sudah berdiri di ambang pintu merentangkan lengan untuk memeluk mereka. Serkan mencium kedua buah hatinya satu persatu kemudian membiarkan mereka membalas kecupan dan bermanja







