LOGINBAB 4 KABUR
Tuan Husain jatuh tertelungkup. Tidak bergerak. Anelies mundur beberapa langkah sampai punggungnya membentur dinding. Nafasnya membeku. "Tidak..." Anelies memaksa diri mendekat lagi. Ujung jarinya yang gemetar menyentuh bahu pria besar itu. Tidak ada reaksi. Jantung Anelies seperti dipukul-pukul dari dalam dada. Dia pernah melihat kematian sebelumnya. Pernah melihat darah. Pernah melihat tubuh yang hancur. Tetapi situasi ini berbeda. Pria yang tertelungkup di depannya bukan pria sembarangan. Otak Anelies bekerja cepat. Kabur. Ia harus kabur sekarang. Anelies langsung berlari ke jendela. Tangannya menarik tirai panjang yang menjuntai di bingkai jendela hingga kait-kait logamnya tersentak lepas. Krak! Krak! Krak! Suara itu terdengar sangat keras di saat ketegangan memuncak. Setiap detik ia merasa pintu kamar akan didobrak dari luar. Anelies menyambung kain-kain itu menjadi tali darurat. Jarinya gemetar, tapi tetap bergerak tergesa sampai beberapa kali simpul yang dibuatnya lepas kembali. "Cepat... cepat..." Tangannya berkeringat. Akhirnya Anelies berhasil mengikat ujung tali pada kaki ranjang besar yang terbuat dari kayu solid. Anelies menguji ikatannya. Menarik dan menyentak menarik tali itu sekuat tenaga. Cukup kuat. Seharusnya aman. Semoga. Anelies membuka jendela. Udara malam langsung menerpa wajahnya. Dan seketika lututnya melemas. Terlalu tinggi. Tiga lantai. Dari atas sini, halaman paving di bawah terlihat seperti jurang hitam. Lampu taman berpendar keemasan di kejauhan. Beberapa pengawal masih terlihat berjaga dekat gerbang. Anelies memejamkan mata sesaat. Kalau tetap di sini, dia akan tertangkap. Kalau turun, dia bisa mati. Tidak ada pilihan bagus. Tanpa punya banyak waktu berpikir. Anelies nekat memanjat keluar. Tubuhnya langsung menggantung di udara. Napasnya tercekat. "Oh, Tuhan..." Anelies reflek memejamkan mata. "Tolong lindungi aku." Telapak tangannya terbakar saat mencengkeram kain tirai yang kasar. . Jangan lihat ke bawah. Jangan lihat ke bawah. Jangan lihat ke bawah. Anelies juga terus mengulang kalimat itu dalam hati. Kakinya meraba mencari pijakan di dinding batu yang licin. Satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Dan tali bergoyang pelan. Tubuhnya ikut berayun. "Tidak..." Anelies langsung memeluk tali lebih erat. Dadanya hampir berhenti berdetak. "Aku akan mati!" Di bawah sana, seorang pengawal melintas di jalur taman. "Aku akan dipancung." Anelies membeku. Tidak bergerak. Bahkan tidak berani bernapas. Beberapa detik terasa seperti berjam-jam. Tangan Anelies mulai mati rasa. Lengannya gemetar, bahu terasa seperti akan terlepas. Untungnya pria itu terus berjalan tanpa mendongak ke atas kepalnya. Begitu pengawal itu menghilang, Anelies segera kembali bergerak. Tubuhnya berayun di bawah jendela. Meluncur turun dengan sangat hati-hati meski napasnya sudah nyaris putus di tenggorokan. Halaman paving semakin dekat. Dua meter. Satu meter. Lalu... Bruk! Lutut Anelies menghantam paving keras. Ia hampir terjatuh karena tubuh yang gemetar kehilangan tenaga. Anelies berhasil turun. Dengan sangat ajaib. Tapi di sedang tidak ada waktu untuk merayakannya. Anelies segera melepaskan ikatan di pinggangnya lalu berlari merunduk menuju pagar tanaman yang gelap. Dia berlari membungkuk di balik pagar tanaman. Dedaunan yang basah oleh embun malam menggesek lengan dan pipinya. Napasnya masih tidak teratur setelah turun dari jendela. Setiap tarikan udara terasa membakar paru-parunya. Jangan berhenti. Jangan berhenti. Di kejauhan, beberapa pengawal masih berjaga di dekat gerbang utama. Cahaya lampu taman membentuk bayangan panjang di atas batu-batu jalan. Anelies bergerak perlahan. Merangkak. Mengendap. Sesekali ia membeku ketika mendengar suara langkah sepatu atau percakapan para penjaga. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia takut suara itu akan terdengar oleh orang lain. Lalu ia melihat sesuatu. Barisan kendaraan. Beberapa SUV hitam terparkir berjejer dekat area servis. Mesin salah satunya masih menyala. Dua pria sedang memindahkan peti kayu ke bagian belakang kendaraan. Anelies langsung menunduk lebih rendah. Matanya mengamati situasi. Gerbang servis berada tidak jauh dari sana. Jika kendaraan itu keluar... Ia bisa ikut keluar. Kesempatan itu mungkin tidak akan datang dua kali. Anelies menunggu. Satu pria berjalan menjauh. Pria lainnya sibuk berbicara melalui radio komunikasi. Sekarang. Anelies berlari. Secepat kilat. Tubuhnya melesat dari balik semak menuju kendaraan terdekat. Tangannya langsung menarik pintu bagasi. Tidak terkunci. Syukur. Ia segera melompat masuk lalu menarik pintu bagasi hingga menutup kembali. Gelap. Sempit. Pengap. Anelies langsung meringkuk di antara beberapa kotak dan gulungan karpet. Dadanya naik turun cepat. Terlalu cepat. Ia memaksa diri menahan napas. Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah mendekat. Satu. Dua. Tiga. Jantung Anelies hampir berhenti. Brak. Seseorang menutup pintu kendaraan. Mesin meraung. Mobil mulai bergerak. Anelies memejamkan mata. Berhasil. Aku berhasil. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa sedikit harapan. Mobil terus melaju. Kadang berhenti. Kadang berbelok. Kadang menghantam lubang hingga tubuh Anelies terangkat beberapa sentimeter dari lantai bagasi. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Anelies tidak tahu sudah berapa lama ia bersembunyi. Mungkin satu jam. Mungkin lebih. Yang ia tahu hanya satu. Istana itu semakin jauh. Dan setiap kilometer yang bertambah membuat peluangnya untuk hidup semakin besar. Akhirnya kendaraan berhenti. Suara mesin mati. Pintu terbuka. Lalu tertutup lagi. Suara langkah kaki perlahan menjauh. Anelies menunggu. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sunyi. Sangat sunyi. Dengan hati-hati ia mendorong pintu bagasi. Sedikit. Lalu sedikit lagi. Udara malam menerobos masuk. Anelies mengintip keluar. Tidak ada siapa-siapa. Ia langsung melompat turun. Kakinya mendarat di tanah berdebu. Di sekelilingnya berdiri beberapa bangunan tua menyerupai gudang penyimpanan. Lampu-lampu redup menggantung di beberapa sudut. Tidak ada penjaga. Tidak ada kamera yang terlihat. Anelies segera berlari keluar dari area gudang. Berlari menuju jalan raya yang terlihat beberapa ratus meter di depan. Lampu kendaraan berlalu-lalang seperti aliran cahaya di tengah kegelapan. Semakin dekat. Sedikit lagi. Sedikit lagi. Akhirnya kedua kaki Anelies mencapai trotoar. Ia membungkuk sambil memegangi lutut. Napasnya putus-putus, tenggorokannya kering, tubuhnya masih gemetar. Sejak disekap oleh Madam Lexsis. Ia kembali berada di tempat umum. Banyak kendaraan, banyak orang. Anelies menoleh ke belakang..Tidak ada yang mengejar. Perasaan lega membanjiri dadanya. "Aku selamat..." Suara itu keluar sangat pelan, hampir seperti bisikan. Anelies berjalan tanpa tujuan mengikuti trotoar. Kembali berjalan luntang-lantung seperti saat Antonio belum menemukannya. Tiba-tiba Anelies kembali teringat sahabatnya Antonio yang masih dalam penjara. "Maaf karena aku tidak bisa balas menolong mu." Lampu-lampu kota menyala terang. Beberapa restoran masih buka. Beberapa toko mulai mempersiapkan aktivitas pagi. Semua tampak begitu normal. Begitu damai. Seolah dunia tidak tahu bahwa beberapa jam lalu seorang gadis hampir kehilangan nyawanya. Anelies berjalan menuju sebuah bangku taman yang kosong. Ia duduk perlahan. Lalu memeluk kedua lututnya. Matanya terasa berat, sangat berat. Hingga akhirnya kelelahan yang menang. Tanpa sadar Anelies tertidur di bangku taman. ******* Suara kicau burung kecil terdengar semakin ramai bersama derap langkah pejalan kaki dan mesin kendaraan. Sinar matahari menyentuh wajah Anelies dengan rasa hangat. Anelies terbangun dengan kaget. Beberapa detik ia bahkan lupa berada di mana. Lalu semua ingatan kembali menerjang seperti badai. Jantung Anelies langsung berdegup cepat. Perutnya juga terasa melilit. Lapar. Sangat lapar. Anelies buru-buru memeriksa saku celananya. Uang itu masih ada. Antonio pernah memberinya uang ongkos taksi untuk berjaga-jaga. Jumlahnya tidak banyak. Tapi cukup untuk membeli makanan. Anelies berdiri. Di seberang jalan terlihat gerobak burger yang mulai buka. Aroma daging panggang langsung membuat perut Anelies semakin melilit. Ia menyeberang trotoar. Baru dua langkah saat tiba-tiba disergap dari belakang. Tubuh Anelies diseret masuk ke dalam mobil berkaca gelap. Anelies sempat berontak sebentar sebelum akhirnya di buat lemas pingsan. "Kami sudah mendapatkannya, Pangeran Serkan!" kata pria yang duduk di samping supir sambil menempelkan ponsel ke telinganya. "Bawa dia padaku!" perintah suara dari seberang telepon. *****BAB 66 MEMBUJUK PANGERAN HABIBIKetika rombongan pengawal Pangeran Hamdan ingin berangkat ke Istana Tamir, Pangeran Habibi langsung berlari ke halaman, menangis tantrum, meraung-raung di depan barisan mobil. Habibi ingin ikut tapi Pangeran Hamdan tidak mau membawa adiknya yang jumbo dan suka ribut dengan adik-adik Pangeran Al-Waleed.Akhirnya Faaz yang turun tangan, Faaz mengendong Pangeran Habibi untuk dia bawa menyingkir dari depan mobil. Begitu dibawa naik ke atas gendongan Faaza, Habibi malah langsung bergosip, menirukan Sura lembut Putri Sofia ketika terdesak gerah akibat efek samping saffron.Faaz berusaha tetap lanjut berjalan tenang untuk membawa Pangeran Habibi ke seberang teras istana. Setelah itu Faaz juga harus membujuk Pangeran Habibi agar tidak kembali tantrum."Jangan menangis lagi, nanti lain kali saya akan menemani Anda berkuda, Pangeran Habibi."Faaz menurunkan tubuh gembul Pangeran Habibi di koridor teras istana anak laki-laki."Kau mau mengajari aku berkuda?""Ya."
BAB 65 DI ISTANA ZUBAIRDi Istana Zubair terdapat area khusus untuk anak laki-laki dan untuk anak perempuan. Masing-masing bangunannya terpisah dengan istana utama, tapi saling berhadapan sejajar, cuma terpisah oleh halaman tengah komplek istana. Pangeran Hamdan, Pangeran Husain, dan Pangeran Habibi, menempati kamar di area laki-laki. Putri Sofia beserta adik perempuannya yang lain berada di area anak perempuan. Yang Mulya Serkan dan Anelies menempati istana utama yang berada di komplek bangunan paling depan.Putri Sofia sengaja belum tidur, berdiri di balkon menatap ke seberang halaman tempat Pangeran Hamdan. Kamar Pangeran Hamdan juga masih terang benderang. Pangeran Hamdan baru kembali ke istana setelah berkumpul dengan teman-teman di yacht."Selamat malam, Pangeran Hamdan." Faaz mengantar sampai di depan pintu kamar."Besok Anda ada jadwal berkuda dengan Pangeran Al-Waleed." Faaz juga mengingatkan jadwal kegiatan Pangeran Hamdan."Beritahu Husain untuk ikut." Hamdan memberi perint
BAB 64Sejak pertama kali melihat aksi Faaza di pertandingan berkuda, Pangeran Hamdan sudah sangat mengagumi kemampuan pemuda itu. Omar juga memberitahu jika Faaz adalah adik laki-laki Zahra dan dia seorang pilot. Kemarin, ketika Pangeran Hamdan mendengar semua kehebatan serta keberanian Faaz dalam menghancurkan kapal induk musuh, saat itu juga Pangeran Hamdan memohon pada Yang Mulya Serkan agar menjadikan Faaza sebagai pengawal pribadinya."Aku akan mempercayakan Pangeran Hamdan padamu."Faaz sangat terkejut mendengar ucapan Yang Mulya Serkan."Kau akan menjadi pengawal pribadi untuk putraku.""Sungguh Yang Mulya, saya merasa tidak layak untuk mendapat kepercayaan sebesar itu.""Hanya Kau yang dapat aku percaya untuk menjaga Putra Mahkota!" Serkan justru mempertegas ucapannya.Pastinya Yang Mulya Serkan juga tidak akan sembarangan memberi kepercayaan untuk menjaga keselamatan Pangeran Hamdan. Faaz pilihan yang sangat tepat, pemuda itu bukan cuma handal, cerdik, dan pemberani, dia jug
BAB 63 BERTEMU KEMBALIDua bulan pasca perang berakhir, ketegangan politik dunia berangsur mereda perekonomian global kembali tumbuh berkembang. Tapi bagi beberapa negara korban perang mereka masih harus kembali membangun negara mereka dari kehancuran. Mereka bukan bukan cuma harus membangun infrastruktur, tapi juga membangun pemerintahan, memulihkan ekonomi dan lingkungan sosial. Semua tugas yang tidak mungkin selesai dalam satu atau dua dekade.Warga sipil korban bencana perang bukan cuma kehilangan rumah dan keluarga, mereka juga masih mengalami trauma, terutama anak-anak. Yang Mulya Serkan serta Raja Khaleed mendirikan yayasan sosial untuk membantu anak-anak korban perang. Sebelumnya Yang Mulya Serkan juga telah memiliki yayasan serupa yang didanai langsung oleh Istana Zubair, tapi kali ini Istana Tamir juga akan ikut serta menjadi penyokong dana utama dan membuat yayasan yang lebih besar.Masih dengan misi tujuan yang sama, yayasan kemanusiaan yang didirikan oleh Yang Mulya Serka
BAB 62 BERSABAR DALAM PENANTIANSiapa yang tidak menginginkan Putri Sofia. Putri Sofia bukan cuma sekedar gadis cantik jelita yang dikagumi oleh banyak pria. Putri Sofia adalah seorang Putri raja terhormat dari kerajaan kaya raya. Putri Sofia memiliki kualitas kecantikan sempurna, status sosial, serta keturunannya tidak diragukan lagi. Karena itu Putri Sofia harus bersama pria yang sepadan, pria setara yang dapat meletakkan mahkota paling mulia di kepalanya.Sebagai seorang anak gadis yang lahir dan tumbuh besar di lingkungan istana. Putri Sofia juga sangat terjaga. Sungguh beruntung bagi pria yang kelak mendapatkannya. Tapi seistimewa apapun Yang Mulya Serkan telah menjaga putri cantiknya. Sejatinya Putri Sofia tetap seperti gadis muda pada umumnya, kadang juga ingin rewel dan kesal."Kau jelek dan menyebalkan!"Kali ini Putri Sofia masih sangat kesal dengan adik laki-laki Zahra yang juga sering menyebutnya jelek dan rewel. Putri Sofia mengomel sendiri di depa cermin, sesekali merab
BAB 61Sebenarnya FX-99 dapat menembak target dari jarak jauh, tapi untuk meminimalisir dampak ledakan nuklir, Faaz harus meledakkan target dari jarak dekat. Faaz bukan cuma harus mengambil keputusan sulit, dia juga sangat berani. Faaz menabrakkan FX-99 dengan kecepatan penuh ke sisi lambung kapal induk, meledakkan pulau baja terapung itu dari bawah permukaan laut.Suara berdentum membentuk gelombang dahsyat di bawah permukaan laut, membawa sambaran api ke permukaan dengan bentangan luas. Seketika seluruh konstruksi kapal induk runtuh hingga hancur lebur tak bersisa. Tidak ada satupun yang dapat selamat, seluruh persenjataan dan tentara mereka lenyap tenggelam. Radar peringatan bahaya sampai ke pelabuhan, mereka mendeteksi ledakan nuklir serta jangkauan radiasi yang tidak aman untuk didekati.Tubuh Faaz ikut tengelam dalam, telinganya sudah tidak mendengar suara dentuman di permukaan. Faaz sudah tidak berdaya untuk menyelamatkan diri tapi pemuda itu samasekali tidak menyesal karena ta
BAB 16 KABURAnelies panik luar biasa, dia berlari sampai di ujung lorong untuk mencari Pangeran Husain."Sial!" Anelies mengumpat. Cuma ada tangga besi putar curam di ujung lorong, mustahil Pangeran Husain bisa turun sendiri tanpa ada yang menggendong. Anelies benar-benar bisa meledak murka jika satu
BAB 31 MUSUH-MUSUH SERKAN Maryam melihat pria bercadar sorban masuk ke ruang kerja putranya, dia langsung mengejar untuk menempelkan telinga di daun pintu. Maryam ikut mendengar semua pembicaraan Pangeran Albany dan Pangeran Hasan. Termasuk ancaman Pangeran Hasan terhadap putranya. Maryam tidak perd
BAB 11 MASALAH REMEH Nampaknya Sharon masih belum terima dengan sikap Emillie, hari ini dia kembali mendatangi Emillie yang baru sampai di halaman parkir. "Aku peringatkan sekali lagi, Gadis Kampung!" Sharon berucap sambil melipat lengan ke dada untuk mempertegas keangkuhannya yang superior sebagai
BAB 1 MENGALIHKAN PERHATIAN"Kenapa Elena mencarimu?" tanya Jacob."Aku tidak tahu."Kai nampak tidak terlalu perduli, tapi rasanya tetap janggal. Kemarin saat Elena menelpon ke peternakan sebenarnya Mara yang menjawab panggilan, dia langsung memberikannya pada Jacob. Selama ini memang Jacob yang serin







