Share

Ibukota Bak Kota Peperangan

Mobil dinyalakan, lalu tidak lama kemudian meluncur dari kediaman keluarga kecil tersebut. Phey hanya bisa merasakan getaran mobil, mendengar suara-suara ramai dari luar kendaraan. Gadis itu menangis dalam sunyi. 

Batinnya menjerit, Tuhan, kenapa jadi begini?

*

Telunjuk Pak Yono menekan tombol ‘off’ tape mobil. Berita di radio justru membuat suasana jauh lebih mencekam. Sehingga dia membiarkan atmosfer di dalam mobil, benar-benar senyap. Namun, di luar mobil berbanding terbalik dengan apa yang terjadi. 

Jakarta yang biasanya masih cukup padat oleh kendaraan bermotor, apalagi pada jam-jam pulang kantor, sekarang nyaris sepi. Ada satu dua mobil berpapasan, itu pun memicu kecepatan tinggi. Orang-orang turun ke jalanan, berjalan beramai-ramai. Ada dalam kelompok kecil, kelompok besar, di mana Pak Yono berusaha untuk hindari.

Di beberapa titik, bangunan-bangunan terbakar dan tidak ada yang memadamkan api. Mobil, motor tidak luput dari sasaran pembakaran. Pak Yono bisa mendengar gemeretak suara api, ketika melewati kawasan-kawasan tersebut.

Mobil pun berputar-putar mencari jalan alternatif, karena banyak jalan yang diblokade. Beberapa kompleks bahkan dijaga oleh penghuni atau warga sekitar. Drum-drum, dipakai sebagai barikade. Tidak sedikit yang Pak Yono lihat membawa senjata tajam.

Ibukota bak kota peperangan.

Mobil melewati kawasan pertokoan milik orangtua Phey, yang sekarang sudah tidak berbentuk rupa lagi. Api masih terlihat menjilat-jilat di bagian atas bangunan. Pak Yono mengembuskan napas berat, dia sangat terpukul.

Matanya melirik pada jas milik Pak Wang yang tersampir pada bangku samping, juga tas kertas yang isinya merupakan hadiah. Seharusnya hari itu, Phey dan keluarga menghadiri pemberkatan bayi sepupu yang baru saja lahir. Namun, semua menjadi sangat kacau semenjak kemarin. 

Pak Yono membelokkan mobil, dan hampir memasuki batas ibukota. Yang tadinya sudah merasa lebih lega, tiba-tiba di depan sudah ada blokade. Bukan petugas, melainkan massa yang sepertinya tahu akan banyak orang berusaha melarikan diri.

Tidak mungkin Pak Yono tiba-tiba mundur, karena hanya itu jalan satu-satunya yang harus ia lewati. Dengan cepat Pak Yono menarik jas milik Pak Wang, sembari memajukan mobil perlahan, dia kenakan jas tersebut.

Mobil berhenti, karena sudah dikepung dari segala arah oleh orang-orang. Kaca, kap mobil, bahkan pintu pun dipukul-pukul oleh tangan mereka dengan kasar. 

Phey yang mendengar itu, merasakan tubuhnya lemas seketika. Dia hanya bisa meringkuk, sembari memejamkan mata. Berharap pada Tuhan agar diselamatkan dari mara bahaya.

“Stop! Stop! Mau nabrak kite lu?!” teriak salah satu dari mereka.

“Keluar, Bang! Keluar! Heh, tunjukin muka lo, jangan ngumpet Lo di dalem!”

Pak Yono menelan ludah, matanya melirik sekilas pada Phey yang tersembunyi di balik terpal hitam. Dari luar tentu takkan terlihat begitu jelas. Namun, akan sangat berbahaya jika mereka berusaha menggeledah mobil. Bergegas Pak Yono memberanikan diri keluar dari mobil.

Wajah Pak Yono tetap tertunduk, tidak berani menatap sosok-sosok yang mengepung mobil. Salah satu dari mereka mendorong bahu Pak Yono dengan seenaknya.

“Orang kaya lu, ya?! Mau ke mana lu?! Kabur?!” Suara itu terdengar setengah mengejek dan mengancam.

“Enggak, Bang. Saya enggak ada niatan mau kabur. Saya cuma mau pulang ke rumah,” balas Pak Yono berusaha tenang.

“Mobil siapa tuh? Mobil elu? Sendirian lu?” Selidik yang lain. “Jawab jujur lu!”

“Iya, ini mobil saya. Dan saya cuma sendiri, enggak ada siapa-siapa lagi di dalam Bang.”

Dengan kasar, mereka menarik tubuh Pak Yono dan menyuruhnya untuk menghadap ke arah mobil. Dompet Pak Yono diambil, mereka periksa. Entah apa maksud dan tujuannya. Namun, Pak Yono tidak mungkin melawan, dia terpaksa harus mengikuti dulu prosedur agar bisa melewati jalan dengan aman.

Perasaan Pak Yono mulai panik, jangan sampai mereka memeriksa STNK yang tergantung bersama kunci mobil. Sudah jelas-jelas, nama ayah Phey terpampang di sana. Pak Yono berpikir keras, agar orang-orang ini segera melepaskan dirinya.

Lalu tiba-tiba saja, sosok-sosok itu menempelkan wajah mereka ke jendela mobil. Menyelidik dari luar.

“Bawa apa lu? Di belakang kosong? Apa ada yang Lo sembunyiin?” 

Pertanyaan itu membuat hati Pak Yono semakin ketakutan. Tak hanya Pak Yono, Phey yang juga sedang bersembunyi merasakan kekalutan yang amat sangat. 

“Udah, geledah mobilnya. Periksa semua, ada apaan aja!”

Pak Yono syok.

Tubuh Phey gemetar, mendengar teriakan dan seruan dari luar mobil. Dadanya terasa sesak, karena Phey mulai kesulitan napas. Dia mengalami serangan panik. Tidak tahu apa yang akan dilakukan orang-orang itu jika persembunyiannya sampai terungkap. 

Pak Yono terus berdzikir, dan memikirkan cara apa agar orang-orang itu tidak memeriksa isi mobil. Tiba-tiba, dia tercetus ide yang diharapkan bisa berhasil untuk meloloskan diri.

“Astagfirullahaladzim,” suara Pak Yono terdengar melolong. 

“Alah, bawa-bawa nama Tuhan aja lo, lagi kayak gini!” Ada nada cemoohan terdengar.

“Saya enggak akan ke mana-mana, kalau istri saya enggak dalam kondisi mau melahirkan,” cetus Pak Yono. Ide itu keluar begitu saja entah dari mana. Mungkin itu adalah bentuk pertolongan Tuhan.

Dia langsung merangkak masuk ke dalam mobil, dan mengambil tas kertas yang berada di bangku penumpang. Orang-orang hanya memperhatikan tingkah laku Pak Yono.

“Ini hadiah saya buat anak saya. Kalau Bapak-Bapak mau ambil mobilnya, silakan. Tetapi saya mohon, saya hanya ingin ketemu anak dan istri.” Pak Yono mulai terisak. 

Sebetulnya Pak Yono dalam kondisi bertaruh. Dia hanya berharap bahwa Allah memberinya jalan keluar yang mulus, agar bisa terlepas dari mara bahaya yang ada di depan mata. Dia sudah benar-benar pasrah.

Orang-orang itu saling melirik satu sama lain. Menunggu salah satu untuk mencetuskan keputusan yang akan diambil, untuk nasib Pak Yono. Tiba-tiba dari belakang muncul satu lelaki, yang langsung merebut dompet milik Pak Yono dari satu rekannya. Dia ambil dua lembar uang ratusan ribu yang ada di dalam dompet. Lalu ia berikan pada Pak Yono.

“Jalan aja, Pak. Tetapi, uangnya saya ambil. Di sini masih banyak yang belum makan sama minum,” kata laki-laki itu dengan suara dingin.

Pak Yono mengangguk-angguk. “Terima kasih, Bang.”

Bergegas Pak Yono masuk ke dalam mobil, dan melaju begitu orang-orang menyingkir memberi jalan. Pak Yono berusaha keras untuk menahan tangis, sedangkan air mata sudah membanjiri pipinya. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur kepada Tuhan atas keselamatan jiwa raganya. Mobil pun kembali meluncur di kegelapan malam, melewati jalan yang panjang menuju rumahnya.

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Siti Yusuf
suasana nya pasti mencekam
goodnovel comment avatar
Qianas Shopp
Semoga Phey aman ya..
goodnovel comment avatar
De'nok S Nurhalizah
kasian pak yono
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status