MasukMalam semakin larut ketika sebuah taksi berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang cukup megah, namun berada di area pinggiran kompleks elit Keluarga Lin. Ini adalah kediaman milik keluarga cabang ketiga—kediaman mertua Long Chen.
Di dalam ruang tamu, suasananya terasa sangat mencekam. "Ini semua gara-gara kamu, Lin Shuhai! Kamu itu anak kandung Ibu Suri, tapi kenapa posisimu di dalam keluarga besar selalu diinjak-injak oleh kakak-kakakmu?!" bentak seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal yang tampak berantakan. Dialah Su Mei, ibu mertua Long Chen. Wajahnya memerah penuh amarah, napasnya memburu egois. Lin Shuhai, ayah mertua Long Chen, hanya bisa duduk menunduk sambil meremas kedua tangannya. Pria itu memang anak kandung Ibu Suri, namun sifatnya yang lemah dan penakut membuatnya selalu menjadi bulan-bulanan di keluarga besar, bahkan di depan istrinya sendiri. "Maafkan aku, Mei... Aku juga tidak menyangka Long Chen akan membawa ramuan herbal bodoh itu ke pesta," gumam Lin Shuhai dengan suara bergetar, ketakutan melihat amukan istrinya. "Jangan sebut nama sampah itu di depanku!" Su Mei berteriak histeris, matanya memancarkan kebencian yang mendalam. "Gara-gara dia, hari ini kita dipermalukan habis-habisan di depan Ibu Suri! Wanita tua bangka itu pasti punya alasan baru lagi untuk memotong jatah anggaran bisnis kita! Sialan! Kenapa wanita tua itu tidak mati saja?!" Su Mei meluapkan kutukannya tanpa sisa. Sebenarnya, di balik sifat pemarahnya, Su Mei memendam kebencian mendalam kepada Ibu Suri Lin yang selama puluhan tahun selalu menganaktirikan keluarga cabang ketiga dan menindas suaminya. Di sudut ruangan, Lin Xinyan berdiri diam menyandarkan tubuhnya ke dinding. Wajah cantiknya yang sedingin es tampak begitu lelah. Namun, jika ada yang melihat lebih dekat, sepasang matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam. Meskipun selama tiga tahun ini dia bersikap dingin pada Long Chen demi menjaga harga diri di luar, di dalam hatinya yang paling dalam, Lin Xinyan adalah sosok yang sangat penyayang. Dia tahu betul bagaimana tersiksanya Long Chen selama ini. Ingatannya terus terbayang pada momen di mana Long Chen diseret keluar oleh para pengawal dalam keadaan terluka. "Ibu, Ayah, sudah malam. Berhentilah bertengkar," ucap Lin Xinyan dengan nada datar, mencoba menenangkan situasi. "Aku akan keluar sebentar untuk mencari tahu ke mana pengawal membawa Long Chen..." Cklek. Belum sempat Lin Xinyan melangkah ke pintu, gagang pintu rumah tiba-tiba berputar. Pintu terbuka perlahan. Sesosok pria dengan kemeja putih yang sedikit compang-camping melangkah masuk. Pakaiannya dipenuhi noda lumpur kering dan bercak merah yang samar, namun langkah kakinya terdengar begitu mantap dan tegap. "Long Chen?!" Lin Xinyan tertegun. Mata indahnya melebar melihat suaminya berdiri di sana. Su Mei dan Lin Shuhai serentak menoleh. Su Mei langsung berdiri dari sofa, siap melayangkan makian sekencang mungkin. "Dasar sampah tidak tahu malu! Berani-beraninya kamu kembali ke—" Kalimat Su Mei mendadak terhenti di tenggorokan. Ada sesuatu yang salah. Su Mei, yang biasanya tidak punya rasa takut, tiba-tiba merasakan hawa dingin menusuk tengkuknya saat menatap sepasang mata Long Chen. Tatapan mata pemuda itu tidak lagi sayu, takut, atau memohon seperti biasanya. Sepasang mata itu sedingin es, setajam silet, dan memancarkan aura kepemimpinan yang membuat kata-kata makian Su Mei tersangkut begitu saja. Long Chen menatap Su Mei dan Lin Shuhai dengan tenang, lalu mengangguk tipis. "Ayah, Ibu, aku pulang." Lin Shuhai menelan ludah, entah kenapa dia merasa aura menantunya malam ini terasa jauh lebih menekan daripada aura Ibu Suri sekalipun. "K-kamu... kamu tidak apa-apa, Long Chen? Lin Feng bilang kamu sudah diantar pulang oleh pengawal setelah diberi pelajaran..." "Aku baik-baik saja, Ayah. Hanya sedikit salah paham di halaman belakang tadi," jawab Long Chen datar. Tentu saja dia tidak akan mengatakan bahwa Lin Feng mencoba melumpuhkannya, dan dia juga tidak akan membongkar rahasia bahwa dirinya baru saja mewarisi kekuatan Kaisar Naga Primordial. Biarkan orang-orang bodoh itu mengira dia hanya beruntung bisa selamat. Lin Xinyan berjalan mendekat. Meskipun wajahnya tetap menunjukkan ekspresi dingin yang biasa, tangannya yang halus perlahan terangkat, memegang lengan kemeja Long Chen yang robek. Dia melihat bercak darah yang mengering di pelipis suaminya. "Apakah... ada yang terluka parah? Mengapa pakaianmu robek?" tanya Lin Xinyan pelan. Di balik suara dinginnya, ada getaran rasa khawatir yang sangat nyata. Dia tahu sepupunya, Lin Feng, adalah orang yang kejam. Melihat perhatian tersembunyi dari istrinya, tatapan dingin di mata Long Chen perlahan melembut. Dia menatap wajah cantik Lin Xinyan dan tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Xinyan. Ini hanya darah ayam yang tidak sengaja mengenai bajuku saat di dapur belakang tadi. Aku tidak terluka sama sekali." Lin Xinyan menatap mata Long Chen dalam-dalam, mencoba mencari kebohongan, namun dia justru terkesima. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dia merasa suaminya memiliki rasa percaya diri yang begitu kokoh, bagai sebuah gunung yang tak tergoyahkan. "Cih! Dasar nyawa kecoak, dihajar seperti itu pun masih bisa berjalan!" Su Mei akhirnya berhasil menguasai dirinya kembali, meskipun dia tetap tidak berani menatap mata Long Chen berlama-lama. "Masuk ke kamarmu! Bersihkan tubuhmu yang bau lumpur itu! Besok pagi, kamu harus ikut Xinyan ke kantor. Ada urusan penting dengan Keluarga Wang dari kota sebelah, jangan sampai kamu membuat malu lagi!" "Baik, Ibu," jawab Long Chen dengan tenang. Dia kemudian berjalan menuju kamarnya di lantai bawah—sebuah kamar kecil yang terpisah dari kamar Lin Xinyan. Setelah mengunci pintu kamar, Long Chen duduk bersila di atas ranjangnya. Dia mengangkat tangan kirinya, menatap cincin giok naga hitam yang melingkar di jarinya. Dengan sekali fokus pikiran, memori warisan di otaknya langsung terbuka lebar. "Fisik fana ini terlalu lemah. Meskipun segel darah nagaku sudah pecah, aku harus segera melakukan Mandi Obat Pemurnian Sumsum untuk memperkuat fondasi tubuhku sebelum memulai kultivasi yang sesungguhnya," batin Long Chen. Dia mengingat-ingat daftar bahan herbal yang dibutuhkan: Ginseng Salju 50 tahun, Rumput Jiwa Ungu, dan Bunga Teratai Darah. Di dunia modern saat ini, bahan-bahan itu tidak murah dan hanya bisa ditemukan di pasar obat kuno atau pelelangan kelas atas. Long Chen tersenyum dingin. "Besok pergi ke kantor bersama Xinyan? Kebetulan sekali. Aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk mengumpulkan bahan obat, sekaligus... melihat kejutan apa yang disiapkan Lin Feng untuk keluarga cabang ketiga ini." Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, Long Chen mulai mengalirkan energi spiritual murni pertamanya, membiarkan energi Naga Langit perlahan merombak setiap jengkal tubuhnya dari dalam.Wuuussshhh—Suara desiran angin laut selatan yang hangat bertiup lembut, menggoyangkan dedaunan pohon kelapa dan melambaikan tirai sutra putih di balkon kamar utama Villa Naga Langit. Villa megah yang berdiri megah di atas tebing karang tertinggi di Teluk Jianghai itu kini menjadi tempat peraduan paling privat di seluruh jagat raya—sebuah kediaman fana yang dipasangi Formasi Penyegelan Delapan Alam, menjaga ketenangan penghuninya dari usikan dewa mana pun di Dunia Atas maupun fana.Sepuluh tahun telah berlalu sejak kehancuran Sekte Langit Jiwa dan penundukan Benua Awan Surgawi di bawah dekret absolut sang Kaisar Naga. Bagi dunia fana, sepuluh tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah lanskap bisnis global. Di bawah kendali mutlak Konsorsium Naga dan Grup Lin yang dipimpin oleh jalur manajemen Gao Yuan, Kota Jianghai telah berubah menjadi metropolitan paling maju dan paling aman di dunia. Tidak ada lagi Aliansi Yanjing, tidak ada lagi persaingan keluarga cabang Lin, d
SHUUUUUT— Lautan Api Naga Primordial warna emas murni perlahan meredup, meninggalkan keheningan mutlak di puncak Gunung Langit Jiwa yang kini telah berubah menjadi dataran pualam cair yang membeku menjadi kristal emas transparan. Tidak ada lagi sisa-sisa arwah kelam, tidak ada lagi deret pilar giok iblis, dan tidak ada lagi sosok Master Sekte Ji Wuya beserta aliansinya. Sekte Langit Jiwa—yang telah berdiri tegak memancarkan tirani selama puluhan ribu tahun di Benua Awan Surgawi—kini terhapus total dari peta kekuatan Dunia Atas hanya dalam satu malam. Di tengah-tengah dataran kristal emas yang memancarkan pendaran cahaya suci tersebut, Long Chen berdiri tegak. Mantel parit hitamnya berkibar anggun tertiup angin puncak gunung yang kini terasa teramat segar dan kaya akan energi spiritual murni yang baru saja dimurnikan dari sisa-sisa aura kejahatan. Lin Xinyan menyandarkan tubuh indahnya di dalam pelukan Long Chen. Sepasang mata perak
BOOOOOM!!!!!!!!!!!!!!!!Ribu-ribuan anak tangga batu giok yang menanjak menuju Puncak Utama Gunung Langit Jiwa berguncang hebat di bawah pijakan kaki Long Chen dan Lin Xinyan. Awan merah pekat yang menyelimuti puncak gunung mendadak berputar membentuk pusaran darah raksasa. Bau amis darah kuno dan aroma kebusukan berabad-abad terpancar hebat, menekan atmosfer Benua Awan Surgawi hingga langit malam berubah menjadi merah kehitaman yang membakar.Di pelataran luar Aula Agung Penghakiman, Master Sekte Ji Wuya berdiri di tengah-tengah formasi bintang bersudut delapan. Delapan Master Sekte aliansi dari Ranah Jiwa Nascent (Nascent Soul) berdiri di sekelilingnya, menancapkan pedang dan pusaka spiritual mereka ke lantai batu untuk mengalirkan darah serta basis kultivasi mereka secara masif."Dengan darah sembilan sekte dan silsilah jiwa para pembantai..." Ji Wuya menyayat telapak tangan kirinya, membiarkan darah kentalnya memancur ke atas altars giok hitam di depannya. "Arwa
KRAAAK... CRACK!Patung-patung kristal es murni yang menampung raga dan jiwa tiga ratus kultivator Sekte Langit Jiwa seketika retak, lalu hancur menjadi debu es halus yang melayang kaku ditelan angin Puncak Langit. Suasana di atas Panggung Langit kini berubah menjadi sunyi senyap yang mengerikan, hanya diselingi oleh deru napas panik dari para penatua yang tersisa.Tetua Agung Duan gemetar hebat. Tongkat kepala naga hitam di genggamannya bergetar tajam, menghantam lantai pualam hingga memercikkan bunga api. Tatapannya berganti-ganti antara Lin Xinyan—wanita berbaju putih yang memancarkan dominasi es abadi—dan Long Chen, pria bergaya santai dengan mantel parit hitam yang berdiri seolah-olah seluruh benua ini hanyalah halaman belakang rumahnya."Iblis... Mereka berdua adalah iblis dari neraka purba!" jerit Penatua Zhao, wajahnya yang semula angkuh kini sepucat mayat. Dia tidak lagi memedulikan martabat sebagai penatua Ranah Inti Emas Tahap Sembilan; tubuhnya berbalik,
BOOOOOM!!!!!!!!!!!!!!!!Langit di atas Benua Awan Surgawi—wilayah terdepan Dunia Kultivasi Atas—mendadak terbelah oleh ledakan pilar cahaya keemasan yang teramat dahsyat. Pilar cahaya itu tidak sekadar menembus awan, melainkan merobek Formasi Pembantai Dewa Sembilan Bintang yang dipasang oleh gabungan aliansi sekte hingga menjadi serpihan energi tak berguna.Gelombang kejut spasial tercipta dalam radius ratusan mil. Ribuan pilar batu giok yang mengapung di sekeliling Pintu Langit hancur berkeping-keping. Udara yang semula tenang kini dipenuhi oleh bau hangus energi spiritual dan ratapan kesakitan dari ratusan murid penegak hukum Sekte Langit Jiwa yang terlempar secara tragis akibat hempasan Qi Naga Primordial.Wussshhh—Saat debu spiritual dan cahaya perak perlahan memudar, dua sosok manusia melayang turun secara anggun dari balik pusaran ruang yang robek.Long Chen melayang di udara dengan mantel parit hitamnya yang berkibar perlahan. Tangan kirinya masih m
BOOOOOM!!!!!!!!!!!!!!!!Dentuman guntur spasial kembali membelah malam di atas Samudra Selatan. Udara di sekeliling Kota Jianghai mendadak terasa sarat akan fluktuasi Qi yang teramat padat. Konsentrasi energi spiritual yang membuncah keluar dari retakan Pintu Langit membuat pepohonan di sepanjang pesisir pantai tumbuh meninggi dalam hitungan detik, sementara air laut memancarkan pendaran cahaya biru mikroskopis akibat terkontaminasi oleh energi Dunia Atas.Di atas landasan helipad pribadi di puncak gedung Konsorsium Naga, angin malam bertiup sangat kencang, mengibarkan mantel parit hitam milik Long Chen dan gaun sutra es putih perak yang dikenakan Lin Xinyan.Di hadapan mereka, Gao Yuan berlutut dengan satu kaki bersama seratus prajurit elit Konsorsium Naga. Wajah para pengawal setia itu dipenuhi oleh campuran rasa hormat yang mendalam dan kesedihan yang sulit disembunyikan. Mereka tahu bahwa begitu Long Chen dan Lin Xinyan melangkah menembus retakan langit malam in







