Share

Bab6# Permintaan

Penulis: Blue_Starlight
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-21 08:01:00

"Maaf, Nyonya, Tuan Alexander sudah menunggu Tuan Max," ucap Christian saat melihat keduanya bertikai.

Grace terbeliak meski dua tangannya masih dicekal Max. "Papi ada di sini?"

"Ya, Nyonya, Tuan—" Christ menghentikan ucapan karena Max menoleh tajam ke arahnya.

"Pergilah!" usir Max melepas cengkraman wanita itu.

Grace mengusap pergelangan tangannya yang terasa nyeri, kemudian berdiri tegap. "Tidak! Aku ikut bersama kalian! Ayo Christ, tunjukkan dimana kamar papi?"

Wanita itu bukannya pergi, tapi justru bersikeras ingin melihat ayah mertuanya. Grace meyakini jika ayah mertuanya sedang dirawat di rumah sakit tersebut. Ia melangkah lebih dulu, sementara Christ bertatapan dengan Max meminta jawaban.

Max menghela nafas sembari menggeleng lirih, "Apa boleh buat ..."

Kedua pria itu mengikuti langkah Grace yang berada di depan. Sesekali Grace menoleh ke belakang memastikan keduanya tidak mengelabuinya.

"Ayo, cepatlah!" Grace berseru.

Max merasa gemas dengan tingkah Grace seolah dialah yang berkuasa atas dirinya. Sang asisten pun hanya tersenyum simpul menahan tawa melihat pasangan suami istri tersebut.

Ketiganya tiba di satu ruang VVIP, berdiri di depan kamar ruang inap. Christ langsung membuka pintu menyilahkan keduanya masuk., "Silakan, Tuan, Nyonya."

Langkah tegap Max masuk lebih dulu yang kemudian diikuti Grace. Semua orang yang ada di dalam ruang inap itu sangat terkejut dengan kedatangan wanita itu.

"Max, Di—dia ..." tunjuk Alexander pada Grace, tergagap dengan tangan lemah.

Begitu pula dengan Fellycia—ibu Max, wanita yang tetap cantik di usia yang hampir senja itu bangkit dari duduknya. "Grace?!"

Keduanya menatap tidak percaya! Mungkinkah mereka salah melihat?

"Ya, Pi. Dia Grace," balas Max menggapai tangan Alex yang menggantung di udara.

"Ini Grace, Pi." Wanita itu langsung berlari kecil, menghampiri Alex—ayah mertuanya yang terbaring di atas brankar. Grace membungkukkan badan di sisi Alex, memeluknya.

Pria paruh baya itu merasa terharu karena bertahun lamanya, ia dan Felly menunggu kembalinya Grace. Alex mengusap rambut anak menantunya, "Kemana saja kau, Grace? Mengapa kau pergi?"

Dengan suara parau dan lemah, Alex menyapa hangat sang menantu. Tidak ada jawaban khusus dari Grace, tapi justru ia mengalihkan pembicaraan.

"Grace tidak akan pergi lagi, Pi. Papi sakit apa?"

Meski sedikit kesulitan karena salah satu tangannya terdapat jarum infus. Pria itu kemudian menegakkan Grace, mengabaikan pertanyaan wanita itu. "Duduk di sini, Grace. Kami sudah lama menunggumu."

Felly bergantian memeluk Grace. "Apa yang membuatmu pergi, Sayang?" Wanita itu menangkup wajah Grace, kemudian memasukkan anak rambut Grace ke belakang telinga. Felly menatap hangat. "Kami sangat merindukanmu, Grace. Apa kau tidak menyukai kami, sampai menjauhi mami dan papi?" sambungnya.

Grace sangat menyesal karena menyakiti hati dua paruh baya itu. Padahal dua mertuanya sangat menyayangi dirinya selayaknya anak sendiri. Namun, entah apa yang ada dalam pikiran Grace delapan tahun silam?

"Maafkan, Grace, Mi. Tidak ada alasan Grace selain maaf ..." tunduk Grace tidak mampu menatap bola mata teduh sang ibu. Bahkan, sudut matanya hampir tergenang butiran bening.

Felly mengangguk. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Grace. Mami dan papi sudah bahagia kamu akhirnya kembali."

Suasana inap itu cukup haru, hingga membuat Max merasa bersyukur bisa melihat kebahagiaan pada dua orang tuanya. Meskipun dalam hati ia masih kesal dengan Grace.

Menurut Max, Grace termasuk wanita yang berhati lembut. Tapi, dia terkadang berubah keras dan kuat saat ego-nya sedang tinggi. Pria itu menipiskan bibir, tidak ingin siapapun tahu jika dirinya sedang memuja wanita itu.

"Perbaiki rumah tangga kalian, Max. Jangan buat Grace kecewa," ucap Alexander tiba-tiba. "Dan ... buatkan kami cucu. Kami sangat menantikannya," imbuhnya.

"A-apa?! Cucu?" Grace dan Felly mengucap bersamaan. Semua langsung menoleh pada Alex.

Suhu ruangan itu menjadi dingin saat Alex meminta cucu pada anak dan menantunya. Max langsung menjadi beku, diam seketika. Tidak dapat dipungkiri Felly pun menginginkan hal yang sama. Namun, mengingat wanita itu juga tahu kondisi Max sebenarnya, kini menjadi ragu.

"Papi ... tidak sebaiknya jangan membahas hal itu," kata Felly sangat hati-hati. Dia tidak ingin melukai hati dua pria kesayangannya.

"Kenapa tidak boleh dibahas, Mi? Justru ini waktu yang tepat membicarakan tentang anak. Mau sampai kapan papi menunggu bisa menggendong cucu papi!" Alexander meski lemah, tapi tenaganya cukup bersisa untuk memenangkan keinginannya.

Sementara Grace saling bersitatap dengan Max. Sejenak kemudian Max membuang pandangannya, ada rasa yang sulit diungkapkan pria itu. Melihat kedua mertuanya saling adu argumen, Grace kemudian menengahi.

"Sudah, sudah. Papi dan Mami jangan saling ribut. Oke, Grace akan berikan papi dan mami cucu." Grace bangkit kemudian menggandeng lengan Max. Ia berpikir inilah saat yang tepat untuk mengambil hati suaminya. Kemudian Grace melihat ke arah Max, seolah meminta pendapat. "Ya, kan, Sayang?"

Alex dan Felly merasa bahagia karena Grace pun ternyata setuju dengan ide mereka. Akan tetapi berbeda dengan Max, pria itu melihat ke samping, menyipitkan mata tajam.

"Apa yang kau pikirkan, Max?" bisik Grace pada telinga pria itu. "Ayo, mengangguk."

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (74)
goodnovel comment avatar
Ugik Kph
kenapa tuan Alex membicarakan soal cucu, apakah tuan Alex tidak tau tentang kondisi Max
goodnovel comment avatar
Alva_R
cucunya udah ada Pi, ...
goodnovel comment avatar
Lidia Rahayu
semakin penasaran
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • MENCURI BENIH SUAMI MANDUL   Bab255# Happy Ending

    Sudah hampir satu bulan sejak Chelsea mulai melakukan pencarian terhadap suaminya secara mandiri. Meskipun pihak kepolisian Jerman sudah menutup kasus kecelakaan ini. Pencarian polisi berakhir, bersamaan dengan ditutupnya kasus itu dan menyatakan dua orang sebagai korban. "Kenapa harus berakhir dengan begini, Ken ..." Chelsea meratapi di tempat kejadian sebelum mobil Kenan masuk ke jurang. "Kembalikan suamiku wahai alam. Kembalikan dia meskipun itu hanya abu atau tulang belulangnya ... Ijinkan aku memeluknya sekali lagi. Aku tidak akan marah padamu. Bagaimana aku bisa marah, kalau kau adalah rumah suamiku sekarang, selamanya ...." Wanita itu bahkan tidak kuasa menahan isak tangis. Setiap hari, ia tak kenal lelah, menyerahkan segalanya untuk mencari keberadaan Kenan. "Maaf, Nyonya." Suara Christ yang tiba-tiba pun tidak menghentikan isakan Chelsea. Sang asisten yang telah setia membantu, bersama dengan beberapa orang yang dikerahkan untuk mencari, sudah melakukan segala cara

  • MENCURI BENIH SUAMI MANDUL   Bab254# Aku Punya Mommy & Daddy

    Kelopak bulu mata lentik membuka matanya perlahan, samar-samar cahaya matahari menembus tirai jendela.Pusingnya pun masih terasa, dan tubuhnya juga masih lemah, namun Grace mencoba mengingat apa yang terjadi. Semua kenangan tentang operasi dan masa koma itu kabur, tapi ada satu hal yang sangat jelas di pikirannya. Anak laki-lakinya, Leon."Ergghhh ..." Grace memegangi kepalanya yang masih berdenyut.Dengan susah payah, ia mengangkat tubuhnya dan menoleh ke sekeliling ruangan. Namun, tak ada siapapun di sana. Kosong!"Apa aku masih hidup?" Grace sendiri hampir tidak percaya dirinya masih bernyawa. Kemudian mengusap perutnya yang seakan tidak ada apa-apa. "Ke mana bayiku?" tanyanya kebingungan, entah pada siapa.Wanita itu lantas menoleh. Di sana, di ranjang yang terpisah, Leon sedang tertidur pulas. Wajah kecilnya tampak damai, meskipun di hati Grace, ada kekhawatiran yang menggantung."Leon, Mommy b

  • MENCURI BENIH SUAMI MANDUL   Bab253# Harapan Terakhir

    Reaksi Brian membuat Max menarik paksa hasil tes kesehatannya. Pria itu dinyatakan cocok menjadi pendonor tulang sumsum untuk Leon.Dengan wajah binar, Max langsung bangkit dari duduknya. "Ayo cepat, ke mana aku harus pergi, Brian!" "Ayo! Aku juga sudah tidak sabar menunggu waktu ini!" Brian langsung bangkit dari duduknya, kemudian melangkah keluar yang diikuti Max.Setelah kurang lebih satu jam proses pengambilan sel tulang sumsum Max, petugas Laboratorium mulai memprosesnya.Max keluar dari ruang periksa dengan langkah yang sedikit terhuyung. Udara dingin di ruang rumah sakit tak bisa mengurangi rasa lega yang perlahan merayap dalam dirinya. "Apapun yang terjadi, Daddy akan berusaha segala cara Leon," tekad Max lirih.Meski perasaan berat masih menggantung, setidaknya ia tahu bahwa tulang sumsum yang baru saja didonorkan untuk Leon, memiliki peluang besar untuk menyelamatkan hidupnya. Hasil tes genetik men

  • MENCURI BENIH SUAMI MANDUL   Bab252# Kamu Yang Bisa Menolongnya

    Kelopak mata dengan bulu mata lentik itu bergerak pelan. Aroma desinfektan membuat Chelsea sadar seketika. Kepala terasa berat, tubuhnya lelah, dan rasa sakit mulai merayapi seluruh tubuhnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengingat apa yang terjadi. "Kenaann ..." Ia berharap semua yang baru saja ia lihat adalah sebuah mimpi. Namun, sayangnya itu adalah hal nyata yang baru saja dialaminya. Chelsea melihat bekas tanah yang terdapat di sela-sela pada kuku-kuku. "Ini bukan mimpi ..." ratapnya menahan isak. Melihat sang Nyonya sudah sadar, Christ mendekati Chelsea yang terbaring di atas brankar rumah sakit. "Apa yang Anda rasakan, Nyonya?" tanyanya. Chelsea menatap asisten sang kakak, "Katakan kalau semua ini hanya mimpi kan, Christ?" Chelsea berharap asisten itu menggeleng, namun nyatanya Christ menggangguk, hatinya tahu bahwa ini semua kenyataan.

  • MENCURI BENIH SUAMI MANDUL   Bab251# Selamatkan Bayiku

    Kegelapan langit malam berubah merah menyala karena ledakan mobil Kenan yang masuk ke jurang. Serpihan body mobil pun berterbangan hingga menjadi bagian terkecil. Semua orang mengalihkan wajah, menutup mata dengan lengan masing-masing. "Tidak Keennn ..." Chelsea meratapi terduduk di atas tanah. Tatapannya kosong pada nyala api di angkasa. Arthur memegang pundak Chelsea, menguatkan wanita itu, "Semua akan baik-baik saja, Chel. Kenan pasti selamat ..." Meski sejujurnya Arthur juga ragu akan ucapannya. Jurang dan ledakan sebesar itu mana mungkin tidak menghancurkan tubuh seseorang. Christ berlari ke tepian jurang, lalu menatap ke bawah. Namun, tak ada siapapun di sana. Hanya ada pecahan puing yang berserakan dan masih menyisakan bara api yang berkobar. Kemudian ia berbalik badan lalu menggeleng lirih. Isyarat Christ semakin membuat Chelsea semakin histeris. "Tidak! Kembali padaku Kenaannn ...!" Tangisan Chelsea yang terdengar pilu makin tak terkendali, hingga tiba-tiba semu

  • MENCURI BENIH SUAMI MANDUL   Bab250# Perbaiki Rumah Tangga Kita

    Setibanya di basecamp yang tersembunyi, Chelsea merasa ada sesuatu yang sangat salah. Tempat itu sangat kacau dan suasana mencekam memenuhi udara. "Apa ini tempatnya, Arthur?" tanya Chelsea penuh keraguan. "Hm, benar ini tempatnya." Belum juga kedua mata Chelsea memindai tempat itu, tiba-tiba ... Brak! Freya dan Kenan keluar dari bangunan sepi dengan pencahayaan minim. Meski demikian, sorot mata Chelsea mampu menangkap siluet bayangan sang suami. "Kenan ...?!" Chelsea hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seruan Chelsea ternyata mampu mengalihkan perhatian kedua orang itu, terutama Kenan. Ia lebih terkejut saat melihat Chelsea juga berada di sekitar tempat itu. Area yang tidak sebaiknya dituju. Namun, di balik semua rasa takut dan kecemasan Chelsea, hatinya semakin teriris saat kenyataan yang lebih pahit terbuka di hadapannya. Di sana, di tengah kekacauan, dia melihat Kenan—dengan jelas berdiri di sisi Freya. Sekarang tampak seperti musuh yang berdiri di samp

  • MENCURI BENIH SUAMI MANDUL   Bab249# Bertahanlah

    Grace dengan suara penuh amarah, "Kenan! Kau datang kemari hanya untuk jadi pengkhianat! Tidak tahu malu!" Berdiri tegak, Kenan menatap Grace dengan dingin, "Aku memilih sisi yang benar, Grace. Ini bukan tentang kamu atau aku lagi, ini tentang apa yang seharusnya terjadi." Grace tertawa sinis, "Cih! Sisi yang benar? Kau menjual dirimu kepada Freya, itu yang kamu sebut benar? Jangan lebih rendah dari itu, Ken!" "Aku tidak membutuhkan pembenaran darimu, Grace. Semua ini sudah berjalan terlalu jauh. Tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang." Freya, yang sejak tadi diam dan menyaksikan percakapan itu, akhirnya berbicara dengan suara penuh kebencian. Grace tertawa remeh pada Freya, seolah mengejek wanita ular itu. "Apapun yang kau lakukan, kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Karena kau tidak pernah dicintai sampai mati! Kau tak akan pernah tau apa itu cinta!" ucapnya penuh penekanan, "kasihan sekali!" Suasana di antara kedua wanita itu semakin mencekam. Freya ingin seka

  • MENCURI BENIH SUAMI MANDUL   Bab248# Lokasi Ditemukan

    Max tampak berjalan mondar-mandir di ruang kantor yang gelap, ekspresinya tegang dan penuh amarah. Matanya yang tajam menatap beberapa anak buah Christ yang berdiri cemas di hadapannya."Bagaimana bisa kalian belum menemukan lokasi Freya?!" bentaknya, suaranya keras dan penuh amarah. "Kalian cuma membuang-buang waktu! Ini sudah terlalu lama, aku ingin jawaban sekarang!"Anak buah Christ, yang satu bernama Markus dan yang satunya lagi disebut Simon saling pandang, tampak bingung dan tertekan."Ma-Maaf, Tuan ... kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kami belum menemukan petunjuk pasti," jawab Markus, suaranya terbata-bata.Max menggeram, berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan mereka. "Berusaha? Itu bukan jawaban yang aku cari! Jika kalian tidak bisa melaksanakan perintah sederhana ini, lebih baik aku cari orang lain yang bisa!"Simon mencoba menenangkan situasi. "Kami benar-benar sudah berusaha, Tuan. Kami akan terus menca

  • MENCURI BENIH SUAMI MANDUL   Bab247# Menjadi Sekutu

    Kenan terlihat tegang, tapi mencoba menurunkan egonya. "Freya, aku tahu aku salah. Aku tidak mencari pembenaran. Aku hanya ingin tahu di mana basecamp-mu. Aku punya rencana ... rencana untuk melancarkan keinginanmu." Namun, diam-diam, tanpa melibatkan siapa pun. Kenan akan pastikan akan membebaskan Grace. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menebus semua kesalahan." Mendengar ketulusan Kenan, dan betapa pria itu juga memenuhi keinginannya mendapatkan lokasi Grace, Freya terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-katanya. "Kau tidak akan menjadi pengkhianat di dalam basecamp-ku, kan?" "Kau bisa percaya padaku, Freya. Aku akan lakukan apa saja untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Kau akan dapatkan semua yang kau inginkan." Dalam hati Freya melewati banyak perdebatan. Kemudian suara Freya berubah, sedikit lebih lembut. "Baiklah, aku beri kau satu kesempatan lagi. Basecamp-ku ada di kawasan Charlottenburg, dekat Stasiun Zoologischer Garten. Tapi ingat, Kenan. Satu langkah s

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status