Share

Bab 2

Author: yourayas
last update publish date: 2025-12-27 15:51:29

Flashback 5 Tahun Yang Lalu—Satu Minggu Setelah Elena Pergi

Sore itu, hujan turun deras, menyisakan keheningan sekaligus kedinginan di apartemen Gerald Aiden Mahatma.

Sudah satu minggu berlalu, sejak terakhir kali ia melihat Elena malam itu. Tetapi baginya, kata “pergi” masih terlalu tajam untuk diucapkan. Ia sepanjang hari meyakini bahwa Elena hanya pergi sebentar, istrinya pasti akan segera pulang. Ia seringkali terjaga hingga tengah malam, menatap ke pintu apartemen dengan penuh harapan dan doa bahwa Elena akan pulang dan tersenyum seperti biasanya. Namun, hingga kelelahan dan rasa kantuk menumbangkan Gerald, Elena tidak kunjung pulang.

Apartemen itu masih menyimpan aroma Elena di setiap sudutnya. Jaket denim favoritnya masih tergantung lemas di dekat pintu masuk. Sepatu-sepatu hak tingginya masih tersusun di rak bawah, seolah siap dipakai kapan saja. Gerald tidak berani menyentuh apa pun; baginya, memindahkan satu benda saja berarti mengakui bahwa Elena tidak akan pernah kembali untuk mengambilnya.

"Baru seminggu, Gerald. Dia hanya butuh waktu," gumamnya pada diri sendiri saat hendak memasuki apartemen yang remang-remang.

Namun, langkah Gerald terhenti saat melihat sesuatu di lantai, tepat di bawah celah pintu utama.

Sebuah amplop cokelat besar.

Gerald membungkuk, memungut amplop yang terasa sedikit lembap itu. Di atasnya, tertera nama yang membuat jantungnya berdegup kencang: Elena Maheswari Atmaja.

Ia membawa amplop itu masuk ke dalam apartemen, ia meja makan dan duduk perlahan, menatap kursi kosong di hadapannya. Tangannya sedikit gemetar saat merobek segelnya. Di sudut kiri atas, terdapat kop surat dari salah satu rumah sakit ternama di Jakarta.

"Rumah sakit? Elena periksa apa apa?" bisiknya lirih.

Ia mulai membaca baris demi baris. Awalnya, matanya hanya menangkap istilah-istilah medis yang rumit—pemeriksaan administrasi, hasil laboratorium rutin. Gerald harus mengulang bacaannya berkali-kali karena otaknya seolah menolak untuk memproses informasi tersebut.

Hingga kemudian, pandangannya terpaku pada satu kata yang tertulis tebal.

KEHAMILAN.

Gerald berhenti bernapas sejenak. Dunia di sekitarnya seolah mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berdentum di telinga. Ia mencengkeram kertas itu begitu kuat hingga ujungnya meremuk di bawah jemarinya.

"Nggak mungkin... ini pasti salah," desisnya, menggelengkan kepala dengan ekspresi tak percaya.

Dengan gerakan terburu-buru, ia membalik halaman berikutnya, mencari penjelasan yang bisa mematahkan kenyataan itu. Namun, yang ia temukan justru lebih menghancurkan. Di halaman terakhir, terselip sebuah lembar foto kecil berwarna hitam putih yang buram.

Itu adalah foto USG. Di tengah kegelapan gambar itu, terdapat sebuah titik putih kecil yang mungil—sebuah tanda kehidupan yang nyata.

"Anak...?" suaranya pecah, berubah menjadi bisikan yang menyayat.

Ia menjatuhkan diri di kursi, membiarkan foto itu meluncur dari jemarinya yang lemas ke atas meja kayu. Gerald menatap titik kecil itu dengan tatapan kosong. Pikirannya langsung berputar mundur, menghitung waktu.

Usia kandungan: 6 Minggu.

Ingatannya melayang ke pertemuan bisnis di Bali sebulan setengah yang lalu. Ia ingat betapa hangatnya malam itu, betapa mereka sempat melupakan ketegangan rumah tangga sejenak untuk saling memiliki. Di sana, di tengah suara ombak dan angin laut, tanpa ia sadari, sebuah kehidupan baru telah dimulai di dalam tubuh Elena.

"Kenapa kamu gak bilang, Len?" tanyanya pada kursi yang kosong, suaranya mengandung permohonan yang sia-sia. "Kenapa kamu harus pergi saat kita mau punya anak?"

Ia menelungkupkan wajahnya di atas meja, menutupinya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar hebat dalam tangis yang teredam—bukan jeritan histeris, melainkan isak tangis sunyi dari seorang pria yang dunianya baru saja runtuh berkeping-keping.

“Pulang, Sayang. Tolong… Pulang…” ia mulai meracau pelan.

Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajahnya yang sembab dan mengambil kembali foto USG itu. Ia menyentuh titik kecil di foto itu dengan ujung jarinya, gerakan yang begitu lembut seolah takut akan menyakiti makhluk di dalamnya.

"Sayang... Papa di sini," bisiknya. Namun, kata-kata itu justru terasa seperti belati yang menusuk dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa menyebut dirinya seorang ayah jika ia bahkan tidak tahu di mana istri dan anaknya berada?

Perlahan, Gerald bangkit menuju kamar utama dengan langkah gontai.

Ia membuka lemari Elena, menggeledah setiap sudut, mencari catatan, buku harian, atau kalender yang mungkin memberi petunjuk bahwa Elena sempat berencana memberitahunya. Ia mencari tanda-tanda persiapan, mungkin vitamin atau buku tentang kehamilan. Namun, ia tidak menemukan apa pun. Tidak ada satu jejak pun yang ditinggalkan Elena.

"Apa aku benar-benar sebuta itu?" tanyanya pada bayangan dirinya di cermin. "Atau kamu memang menganggapku tidak layak untuk tahu?"

Akhirnya, Gerald mengambil amplop cokelat itu dan menyimpannya di dalam laci meja samping tempat tidur. Ia memutar kunci laci itu dan memasukkan kuncinya ke dalam sakunya. Ia takut jika ia melihat foto itu setiap hari, ia tidak akan pernah bisa berfungsi lagi sebagai manusia. Namun, ia juga tahu bahwa sejak malam itu, segalanya telah berubah.

Elena tidak hanya membawa pergi hatinya; dia membawa pergi masa depan mereka, kehidupan yang seharusnya ia jaga.

***

Saat Ini—Lima Tahun Kemudian.

Gerald berdiri di balkon apartemennya, merasakan kunci kecil di saku celananya bergesekan dengan kulitnya. Kunci itu tidak pernah meninggalkan sisinya selama lima tahun terakhir, sama seperti rahasia di dalam laci itu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun—termasuk Lucas atau keluarganya sendiri.

Kadang, di malam-malam yang sangat sunyi, ia akan membuka laci itu. Ia akan mengeluarkan amplop cokelat yang kini sudah mulai menguning dan rapuh. Ia duduk di tepi ranjang, menatap foto USG yang sudah usang itu.

"Kamu harusnya sudah besar sekarang," gumamnya pada titik kecil yang tak pernah sempat ia sapa secara langsung. "Mungkin kamu sudah bisa berlari, mungkin kamu sudah bisa memanggil Papa..."

Ia tersenyum getir, membayangkan wajah anak itu. "Kalau kamu punya mata yang sama tajamnya dengan Elena, aku pasti tidak akan pernah bisa marah padamu," bisiknya.

Di dalam keheningan apartemen yang mewah itu, Gerald sering berhalusinasi mendengar suara tawa anak kecil atau derap langkah kaki mungil di atas lantai marmer. Namun, setiap kali ia membuka mata, realitas selalu menyambutnya dengan kekosongan yang sama.

"Maafkan Papa," bisiknya pada foto USG itu, suaranya nyaris hilang ditelan angin malam. "Maaf karena Papa masih belum bisa menemukan kalian.".

Rahasia ini adalah beban terberatnya, namun juga satu-satunya alasan yang membuatnya terus mencari tanpa henti. Baginya, mengakui kehamilan Elena secara terbuka berarti mengakui bahwa ia telah kehilangan dua nyawa sekaligus, dan itu adalah kenyataan yang tidak akan pernah sanggup ia pikul.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 6

    London pagi itu dibungkus langit kelabu yang lembut. Udara dingin menempel di kulit, membawa aroma hujan tipis yang turun semalam. Di depan gedung galeri seni tua di kawasan South Kensington, Gerald Aiden Mahatma berdiri layaknya bayangan yang tak terlihat.Ia mengenakan mantel wol gelap dan topi yang ditarik rendah. Di balik mantel itu, ia mengenakan kemeja putih yang sudah lama tidak ia sentuh—kemeja yang dulu dibelikan Elena di sebuah butik di Jakarta. Ia ingat betul bagaimana jemari Elena merapikan kerahnya saat itu, sebuah sentuhan kecil yang dulu ia abaikan, namun kini ia rindukan setengah mati."Pak Gerald, donasi sudah ditransfer," suara Lucas terdengar melalui earpiece kecil di telinganya. "Tanpa nama. Persis seperti yang Bapak minta. Pihak penyelenggara sangat terkejut dengan jumlahnya.""Bagus," jawab Gerald pendek, suaranya parau. "Pastikan tidak ada jejak namaku di sana. Aku tidak ingin dia merasa terancam.""Baik, Pak. Saya akan terus memantau dari sini."Gerald mematika

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 5

    Di tengah kerumunan Bandara Sokerano-Hatta pada pukul tiga dini hari, Gerald berdiri tegak di tengah-tengahnya. Mengenakan jas wol berwarna gelap yang pas di tubuhnya, ia berusaha untuk tetap tenang meskipun degup jantungnya berdetak tak karuan.Ia hanya membawa satu koper kecil dan sat utas kerja. Namun, beban berat yang sesungguhnya ada pada saku bagian dalam jasnya, tepat di atas jantungnya: foto USG yang sudah mulai rapuh."Pak Gerald, semua dokumen sudah siap di dalam folder ini," suara Lucas memecah lamunannya. Sekretaris setianya itu berdiri di sampingnya, memegang map kulit.Gerald menoleh sedikit, mengangguk pelan. "Terima kasih, Lucas. Kamu sudah memastikan reservasi hotel di London?""Sudah, Pak. The Savoy. Lokasinya hanya sepuluh menit dari tempat charity gala itu diadakan. Mobil jemputan juga akan menunggu Bapak di Heathrow," jawab Lucas dengan presisi yang biasa. Namun, ia tidak segera beranjak. Matanya menatap Gerald dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pak... apakah B

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 4

    Dalam hidup manusia, ada hari-hari di mana dunia terasa acuh dan menyebalkan, seolah-olah semesta sedang berkomplot untuk menguji batas kesabaran kita. Namun, ada pula hari-hari langka ketika dunia seolah berhenti sejenak dari porosnya, menoleh ke arah kita, berpihak, dan akhirnya memutuskan untuk membantu setelah sekian lama mengabaikan doa-doa yang dipanjatkan dalam sunyi.Bagi Gerald Aiden Mahatma, hari ini adalah jenis hari yang kedua.Cahaya sore yang keemasan menerobos masuk melalui dinding kaca ruang kerjanya yang luas di lantai eksekutif Mahatma Entertainment. Di luar sana, Jakarta masih menderu dengan kebisingan yang akrab—suara klakson, deru mesin, dan ribuan orang yang bergegas mengejar tenggat waktu. Di koridor kantor, suara langkah kaki para eksekutif yang bekerja di bawah kendali tangannya terdengar sibuk, memberikan performa terbaik mereka untuk sang Direktur Utama yang tak kenal kompromi.Namun, di dalam ruangan itu, waktu seolah melambat, memberikan ruang bagi Gerald

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 3

    Pagi itu, Gerald datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Gedung tinggi Mahatma Entertainment berdiri dengan angkuh di pusat Jakarta, kacanya memantulkan sinar matahari yang mengelilingi menjadi warna emas.Gerald adalah sosok Direktur Utama yang dingin, nyaris mitologis, dan tidak pernah membuat kesalahan dalam pengambilan keputusan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa setiap kali pintu lift tertutup, Gerald harus menarik napas panjang untuk meninggalkan kerapuhannya di lantai dasar gedung itu.Setelah meletakkan tas kerjanya di atas meja yang luas, Gerald tidak langsung membuka laptopnya. Ia menatap pemandangan Jakarta yang sibuk dari ketinggian lantai eksekutif. Tangannya merogoh saku jas, mengeluarkan selembar foto USG hitam putih yang selama ini selalu ia kunci rapat di laci apartemennya.“Entah kamu dimana sekarang,” gumamnya lirih sambil mengusap permukaan foto yang mulai memudar itu, “tapi hari ini, Papa butuh kamu disini.”Ia tersenyum getir pada kata 'Papa' yang ia ucapkan se

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 2

    Flashback 5 Tahun Yang Lalu—Satu Minggu Setelah Elena PergiSore itu, hujan turun deras, menyisakan keheningan sekaligus kedinginan di apartemen Gerald Aiden Mahatma.Sudah satu minggu berlalu, sejak terakhir kali ia melihat Elena malam itu. Tetapi baginya, kata “pergi” masih terlalu tajam untuk diucapkan. Ia sepanjang hari meyakini bahwa Elena hanya pergi sebentar, istrinya pasti akan segera pulang. Ia seringkali terjaga hingga tengah malam, menatap ke pintu apartemen dengan penuh harapan dan doa bahwa Elena akan pulang dan tersenyum seperti biasanya. Namun, hingga kelelahan dan rasa kantuk menumbangkan Gerald, Elena tidak kunjung pulang.Apartemen itu masih menyimpan aroma Elena di setiap sudutnya. Jaket denim favoritnya masih tergantung lemas di dekat pintu masuk. Sepatu-sepatu hak tingginya masih tersusun di rak bawah, seolah siap dipakai kapan saja. Gerald tidak berani menyentuh apa pun; baginya, memindahkan satu benda saja berarti mengakui bahwa Elena tidak akan pernah kembali u

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 1

    5 tahun bukan waktu yang sebentar.Bagi sebagian orang, 5 tahun adalah waktu yang berganti menjadi kehidupan baru.Ada yang berpindah tempat kerja, berpindah rumah, lulus dari perkuliahan, bahkan berganti status dari lajang menjadi berpasangan.Tapi rasanya… di lantai apartemen dua puluh tujuh itu… waktu berhenti berdetak sejak 5 tahun yang lalu.Gerald Aiden Mahatma berdiri di depan cermin dalam kamar, menatap pantulan dirinya yang tampak asing. Dia tidak lagi mengenali dirinya sendiri sejak hidup dalam kesunyian kota. Jemarinya bergerak mengikat dasi sutra berwarna biru gelap, pemberian dari orang paling dicintainya.“Lima tahun,” gumamnya pelan. “Aku masih mengikat dasi dengan cara yang sama seperti kamu waktu itu, Lena.”Ia menghela napas, menoleh pada lemari pakaian yang terbuka lebar. Di sisi kanan, deretan gaun kerja dan blus sutra milik istrinya—Elena Maheswari Atmaja masih tergantung rapi. Seolah-olah sebentar lagi Elena akan selesai mandi dan memilih salah satunya. Tidak ada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status