Mag-log inFlashback 5 Tahun Yang Lalu—Satu Minggu Setelah Elena Pergi
Sore itu, hujan turun deras, menyisakan keheningan sekaligus kedinginan di apartemen Gerald Aiden Mahatma.
Sudah satu minggu berlalu, sejak terakhir kali ia melihat Elena malam itu. Tetapi baginya, kata “pergi” masih terlalu tajam untuk diucapkan. Ia sepanjang hari meyakini bahwa Elena hanya pergi sebentar, istrinya pasti akan segera pulang. Ia seringkali terjaga hingga tengah malam, menatap ke pintu apartemen dengan penuh harapan dan doa bahwa Elena akan pulang dan tersenyum seperti biasanya. Namun, hingga kelelahan dan rasa kantuk menumbangkan Gerald, Elena tidak kunjung pulang.
Apartemen itu masih menyimpan aroma Elena di setiap sudutnya. Jaket denim favoritnya masih tergantung lemas di dekat pintu masuk. Sepatu-sepatu hak tingginya masih tersusun di rak bawah, seolah siap dipakai kapan saja. Gerald tidak berani menyentuh apa pun; baginya, memindahkan satu benda saja berarti mengakui bahwa Elena tidak akan pernah kembali untuk mengambilnya.
"Baru seminggu, Gerald. Dia hanya butuh waktu," gumamnya pada diri sendiri saat hendak memasuki apartemen yang remang-remang.
Namun, langkah Gerald terhenti saat melihat sesuatu di lantai, tepat di bawah celah pintu utama.
Sebuah amplop cokelat besar.
Gerald membungkuk, memungut amplop yang terasa sedikit lembap itu. Di atasnya, tertera nama yang membuat jantungnya berdegup kencang: Elena Maheswari Atmaja.
Ia membawa amplop itu masuk ke dalam apartemen, ia meja makan dan duduk perlahan, menatap kursi kosong di hadapannya. Tangannya sedikit gemetar saat merobek segelnya. Di sudut kiri atas, terdapat kop surat dari salah satu rumah sakit ternama di Jakarta.
"Rumah sakit? Elena periksa apa apa?" bisiknya lirih.
Ia mulai membaca baris demi baris. Awalnya, matanya hanya menangkap istilah-istilah medis yang rumit—pemeriksaan administrasi, hasil laboratorium rutin. Gerald harus mengulang bacaannya berkali-kali karena otaknya seolah menolak untuk memproses informasi tersebut.
Hingga kemudian, pandangannya terpaku pada satu kata yang tertulis tebal.
KEHAMILAN.
Gerald berhenti bernapas sejenak. Dunia di sekitarnya seolah mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berdentum di telinga. Ia mencengkeram kertas itu begitu kuat hingga ujungnya meremuk di bawah jemarinya.
"Nggak mungkin... ini pasti salah," desisnya, menggelengkan kepala dengan ekspresi tak percaya.
Dengan gerakan terburu-buru, ia membalik halaman berikutnya, mencari penjelasan yang bisa mematahkan kenyataan itu. Namun, yang ia temukan justru lebih menghancurkan. Di halaman terakhir, terselip sebuah lembar foto kecil berwarna hitam putih yang buram.
Itu adalah foto USG. Di tengah kegelapan gambar itu, terdapat sebuah titik putih kecil yang mungil—sebuah tanda kehidupan yang nyata.
"Anak...?" suaranya pecah, berubah menjadi bisikan yang menyayat.
Ia menjatuhkan diri di kursi, membiarkan foto itu meluncur dari jemarinya yang lemas ke atas meja kayu. Gerald menatap titik kecil itu dengan tatapan kosong. Pikirannya langsung berputar mundur, menghitung waktu.
Usia kandungan: 6 Minggu.
Ingatannya melayang ke pertemuan bisnis di Bali sebulan setengah yang lalu. Ia ingat betapa hangatnya malam itu, betapa mereka sempat melupakan ketegangan rumah tangga sejenak untuk saling memiliki. Di sana, di tengah suara ombak dan angin laut, tanpa ia sadari, sebuah kehidupan baru telah dimulai di dalam tubuh Elena.
"Kenapa kamu gak bilang, Len?" tanyanya pada kursi yang kosong, suaranya mengandung permohonan yang sia-sia. "Kenapa kamu harus pergi saat kita mau punya anak?"
Ia menelungkupkan wajahnya di atas meja, menutupinya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar hebat dalam tangis yang teredam—bukan jeritan histeris, melainkan isak tangis sunyi dari seorang pria yang dunianya baru saja runtuh berkeping-keping.
“Pulang, Sayang. Tolong… Pulang…” ia mulai meracau pelan.
Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajahnya yang sembab dan mengambil kembali foto USG itu. Ia menyentuh titik kecil di foto itu dengan ujung jarinya, gerakan yang begitu lembut seolah takut akan menyakiti makhluk di dalamnya.
"Sayang... Papa di sini," bisiknya. Namun, kata-kata itu justru terasa seperti belati yang menusuk dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa menyebut dirinya seorang ayah jika ia bahkan tidak tahu di mana istri dan anaknya berada?
Perlahan, Gerald bangkit menuju kamar utama dengan langkah gontai.
Ia membuka lemari Elena, menggeledah setiap sudut, mencari catatan, buku harian, atau kalender yang mungkin memberi petunjuk bahwa Elena sempat berencana memberitahunya. Ia mencari tanda-tanda persiapan, mungkin vitamin atau buku tentang kehamilan. Namun, ia tidak menemukan apa pun. Tidak ada satu jejak pun yang ditinggalkan Elena.
"Apa aku benar-benar sebuta itu?" tanyanya pada bayangan dirinya di cermin. "Atau kamu memang menganggapku tidak layak untuk tahu?"
Akhirnya, Gerald mengambil amplop cokelat itu dan menyimpannya di dalam laci meja samping tempat tidur. Ia memutar kunci laci itu dan memasukkan kuncinya ke dalam sakunya. Ia takut jika ia melihat foto itu setiap hari, ia tidak akan pernah bisa berfungsi lagi sebagai manusia. Namun, ia juga tahu bahwa sejak malam itu, segalanya telah berubah.
Elena tidak hanya membawa pergi hatinya; dia membawa pergi masa depan mereka, kehidupan yang seharusnya ia jaga.
***
Saat Ini—Lima Tahun Kemudian.
Gerald berdiri di balkon apartemennya, merasakan kunci kecil di saku celananya bergesekan dengan kulitnya. Kunci itu tidak pernah meninggalkan sisinya selama lima tahun terakhir, sama seperti rahasia di dalam laci itu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun—termasuk Lucas atau keluarganya sendiri.
Kadang, di malam-malam yang sangat sunyi, ia akan membuka laci itu. Ia akan mengeluarkan amplop cokelat yang kini sudah mulai menguning dan rapuh. Ia duduk di tepi ranjang, menatap foto USG yang sudah usang itu.
"Kamu harusnya sudah besar sekarang," gumamnya pada titik kecil yang tak pernah sempat ia sapa secara langsung. "Mungkin kamu sudah bisa berlari, mungkin kamu sudah bisa memanggil Papa..."
Ia tersenyum getir, membayangkan wajah anak itu. "Kalau kamu punya mata yang sama tajamnya dengan Elena, aku pasti tidak akan pernah bisa marah padamu," bisiknya.
Di dalam keheningan apartemen yang mewah itu, Gerald sering berhalusinasi mendengar suara tawa anak kecil atau derap langkah kaki mungil di atas lantai marmer. Namun, setiap kali ia membuka mata, realitas selalu menyambutnya dengan kekosongan yang sama.
"Maafkan Papa," bisiknya pada foto USG itu, suaranya nyaris hilang ditelan angin malam. "Maaf karena Papa masih belum bisa menemukan kalian.".
Rahasia ini adalah beban terberatnya, namun juga satu-satunya alasan yang membuatnya terus mencari tanpa henti. Baginya, mengakui kehamilan Elena secara terbuka berarti mengakui bahwa ia telah kehilangan dua nyawa sekaligus, dan itu adalah kenyataan yang tidak akan pernah sanggup ia pikul.
***
Setelah memastikan Rafael masuk ke dalam barisan anak-anak yang memakai ransel warna-warni, Gerald dan Elena masih berdiri di depan gerbang sekolah. Gerald melipat tangannya di dada, matanya tidak lepas dari sosok kecil yang sekarang sedang memamerkan senter tiga warnanya kepada seorang teman sekelasnya."Dia benar-benar tidak menoleh ke belakang lagi, ya?" gumam Gerald, ada nada sedikit 'patah hati' dalam suaranya.Elena terkekeh pelan. "Itu artinya dia merasa aman, Gerald. Kamu sudah membekalinya dengan 'Kapten Bear' dan tenda bintang yang sanggup menahan serangan alien. Dia merasa seperti pahlawan sekarang."Gerald tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Elena. "Jadi... janji makan malam itu masih berlaku? Mengingat malam ini rumahmu akan sangat sepi tanpa suara mesin roket."Elena merapikan mantelnya, menatap Gerald sejenak. "Masih. Tapi aku harus ke galeri dulu. Ada beberapa pengiriman lukisan yang harus aku awasi.""Aku jemput jam tujuh?""Jam tujuh," jawab Elena sebelum berjalan
London mulai memasuki musim yang sejuk ketika Gerald memarkirkan Range Rover-nya di depan sekolah Rafael. Hari itu, Elena benar-benar sibuk dengan pertemuan kurator internasional, sehingga Gerald mendapatkan "tiket emas" untuk menjemput putra kecilnya lebih awal.Pintu sekolah terbuka, dan sosok kecil dengan tas roketnya berlari keluar. Wajah Rafael tampak sangat serius, alisnya bertaut, mirip sekali dengan ekspresi Gerald saat sedang menghadapi rapat direksi yang alot."Papa!" seru Rafael sambil menghambur ke pelukan Gerald."Halo, Jagoan. Kok mukanya ditekuk gitu? Ada yang nakal di sekolah?" tanya Gerald sambil menggendong Rafael masuk ke mobil.Rafael menggeleng cepat, lalu mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak lecek dari tasnya. "Enggak, Pa. Tapi ini... Miss Honey bilang besok ada Spring Camping. Rafael harus tidur di tenda sama teman-teman di taman sekolah. Tapi Rafael nggak punya tenda! Rafael nggak punya lampu senter! Nanti kalau ada monster gelap gimana?"Gerald tertawa
Hujan London malam itu tidak sedahsyat badai tempo hari, namun dinginnya jauh lebih menusuk hingga ke tulang. Gerald masih berdiri di depan pintu, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini lepek menempel di dahi. Mantel wol mahalnya sudah berubah menjadi berat karena air. Namun, ia tidak bergeming. Ia menatap ke arah jendela lantai atas, berharap siluet wanita yang dicintainya itu muncul kembali.Di balik gorden, Elena meremas kain beludru itu hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya perih. Bayangan tentang dokumen "Oktober lima tahun lalu" itu terasa seperti pisau yang mengiris sisa-sisa kepercayaannya. Bagaimana mungkin pria yang sekarang terlihat begitu rapuh di bawah hujan, dulunya adalah pria yang sanggup menandatangani hak asuh tunggal bahkan sebelum anaknya lahir?"Papa... kenapa Papa di luar? Papa kedinginan?"Suara serak Rafael di belakangnya membuat Elena tersentak. Bocah itu berdiri di ambang pintu kamar dengan mata mengantuk, memeluk bantal astronotnya. Rupanya suara teri
Kemilau lampu kristal di galeri mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan lampu sorot temaram yang mengarah tepat ke lukisan-lukisan utama. Kesuksesan pameran malam itu menyisakan rasa lelah yang manis di bahu Elena. Tamu-tamu VIP telah pulang, menyisakan aroma parfum mahal dan sisa-sisa sampanye di udara.Elena berdiri di tengah ruangan yang kini sunyi, menatap lukisan abstrak di depannya. Tiba-tiba, sebuah jas hangat tersampir di bahunya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Aroma kayu cendana dan maskulinitas itu sudah terlalu akrab."Rafael sudah tidur di mobil, dijaga oleh Lucas," bisik Gerald, berdiri tepat di belakangnya tanpa menyentuh, namun kehadirannya terasa begitu protektif."Terima kasih untuk tadi, Gerald. Tapi kamu tidak seharusnya bicara begitu di depan pers," ujar Elena pelan, tangannya merapatkan jas Gerald di tubuhnya."Aku hanya mengatakan kebenaran yang tertunda selama lima tahun, El. Aku tidak mau kamu dianggap sebagai pion dalam permainan bisnis
BAB 35: PERTANYAAN DI BALIK LANGIT-LANGIT BINTANGMalam di Richmond selalu memiliki cara sendiri untuk membuat seseorang merasa kecil, namun malam ini, di dalam rumah kayu yang hangat itu, Gerald merasa seolah ia baru saja memenangkan kontrak terbesar dalam hidupnya. Teh di cangkirnya sudah mendingin, tapi percakapan di meja makan masih mengalir, meski Elena lebih banyak mendengarkan daripada berbicara."Papa, nanti kalau kita ke tempat salju, kita bawa astronotnya juga?" tanya Rafael, matanya mulai sayu karena kantuk, tapi bibirnya tak berhenti mengoceh."Tentu saja. Astronot harus siap di segala medan, kan? Salju itu seperti permukaan planet es," jawab Gerald sambil mengacak rambut Rafael.Elena berdiri, merapikan cangkir-cangkir kosong. "Sudah jam sembilan, Rafael. Waktunya tidur. Besok Mama harus ke galeri pagi-pagi untuk final check pameran.""Yah... tapi Rafael masih mau sama Papa," rengek si kecil.Gerald menatap Elena, meminta izin melalui tatapan matanya. Elena hanya menghela
Pagi itu, Richmond diselimuti kabut yang lebih tebal dari biasanya. Gerald sudah berdiri di depan pintu rumah Elena tepat pukul tujuh kurang lima menit. Ia tidak mengenakan setelan jas kaku seperti biasanya; kali ini ia memilih turtleneck hitam dibalut mantel wol berwarna abu-abu arang. Tangannya membawa satu kotak kecil berisi croissant hangat dari toko roti favorit Rafael yang baru saja buka.Pintu terbuka, menampilkan Elena dengan rambut yang masih agak acak-acakan—pemandangan langka yang membuat jantung Gerald berdesir. Ia tampak seperti Elena yang dulu, Elena yang sering ia bangunkan dengan kecupan di kening sebelum dunia bisnis merenggut kewarasan mereka."Kamu tepat waktu," gumam Elena, suaranya serak khas bangun tidur."Aku tidak ingin membuat Jenderal kecilku menunggu," jawab Gerald lembut, menyodorkan kotak roti itu. "Ini untuk sarapan kalian. Aku tahu kamu tidak sempat masak kalau ada pertemuan subuh."Elena menerima kotak itu, jari mereka bersentuhan sekejap, dan Elena seg







