MasukAisyah, seorang janda yang baru ditinggal mati mewarisi konglomerat raksasa secara tak terduga, memaksanya masuk ke pertarungan brutal melawan keluarga iparnya yang serakah, mengungkap bahwa kekayaan dinasti itu dibangun di atas fondasi korupsi dan kejahatan puluhan tahun lalu.
Lihat lebih banyakRasa jijik yang mendalam menyelimutinya, lebih kuat daripada rasa hampa. Ia mematikan layar laptopnya. Pencarian ini menyakitkan, menguras tenaga, dan menjijikkan. Ia memutuskan untuk mengambil cuti satu hari penuh, fokus pada sesuatu yang lebih nyata dan tidak berpura-pura.Ia harus mengunjungi satu orang yang paling tidak terduga, satu-satunya orang yang ia rasakan pernah meliriknya tanpa ketamakan—meski hanya sekilas pandang di lantai bawah.Aisyah berdiri, mengambil kunci mobilnya, dan bergegas keluar dari kantor eksekutif, menekan tombol lift. Ia tidak menuju rumahnya. Ia menuju sebuah kafe kecil di dekat kawasan perumahan kelas menengah yang terletak beberapa kilometer dari menara Admaja. Kafe itu adalah tempat di mana ia dan mendiang suaminya, Arif, sering menghabiskan waktu sebelum semuanya menjadi terlalu rumit dengan urusan dinasti.Ia perlu meminta maaf pada Arif, secara mental, karena telah mengotori ingatan mereka dengan mencari cinta melalui lensa kekuasaan.Setengah jam
Tiga minggu berlalu sejak malam di mana Aisyah memutuskan untuk mengaktifkan kembali perburuan emosionalnya—dan secara rahasia, memantau setiap pergerakan Narendra. Keputusan untuk "membuka diri" di depan publik perusahaan terasa seperti melemparkan sepotong daging segar ke dalam kolam hiu yang selama ini ia hindari.Malam itu adalah Gala Tahunan Admaja, sebuah pertunjukan kemewahan yang biasanya ia nikmati dengan kewaspadaan seorang jenderal di medan perang. Aisyah berdiri di tengah keramaian, gaun malamnya memancarkan kilau gelap yang mengintimidasi, namun sorot matanya menampik. Pengumuman keterbukaannya telah tersebar seperti api liar."Aisyah, kau terlihat memesona. Dan kabar baiknya... aku lega kau akhirnya mau membuka diri," sebuah suara hangat namun berlebihan menyapa.Itu adalah Pria Pemanfaat A, sebut saja Adrian. Adrian adalah pengusaha properti yang wajahnya terlalu dipoles dan senyumnya terlalu lebar. Ia mendekat, tangannya bergerak halus untuk menyentuh lengan Aisyah—seb
Ia melihat waktu pada log sistem. Pukul 21.45. Sudah lewat waktu makan malam yang ia rencanakan. Ia seharusnya mengirim pesan untuk membatalkan acara sosialnya, namun mata Aisyah terpaku pada nama itu. *Narendra.* Nama yang terasa asing dan begitu dekat.Tiba-tiba, sebuah dorongan yang tidak logis melandanya. Ia membatalkan pesan yang hendak ia kirim ke asistennya. Tidak, ia tidak akan mencari kekacauan sosial sekarang. Ia akan mencari ketenangan.Ia bangkit, merasakan otot-ototnya yang tegang akibat berjam-jam duduk kaku. Ia berjalan menuju pintu ruangannya, mengabaikan rasa lelah yang memukulnya. Alih-alih menuju lift pribadi menuju apartemen mewahnya, langkah kakinya berbelok ke arah sayap timur gedung, tempat unit data dan analisis berada.Ia harus tahu. Mengapa seorang karyawan biasa masih bekerja selarut ini di hari pengukuhannya? Mungkin ia sedang berusaha mencuri data? Pikiran paranoid lima tahun terakhir masih bersemayam kuat. Atau mungkin... hanya mungkin... ia bekerja keras
Ruangan rapat di lantai puncak terasa dingin, seolah suhu di sana diatur untuk meniru kebekuan di hati Aisyah. Lima tahun. Lima tahun ia berperang dalam labirin hukum dan intrik keluarga untuk membersihkan nama dinasti Admaja, dan hari ini, perang itu usai. Cahaya pagi yang tajam menyaring melalui kaca setinggi langit-langit, memantul dari permukaan meja mahoni gelap yang kini dihiasi tumpukan kertas legal yang rapi.Aisyah, dengan blazer gelapnya yang terstruktur sempurna, memandang para direktur yang mengelilinginya. Wajah mereka memancarkan campuran kekaguman dan sedikit ketakutan—kekaguman atas kemenangannya, ketakutan atas kekuatan yang kini ia genggam tanpa cela."Kita telah memverifikasi ulang semua aset, Pak Harsono," suara Aisyah terdengar datar, dipoles oleh bertahun-tahun negosiasi yang melelahkan. "Tidak ada lagi bayang-bayang utang tersembunyi, tidak ada lagi investasi yang tidak jelas. Admaja resmi—*bersih*."Ia mengambil pena emas berat dari tempatnya. Ini adalah dokume
Paman Bima Atmadja menerjang, mengangkat tubuh Baskara seperti boneka peraga, siap menghempaskan pria itu ke peti baja di dekatnya. Bima tidak tampak seperti pria yang baru saja menelan racun, energinya dipenuhi dendam murni yang mengerikan. Sementara Baskara meronta, mencoba meraih pistolnya yang
Anda ingin tahu apa isi aset tak terlihat ini, Tuan?" Aisyah mendekatkan ponsel ke mulutnya. "Bukan uang, Baskara. Kehancuranmu." Aisyah mengklik sebuah ikon kecil. "Sekarang data ini sudah otomatis siap rilis dalam sembilan puluh menit ke markas ICC (Pengadilan Kriminal Internasional), tepat sesua
Sirene kebakaran meraung-raung memekakkan telinga di seluruh lantai 40, disusul oleh rentetan suara benturan keras yang meruntuhkan lantai gedung. Di tengah kekacauan yang menggila, tatapan Aisyah tertuju pada monitor utama di dinding, layar besar yang kini menampilkan indikator kemerahan berkedip:
"Bima adalah pengacara. Baskara adalah kreditor lama. Aku tidak bisa mengalahkan mereka dengan undang-undang lagi. Jika mereka mengatakan mereka bisa membuktikan Arif adalah seorang pembunuh—maka aku harus melihatnya, Laras. Jika aku menolak datang, mereka akan membunuh Kartika, dan Adrian akan mem












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.