author-banner
yourayas
yourayas
Author

Novels by yourayas

Pernikahan Bisnis Dua CEO

Pernikahan Bisnis Dua CEO

Dalam dunia bisnis yang penuh intrik dan kekuasaan, cinta sering kali menjadi korban pertama. Elena Maheswari Atmaja, pewaris Atmaja Televisi, dipaksa menikah tanpa peringatan demi menyelamatkan perusahaannya dari kehancuran. Gerald Aiden Mahatma, pewaris Mahatma Entertainment, menerima perjodohan ini dengan dingin, menganggapnya tak lebih dari transaksi bisnis. Tanpa cinta, tanpa keinginan, keduanya disatukan dalam sebuah pernikahan terpaksa yang disaksikan oleh ribuan mata. Ketegangan membara di antara mereka, perjanjian rahasia diteken, dan batasan-batasan dipasang—namun bagaimana jika batas itu perlahan kabur? Saat ego, luka, dan perasaan yang tak diundang mulai bermunculan, mampukah dua orang asing ini bertahan dalam pernikahan yang dibangun atas dasar paksaan? Atau justru, di balik aliansi dingin ini, cinta yang tak pernah mereka harapkan perlahan tumbuh?
Read
Chapter: Epilog
Tidak ada suara yang lebih akrab bagi Elena selain bunyi langkah kaki Gerald di rumah mereka.Bukan langkah yang tergesa, bukan pula yang ragu. Langkah itu selalu datang dengan ritme yang sama—mantap, tenang, seolah rumah ini benar-benar tahu siapa yang pulang. Dan setiap kali itu terjadi, Elena selalu merasakan hal yang sama: perasaan kembali utuh.Ia berdiri di dapur sore itu, menggulung lengan bajunya sedikit, mengaduk sup di atas kompor. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya bersih tanpa riasan. Tidak ada yang istimewa dari pemandangan itu—dan justru di situlah letak keindahannya.Gerald muncul di ambang pintu dapur, jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya digulung hingga siku. Ia berhenti sejenak, bersandar di kusen, hanya memperhatikan.Tidak banyak pria yang bisa diam hanya untuk melihat istrinya melakukan hal sederhana. Gerald bisa. Dan ia melakukannya dengan penuh kesadaran.“El,” panggilnya pelan.Elena menoleh. “Hmm?”“Kamu capek?”Elena berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Engg
Last Updated: 2025-12-22
Chapter: Bab 173
Pagi datang dengan cara yang lembut.Cahaya matahari menyelinap di sela tirai, jatuh perlahan ke lantai kamar, membentuk garis-garis keemasan yang hangat. Udara Jakarta masih sejuk, dan di dalam kamar itu, segalanya terasa diam—tenang dengan cara yang tidak biasa.Elena terbangun lebih dulu.Ia tidak langsung membuka mata. Ia tahu di mana ia berada, tahu siapa yang memeluknya dari belakang, tahu ritme napas yang menghangatkan tengkuknya. Gerald masih terlelap, lengannya melingkar mantap di pinggang Elena, seolah tidur pun tak ingin melepaskannya.Elena tersenyum kecil.Ada masa ketika ia mengira kebahagiaan harus datang dengan ledakan besar—perayaan, sorak, pengakuan. Tapi pagi itu mengajarinya sesuatu yang berbeda: kebahagiaan bisa sesederhana bangun dan tahu bahwa orang yang ia pilih, memilihnya kembali. Setiap hari.Ia menoleh sedikit, menatap wajah Gerald dari jarak sedekat ini. Garis rahangnya tegas, alisnya rileks saat tidur, ekspresi yang jarang dilihat orang lain. CEO terkenal
Last Updated: 2025-12-19
Chapter: Bab 172
Baik. Aku lanjutkan dengan nuansa romantis, intim, dewasa, namun tetap halus dan tidak eksplisit, fokus pada kehangatan rumah, gesture kecil, dan ikatan emosional mereka.Rumah terasa lebih sunyi dibanding biasanya ketika pintu akhirnya tertutup di belakang mereka. Jakarta masih berisik di luar sana, tapi di dalam, hanya ada langkah kaki mereka dan dengung pendingin ruangan yang lembut.Gerald menyalakan lampu ruang tengah dengan pencahayaan redup. Elena melepas sepatu haknya lebih dulu, menghela napas panjang begitu telapak kakinya menyentuh lantai dingin.“Akhirnya,” gumamnya.Gerald tersenyum, melepas jam tangannya lalu meletakkannya di meja. “Capek banget?”Elena mengangguk sambil melonggarkan ikatan rambutnya. “Rasanya pengin langsung rebahan.”Gerald mendekat, tangannya terangkat secara refleks untuk merapikan anak rambut yang jatuh ke wajah Elena. “Mandi dulu,” katanya lembut. “Aku bantu.”Elena menatapnya, sedikit curiga tapi tidak menolak. “Kamu selalu bilang begitu.”Gerald
Last Updated: 2025-12-17
Chapter: Bab 171
Restoran itu tidak terlalu ramai—sebuah tempat dengan pencahayaan hangat dan musik jazz lembut yang mengalun pelan, cukup untuk menjadi latar tanpa mengganggu percakapan. Meja mereka berada di dekat jendela besar, memperlihatkan kilau lampu kota Jakarta yang mulai menyala satu per satu.Gerald menarik kursi untuk Elena lebih dulu.“Silakan, sayang.”Elena tersenyum kecil sambil duduk. Gaun kerjanya sederhana—potongan rapi dengan warna netral—tidak berlebihan, tidak berusaha mencuri perhatian. Tapi bagi Gerald, justru itulah yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan.Gerald baru duduk setelah memastikan Elena nyaman. Ia melepas jam tangannya, menaruh ponsel terbalik di meja—sebuah kebiasaan kecil yang tanpa disadari selalu ia lakukan setiap kali ingin benar-benar hadir.Pelayan datang membawa menu. Gerald menyerahkan menu miliknya ke Elena lebih dulu.“Kamu pilih dulu.”Elena mengangkat alis. “Kenapa selalu aku?”“Because I like watching you decide,” jawab Gerald ringan. “Kamu serius
Last Updated: 2025-12-16
Chapter: Bab 170
Gedung Atmaja Televisi pagi itu seperti biasa—sibuk, cepat, dan penuh suara langkah kaki yang terburu-buru. Lift naik turun tanpa jeda, layar-layar LED menampilkan jadwal siaran, dan aroma kopi dari pantry lantai delapan menyebar ke koridor.Namun ada satu hal yang berbeda.Elena Maheswari Atmaja.Begitu ia melangkah keluar dari lift, Rani yang berdiri di depan meja sekretaris langsung mengangkat kepala—dan berhenti mengetik.Alis Rani terangkat perlahan.“Oh.”Elena menoleh. “Oh apaan?”Rani menyandarkan siku di meja, menatap Elena dari ujung rambut sampai sepatu. “Lo… beda.”Elena berhenti, menurunkan tas kerjanya. “Beda gimana?”Rani menyipitkan mata, senyum jahil mulai muncul. “Aura lo tuh—gimana ya—bersinar. Kayak lampu studio baru dipasang.”Elena menghela napas, mencoba bersikap biasa. “Pagi-pagi jangan lebay.”“Lebay apanya,” Rani terkekeh. “Lo kelihatan bahagia. Dan itu mencurigakan.”Elena melepas blazer tipisnya dan menggantungnya. “Gue baru balik bulan madu, Ran. Masa haru
Last Updated: 2025-12-15
Chapter: Bab 169
Cahaya pagi Jakarta masuk perlahan melalui celah tirai, tidak terlalu terang—lebih seperti sinar lembut yang menyentuh dinding dan menyelinap ke atas ranjang. Suara kota masih jauh, teredam, seolah dunia memberi mereka beberapa menit tambahan sebelum kembali menuntut peran masing-masing.Elena membuka mata perlahan.Hal pertama yang ia sadari adalah kehangatan.Bukan hanya dari selimut, tapi dari keberadaan di sebelahnya.Ia menoleh.Gerald sudah bangun.Laki-laki itu berdiri di sisi tempat tidur, setengah membelakangi Elena. Ia sudah rapi—terlalu rapi untuk ukuran pagi yang masih muda. Kemeja putih disetrika sempurna membalut tubuhnya, mansetnya terlipat rapi, jam tangan terpasang di pergelangan tangan. Rambutnya tertata, wajahnya bersih, wangi sabun dan parfum ringan bercampur jadi satu aroma yang langsung membuat Elena sadar sepenuhnya.Namun yang membuat Elena berhenti bernapas sejenak bukan kerapian itu.Melainkan tatapan Gerald. Begitu Elena bergerak sedikit, Gerald langsung me
Last Updated: 2025-12-14
MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU

MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU

5 Tahun seorang diri, 5 tahun Gerald ditinggal Elena pergi karena kesalahannya sendiri 5 Tahun Gerald mencari... dan sekarang dia menemukan istrinya kembali Istri... juga anaknya
Read
Chapter: Bab 40
Setelah memastikan Rafael masuk ke dalam barisan anak-anak yang memakai ransel warna-warni, Gerald dan Elena masih berdiri di depan gerbang sekolah. Gerald melipat tangannya di dada, matanya tidak lepas dari sosok kecil yang sekarang sedang memamerkan senter tiga warnanya kepada seorang teman sekelasnya."Dia benar-benar tidak menoleh ke belakang lagi, ya?" gumam Gerald, ada nada sedikit 'patah hati' dalam suaranya.Elena terkekeh pelan. "Itu artinya dia merasa aman, Gerald. Kamu sudah membekalinya dengan 'Kapten Bear' dan tenda bintang yang sanggup menahan serangan alien. Dia merasa seperti pahlawan sekarang."Gerald tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Elena. "Jadi... janji makan malam itu masih berlaku? Mengingat malam ini rumahmu akan sangat sepi tanpa suara mesin roket."Elena merapikan mantelnya, menatap Gerald sejenak. "Masih. Tapi aku harus ke galeri dulu. Ada beberapa pengiriman lukisan yang harus aku awasi.""Aku jemput jam tujuh?""Jam tujuh," jawab Elena sebelum berjalan
Last Updated: 2026-04-25
Chapter: Bab 39
London mulai memasuki musim yang sejuk ketika Gerald memarkirkan Range Rover-nya di depan sekolah Rafael. Hari itu, Elena benar-benar sibuk dengan pertemuan kurator internasional, sehingga Gerald mendapatkan "tiket emas" untuk menjemput putra kecilnya lebih awal.Pintu sekolah terbuka, dan sosok kecil dengan tas roketnya berlari keluar. Wajah Rafael tampak sangat serius, alisnya bertaut, mirip sekali dengan ekspresi Gerald saat sedang menghadapi rapat direksi yang alot."Papa!" seru Rafael sambil menghambur ke pelukan Gerald."Halo, Jagoan. Kok mukanya ditekuk gitu? Ada yang nakal di sekolah?" tanya Gerald sambil menggendong Rafael masuk ke mobil.Rafael menggeleng cepat, lalu mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak lecek dari tasnya. "Enggak, Pa. Tapi ini... Miss Honey bilang besok ada Spring Camping. Rafael harus tidur di tenda sama teman-teman di taman sekolah. Tapi Rafael nggak punya tenda! Rafael nggak punya lampu senter! Nanti kalau ada monster gelap gimana?"Gerald tertawa
Last Updated: 2026-04-23
Chapter: Bab 38
Hujan London malam itu tidak sedahsyat badai tempo hari, namun dinginnya jauh lebih menusuk hingga ke tulang. Gerald masih berdiri di depan pintu, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini lepek menempel di dahi. Mantel wol mahalnya sudah berubah menjadi berat karena air. Namun, ia tidak bergeming. Ia menatap ke arah jendela lantai atas, berharap siluet wanita yang dicintainya itu muncul kembali.Di balik gorden, Elena meremas kain beludru itu hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya perih. Bayangan tentang dokumen "Oktober lima tahun lalu" itu terasa seperti pisau yang mengiris sisa-sisa kepercayaannya. Bagaimana mungkin pria yang sekarang terlihat begitu rapuh di bawah hujan, dulunya adalah pria yang sanggup menandatangani hak asuh tunggal bahkan sebelum anaknya lahir?"Papa... kenapa Papa di luar? Papa kedinginan?"Suara serak Rafael di belakangnya membuat Elena tersentak. Bocah itu berdiri di ambang pintu kamar dengan mata mengantuk, memeluk bantal astronotnya. Rupanya suara teri
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 37
Kemilau lampu kristal di galeri mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan lampu sorot temaram yang mengarah tepat ke lukisan-lukisan utama. Kesuksesan pameran malam itu menyisakan rasa lelah yang manis di bahu Elena. Tamu-tamu VIP telah pulang, menyisakan aroma parfum mahal dan sisa-sisa sampanye di udara.Elena berdiri di tengah ruangan yang kini sunyi, menatap lukisan abstrak di depannya. Tiba-tiba, sebuah jas hangat tersampir di bahunya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Aroma kayu cendana dan maskulinitas itu sudah terlalu akrab."Rafael sudah tidur di mobil, dijaga oleh Lucas," bisik Gerald, berdiri tepat di belakangnya tanpa menyentuh, namun kehadirannya terasa begitu protektif."Terima kasih untuk tadi, Gerald. Tapi kamu tidak seharusnya bicara begitu di depan pers," ujar Elena pelan, tangannya merapatkan jas Gerald di tubuhnya."Aku hanya mengatakan kebenaran yang tertunda selama lima tahun, El. Aku tidak mau kamu dianggap sebagai pion dalam permainan bisnis
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: Bab 36
BAB 35: PERTANYAAN DI BALIK LANGIT-LANGIT BINTANGMalam di Richmond selalu memiliki cara sendiri untuk membuat seseorang merasa kecil, namun malam ini, di dalam rumah kayu yang hangat itu, Gerald merasa seolah ia baru saja memenangkan kontrak terbesar dalam hidupnya. Teh di cangkirnya sudah mendingin, tapi percakapan di meja makan masih mengalir, meski Elena lebih banyak mendengarkan daripada berbicara."Papa, nanti kalau kita ke tempat salju, kita bawa astronotnya juga?" tanya Rafael, matanya mulai sayu karena kantuk, tapi bibirnya tak berhenti mengoceh."Tentu saja. Astronot harus siap di segala medan, kan? Salju itu seperti permukaan planet es," jawab Gerald sambil mengacak rambut Rafael.Elena berdiri, merapikan cangkir-cangkir kosong. "Sudah jam sembilan, Rafael. Waktunya tidur. Besok Mama harus ke galeri pagi-pagi untuk final check pameran.""Yah... tapi Rafael masih mau sama Papa," rengek si kecil.Gerald menatap Elena, meminta izin melalui tatapan matanya. Elena hanya menghela
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: Bab 35
Pagi itu, Richmond diselimuti kabut yang lebih tebal dari biasanya. Gerald sudah berdiri di depan pintu rumah Elena tepat pukul tujuh kurang lima menit. Ia tidak mengenakan setelan jas kaku seperti biasanya; kali ini ia memilih turtleneck hitam dibalut mantel wol berwarna abu-abu arang. Tangannya membawa satu kotak kecil berisi croissant hangat dari toko roti favorit Rafael yang baru saja buka.Pintu terbuka, menampilkan Elena dengan rambut yang masih agak acak-acakan—pemandangan langka yang membuat jantung Gerald berdesir. Ia tampak seperti Elena yang dulu, Elena yang sering ia bangunkan dengan kecupan di kening sebelum dunia bisnis merenggut kewarasan mereka."Kamu tepat waktu," gumam Elena, suaranya serak khas bangun tidur."Aku tidak ingin membuat Jenderal kecilku menunggu," jawab Gerald lembut, menyodorkan kotak roti itu. "Ini untuk sarapan kalian. Aku tahu kamu tidak sempat masak kalau ada pertemuan subuh."Elena menerima kotak itu, jari mereka bersentuhan sekejap, dan Elena seg
Last Updated: 2026-04-19
PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN

PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN

Samudera terbiasa memimpin, terbiasa menang, terbiasa memegang kendali. Dia adalah Leader Motion13, hidupnya berjalan sempurna dengan kesuksesan yang luar biasa. Tapi tidak ada yang tahu, sepuluh tahun yang lalu ia pernah membuat janji pada orang tuanya—janji yang kini datang untuk ditagih. Di usia tiga puluh tahun, ia diminta menikah. Bukan karena cinta. Bukan karena siap. Tapi karena kesepakatan dua keluarga besar. Dengan Seraphine Swarna Kirana. Pernikahan ini seharusnya hanya soal bisnis. Soal citra. Soal stabilitas. Tapi masalahnya, Samudera bukan tipe pria yang mau hidupnya diatur begitu saja. Dan Seraphine bukan wanita yang bisa dikendalikan. Ketika dua orang yang sama-sama keras kepala dipaksa berjalan berdampingan, yang lahir mungkin bukan cinta. Tapi juga bukan sekadar kontrak.
Read
Chapter: Bab 181
“Berita apa?” tanya Seraphine penasaran. Samudera memajukan wajahnya ke layar. "Yosua... dia bilang dia udah ada niatan serius mau nikah." Mata Seraphine melebar sedikit. "Serius? Yosua sama Jivana?" "Iya!" jawab Samudera semangat. "Si Yosua ngaku kalau dia udah gak tahan mau nyusul kita. Dia bilang hubungannya sama Jivana kan udah empat tahun, terus dia terinspirasi sama kita yang tetap bisa jalanin rumah tangga dengan tenang walaupun status pernikahannya di-publish. Rencananya akhir tahun ini Yosua mau resmi melamar Jivana ke orang tuanya di Jakarta." Seraphine mengangguk-angguk pelan. “Bagus dong. Jivana itu cantik dan baik banget. Aku beberapa kali ketemu dia di acara fashion brand internasional. Kita jadi lumayan deket dan sering contact-an setelah aku nikah sama kamu. Emang serasi banget sih mereka berdua. Jivana juga gak kelihatan nuntut macem-macem ke Yosua.” "Bener," setuju Samudera. "Terus kamu tahu gak berita dari si Jauzan?" "Jauzan?" ulang Seraphine. "Jangan bilang J
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: Bab 180
Setelah menempuh jam-jam latihan di KSPO Dome, mulai dari soundcheck, dry rehearsal, hingga penyesuaian tata letak panggung selesai, Samudera masuk ke dalam kamarnya di hotel Grand InterContinental Seoul.Begitu melepaskan topi dan hoodie-nya, Samudera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa keringat yang menempel. Selama lima belas menit, ia menikmati pancuran air hangat yang membasahi kulitnya. Setelahnya, Samudera keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana abu-abu longgar tanpa atasan.Ia meraih botol air mineral dari dalam kulkas mini, meminumnya hingga tersisa separuh, kemudian merebahkan tubuh jangkungnya di atas ranjang king-size yang empuk. Matanya melirik jam digital di atas meja nakas. Pukul 23.45 KST—berarti di Jakarta masih pukul 21.45 WIB.Tanpa membuang waktu lagi, ia mengambil ponsel pribadinya yang tadi ia letakkan di atas nakas. Jemari besarnya membuka aplikasi WhatsApp lalu menekan ikon panggilan video pada kontak istrinya.
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: Bab 179
Jauzan berdehem pelan, mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Sebuah gestur langka dari seorang Jauzan yang biasanya selalu tampil tenang dan percaya diri di depan siapa saja.“Kalian inget gak pas acara Jakarta High-End Fashion Week dua bulan lalu sebelum kita berangkat tur Asia?” tanya Jauzan pelan.“Inget,” jawab Samudera cepat. “Yang lo diundang jadi guest of honor itu kan?”"Nah," lanjut Jauzan, matanya menerawang membayangkan momen tersebut. "Pas di backstage VIP, gue gak sengaja tabrakan kecil sama salah satu owner brand lokal yang lagi naik daun. Namanya Sheila Maheswari."Yosua membelalakkan matanya sedikit. "Sheila Maheswari? Pemilik brand busana etnik modern Maheswari Couture yang terkenal itu?"“Iya, dia. Bini lo pasti juga kenal, Sam,” pangkas Jauzan melirik Samudera.“Oke, tapi momen pertemuan kalian kayak sinetron televisi yang biasa ditonton pembantu gue di rumah,” ujar Samudera sengaja menggoda Jauzan.Jauzan mendengus, kembali menendang kecil tumit Samudera. “Sialan l
Last Updated: 2026-09-06
Chapter: Bab 178
Pagi-pagi sekali, private jet yang membawa rombongan Motion13 menuju korea sudah lepas landas. Keramaian member Motion13 memenuhi bagian tengah kabin. Beberapa ada yang mengobrol, merekam vlog harian menggunakan kamera, hingga yang tertidur pulas dengan noise-canceling headphone untuk meredam keberisikan tiga belas pria itu.Jauh di area paling belakang kabin utama, sebuah lounge area eksklusif yang dipisahkan oleh sekat kayu jati dan tirai beludru tebal, tiga anggota tertua Motion13 duduk melingkar di sofa kulit costum-made berwarna abu-abu gelap.Jauzan menyilangkan kakinya, menatap Samudera dengan seringai tipis yang amat khas dan penuh keusilan. “Muka lo kenapa gitu, Sam?” tanya Jauzan pelan sambil menyenggol ujung sepatunya ke kaki Samudera. “Dari pas masuk van di hotel tadi subuh sampai udah naik jet, senyum-senyum sendiri kayak orang kasmaran. Serem gue liatnya.”Yosua yang sedang menyesap teh hangatnya terkekeh rendah. “Biasa, Zan. Yang habis didatengin istri jauh-jauh dari Ja
Last Updated: 2026-09-05
Chapter: Bab 177
Pukul tiga sore lebih sedikit, Samudera dan Seraphine telah sampai di kamar presidential suite mereka. Dua jam sebelum keberangkatan Seraphine menuju Bandara Internasional Haneda untuk terbang kembali ke Jakarta.Empat kantong belanja dari butik-butik paling bergengsi di Ginza sudah tertata rapi di dekat sofa utama. Namun, tak satu pun dari mereka yang melirik pada tumpukan barang bernilai miliaran rupiah tersebut.Samudera melepaskan jaket nya, melemparnya sembarangan ke atas sandaran sofa tanpa peduli. Pria itu langsung berbalik, matanya terkunci sepenuhnya pada Seraphine yang sedang berdiri di dekat meja, melepaskan trench coat warna camel-nya dengan gerakan yang amat anggun."Aku rapiin barang-barang aku dulu," ujar Seraphine tenang.Sebelum wanita itu sempat melangkah menuju kamar tidur utama, sebuah lengan kokoh melingkar sempurna di pinggang rampingnya dari belakang. Samudera menumpukan dagunya di ceruk leher Seraphine. Pria itu menghirup aroma sandalwood yang menguar hangat da
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Bab 176
Pagi itu setelah mandi, Samudera bergerak dengan telaten. Pria itu memaksa istrinya untuk duduk tenang di kursi meja rias, sementara dirinya mengeringkan rambut panjang Seraphine menggunakan hairdryer, jemari besarnya menyusup lembut di antara helai-helai rambut hitam istrinya.“Jangan ditarik, Samudera,” tegur Seraphine memperingatkan saat merasa sapuan sisir suaminya sedikit tersangkuk.“Iya, Sayang, ini pelan-pelan banget kok,” sahut Samudera dengan suara rendahnya. Ia menunduk sebentar, mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Seraphine yang harum. “Rambut kamu wangi banget. Aku beneran bis agila kalau tiap hari cium wangi ini.”"Kamu udah gila dari tadi," balas Seraphine datar, walau sudut bibirnya terangkat membentuk garis senyum tipis di depan cermin rias.Samudera turut terkekeh kecil, pria itu tidak mengelak. Ia justru menundukkan tubuhnya, lengan kokohnya melingkar di pinggang ramping sang istri, menumpukan dagunya di bahu Seraphine. Matanya menatap bayangan mereka di cer
Last Updated: 2026-08-30
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status