Share

Bab 3

Penulis: yourayas
last update Tanggal publikasi: 2025-12-27 15:52:18

Pagi itu, Gerald datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Gedung tinggi Mahatma Entertainment berdiri dengan angkuh di pusat Jakarta, kacanya memantulkan sinar matahari yang mengelilingi menjadi warna emas.

Gerald adalah sosok Direktur Utama yang dingin, nyaris mitologis, dan tidak pernah membuat kesalahan dalam pengambilan keputusan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa setiap kali pintu lift tertutup, Gerald harus menarik napas panjang untuk meninggalkan kerapuhannya di lantai dasar gedung itu.

Setelah meletakkan tas kerjanya di atas meja yang luas, Gerald tidak langsung membuka laptopnya. Ia menatap pemandangan Jakarta yang sibuk dari ketinggian lantai eksekutif. Tangannya merogoh saku jas, mengeluarkan selembar foto USG hitam putih yang selama ini selalu ia kunci rapat di laci apartemennya.

“Entah kamu dimana sekarang,” gumamnya lirih sambil mengusap permukaan foto yang mulai memudar itu, “tapi hari ini, Papa butuh kamu disini.”

Ia tersenyum getir pada kata 'Papa' yang ia ucapkan sendiri, sebuah identitas yang ia simpan dalam sunyi tanpa tahu apakah sang anak pernah mengucapkan kata itu. Gerald kemudian menyelipkan foto itu ke laci mejanya dan menguncinya. Bukan untuk menyembunyikannya lagi, melainkan untuk merasa bahwa keberadaan mereka nyata di sisinya hari ini.

Pukul delapan tepat, ruang rapat utama telah dipenuhi oleh para petinggi perusahaan—dari produser senior hingga kepala distribusi internasional. Mereka membahas proyeksi film baru, angka-angka pertumbuhan, dan rencana ekspansi ke pasar global. Gerald duduk di ujung meja, menjadi pusat gravitasi ruangan itu.

"Bagaimana dengan akuisisi kanal distribusi di Singapura?" tanya seorang direktur pemasaran.

"Revisi strateginya," jawab Gerald singkat tanpa keraguan. "Kita masuk ke pasar Asia Timur tahun depan. Fokus pada konten yang bisa beradaptasi secara global."

Gerald memimpin rapat dengan tangan dingin dan tatapan tajamnya. Ia adalah orang paling menggunakan logika saat di ruang rapat. Keputusannya mutlak dan berpengaruh besar terhadap kekokohan perusahaan Mahatma Entertainment yang meniadi perusahaan raksasa dengan karya yang memuaskan dan berkualitas.

Di bawah kepemimpinan Gerald, Mahatma Entertainment berkembang pesat menjadi perusahaan hiburan paling besar se-Asia Tenggara. Semua mata menyoroti bagaimana kesuksesannya, juga bagaimana kekosongan tempat di sampingnya karena semua juga tahu bahwa Nyonya Mahatma menghilang tanpa jejak.

Setelah menutup rapat dengan instruksi yang dingin, ia segera kembali ke ruang kerjanya. Di sana, Lucas sudah menunggu dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya.

"Pak Gerald," sapa Lucas dengan nada suara yang bergetar pelan.

"Masuk," perintah Gerald singkat sambil menutup pintu. Ia bisa merasakan ketegangan yang merayap di dadanya. "Langsung saja, Lucas. Apa yang kamu bawa?"

Lucas menarik napas dalam-dalam sebelum meletakkan map tebal di atas meja. "Ada perkembangan baru, Pak.".

Gerald berdiri perlahan, merasa seolah seluruh oksigen di ruangan itu mendadak hilang. "Dari mana?".

"London, Pak," jawab Lucas mantap.

Gerald memejamkan mata sesaat. London. Kota yang selama ini hanya menjadi firasat samar kini berubah menjadi titik koordinat yang nyata.

"Jelaskan detailnya," desak Gerald.

"Kami menemukan transaksi mencurigakan dengan pola tanda tangan dan kebiasaan administratif yang sangat mirip dengan Bu Elena," jelas Lucas. "Data ini muncul setelah kami menyisir jalur non-resmi seperti yayasan pendidikan, klinik swasta, dan komunitas diaspora Indonesia di Inggris.".

Gerald mencengkeram tepi mejanya hingga buku-buku jarinya memutih. "Lima tahun, Lucas. Kenapa baru sekarang?".

"Pencariannya sangat rapi, Pak. Sepertinya ada upaya untuk tetap berada di bawah radar," Lucas terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. "Dan ada satu hal lagi. Ada catatan tentang seorang anak.".

Ruangan itu terasa menyempit seketika. Gerald melangkah maju. "Usianya?".

"Sekitar empat tahun, Pak.".

Dunia Gerald seolah berhenti berputar. Lima tahun yang lalu, Elena pergi dalam kondisi hamil 16 minggu. Jika anak itu lahir, usianya akan tepat empat tahun hari ini. Angka-angka itu berputar di kepalanya, menciptakan kepastian yang menyakitkan sekaligus melegakan.

Dengan tangan gemetar, Gerald membuka laci mejanya dan mengambil foto USG yang ia bawa tadi pagi. Ia menatapnya lama. "Empat Lucas...Tepat, empat tahun," bisiknya.

Lucas yang melihat foto itu untuk pertama kalinya tampak terkejut. Ia akhirnya menyadari rahasia besar yang dipikul bosnya sendirian selama ini. "Pak... kenapa Bapak tidak pernah memberitahu saya?"

"Tidak sekarang, Lucas," potong Gerald tegas namun suaranya terdengar rapuh. Ia berjalan menuju jendela, membelakangi Lucas. "Seberapa kuat jejak ini?"

"Cukup kuat untuk meyakinkan kita bahwa Bu Elena tidak menghilang tanpa arah," jawab Lucas.

Gerald tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Tentu saja. Dia tidak pernah melakukan apa pun tanpa tujuan.". Ia menatap pantulan dirinya di kaca—seorang pria yang tampak sukses namun hancur di dalam. "Siapkan semuanya. Aku mau detail lengkapnya. Nama, tempat, jam kegiatannya. Jangan sampai ada yang terlewat."

"Baik, Pak," Lucas berbalik pergi, namun ia ragu sejenak di ambang pintu. "Pak Gerald, jika ini benar... apa yang akan Bapak lakukan?".

Gerald tidak langsung menjawab. Ia mengambil foto USG itu dan menyelipkannya ke saku jasnya, tepat di atas jantungnya. "Aku akan memastikan mereka tahu bahwa aku tidak pernah sedetik pun berhenti menunggu mereka."

Pintu tertutup. Gerald kembali duduk, merasakan beban harapan yang kini terasa berbahaya sekaligus menyelamatkan. London bukan lagi sekadar nama kota; itu adalah arah hidupnya yang baru

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 6

    London pagi itu dibungkus langit kelabu yang lembut. Udara dingin menempel di kulit, membawa aroma hujan tipis yang turun semalam. Di depan gedung galeri seni tua di kawasan South Kensington, Gerald Aiden Mahatma berdiri layaknya bayangan yang tak terlihat.Ia mengenakan mantel wol gelap dan topi yang ditarik rendah. Di balik mantel itu, ia mengenakan kemeja putih yang sudah lama tidak ia sentuh—kemeja yang dulu dibelikan Elena di sebuah butik di Jakarta. Ia ingat betul bagaimana jemari Elena merapikan kerahnya saat itu, sebuah sentuhan kecil yang dulu ia abaikan, namun kini ia rindukan setengah mati."Pak Gerald, donasi sudah ditransfer," suara Lucas terdengar melalui earpiece kecil di telinganya. "Tanpa nama. Persis seperti yang Bapak minta. Pihak penyelenggara sangat terkejut dengan jumlahnya.""Bagus," jawab Gerald pendek, suaranya parau. "Pastikan tidak ada jejak namaku di sana. Aku tidak ingin dia merasa terancam.""Baik, Pak. Saya akan terus memantau dari sini."Gerald mematika

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 5

    Di tengah kerumunan Bandara Sokerano-Hatta pada pukul tiga dini hari, Gerald berdiri tegak di tengah-tengahnya. Mengenakan jas wol berwarna gelap yang pas di tubuhnya, ia berusaha untuk tetap tenang meskipun degup jantungnya berdetak tak karuan.Ia hanya membawa satu koper kecil dan sat utas kerja. Namun, beban berat yang sesungguhnya ada pada saku bagian dalam jasnya, tepat di atas jantungnya: foto USG yang sudah mulai rapuh."Pak Gerald, semua dokumen sudah siap di dalam folder ini," suara Lucas memecah lamunannya. Sekretaris setianya itu berdiri di sampingnya, memegang map kulit.Gerald menoleh sedikit, mengangguk pelan. "Terima kasih, Lucas. Kamu sudah memastikan reservasi hotel di London?""Sudah, Pak. The Savoy. Lokasinya hanya sepuluh menit dari tempat charity gala itu diadakan. Mobil jemputan juga akan menunggu Bapak di Heathrow," jawab Lucas dengan presisi yang biasa. Namun, ia tidak segera beranjak. Matanya menatap Gerald dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pak... apakah B

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 4

    Dalam hidup manusia, ada hari-hari di mana dunia terasa acuh dan menyebalkan, seolah-olah semesta sedang berkomplot untuk menguji batas kesabaran kita. Namun, ada pula hari-hari langka ketika dunia seolah berhenti sejenak dari porosnya, menoleh ke arah kita, berpihak, dan akhirnya memutuskan untuk membantu setelah sekian lama mengabaikan doa-doa yang dipanjatkan dalam sunyi.Bagi Gerald Aiden Mahatma, hari ini adalah jenis hari yang kedua.Cahaya sore yang keemasan menerobos masuk melalui dinding kaca ruang kerjanya yang luas di lantai eksekutif Mahatma Entertainment. Di luar sana, Jakarta masih menderu dengan kebisingan yang akrab—suara klakson, deru mesin, dan ribuan orang yang bergegas mengejar tenggat waktu. Di koridor kantor, suara langkah kaki para eksekutif yang bekerja di bawah kendali tangannya terdengar sibuk, memberikan performa terbaik mereka untuk sang Direktur Utama yang tak kenal kompromi.Namun, di dalam ruangan itu, waktu seolah melambat, memberikan ruang bagi Gerald

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 3

    Pagi itu, Gerald datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Gedung tinggi Mahatma Entertainment berdiri dengan angkuh di pusat Jakarta, kacanya memantulkan sinar matahari yang mengelilingi menjadi warna emas.Gerald adalah sosok Direktur Utama yang dingin, nyaris mitologis, dan tidak pernah membuat kesalahan dalam pengambilan keputusan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa setiap kali pintu lift tertutup, Gerald harus menarik napas panjang untuk meninggalkan kerapuhannya di lantai dasar gedung itu.Setelah meletakkan tas kerjanya di atas meja yang luas, Gerald tidak langsung membuka laptopnya. Ia menatap pemandangan Jakarta yang sibuk dari ketinggian lantai eksekutif. Tangannya merogoh saku jas, mengeluarkan selembar foto USG hitam putih yang selama ini selalu ia kunci rapat di laci apartemennya.“Entah kamu dimana sekarang,” gumamnya lirih sambil mengusap permukaan foto yang mulai memudar itu, “tapi hari ini, Papa butuh kamu disini.”Ia tersenyum getir pada kata 'Papa' yang ia ucapkan se

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 2

    Flashback 5 Tahun Yang Lalu—Satu Minggu Setelah Elena PergiSore itu, hujan turun deras, menyisakan keheningan sekaligus kedinginan di apartemen Gerald Aiden Mahatma.Sudah satu minggu berlalu, sejak terakhir kali ia melihat Elena malam itu. Tetapi baginya, kata “pergi” masih terlalu tajam untuk diucapkan. Ia sepanjang hari meyakini bahwa Elena hanya pergi sebentar, istrinya pasti akan segera pulang. Ia seringkali terjaga hingga tengah malam, menatap ke pintu apartemen dengan penuh harapan dan doa bahwa Elena akan pulang dan tersenyum seperti biasanya. Namun, hingga kelelahan dan rasa kantuk menumbangkan Gerald, Elena tidak kunjung pulang.Apartemen itu masih menyimpan aroma Elena di setiap sudutnya. Jaket denim favoritnya masih tergantung lemas di dekat pintu masuk. Sepatu-sepatu hak tingginya masih tersusun di rak bawah, seolah siap dipakai kapan saja. Gerald tidak berani menyentuh apa pun; baginya, memindahkan satu benda saja berarti mengakui bahwa Elena tidak akan pernah kembali u

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 1

    5 tahun bukan waktu yang sebentar.Bagi sebagian orang, 5 tahun adalah waktu yang berganti menjadi kehidupan baru.Ada yang berpindah tempat kerja, berpindah rumah, lulus dari perkuliahan, bahkan berganti status dari lajang menjadi berpasangan.Tapi rasanya… di lantai apartemen dua puluh tujuh itu… waktu berhenti berdetak sejak 5 tahun yang lalu.Gerald Aiden Mahatma berdiri di depan cermin dalam kamar, menatap pantulan dirinya yang tampak asing. Dia tidak lagi mengenali dirinya sendiri sejak hidup dalam kesunyian kota. Jemarinya bergerak mengikat dasi sutra berwarna biru gelap, pemberian dari orang paling dicintainya.“Lima tahun,” gumamnya pelan. “Aku masih mengikat dasi dengan cara yang sama seperti kamu waktu itu, Lena.”Ia menghela napas, menoleh pada lemari pakaian yang terbuka lebar. Di sisi kanan, deretan gaun kerja dan blus sutra milik istrinya—Elena Maheswari Atmaja masih tergantung rapi. Seolah-olah sebentar lagi Elena akan selesai mandi dan memilih salah satunya. Tidak ada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status