LOGINBAB 30: ANTARA KANTOR BARU DAN CEMBURU YANG TERSAMARKANPagi itu, suasana di galeri Elena terasa lebih sibuk dari biasanya. Kedatangan tiga lukisan dari donor anonim—yang Elena tahu persis adalah Gerald—membuat seisi galeri heboh. Sarah, asisten setianya, bolak-balik membawa berkas asuransi dan logistik dengan wajah yang sulit menyembunyikan rasa penasaran."Mbak Lena," panggil Sarah pelan saat masuk ke ruang kerja Elena yang kini semerbak aroma bunga lili. "Itu... bunga-bunganya mau dipindah ke lobi atau tetap di sini?"Elena mendongak dari katalog di tangannya. "Biarkan di sini saja, Sarah. Kalau ditaruh di lobi nanti terlalu mencolok.""Tapi Mbak, seluruh staf sudah curiga. Apalagi setelah kejadian pizza kemarin sore. Mereka bilang... Papa-nya Rafael itu benar-benar tipe alpha male yang nggak main-main kalau kasih perhatian," goda Sarah.Elena mendengus, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. "Jangan dengerin gosip. Fokus saja ke pameran minggu depan. Kita harus memastikan s
Malam di Richmond merayap pelan. Setelah Gerald pulang, rumah nomor 12 itu kembali ke ritme biasanya, namun ada sesuatu yang berbeda di udara. Rafael sudah tertidur lelap, barangkali sedang memimpikan roket yang ia gambar tadi siang, namun Elena masih terjaga. Ia duduk di meja makannya, menatap sisa-sisa piring yang sudah bersih mengkilap hasil kerja keras Gerald.Elena menarik napas panjang. Ia merasa seperti sedang berada di tengah medan perang, tapi musuhnya bukan lagi Gerald yang kasar atau arogan, melainkan Gerald yang domestik. Gerald yang mencuci piring. Gerald yang memakai celemek. Gerald yang tahu cara membuat ayam goreng yang renyah."Kamu curang, Gerald," gumam Elena pelan. "Kamu tahu persis titik lemahku adalah melihat Rafael bahagia."Ia beranjak menuju kamar Rafael, memastikan anaknya sudah berselimut dengan benar. Di bawah cahaya redup lampu tidur, stiker glow in the dark yang dipasang Gerald tempo hari bersinar lembut di langit-langit. Bintang-bintang itu seolah menjad
BAB 28: PIZZA, LILI PUTIH, DAN DINDING YANG RUNTUHLobi galeri yang biasanya dingin dan steril itu mendadak berubah suasananya. Aroma pizza yang gurih dan wangi lili putih yang manis bertabrakan di udara, menciptakan harmoni yang aneh namun entah bagaimana terasa... nyaman.Elena masih berdiri terpaku di depan meja resepsionis. Matanya menatap kotak pizza, lalu beralih ke bunga-bunga itu, dan terakhir mendarat pada wajah Gerald. Pria itu tampak santai, namun ada binar antisipasi di matanya. Sementara Rafael, si kecil yang menjadi pusat gravitasi mereka, sudah sibuk mencoba membuka kotak pizza dengan tangan mungilnya yang bersemangat."Ma, ayo makan! Rafael sudah lapar banget. Tadi di mobil perut Rafael bunyi keroncongan," rengek Rafael sambil mendongak, matanya yang bulat menatap Elena dengan penuh permohonan.Elena menghela napas panjang. Ia melirik asisten galerinya, Sarah, yang sedang berusaha menahan senyum di balik meja kerja di sudut lobi. Elena tahu, besok pagi seluruh staf ga
Setelah Jonathan pergi, keheningan di kantor Elena terasa sepuluh kali lebih berat. Ia menatap piring pasta yang masih mengepulkan uap tipis, namun perutnya terasa seperti terikat simpul. Kata-kata Jonathan terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.“Kamu selalu membatasi aku, El... Tapi buat Gerald, kamu kasih kunci cadangannya lewat Rafael.”Elena memejamkan mata, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kulitnya yang dingin. Benarkah begitu? Apakah ia sedang menggunakan Rafael sebagai tameng untuk menutupi fakta bahwa pertahanannya sendiri sedang runtuh?Ia menarik napas panjang, dan saat itulah ia menyadarinya. Aroma kemeja Gerald yang ia pakai tadi pagi seolah masih menempel di kulit lehernya, bercampur dengan parfum vanilla miliknya sendiri. Sial. Bau itu seperti pengingat konstan bahwa ia baru saja menghabiskan malam di bawah atap yang sama dengan pria yang paling ia benci sekaligus—jika ia jujur pada diri sendiri—paling ia rindukan."Fokus, Elena. Fokus," bisiknya pada d
Galeri seni di kawasan London Pusat itu biasanya menjadi tempat pelarian paling damai bagi Elena. Aroma cat minyak, keheningan ruangan yang luas, dan deretan lukisan abstrak yang tergantung rapi biasanya mampu meredam riuh di kepalanya. Namun hari ini, fokusnya hancur berkeping-keping.Elena duduk di kursi kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan daftar logistik pameran musim gugur, tapi pikirannya melayang jauh ke sebuah apartemen di Chelsea."Bagaimana bisa aku seteledor itu?"Wajah Elena memanas saat memori tadi pagi berputar otomatis di otaknya. Ia ingat betul bagaimana rasanya kulitnya bersentuhan dengan sweater abu-abu Gerald. Ia ingat bagaimana aroma maskulin itu seolah mengunci paru-parunya, membuatnya merasa aman—perasaan yang seharusnya sudah ia buang jauh-jauh sejak lima tahun lalu."Sialan kamu, Gerald," gumam Elena pelan sambil memijat pelipisnya. "Kamu pakai cara apa sampai Rafael bisa sehebat itu jadi mak comblang?"Ia menyandarkan punggung, menatap langit-langit
Cahaya matahari pagi London yang malu-malu mulai menembus celah gorden abu-abu di kamar utama apartemen Gerald. Suasananya begitu tenang, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berderu halus dan detak jantung yang saling bersahutan.Elena mengerang pelan dalam tidurnya. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa menyelimuti tubuhnya—sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan. Ia merasa sangat aman, seolah-olah seluruh beban dunia yang ia panggul di London menguap begitu saja. Secara insting, ia mengeratkan pelukannya pada 'guling' besar di depannya, menyurukkan wajahnya ke ceruk leher yang terasa sangat familiar. Aroma maskulin yang bercampur dengan sabun mandi mewah itu meresap ke indra penciumannya.Namun, perlahan-lahan kesadarannya mulai terkumpul. Tunggu sebentar. Guling ini terlalu keras. Dan guling ini... bernapas?Elena membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah kulit leher yang kecokelatan dan garis rahang yang tegas tepat di depan matanya. Ia menge
Suasana ruang makan di rumah Elena malam itu terasa mencekik. Cahaya lampu gantung yang kuning hangat seharusnya menciptakan atmosfer intim, namun bagi Gerald, setiap denting garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti genderang perang.Di satu sisi meja, Jonathan Lim duduk dengan sa
Langit London tampak cerah dengan warna jingganya di sore itu. Gerald masih duduk di balik kemudi mobilnya, beberapa meter dari gerbang sekolah Rafael. Matanya tidak lepas dari pintu kayu besar itu, namun pikirannya masih terngiang-ngiang suara lembut Elena di telepon tadi.“Iya, nanti ketemu di se
Pagi menjelang siang itu, Gerald memperhatikan penampilannya di cermin apartemennya. Merapikan kerah kemeja hitamnya—lagi-lagi, kemeja yang dulu dibelikan oleh Elena. Tanpa sadar, dalam kopernya, hampir semuanya adalah pakaian yang dipilihkan oleh Elena.Setelah percakapan telepon dengan Darius sem
Perjalanan menuju Richmond terasa sangat lambat bagi Elena, namun terasa terlalu cepat bagi Gerald. Di dalam mobil, Rafael tidak berhenti bercerita. Ia menunjukkan taman-taman yang sering ia datangi, toko es krim favoritnya, hingga menceritakan tentang kucing tetangga yang sering mampir ke halaman







