تسجيل الدخول
"Freya! Freya!"
Teriakan nyaring yang menggema dari lantai bawah membangunkannya dari tidur. Dengan enggan, gadis itu meninggalkan kamarnya untuk melihat apa yang diinginkan ibunya kali ini. Mungkin ibunya kembali ingin memintanya menjual salah satu peninggalan berharga milik mendiang kakeknya. Atau mungkin, seperti yang terus terjadi selama beberapa bulan terakhir, itu hanyalah lamaran pernikahan lain dari para bangsawan yang menganggap dirinya sebagai sasaran empuk setelah keluarganya jatuh bangkrut dan kehilangan sebagian besar pengaruh mereka di kalangan aristokrat. "Anakku, para dewa akhirnya mengabulkan doa-doa ibu," ujar sang ibu dengan senyum cerah begitu Freya memasuki ruangan. "Ada apa lagi kali ini, Ibu?" tanyanya datar sambil mengambil tempat duduk di hadapan wanita itu. "Sayangku, surat ini adalah lamaran pernikahan dari Duke Dalton." Freya langsung mengernyit. "Itu tidak masuk akal, Bu. Mungkin seseorang sedang mempermainkan kita karena mereka tahu betapa putus asanya Ibu untuk kembali diterima di kalangan bangsawan." "Tidak," bantah ibunya cepat. "Surat ini datang dengan segel resmi. Bahkan kereta yang mengantarkannya membawa lambang House Dalton. Tidak mungkin ini sebuah tipuan." Jawaban itu justru membuat kebingungan Freya semakin dalam. Duke Dalton baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Kisah cintanya dengan sahabat masa kecilnya—Lady Gresida—begitu terkenal hingga seluruh ibu kota mengetahuinya. Para bangsawan maupun rakyat biasa sama-sama membicarakan hubungan mereka dengan penuh kekaguman. Freya bahkan masih mengingat hari ketika pasangan itu berkeliling kota menggunakan kereta kuda megah setelah memperoleh restu dari keluarga kerajaan. Berdasarkan penilaiannya, sang Duke adalah seorang pria muda yang tampan dengan rambut cokelat dan pembawaan yang anggun. Namun ada satu hal yang sama sekali tidak mampu Freya pahami. Mengapa pria itu mengirimkan lamaran kepadanya? Mengapa dirinya? Mereka belum pernah bertemu secara langsung. Bahkan saat keluarganya masih berada di puncak kejayaan, mereka pun tidak pernah berbincang dalam pesta-pesta kaum bangsawan ataupun acara resmi kerajaan. Berbagai pertanyaan memenuhi benaknya sepanjang hari itu. Apakah Duke sedang mempermainkan keluarganya? Tidak. Semakin dipikirkan, semakin mustahil rasanya. Semua orang mengenal Duke Dalton sebagai pria terhormat. Ketika banyak bangsawan memelihara selir atau menghabiskan malam mereka di rumah-rumah bordil, reputasi sang Duke tetap bersih tanpa noda sedikit pun. Ia dikenal sebagai salah satu dari sedikit bangsawan yang menikah karena cinta dan tetap setia kepada wanita pilihannya. Karena alasan itu, Freya memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh. Bagaimanapun juga, ia berniat menolak lamaran tersebut. Setidaknya, itulah yang ia yakini—sampai malam itu, ketika ia mendengar suara ayah dan ibunya berbisik-bisik cukup lama di ruang kerja, jauh lebih lama dari biasanya. Freya tidak bisa menangkap kata-katanya, hanya nada suara ibunya yang naik turun antara putus asa dan berharap. Ia mencoba mengabaikannya dan memaksakan diri untuk tidur, meski pikirannya terus berputar memikirkan apa yang sedang dibicarakan kedua orang tuanya di balik pintu itu. Keesokan paginya, ketegangan semalam ternyata bukan tanpa alasan. "Freya, Ayahmu dan Ibu sudah membuat keputusan. Pernikahan ini harus segera dilangsungkan sebelum Duke berubah pikiran." Kalimat itu langsung menyambutnya saat ia tiba di ruang makan untuk sarapan. Freya menatap ibunya dengan ekspresi tidak percaya. "Apa maksud Ibu?" suaranya meninggi. "Aku tidak pernah menyetujui apa pun!" "Anakku, kau tidak mengerti." Ibunya meraih tangan Freya dengan lembut, berusaha menenangkannya. "Mungkin saja telah terjadi sesuatu antara Duke dan istrinya. Apa pun alasannya, kita harus mencapai kesepakatan secepat mungkin sebelum ia menarik kembali tawarannya," lanjutnya. "Ibu!" Freya berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser dan menimbulkan suara gesekan keras di lantai. "Ibu pernah mengatakan bahwa aku boleh memilih pasangan hidupku sendiri, sama seperti yang Ibu lakukan dahulu! Namun sekarang? Ibu justru mencoba menjualku demi mendapatkan kembali status yang telah lama hilang!" "Itu berbeda, Freya!" suara ibunya meninggi sebelum akhirnya terhenti. Nyonya Bexley menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu melanjutkan dengan nada yang jauh lebih lembut. "Keadaan kita sekarang berbeda, Frey. Dulu keluarga kita kaya, berpengaruh, dan dihormati. Namun lihatlah kondisi kita saat ini. Bangsawan lain menjadikan keluarga kita bahan tertawaan." Matanya mulai berkaca-kaca. "Tolonglah, anakku. Kau adalah satu-satunya harapan yang tersisa bagi keluarga ini." Freya tidak sanggup mendengarnya lebih lama lagi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan meninggalkan ruang makan. "Freya! Kembalilah! Kita belum selesai berbicara!" Teriakan ibunya menggema dari belakang, tetapi gadis itu mengabaikannya dan terus melangkah hingga mencapai kamarnya, lalu mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya di balik daun pintu yang tertutup rapat. Ia menghabiskan sisa hari itu di dalam kamar, menolak turun bahkan untuk makan malam. Sesekali terdengar langkah kaki ibunya berhenti di depan pintu, seolah hendak mengetuk, sebelum akhirnya menjauh lagi. Freya mengira semuanya telah berakhir dan penolakannya sudah cukup jelas—bahwa orang tuanya, cepat atau lambat, akan menyerah dan membiarkan keputusannya berdiri. Namun, dugaan Freya ternyata salah. Pagi itu belum genap sejam sejak ia terbangun ketika suara gaduh di halaman depan membuatnya bergegas mendekati jendela. "Tidak!" "Ini tidak mungkin terjadi!"Setahun setelah Freya kembali ke Kadipaten Dalton, musim semi datang lebih awal dari biasanya. Pepohonan di halaman bermekaran seolah merayakan sesuatu yang telah lama dinantikan.Para pelayan tampak lebih sibuk dari biasanya. Sementara itu, Doria, yang entah bagaimana selalu tahu kapan harus muncul, sudah duduk santai di kursi goyang dekat perapian sejak pagi, mengupas apel sambil bergumam pelan.Ryan tidak meninggalkan sisi Freya sejak fajar. Bukan karena diminta, ia terus muncul di depan pintu kamar dengan wajah yang berusaha tampak tenang, meskipun jelas gagal menyembunyikan kegelisahannya.Freya tidak memiliki cukup tenaga untuk menyuruhnya pergi.Doria melirik ke arahnya. "Tuan Duke, kalau tanganmu terus gemetar seperti itu, lebih baik keluar saja."Ryan menatap tangannya sendiri. Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat, tetapi tetap tidak beranjak.Freya tertawa kecil di sela napasnya yang berat. "Biarkan dia."Ryan tidak dapat mendengar suara itu. Namun, ia dapat melihatnya, dan it
Hal yang belum selesai itu adalah kata-kata yang belum sempat diucapkan.Dua bulan setelah kejadian itu, Duke Ryan masih menetap di penginapan bersama Freya dan Andrew. Freya tahu pria itu seharusnya sudah kembali, sebab Kadipaten Dalton membutuhkan tuannya.Urusan tanah dan pajak menunggu untuk diselesaikan, sementara ratusan pelayan menanti perintah darinya. Namun, setiap pagi, Ryan tetap duduk di meja makan dan menyeruput teh sambil memandangi Andrew yang berlarian di halaman.Tatapannya tidak pernah berubah. Khas seorang pria yang belum siap melepaskan.Freya memahaminya. Tapi, memahami bukan berarti ia mampu mengubah kenyataan. Hubungan mereka telah berakhir, setidaknya itulah yang selalu ia yakinkan kepada dirinya sendiri setiap malam sebelum tidur.Tapi suatu malam, Freya sedang duduk sendirian di balkon belakang penginapan ketika ia mendengar langkah kaki yang begitu dikenalnya. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.Ryan duduk di sampingnya tanpa mengucapk
Rasa takut adalah naluri yang menjauhkan manusia dari bahaya.Itulah sebabnya tubuh Freya gemetar, seolah memaksanya untuk berbalik dan pergi. Namun, ia tidak bisa. Ia harus berada di sini dan melakukannya, bahkan jika ini adalah hal terakhir yang ia lakukan dalam hidupnya.Freya dan Conan bersembunyi sesuai rencana. Begitu mereka cukup dekat dengan pondok tua milik penyihir itu, pintu berderit terbuka dari dalam.Rambut hitam panjang Shana menjuntai hingga menyentuh tanah. Tubuhnya mengerikan, begitu kurus hingga tampak seperti tulang yang hanya dibalut kulit. Dengan gaun hitam panjang yang dikenakannya, ia menyerupai malaikat maut yang baru bangkit dari kegelapan."Aku mencium sesuatu yang kotor, dan kini aku tahu apa itu. Keturunan si pembohong," katanya, matanya langsung tertuju pada Duke Ryan.Cara Shana bergerak tidaklah manusiawi. Tubuhnya meliuk dalam sudut-sudut yang aneh, seolah ia telah lama melupakan bagaimana caranya menjadi manusia."Aku datang untuk menawarkan apa pun y
Shana adalah penyihir yang telah menentang hukum alam. Itulah yang Doria ceritakan kepada Freya sebelum mulai menuturkan kisah-kisah yang pernah ia dengar tentang perempuan itu.Tidak ada yang tahu berapa usianya atau dari mana ia berasal. Mungkin bahkan Shana sendiri telah lupa siapa dirinya dahulu, bagaimana ia pernah hidup sebagai manusia biasa, dan bagaimana akhirnya menjadi seperti sekarang.Kabar yang beredar menyebutkan bahwa karena usianya yang amat tua, ia telah kehilangan minat terhadap segalanya. Tidak ada lagi yang berharga dan layak diperjuangkan, ia hanya menjalani hari demi hari dengan harapan samar bahwa suatu saat hidupnya akan kembali terasa menarik.Hari-hari itu menumpuk menjadi ratusan tahun. Hingga suatu hari, sesuatu yang berbeda terjadi.Ia menolong seseorang yang membutuhkan, bukan karena kebaikan hati, melainkan karena sudah lama sekali tidak menggunakan sihirnya. Sebagai ungkapan terima kasih, orang itu memberinya sekeranjang jeruk dari pohon-pohon di sekita
Berhari-hari telah berlalu sejak mereka meninggalkan Gowndale sebelum fajar hari itu. Jalan yang mereka tempuh semakin jauh dari kota, semakin dekat ke arah yang tidak pernah dijelajahi peta mana pun.Di sepanjang perjalanan itu, pikiran Freya berkali-kali melayang jauh ke belakang.Tiga setengah tahun yang lalu, ketika perjalanan ini dimulai bersama Conan, Freya tenggelam dalam lingkaran kesengsaraan yang tak berujung. Mereka terus berpindah tanpa henti, tanpa jeda untuk sekadar bernapas.Freya membenci bau penginapan yang mereka singgahi dan kasur besi yang keras serta dingin. Setiap kali mereka mulai terbiasa dengan suatu tempat, waktu untuk pergi selalu tiba lebih cepat dari yang diharapkan.Mencari jalan keluar dari kutukan Andrew jauh lebih sulit daripada yang mereka bayangkan. Tak ada tabib yang mampu menyembuhkan kutukan, sehingga satu-satunya pilihan adalah mencari para penyihir yang mungkin mengetahui sesuatu yang berguna. Sayangnya, semua penyihir yang mereka temui ternyata
Benda apa kiranya yang mengikat kutukan pada keluarga Dalton? Bagaimana mereka akan menghadapi penyihir paling kuat di Barat itu, dan mampukah mereka mengalahkannya?Begitu banyak pertanyaan yang berputar dalam benak Freya. Tapi untungnya, putranya segera membuyarkan lamunannya."Ibu, aku sudah selesai memilih. Aku membawa ini untuk Paman Conan, Tuan Ryan, dan yang lainnya," kata Andrew. Lalu ia mengeluarkan sebuah kantung kecil berisi permen merah. "Ini rasa ceri kesukaan kita. Kita makan bersama-sama ya, Bu."Freya memeluk putranya erat tanpa berkata apa pun. Andrew, putra tersayangnya, selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu.Doria, alias ibu baptis Wilson, benar. Andrew pasti akan tumbuh menjadi anak yang baik.Freya berjanji pada dirinya, setelah semua ini usai, ia akan menemukan jalan hidupnya dan Andrew agar bisa selalu bersama seperti ini.Malam itu, setelah Andrew tertidur, Freya menyelinap keluar dari kamarnya dan menuju kamar Doria, berharap bisa mendapatkan lebih bany







