Se connecter“Kamu demam?” Bella mengulurkan tangan, menyentuh kening Bianca dengan punggung jemarinya. “Atau obat yang kamu minum membuatmu bicara sembarangan? Bagaimana mungkin kamu memintaku menggantikanmu?”
Bianca menepis lembut tangan itu, lalu menggeleng lemah.
“Bella, aku sungguh-sungguh.” Air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku punya dua anak. Karena itulah, aku mohon penuhi permintaanku. Tolong gantikan aku merawat mereka.”
“Aku tahu sudah terlalu lama meninggalkan mereka. Anak-anakku pasti merindukanku. Tapi lihatlah keadaanku sekarang.” Ia berusaha menelan isakannya, tetapi suaranya justru semakin bergetar. “Aku bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri.”
Air mata akhirnya mengalir membasahi pipi Bianca yang pucat.
“Aku takut Lucian akan menceraikanku jika melihatku seperti ini. Lalu memisahkan kami. Jadi, aku memilih merahasiakan semuanya. Hanya Kak Justin yang tahu aku dirawat di sini.”
Bella terdiam. Ia bisa merasakan betapa dalam rasa sakit yang disembunyikan Bianca di balik permintaan mustahil itu. Namun, tetiba wajahnya mengeras menyadari sesuatu.
“Hanya laki-laki pengecut yang akan menceraikan istrinya dalam kondisi sakit seperti ini. Sebaiknya kamu memberitahunya, bukankah kehadiran mereka bisa membantumu cepat pulih?”
Bianca menggeleng lemah. Air mata yang mengaak sungai di pipinya semakin deras.
“Kamu tidak tahu suamiku, dia pria sukses dan mapan yang dikelilingi banyak wanita. Mendepak satu wanita tidak berguna sepertiku bukan perkara sulit baginya.”
Bella mengepalkan tangannya di atas selimut Bianca. Kenapa kedengarannya suami Bianca seperti pria arogan dan tidak punya hati?
“Bella.” Suara lemah Bianca kembali memohon dalam kerapuhan. “Aku sangat mencintai suami dan anak-anak. Aku ingin mempertahankan mereka sampai mati, tapi sekarang aku tidak berdaya. Jadi, kumohon padamu….mungkin ini akan menjadi permintaan terakhirku. Jadilah aku, berpura-puralah menjadi aku demi mereka…”
Bella terdiam cukup lama. Kebahagiaan karena mengetahui dirinya memiliki dua keponakan, kini bercampur dengan kepedihan melihat saudara kembarnya terbaring tak berdaya. Tanpa sadar, air mata Bella ikut jatuh.
Ia bukan perempuan yang mudah menangis. Selama bertahun-tahun, ia belajar menelan rasa sakit, berdiri setiap kali terjatuh, dan menghadapi masalah tanpa berharap pertolongan siapa pun.
Namun, melihat Bianca seperti ini membuat pertahanannya runtuh. Air matanya jatuh tanpa suara. Dadanya sesak berbanding terbalik dengan suasana ruangan yang mendadak senyap.
Di tengah keheningan itu, ponsel di saku celananya bergetar. Bella buru-buru menyeka air matanya sebelum berdiri.
“Maaf, aku harus menerima telepon sebentar.”
Ia melangkah keluar dari ruang rawat, lalu bersandar pada salah satu pilar di lorong rumah sakit. Nama Martha, pengasuh yang membantunya merawat anak-anak panti asuhan, tertera di layar.
“Halo, Bibi Martha?”
“Bella, kamu masih di rumah sakit?” Suara wanita paruh baya itu terdengar panik.
“Iya. Aku baru menemui dokter yang menangani Ethan. Ada apa, Bi?”
Bella masih berharap panggilan itu membawa kabar baik. Namun, nada suara Martha justru membuat firasat buruk merayap di dadanya.
“Pemilik gedung datang lagi menagih uang sewa. Ini sudah kelima kalinya, Bella. Kali ini dia membawa beberapa preman. Dia memberi kita waktu tiga hari untuk melunasi tunggakan. Kalau tidak, katanya kami akan diusir paksa!”
Bella memejamkan mata rapat-rapat.
Tiga hari.
Sementara Ethan membutuhkan operasi jantung dengan biaya ratusan juta, panti asuhannya terancam kehilangan tempat tinggal.
Rahang Bella mengeras. Digigitnya bibir bawah untuk menahan gejolak yang mengaduk dadanya. Ia bahkan tak tahu masalah mana yang harus diselesaikan lebih dahulu.
“Bella!”
Panggilan mendadak dari arah pintu membuatnya tersentak. Justin berdiri di sana dengan wajah pucat dan sorot mata penuh kecemasan.
“Ada apa?” Bella segera menjauh dari pilar.
“Kondisi Bianca memburuk. Dia kesulitan bernapas, lalu tiba-tiba pingsan!”
“Apa?”
**
Bella baru saja turun dari taksi yang membawanya ke kediaman keluarga Sinclair, keluarga suami Bianca. Ya, akhirnya ia memutuskan untuk datang setelah melalui pergumulan batin yang panjang. Tak tega melihat saudara kembarnya yang berulang kali kehilangan kesadaran dengan kondisi semakin memburuk karena begitu gigih mempertahankan pernikahan dan keluarganya, hati Bella pun luluh.
Toh, ia hanya perlu menjadi Bianca untuk sementara waktu, sampai saudara kembarnya itu benar-benar pulih dan siap kembali kepada keluarganya. Syukur-syukur, ia juga bisa membuat suami Bianca mengubah sikapnya menjadi lebih baik selama ia berada di sana.
Satu hal lagi yang membuat Bella mantap menjalani peran ini adalah Justin telah menanggung seluruh biaya rumah sakit Ethan serta kebutuhan panti asuhan sebagai kompensasi atas kepergiannya. Setidaknya, Bella bisa sedikit lega dan lebih fokus menjalankan perannya sebagai Bianca tanpa harus mencemaskan nasib anak-anak asuhnya. Terlebih, Justin juga menjanjikan uang bulanan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Bella mengerjapkan mata di balik kacamata hitamnya ketika pintu utama mansion terbuka. Beberapa pelayan telah berbaris rapi di sisi kanan dan kiri jalan yang akan dilaluinya.
“Selamat datang, Nyonya.” Seorang pria paruh baya dengan seragam berbeda dari pelayan lainnya menyambutnya sambil sedikit membungkukkan badan, diikuti para pelayan yang lain.
Bella hanya mengangguk sebelum melangkah mantap memasuki rumah mewah itu. Bahkan dalam mimpi pun, ia tak pernah membayangkan akan tinggal di tempat semegah ini.
Berbekal informasi seadanya dari Justin dan Bianca saat saudara kembarnya itu sadar, Bella berusaha keras agar tidak menunjukkan perbedaan mencolok dari Bianca yang asli.
“Tuan Sinclair menunggu Nyonya di ruang kerjanya,” lapor seorang pelayan dengan kepala tertunduk.
Pelayan itu kemudian membimbingnya menuju sebuah ruangan. Bella mengikutinya tanpa banyak bicara.
Pintu ganda itu terbuka, dan pemandangan di dalamnya seketika membuat mata Bella membelalak.
Seringai menjijikkan langsung menyambut Bella begitu ia membalikkan tubuhnya. Pria yang berdiri sangat dekat dengannya, bahkan nyaris menempel, tak lain adalah Oliver, suami Vivian.Belum sempat Bella bereaksi lebih jauh, pria itu kembali membuka mulut.“Kenapa tidak langsung mencariku kemarin? Kamu bahkan tidak menghubungiku sama sekali, Sayang?”Bola mata Bella melebar. Sayang? Mencari suami adik ipar sendiri? Apa-apaan ini?Perutnya mendadak terasa mual, seolah ada sesuatu yang hendak dimuntahkannya. Sumpah serapah sudah berdesakan di ujung lidah ketika tangan Oliver terulur untuk menyentuh bibirnya. Belum lagi tatapan penuh hasrat pria itu yang terasa begitu menjijikkan.Tangan besar Oliver nyaris menyentuh bibirnya ketika Bella bergerak cepat. Dengan refleks terlatih, ia menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya ke arah berlawanan sebelum menguncinya kuat-kuat di belakang punggung Oliver.“Akh—! Sial! Apa yang kamu lakukan, Bianca?” Oliver meringis. Tubuhnya spontan
Bella menggelengkan kepala. Namun, ia tahu dirinya tidak boleh menyerah secepat ini. Bahkan belum genap dua puluh empat jam ia menyamar menjadi Bianca, apa ia sudah harus mengibarkan bendera putih?Tidak!Bella menegakkan tubuh, lalu menggelengkan kepala kuat-kuat, seolah dengan begitu jalan penyamarannya akan menjadi lebih mudah.“Di mana Theo?” Bella berbalik menatap pelayan yang setia mendampinginya.Ia sudah bertemu Clara, salah satu anak Bianca yang terang-terangan menolaknya. Namun, ia belum melihat Theo, bayi berusia satu tahun yang dalam foto-foto Bianca terlihat begitu menggemaskan.“Di kamar bersama pengasuhnya, Nyonya.”“Antarkan aku ke kamarnya!”Tanpa memberi kesempatan kepada sang pelayan untuk menunjukkan keterkejutannya, Bella bergegas meninggalkan ruang makan. Langkah kaki mereka menggema dengan irama konstan di sepanjang lorong lantai dua kediaman keluarga Sinclair yang panjang dan mewah. Sang pelayan berjalan sigap di depan, memandunya menuju kamar Theo.“Nyonya, ma
Seluruh ruangan seolah membeku. Ketegangan menggantung di udara, membuat suasana sarapan yang semula tenang berubah menjadi kaku dan mencekam.“Kamu bicara apa, Bianca?” tegur Lucian. Suaranya terdengar rendah, tetapi ada tekanan kuat di balik setiap katanya.Semula, semua orang mengira Bella akan merasa terintimidasi. Namun, di luar dugaan, wanita itu hanya melirik Lucian selama kurang dari dua detik sebelum kembali mengarahkan pandangan pada wanita berpakaian formal yang kini menunduk dengan raut polos. Kepolosan yang dibuat-buat. Setidaknya, begitulah penilaian Bella.“Apa aku salah bicara?” tanya Bella tenang. “Bukankah memang ada orang asing di sini? Dan bukankah sarapan seharusnya menjadi waktu yang hangat bagi keluarga untuk berkumpul?”“Laura bukan orang asing!”Suara lain menyela, memotong ucapan Bella. Bukan suara Lucian, melainkan suara wanita muda yang sejak awal memandangnya dengan kebencian terang-terangan.“Dia sekretaris Kak Lucian. Kamu tidak berhak bicara seperti itu
“Nyonya, air mandinya sudah saya siapkan.”Bella mengembuskan napas lega. Seorang wanita muda berseragam pelayan berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk. Tidak ada kecanggungan ataupun keraguan dalam sikapnya. Dalam sekejap, Bella menarik kesimpulan bahwa gadis itu adalah pelayan pribadi Bianca.“Baiklah. Antar aku ke kamar.”Bella meraih map tebal berwarna hitam yang tadi diletakkan Lucian di atas meja, lalu beranjak menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti ketika menyadari tidak ada gerakan di belakangnya. Sang pelayan masih berdiri di tempat semula, seolah tidak mendengar perintahnya.“Hei, kenapa masih berdiri di sana? Apa kau tidak mendengarku?” tegur Bella seraya mengangkat sebelah tangan.“Apa, Nyonya?”Sang pelayan mengerjap bingung. Bagaimana mungkin nyonya besar yang begitu berkuasa di rumah ini meminta diantar ke kamarnya sendiri? Bukankah selama ini Nyonya Bianca selalu berjalan mendahuluinya dengan sikap angkuh, tanpa pernah memedulikan apakah dirinya mengikuti atau
“Ini dokumen perceraiannya. Silakan tandatangani agar segera bisa diproses sesuai keinginanmu.”Bella mematung di tempatnya. Gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir teh menggantung di udara. Tatapannya terpaku pada map tebal berwarna hitam di atas meja yang baru saja diletakkan oleh sebuah tangan kokoh.Napas Bella tertahan. Bahkan belum genap sehari ia berada di rumah ini, sudah mendapat kejutan berupa surat gugatan perceraian.Bella mengerjap. Pandangannya bergeser perlahan dari dokumen tebal itu, menyusuri pemilik tangan yang baru saja meletakkannya. Sepasang tangan kokoh berbalut jas hitam, kemeja putih, dan dasi yang sudah sedikit longgar. Lalu, tatapannya berhenti pada seraut wajah pria berusia 35 tahun yang juga menatapnya tanpa ekspresi. Sepasang alis tebal, tatapan elang, dan rahang kokoh. Sayang sekali, ketampanan itu tertutup oleh raut dingin dan rasa lelah yang begitu kentara.Lucian Sinclair.Tentu saja Bella mengenali pria itu. Sejak pertama kali Bianca menyodorka
“Kamu demam?” Bella mengulurkan tangan, menyentuh kening Bianca dengan punggung jemarinya. “Atau obat yang kamu minum membuatmu bicara sembarangan? Bagaimana mungkin kamu memintaku menggantikanmu?”Bianca menepis lembut tangan itu, lalu menggeleng lemah.“Bella, aku sungguh-sungguh.” Air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku punya dua anak. Karena itulah, aku mohon penuhi permintaanku. Tolong gantikan aku merawat mereka.”“Aku tahu sudah terlalu lama meninggalkan mereka. Anak-anakku pasti merindukanku. Tapi lihatlah keadaanku sekarang.” Ia berusaha menelan isakannya, tetapi suaranya justru semakin bergetar. “Aku bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri.”Air mata akhirnya mengalir membasahi pipi Bianca yang pucat.“Aku takut Lucian akan menceraikanku jika melihatku seperti ini. Lalu memisahkan kami. Jadi, aku memilih merahasiakan semuanya. Hanya Kak Justin yang tahu aku dirawat di sini.”Bella terdiam. Ia bisa merasakan betapa dalam rasa sakit yang disembunyikan Bianca di bali







