Se connecter
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, kondisi jantung anak ini semakin memburuk. Kami menyarankan agar dia segera menjalani operasi. Jika ditunda terlalu lama, risikonya akan semakin besar.”
Bella Hayes mencengkeram ujung tasnya. Tatapannya terpaku pada dokter yang duduk di seberang meja.
“Berapa biaya yang harus saya siapkan, Dokter?”
Dokter itu menyebutkan nominal yang membuat napas Bella seolah tertahan di tenggorokan.
Ratusan juta.
Jumlah yang bahkan tidak berani dibayangkan Bella dalam kondisi keuangannya sekarang.
“Apakah tidak ada cara lain?” tanyanya lirih kemudian.
“Saya mengerti kekhawatiran Anda. Namun, untuk saat ini, operasi merupakan pilihan terbaik.”
Bella mengangguk pelan, meskipun pikirannya terasa kosong. Ia mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan ruangan dengan langkah gontai.
Selama ini, ia hanya melakukan pekerjaan kasar untuk mendapatkan uang. Namun, karena beberapa waktu yang lalu bahunya cedera, Bella tidak bisa lagi mengandalkan tubuhnya untuk bekerja.
Lalu bagaimana mungkin ia mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat?
Bella mengusap wajah kasar.
Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit tanpa benar-benar memperhatikan jalan di depannya. Pikirannya dipenuhi angka-angka yang mustahil ia kumpulkan dalam waktu singkat.
Bruk!
Tubuhnya menabrak seseorang hingga langkahnya terhenti. Sebuah tangan besar sigap mencengkeram lengannya, mencegahnya terjatuh.
“Kalau berjalan, gunakan matamu.”
Suara bariton yang dingin membuat Bella mendongak. Seorang pria bertubuh tinggi dengan pakaian kasual berdiri di hadapannya. Tatapan tajamnya menyiratkan ketidaksabaran. Namun, begitu tatapannya bersirobok dengan mata Bella, mulutnya terbuka lebar. Seiring bola mata yang ikut membulat.
“Benar-benar mirip,” gumamnya tanpa sadar seolah-olah melihat hantu.
Bella mengerutkan kening. Apa maksud–
Belum sempat ia bereaksi, pria itu sudah mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya menyusuri lorong.
“Hei! Lepaskan aku!”
Pria itu tidak menggubris protesnya. Ia justru membuka pintu sebuah ruang rawat inap dan menarik Bella masuk.
“Lihat siapa yang kutemukan, Bianca!” kata pria begitu mereka berhenti di depan sebuah ranjang pasien.
Bella hendak memaki pria itu karena bersikap seenaknya. Namun, semua kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya mendadak lenyap.
Seorang wanita terbaring di atas ranjang rumah sakit. Lehernya disangga penyangga medis, kedua kakinya dibalut gips, dan beberapa bagian tubuhnya tampak sulit digerakkan. Wajahnya pucat dengan luka di pelipis yang tertutup perban. Hanya tangan kirinya yang bergerak lemah di atas selimut.
Namun, bukan kondisi wanita itu yang membuat Bella membeku.
Melainkan wajahnya.
Wajah yang sama persis dengannya. Wanita itu memiliki bentuk mata, hidung, bibir, bahkan garis rahang yang sama dengannya. Hanya rambut panjang yang tergerai di atas bantal dan kulit yang lebih cerah terawat menjadi pembeda di antara mereka.
Sementara Bella menghabiskan hidupnya di bawah terik matahari, berkelahi demi bertahan hidup, dan memangkas rambutnya pendek agar tidak mengganggu gerakannya, wanita itu tampak seperti versi dirinya yang dibesarkan dalam kehidupan berbeda.
“Bianca ...”
Nama itu terucap begitu saja dari bibir Bella. Dadanya terasa diremas oleh tangan tak kasatmata. Ia melangkah mendekati ranjang dengan kaki gemetar, seolah takut sosok di hadapannya akan menghilang jika ia bergerak terlalu cepat.
Wanita itu menoleh perlahan. Begitu melihat Bella, matanya membesar. Bibir pucatnya bergetar, lalu air mata mengalir membasahi pipinya.
“Bel ... Bella?”
Suara serak itu membuat pertahanan Bella runtuh seketika.
“Ya Tuhan, Bian!”
Bella segera meraih tangan kiri saudara kembarnya, menggenggamnya erat.
“Kenapa kamu begini?” Suara Bella bergetar. “Apa yang terjadi padamu, Bian?”
Bella melihat usaha Bianca mencoba mengangkat tangannya, tetapi gerakannya begitu terbatas. Jemarinya hanya mampu membalas genggaman Bella dengan lemah.
“Aku ... mengalami kecelakaan mobil,” jawabnya terbata-bata. “Sudah sebulan aku di sini.”
Bella menatap penyangga leher dan gips yang membungkus kaki saudara kembarnya. Matanya memanas ketika menyadari betapa banyak luka yang harus ditanggung Bianca.
“Dokter bilang apa? Kamu bisa sembuh, kan?”
Bianca tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih kepada Justin, pria yang tadi membawa Bella masuk.
Justin mengembuskan napas berat. “Cedera yang dialaminya cukup parah. Tulang leher dan kakinya mengalami kerusakan. Beberapa bagian tubuhnya masih sulit digerakkan. Dokter mengatakan pemulihannya akan membutuhkan waktu dan terapi panjang.”
Bella merasa dadanya semakin sesak.
Dahulu setelah orang tua mereka meninggal, mereka harus tinggal di panti asuhan sampai akhirnya ada sepasang suami istri kaya raya mengambil Bianca sebagai putri mereka. Bella pikir, hidup adik kembarnya akan kembali sempurna.
Ia sungguh tidak menyangka mereka kembali bertemu dalam keadaan yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya.
Tiba-tiba, Bianca terisak di hadapannya, membuat Bella langsung panik.
“K-kenapa, Bian? Ada yang sakit?”
“Bella, hidupku sudah hancur,” isak Bianca. Air mata mengalir deras di pipinya. “Jika suamiku tahu aku seperti ini, dia pasti akan menceraikanku.”
“Suami?” ucap Bella bingung. “Kamu sudah–”
“Bella ... rasanya ini sangat tidak adil, tapi bolehkah aku meminta sesuatu darimu?” Suara Bianca terdengar lemah dan semakin lirih memotong ucapan Bella.
“Katakan saja. Apa pun akan kulakukan untukmu, Bian.” Bella menggenggam tangan kiri Bianca dengan kedua tangannya. “Sebelumnya, maafkan aku karena selama ini tidak bisa menjagamu seperti yang pernah kujanjikan.”
Bella mengeratkan genggamannya, seolah ingin meyakinkan Bianca bahwa ia akan kembali menjadi pelindungnya, seperti ketika mereka masih kecil.
Keheningan mendadak menyelimuti ruang rawat itu. Bella menunggu dengan sabar, hingga akhirnya Bianca berujar:
“Selama aku sakit, tolong gantikan aku sebagai Nyonya Sinclair, Bella.”
Seringai menjijikkan langsung menyambut Bella begitu ia membalikkan tubuhnya. Pria yang berdiri sangat dekat dengannya, bahkan nyaris menempel, tak lain adalah Oliver, suami Vivian.Belum sempat Bella bereaksi lebih jauh, pria itu kembali membuka mulut.“Kenapa tidak langsung mencariku kemarin? Kamu bahkan tidak menghubungiku sama sekali, Sayang?”Bola mata Bella melebar. Sayang? Mencari suami adik ipar sendiri? Apa-apaan ini?Perutnya mendadak terasa mual, seolah ada sesuatu yang hendak dimuntahkannya. Sumpah serapah sudah berdesakan di ujung lidah ketika tangan Oliver terulur untuk menyentuh bibirnya. Belum lagi tatapan penuh hasrat pria itu yang terasa begitu menjijikkan.Tangan besar Oliver nyaris menyentuh bibirnya ketika Bella bergerak cepat. Dengan refleks terlatih, ia menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya ke arah berlawanan sebelum menguncinya kuat-kuat di belakang punggung Oliver.“Akh—! Sial! Apa yang kamu lakukan, Bianca?” Oliver meringis. Tubuhnya spontan
Bella menggelengkan kepala. Namun, ia tahu dirinya tidak boleh menyerah secepat ini. Bahkan belum genap dua puluh empat jam ia menyamar menjadi Bianca, apa ia sudah harus mengibarkan bendera putih?Tidak!Bella menegakkan tubuh, lalu menggelengkan kepala kuat-kuat, seolah dengan begitu jalan penyamarannya akan menjadi lebih mudah.“Di mana Theo?” Bella berbalik menatap pelayan yang setia mendampinginya.Ia sudah bertemu Clara, salah satu anak Bianca yang terang-terangan menolaknya. Namun, ia belum melihat Theo, bayi berusia satu tahun yang dalam foto-foto Bianca terlihat begitu menggemaskan.“Di kamar bersama pengasuhnya, Nyonya.”“Antarkan aku ke kamarnya!”Tanpa memberi kesempatan kepada sang pelayan untuk menunjukkan keterkejutannya, Bella bergegas meninggalkan ruang makan. Langkah kaki mereka menggema dengan irama konstan di sepanjang lorong lantai dua kediaman keluarga Sinclair yang panjang dan mewah. Sang pelayan berjalan sigap di depan, memandunya menuju kamar Theo.“Nyonya, ma
Seluruh ruangan seolah membeku. Ketegangan menggantung di udara, membuat suasana sarapan yang semula tenang berubah menjadi kaku dan mencekam.“Kamu bicara apa, Bianca?” tegur Lucian. Suaranya terdengar rendah, tetapi ada tekanan kuat di balik setiap katanya.Semula, semua orang mengira Bella akan merasa terintimidasi. Namun, di luar dugaan, wanita itu hanya melirik Lucian selama kurang dari dua detik sebelum kembali mengarahkan pandangan pada wanita berpakaian formal yang kini menunduk dengan raut polos. Kepolosan yang dibuat-buat. Setidaknya, begitulah penilaian Bella.“Apa aku salah bicara?” tanya Bella tenang. “Bukankah memang ada orang asing di sini? Dan bukankah sarapan seharusnya menjadi waktu yang hangat bagi keluarga untuk berkumpul?”“Laura bukan orang asing!”Suara lain menyela, memotong ucapan Bella. Bukan suara Lucian, melainkan suara wanita muda yang sejak awal memandangnya dengan kebencian terang-terangan.“Dia sekretaris Kak Lucian. Kamu tidak berhak bicara seperti itu
“Nyonya, air mandinya sudah saya siapkan.”Bella mengembuskan napas lega. Seorang wanita muda berseragam pelayan berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk. Tidak ada kecanggungan ataupun keraguan dalam sikapnya. Dalam sekejap, Bella menarik kesimpulan bahwa gadis itu adalah pelayan pribadi Bianca.“Baiklah. Antar aku ke kamar.”Bella meraih map tebal berwarna hitam yang tadi diletakkan Lucian di atas meja, lalu beranjak menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti ketika menyadari tidak ada gerakan di belakangnya. Sang pelayan masih berdiri di tempat semula, seolah tidak mendengar perintahnya.“Hei, kenapa masih berdiri di sana? Apa kau tidak mendengarku?” tegur Bella seraya mengangkat sebelah tangan.“Apa, Nyonya?”Sang pelayan mengerjap bingung. Bagaimana mungkin nyonya besar yang begitu berkuasa di rumah ini meminta diantar ke kamarnya sendiri? Bukankah selama ini Nyonya Bianca selalu berjalan mendahuluinya dengan sikap angkuh, tanpa pernah memedulikan apakah dirinya mengikuti atau
“Ini dokumen perceraiannya. Silakan tandatangani agar segera bisa diproses sesuai keinginanmu.”Bella mematung di tempatnya. Gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir teh menggantung di udara. Tatapannya terpaku pada map tebal berwarna hitam di atas meja yang baru saja diletakkan oleh sebuah tangan kokoh.Napas Bella tertahan. Bahkan belum genap sehari ia berada di rumah ini, sudah mendapat kejutan berupa surat gugatan perceraian.Bella mengerjap. Pandangannya bergeser perlahan dari dokumen tebal itu, menyusuri pemilik tangan yang baru saja meletakkannya. Sepasang tangan kokoh berbalut jas hitam, kemeja putih, dan dasi yang sudah sedikit longgar. Lalu, tatapannya berhenti pada seraut wajah pria berusia 35 tahun yang juga menatapnya tanpa ekspresi. Sepasang alis tebal, tatapan elang, dan rahang kokoh. Sayang sekali, ketampanan itu tertutup oleh raut dingin dan rasa lelah yang begitu kentara.Lucian Sinclair.Tentu saja Bella mengenali pria itu. Sejak pertama kali Bianca menyodorka
“Kamu demam?” Bella mengulurkan tangan, menyentuh kening Bianca dengan punggung jemarinya. “Atau obat yang kamu minum membuatmu bicara sembarangan? Bagaimana mungkin kamu memintaku menggantikanmu?”Bianca menepis lembut tangan itu, lalu menggeleng lemah.“Bella, aku sungguh-sungguh.” Air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku punya dua anak. Karena itulah, aku mohon penuhi permintaanku. Tolong gantikan aku merawat mereka.”“Aku tahu sudah terlalu lama meninggalkan mereka. Anak-anakku pasti merindukanku. Tapi lihatlah keadaanku sekarang.” Ia berusaha menelan isakannya, tetapi suaranya justru semakin bergetar. “Aku bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri.”Air mata akhirnya mengalir membasahi pipi Bianca yang pucat.“Aku takut Lucian akan menceraikanku jika melihatku seperti ini. Lalu memisahkan kami. Jadi, aku memilih merahasiakan semuanya. Hanya Kak Justin yang tahu aku dirawat di sini.”Bella terdiam. Ia bisa merasakan betapa dalam rasa sakit yang disembunyikan Bianca di bali







