ログイン**Bab 126: Thally dan Julius**
Ruangan itu lembap dan nyaris gelap.
Dinding kayu lapuk, dipenuhi noda hitam dan bekas air asin. Bau amis menyengat—bukan sekadar ikan, tapi campuran darah, garam, dan sesuatu yang sudah lama membusuk.
Thally duduk di kursi kayu tua. Tangan dan kakinya terikat. Tali kasar menggesek kulitnya setiap kali ia bergerak.
**Bab 126: Thally dan Julius**Ruangan itu lembap dan nyaris gelap.Dinding kayu lapuk, dipenuhi noda hitam dan bekas air asin. Bau amis menyengat—bukan sekadar ikan, tapi campuran darah, garam, dan sesuatu yang sudah lama membusuk.Thally duduk di kursi kayu tua. Tangan dan kakinya terikat. Tali kasar menggesek kulitnya setiap kali ia bergerak.Namun punggungnya tetap tegak.“Jadi… ini caramu memperlakukan putrimu sendiri… Ayah.”Nada suaranya rendah, tapi tajam.Robert berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya tegang, namun bukan ragu—lebih seperti seseorang yang menahan harga dirinya agar tidak runtuh.“Kau yang m
**Bab 125: Thally Hilang**Keributan tidak pernah benar-benar muncul di aula utama.Musik tetap mengalun. Tawa tetap terdengar. Gaun-gaun masih berkilau di bawah cahaya lampu gantung.Namun di balik itu—satu hal kecil bergerak.Yseult tidak memanggil dengan suara keras. Tidak pula menarik perhatian. Ia hanya mendekat pada kepala pelayan, berbisik singkat. Kalimatnya halus. Nyaris seperti permintaan biasa.Cukup untuk dipahami. Tidak cukup untuk menimbulkan tanya.Beberapa menit kemudian, Lady Borgia sendiri yang mendekat. Senyumnya tetap sempurna, tak berubah sedikit pun di hadapan para tamu.“Viscountess,” sapanya ringan, seolah tidak ada yang berbeda.
**Bab 124: Mirva Galina**Pagi hari.Annex, Manor Cindra.Sinar matahari masuk dari jendela tinggi. Meja makan sudah kosong—sarapan selesai beberapa saat lalu.Tidak ada yang benar-benar santai.Kevin berdiri di ujung meja.Tangannya bertumpu ringan di permukaan kayu.“Lima hari,” katanya singkat.“Kita sudah punya apa?”Tidak ada pembukaan panjang.
**Bab 123: Manor Cindra**Setelah rapat.Ruang kerja Laurent.Pintu tertutup rapat.Tidak ada pelayan. Tidak ada penjaga di dalam.Hanya mereka.Laurent berdiri di belakang mejanya. Tidak duduk.Tatapannya menyapu satu per satu.Kevin dan Ashton bersebelahan di sisi kiri.Yseult dan Thally bersandar tenang di kursi di sisi kanan.Saihan dan Safin berdiri tegak—lebih diam dari yang lai
**Bab 122: Rapat Besar Di Cindra**Pembicaraan dengan Tony masih berlanjut di ruang interogasi.“Julius tidak bodoh,” kata Tony pelan.“Belut… itu bukan sekadar metafora. Dia memang licin, Sai.”Ia menyandarkan tubuhnya. Santai—terlalu santai untuk seorang tahanan.“Kalau mau membekuknya… kau butuh cara khusus.”Saihan tidak langsung menjawab.Ia hanya menatap. Menunggu.Tony menyeringai tipis.“Kau sudah lihat sendiri, kan… penggerebekan di galeri pertaruhan itu.”
**Bab 121: Firasat Seorang Suami**Malam itu, Hugh tersentak dari tidurnya.Tubuhnya langsung tegak, napasnya terpotong seolah ada sesuatu yang menekan dadanya dari dalam. Tangannya refleks mencengkeram dada sendiri—kosong, tapi terasa sesak.Syal merah itu.Tergeletak di atas bantal, kusut, seolah baru saja ditinggalkan. Hugh meraihnya tanpa ragu, menariknya ke dada, memeluknya erat seperti satu-satunya hal yang bisa menahan dirinya tetap utuh.Bukan mimpi buruk. Tidak ada bayangan mengerikan. Tidak ada suara. Tidak ada kejadian yang bisa dijelaskan. Hanya… kecemasan yang datang tanpa alasan.Tiba-tiba. Kasar. Menyusup hingga ke tulang. Dan satu nama yang langsung memenuhi pikirannya—
**Bab 087 Rusha****Kembali ke masa kini sambungan bab 081...**Tatapan Saihan meredup sejenak, tapi ia segera membalas dengan nada tak terima. ''Apa kau sedang mengkritikku? Aku yang memimpin penyelidikan itu. Kau tahu itu, 'kan?!''
**Bab 086 Hugh dan Cavero**Angin musim dingin menyelinap masuk ke balkon istana, membawa hembusan dingin yang menusuk kulit. Langit yang cerah bertabur bintang, cahayanya memantul di atas hamparan salju yang menyelimuti taman kerajaan. Udara yang seharusnya membekukan justru
**Bab 085 Perjamuan 2**Pengumuman resmi berkumandang, menggema di seluruh aula perjamuan yang telah dipenuhi aristokrat dari seluruh penjuru Xipil."Yang Mulia Ratu Silvia dan Yang Mulia Putra Mahkota Cavero memasuki aula perjamuan."Sekejap, semua perhatian tertuju ke arah pintu utama. Pembicaraa
**Bab 084 Perjamuan**Aula istana bersinar di bawah cahaya ratusan lilin yang tergantung pada chandelier kristal raksasa. Musik gesekan biola dan dentingan piano mengalun lembut, menciptakan suasana yang tampak hangat tetapi sarat ketegangan tersembunyi. Para tamu mulai berdatangan, mengenakan paka







