LOGIN“Ah…! Uh…!” Suara-suara desahan berfrekuensi rendah masih tetap terdengar jelas, masuk ke dalam indera pendengarannya Sariska Lianor.
Meski begitu, Sariska Lianor tetap melanjutkan perjalanannya menuju lantai bawah, tempat di mana minuman dan segala macam hidangan tersedia untuk dijual belikan. Namun, sosoknya yang elegan dan luar biasa cantik membuat para pria hidung belang benar-benar terkesima melihat sosoknya yang berliku-liku ketika berjalan santai.
“Wow…! Gede banget tuh gunung kembar! Makan apa bisa segede itu! Pingin aku remas sekarang juga!”
“Ehmh…! Kalau tampilan depannya saja sudah lezat seperti ini, bokongnya pasti lebih menawan untuk dielus-elus!”
“Bueh! Tanganku gatal banget sentuh seluruh tubuhnya ini. Hei cantik, mau bermalam denganku gak? Pasti dijamin puas!”
“Cuih…! Dari sudut mana pun, wanita itu pasti yang terbaik di tempat ini. Sayangnya, harga sewanya jelas yang paling mahal! Gua lagi bokek sekarang, jadinya hanya bisa sewa wanita kelas menengah! Kayaknya gua harus lebih giat mencari nafkah, biar bisa sewa wanita secantik ini!”
“Menabung pangkal kaya, jelas perkataan pepatah lama. Yang terbaru tentunya adalah menabung pasti sukses mendapatkan wanita idaman!”
Berbagai macam kata-kata godaan tidak ada sopan santunya tersebut terus saja berdatangan setiap kali Sariska Lianor melangkahkan kakinya. Meski demikian, Sariska Lianor tidak marah sedikit pun. Wanita cantik tersebut tetap tenang dengan senyum tipis mencoba berjalan dengan elegannya.
Para wanita penghibur malam yang melihat reaksi para pelanggan mereka masing-masing teralihkan dengan kehadiran sosok Sariska Lianor jelas merasa tertekan dan iri hati melihatnya. Dalam dunia bisnis gelap wanita malam dan penghibur seperti ini, branding tetaplah menjadi solusinya.
Tanpa branding yang kuat, sulit menaikkan harga sewanya masing-masing wanita penghibur. Jangankan menaikkan harga sewa, bahkan mendapatkan pelanggan pun bisa terasa sangat sulit. Para pria hidung belang kebanyakan datang untuk benar-benar memuaskan hasratnya.
Tidak banyak pria yang benar-benar datang hanya sekadar untuk foya-foya saja. Dengan kata lain, memilih wanita penghibur yang berkualitas adalah kriteria utama para pria hidung belang ini. Tanpa mendapatkan kepuasan batin, bagaimana mungkin mereka rela mengeluarkan uang satu rupiah pun.
“Cih, wanita murahan ini lagi! Kenapa sih, selalu dia yang menjadi sorotan beberapa tahun belakangan? Padahal wajahnya biasa saja, cantik juga kagak! Apa hebatnya dia bisa menaikkan harga sewa sesuka hati, huh?!”
“Para pria memang sejatinya bodoh! Masa begitu mudahnya tergoda oleh iblis laknat tidak tahu malu itu?”
“Kalau miskin pilih aku, tapi kalau kaya pilih dia si iblis itu! Apa ini logika yang selalu dipikirkan oleh para pria hidung belang ini, hah?! Bukankah semua wanita di sini sama-sama murahan? Lantas mengapa si iblis ini saja yang dihargai mahal sedangkan yang lain jauh lebih murah nilai jualnya?”
“Muak, muak sekali aku setiap kali lihat wanita iblis ini! Ingin sekali aku robek-robek wajahnya yang penuh tipu daya itu!”
Suara-suara keluhan hati para wanita penghibur yang hanya bisa didengar oleh diri mereka sendiri berurutan bergema tanpa suara sedikit pun. Namun, tatapan dan ekspresi wajah mereka jelas terpampang tidak bersahabat ketika diarahkan kepada Sariska Lianor.
“Pria bejat dan wanita gangguan jiwa, satunya penuh hawa nafsu dan satunya penuh rasa iri dengki. Masing-masing pihak memang cocok satu sama lain!” pikir Sariska Lianor dalam hatinya diam-diam mengejek semua orang yang berkomentar atas kehadirannya, baik yang terdengar jelas ataupun yang masih gaib tersimpan rapat dalam hati.
Meski begitu, Sariska Lianor tetap memasang wajah senyuman yang ramah. Kewaspadaan juga selalu melekat dalam pikirannya. Bahaya bisa datang dari segala arah, para calon pelanggan dan rekan satu kerja, semuanya bisa merusak pondasi yang selama ini sudah dia bangun susah payah.
Sesuatu yang tidak bisa dengan ceroboh dia lepaskan begitu saja. Lagi pula, hal ini sudah menjadi pengalaman hidupnya selama lima tahun terakhir. Sejak diterima kerja saat usia 18 tahun, Sariska Lianor sekarang sudah berusia 23 tahun. Kecantikannya seolah tidak memudar sedikit pun, bahkan meningkat drastis dengan sendirinya.
Namun, kecantikan terkadang mampu mengundang bahaya yang jauh lebih besar. Sariska Lianor yang waktu itu masih awam, tentu tidak terlalu peka. Akibatnya, dia hampir dipecat karena fitnahan pelanggan yang bersengkongkol dengan rekan kerjanya sendiri.
Tak cukup sampai di sana, bahaya tidak langsung juga sering kali datang. Disentuh oleh pelanggan yang belum memesannya seringkali terjadi. Upaya mencederai dirinya juga terkadang membuatnya ketakutan sendiri.
Untungnya, tekadnya yang kuat mampu membuatnya bertahan dan melalui semua tantangan kehidupan tersebut dengan upaya sebaik mungkin. Kesal dan lelah, tentu perasaan yang tidak asing baginya. Meski begitu, Sariska Lianor tetap bertahan karena selama lima tahun ini, mencari kerja di tempat lain semakin sulit saja.
Masalahnya bukan hanya pada ijazah terakhir lagi, latar belakangnya sebagai seorang wanita penghibur jelas seringkali menghancurkan upayanya. Mencoba untuk berbisnis di bidang lainnya, Sariska Lianor selalu gagal karena memang tidak pandai sama sekali akan perkara semacam itu.
Lebih dari itu semua, biaya pengobatan ibunya terus meningkat seiring komplikasi penyakitnya yang semakin parah. Belum lagi, sang adiknya yang masih menjadi beban sampai sekarang dengan pemborosan yang sia-sia.
Alhasil, Sariska Lianor terpaksa tetap bertahan bekerja di tempat laknat tersebut. Pekerjaan yang tidak terhormat dan jauh dari kata halal. Meski begitu, Sariska Lianor terus mencoba mencari alternatif yang bisa diandalkan olehnya.
Para wanita penghibur di hadapannya dibuat tak berdaya sampai menggigit bibirnya sendiri. Di sisi lain, Pak Diwar tetap tenang menganggukkan kepalanya. “Tuan Muda memang sangat tepat sekali. Terlepas dari saran saya untuk memberikan cadangan, mereka tampaknya masih jauh dari itu. Kalau dipaksakan, hanya akan menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu nantinya!” ucap Pak Diwar tanpa ragu-ragu sedikit pun.Jarjon Daryankor memejamkan matanya sambil mengangguk sedikit. “Baiklah, kalian semua boleh kembali ke tempat duduk masing-masing! Giliran selanjutnya para wanita penghibur peringkat kedua. Kalian bisa maju ke depan!” tegas Jarjon Daryankor membuka matanya dan menatap ke arah para wanita penghibur di tempat duduk dan langsung mengabaikan para wanita penghibur peringkat satu di hadapannya tersebut.Para wanita penghibur peringkat dua seperti Bu Risma perlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya masing-masing dengan berbagai macam perasaan campur aduk. Sudah jelas kalau mereka semua merasa
Namun, dibalik semua itu, Sariska Lianor jelas yang paling panik di antara mereka semua. Pemikirannya Bu Risma ternyata tidak unik untuknya saja. Entah mengapa, Sariska Lianor juga ikut-ikutan memikirkan hal yang serupa.“Du, dua pelanggan! Siapa lagi yang kedua kalau statusnya tidak kalah dengan Tuan Muda Jarjon Daryankor itu sendiri? Mustahil kalau ada sosok lainnya di sini. Seingatku, Jarjon Daryankor adalah putra tunggal dari Kepala Keluarga Daryankor saat ini?! Dengan ini bisa dipastikan, pelanggan kedua kemungkinan besar adalah ayahnya. Urgh, apa mungkin hal ini bisa terjadi?!” pikir Sariska Lianor menjadi berantakan dengan liar dan tidak terkendali.Meski berpengalaman selama lima tahun bekerja sebagai wanita penghibur, Sariska Lianor tidak pernah berada di posisi di mana dia harus merelakan tubuhnya untuk dinikmati oleh dua orang pria bejat sekaligus. Sariska Lianor selalu menghindari hal itu dan memilih satu pelanggan setiap pemesanan layanannya di dalam satu kamar sewa.Tida
“Ehem! Jadi namamu Sariska Lianor, hmm…. Tidak diragukan lagi, namamu sudah menyiratkan betapa indahnya kamu! Kalau begitu, kamu akan dipilih menjadi kandidat utama. Silahkan kembali duduk di tempatmu sebelumnya! Setelah ini, kamu dapat langsung ikut denganku!” tegas Jarjon Daryankor tampak berusaha bersikap wibawa meski senyum dan eskpresi wajahnya sudah bisa dideteksi betapa bernafsu dia.Para wanita penghibur yang mendengar dan menyaksikan semua itu hanya bisa terdiam. Dalam hati dan pikiran, segala macam keluhan serta cacian muncul dan menumpuk di sana. Seandainya langsung diutarakan dengan berterus terang, kemungkinan akan menimbulkan Tsunami raksasa bukannya hal yang mustahil sama sekali.Bu Risma menjadi yang paling jengkel ketika mendengar Jarjon Daryankor memuji dan sekaligus memilih Sariska Lianor begitu saja menjadi yang pertama di depan banyak kandidat lainnya. “Kenapa, kenapa selalu kamu yang selangkah di depanku, Sariska Lianor?! Bagaimana bisa dunia ini adil kalau terus
Jarjon Daryankor terdiam dan tidak menjawab perkataannya Pak Diwar. Dalam keheningan tersebut, tatapan matanya seolah terikat erat dengan Sariska Lianor. Melihat hal itu, Pak Diwar yang tidak peka perlahan-lahan akhirnya paham juga. Dengan cepat, Pak Diwar segera mengingatkan.“Tuan Muda, sebaiknya Anda harus lebih bijaksana dan fokus dengan tujuan sebenarnya! Semakin bagus bibit yang digunakan, maka hasil panennya tidak akan mengkhianati prosesnya. Kalau Tuan Muda mengesampingkan wanita dengan kualitas tinggi seperti ini, bukankah kemungkinan misi kita gagal nantinya akan jauh lebih tinggi!” tegas Pak Diwar yang membuat Jarjon Daryankor mengedipkan matanya.Namun, perkataan Pak Diwar seolah belum cukup menyadarkan Jarjon Daryankor dari lamunan liarnya tersebut. “Tuan Muda, jangan lupakan betapa besar penderitaan Anda selama ini! Darbas Liankora bukan pria biasa yang bisa ditipu dengan bibit kualitas yang biasa-biasa saja. Selama wanita ini yang kita gunakan, saya merasa cukup percaya
Pak Diwar menyipitkan matanya ketika melihat sosok Sariska Lianor setelah mencoba membandingkan dengan penampilan para wanita penghibur peringkat satu lainnya. “Hmm…, tidak disangka ada wanita seindah ini. Biarpun pakaian yang dikenakan terlalu formal dan jelas kalah seksi dibandingkan yang lainnya, tapi wajah hingga postur tubuhnya bisa dipastikan berada di barisan depan yang paling unggul! Tuan Muda, bagaimana menurutmu?” ucap Pak Diwar dengan tenang.Pak Jidan hampir menggertakkan giginya ketika mendengar itu. “Dasar bajingan! Cepat sekali lirikan matanya ketika menemukan mutiara terpendam seperti Sariska Lianor! Tampaknya memang hari ini adalah hari perpisahan! Aku harus memilih antara menjadi lebih dekat dengan Tuan Muda ataukah bertahan mencoba melindungi Sariska Lianor yang belum pasti apakah nantinya mau hidup denganku!” pikir Pak Jidan semakin berat hati saja.Jarjon Daryankor dengan aneh melirik ke arah Pak Diwar. “Apakah dia memang seindah itu? Menurutmu target kita akan te
Para wanita penghibur akhirnya terdiam dan tidak lagi berebut secara terang-terangan meski masih berlomba memiliki tempat duduk di barisan terdepan.Sariska Lianor dan Bu Risma saling melirik sebentar sebelum lanjut memilih tempat duduk yang saling berseberangan. Kepercayaan diri mereka tampak tidak terukur, walaupun sebenarnya mereka berdua juga tidak terlalu percaya diri sama sekali.“Apapun yang terjadi, aku harus terpilih!” batin Bu Risma menyakinkan dirinya sendiri.Sariska Lianor memejamkan matanya sambil merenung. “Tidak ada informasi terkait selera wanita dari sosok bernama Jarjon Daryankor ini. Sudah aku cari-cari di internet sejak kemarin sampai tadi selama perjalanan, masih saja tidak menemukan seleranya! Dengan kata lain, semua tergantung dengan keberuntunganku sendiri!” batin Sariska Lianor tampak sedikit pasrah dengan keadaan.Pak Jidan menghela napasnya dengan lega. “Kalian rapikan dahulu pakaian dan segala macam riasan di wajah kalian. Maksimal penampilan terbaik kalia







