INICIAR SESIÓNGatra berjalan terseok-seok. Sikunya berdenyut setiap kali lengannya beradu dengan pakaian dan telapak tangannya masih mengeluarkan darah yang bercampur air hujan.
Ponselnya sudah tidak bisa dihidupkan lagi, layarnya retak menyilang seperti jaring laba-laba. Ia memasukkannya ke saku celana dan mulai berjalan. Menyeret kakinya mendekati toko itu.
Jalanan sangat sepi. Truk yang tadi hampir menabraknya sudah lama menghilang di ujung tikungan, seolah tidak pernah ada insiden yang hampir membuatnya kehilangan nyawa.
Gatra tidak sempat mengingat warna truk apalagi nomor polisinya. Yang ia ingat hanya suara klakson dan tubuhnya yang terguling ke aspal.
Hanya satu bangunan di ujung jalan itu yang masih menyala terang, seperti sengaja dibiarkan hidup untuk menunggu pengunjung yang mungkin akan datang.
Gatra tidak berpikir panjang. Kakinya bergerak semakin cepat ke arah cahaya itu.
Papan nama di atas pintu sudah pudar, hurufnya nyaris tak terbaca kalau bukan karena lampu kuning yang menyorot dari dalam. Gatra membaca sekilas, tidak benar-benar peduli nama tokonya apa. Yang penting ada atap, ada tempat berteduh, dan mungkin ia bisa meminjam handuk dan obat luka.
Gatra mendorong pintu. Lonceng kecil di atasnya berdenting menjadi pertanda jika ada orang yang memasuki toko.
Di dalam toko, suasananya jauh lebih hangat. Mungkin karena sejak tadi Gatra menggigil kedinginan dan basah kuyup karena hujan. Ruangan dalam toko seperti ruangan yang sudah lama tidak disentuh udara luar.
Bau kayu tua bercampur debu langsung menyergap hidungnya. Rak-rak kayu berjajar rapat, penuh benda-benda yang tidak Gatra kenali fungsinya: guci-guci berdebu, cermin berbingkai ukiran, boneka-boneka kain dengan mata kaca yang terlalu besar untuk wajah kecilnya, bahkan buku-buku yang tertumpuk di lantai hingga ada yang berjajar rapi di rak.
Gatra berdiri di ambang pintu, pakaiannya meneteskan air hujan ke lantai kayu. Ia baru saja hendak memanggil, mencari siapa pun yang menjaga toko ini, ketika sebuah suara menyahut dari balik rak paling belakang.
”Akhirnya kau datang juga.”
Gatra terlonjak kaget dan menoleh cepat. Seorang lelaki tua muncul dari balik rak, tubuhnya bungkuk, kacamatanya tebal sampai matanya tampak mengecil di baliknya.
Ia berjalan pelan, tidak terburu-buru sama sekali, padahal ada orang basah kuyup dan berdarah berdiri di depannya.
”Maaf, Pak,” kata Gatra, suaranya serak. ”Saya cuma mau numpang berteduh dan ke toilet sebentar. Motor saya mogok, terus tadi hampir ketabrak truk…”
”Aku tahu,” potong lelaki itu, tenang saja. ”Duduk dulu. Lukamu perlu dibersihkan.”
Gatra mengernyit. ”Bapak... tahu dari mana kejadian tadi?”
Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu berbalik menuju meja kasir di sudut ruangan, mengambil kotak kayu kecil berisi perban dan botol antiseptik yang tampak sudah tua tapi masih tersegel rapi.
Laki-laki tua itu meletakkan kotak itu di meja dekat Gatra. ”Duduklah. Kau bisa mengobati lukamu.”
Gatra duduk di kursi kayu yang ditunjuk. Raut wajahnya terlihat waspada. Cara laki-laki itu bicara membuat bulu kuduknya berdiri. Laki-laki itu sepertinya sudah menunggunya untuk datang.
Tapi rasa perih di sikunya lebih mendesak daripada rasa was-was itu. Jadi, Gatra diam saja sambil membersihkan lukanya.
”Bapak sendiri saja?” tanya Gatra sekadar berbasa-basi.
”Kelihatannya begitu. Kadang aku sendiri kadang tidak. Tapi setelah ini aku tidak sendiri lagi,” jawab lelaki tua itu yang membuat Gatra semakin tak mengerti.
Selesai Gatra membersihkan luka, lelaki tua itu menyodorkan handuk kecil. Gatra menyeka wajah dan rambutnya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling toko.
Semua benda yang ada di toko itu sangat unik. Banyak barang yang baru sekali itu Gatra lihat. Meskipun kelihatan tua dan antik tapi barang-barangnya tersusun rapi.
Gatra melihat sebuah cermin besar berdiri di sudut ruangan, permukaannya buram meski tidak berdebu. Gatra menatapnya sebentar, lalu buru-buru memalingkan muka karena semakin lama dilihat cermin itu terlihat menyeramkan.
”Toko apa ini, Pak?” tanyanya.
”Toko barang antik,” jawab lelaki tua itu, ”tapi bukan sembarang antik.”
Gatra menunggu penjelasan lebih lanjut, tapi lelaki tua itu hanya berjalan kembali ke meja kasir dan duduk di sana, memperhatikan Gatra dengan tatapan yang membuatnya tidak nyaman. Seperti sedang menilai Gatra.
”Saya numpang ke toilet dulu, boleh, Pak?” tanya Gatra akhirnya.
Laki-laki tua itu menunjuk ke arah lorong sempit di belakang rak-rak paling ujung.
”Lewat sana. Sampai ke ujung lalu belok kiri.”
Gatra berdiri dan berjalan ke arah yang ditunjuk. Begitu memasuki lorong, lampu di dalam toko yang tadi terang benderang makin lama makin suram. Lorong ini hanya diterangi satu bohlam kecil yang berkedip tidak stabil, membuat bayangan rak di kiri kanan lorong bergoyang meliuk-liuk.
Gatra mempercepat langkah. Lantai kayu berderit setiap kali diinjak, suaranya lebih keras dari yang seharusnya saat ia menginjaknya di lorong sesempit itu.
Tanpa sadar telinga Gatra menangkap suara gemerisik dari balik rak sebelah kanan.
Gatra berhenti. Ia menoleh, tapi tak melihat apa-apa selain tumpukan kertas lusuh dan kotak-kotak kayu yang tersusun memenuhi rak. Mungkin tikus, pikirnya. Toko tua begini pasti banyak tikus.
Ia melanjutkan langkah, tapi suara itu muncul lagi, kali ini lebih dekat, disertai sesuatu yang lebih halus seperti suara bisikan. Bukan kata-kata yang jelas, hanya desah pelan yang seperti datang dari banyak arah sekaligus.
Gatra mempercepat langkah, tidak lagi peduli suara deritan lantai. Jantungnya mulai berdebar lebih cepat dari biasanya. Lorong itu makin lama makin seram.
Gatra terus meyakinkan dirinya sendiri dalam hati. Suara itu pasti tikus, atau serangga, atau angin yang masuk lewat celah dinding.
Ketika ia hampir sampai di ujung lorong, sesuatu menyentuh pergelangan kakinya. Hanya sapuan ringan, tapi membuat Gatra hampir menjerit kaget. Gatra tidak menunggu untuk memastikan. Ia refleks berlari menyusuri lorong. Sampai di ujung ia belok ke kiri seperti yang diarahkan penjaga toko dan mendorong pintu toilet dengan kasar.
Di dalam toilet, ia berdiri membelakangi pintu, napasnya memburu. Ia menyalakan keran dan membasuh wajahnya berkali-kali, mencoba menenangkan diri.
Ini cuma toko tua, katanya dalam hati. Toko tua yang berdebu, penuh tikus, dan pemiliknya aneh. Itu saja.
Setelah merasa cukup tenang, ia mematikan keran dan keluar. Lorong sudah kembali sunyi, hanya deritan lantai di bawah sepatunya yang terdengar. Gatra berjalan cepat, tidak menoleh ke kanan atau kiri, sampai akhirnya kembali ke ruang toko utama.
Ruangan itu masih terang seperti tadi. Tapi penjaganya tidak ada di meja kasir.
Gatra mengedarkan pandangan, sedikit lega karena hujan sepertinya sudah mulai reda. Suara guntur juga sudah tak menggila seperti tadi. Ia memutuskan sudah cukup lama berteduh. Lebih baik segera pulang sebelum hal-hal aneh di toko ini semakin membuatnya tidak nyaman.
”Pak, saya duluan ya, terima kasih boleh menumpang berteduh” katanya setengah berteriak, berharap laki-laki tua itu mendengar dari mana pun ia berada.
Namun, tidak ada jawaban. Gatra menunggu sebentar, lalu memutuskan untuk berjalan ke pintu depan saja. Toh ia hanya numpang berteduh, tidak perlu berpamitan formal pada orang asing.
Ia mendorong pintu kayu itu terbuka. Lonceng kecil berdenting lagi. Udara malam yang lembap langsung menerpa wajahnya. Udara malam yang dingin, tapi jauh lebih normal dibanding udara di dalam toko.
Gatra melangkah keluar, menghirup napas panjang seolah baru saja lolos dari sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia merapikan jaketnya yang masih basah, bersiap berjalan menuju halte yang tadi menjadi tujuan awalnya.
Baru dua langkah, ia berhenti mendadak.
Laki-laki tua itu berdiri tepat di depannya, di luar toko, di bawah rintik hujan gerimis yang masih tersisa. Lelaki tua itu berdiri tanpa payung, tanpa jas hujan, tapi rambut putihnya sama sekali tidak terlihat basah seolah air dari langit sengaja menghindarinya.
Ia tersenyum tenang seperti sebelumnya dan berkata pelan,
”Hati-hati di jalan. Kita akan segera bertemu lagi.”
Gatra tersadar di lantai dapur, pipinya menempel pada lantai yang dingin. Kepalanya berdenyut nyeri lebih parah dari sebelumnya. Ia meraba wajahnya sendiri, memastikan ia masih hidup, masih tinggal di dunia nyata.Matanya kemudian menatap sekelilingnya dengan panik. Ingin memastikan bahwa tak ada makhluk lain yang ada di rumahnya.”Cukup,” bisiknya, lalu berteriak semakin keras. ”Cukup!”Gatra bangkit dengan terhuyung-huyung, tubuhnya gemetar. Amarah dan ketakutan bercampur jadi satu, mendorongnya untuk berteriak ke arah langit-langit, ke dinding, dan ke jendela yang tadi menampakkan sosok menyeramkan.”Aku nggak minta ini! Aku nggak mau tokonya, aku nggak kenal Uzair, aku cuma mau hidupku kembali normal!”Suaranya memantul di ruangan kosong. Tidak ada jawaban. Hanya detak jam dinding yang terdengar terlalu keras di telinganya.Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja, jarinya gemetar mengetik pesan untuk Yasser.Gatra: Apapun yang kaulakukan, hentikan. Aku nggak akan terima toko i
”Jika dalam tempo 40 hari Anda tidak mau menerima warisannya, maka akan ada hal buruk yang akan terjadi.”Kalimat itu masih menghantui Gatra ketika ia duduk sendiri di ruang tamu. Dalam empat puluh hari sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia mendengus, lalu melempar map dokumen yang ditinggalkan Yasser itu ke atas meja seolah benda itu sumber semua kesialannya hari ini.”Warisan toko barang antik,” gumamnya sambil melepas sepatu dengan kasar. ”Dari orang yang bahkan tidak pernah kutemui.”Tanpa ia sadari bulu kuduknya meremang. Hawa dingin muncul tiba-tiba dan membuat Gatra tersentak kaget. Sesaat Gatra merasa ruangan itu tak hangat seperti biasanya.Gatra lalu menuju kamar mandi, membersihkan tangan, dan mencuci mukanya. Air dingin menyentuh kulitnya, dan untuk sesaat ia merasa lega. Tapi begitu ia keluar dari kamar mandi, rasa dingin itu tidak hilang.Gatra menepuk-nepuk pipinya dengan telapak tangan. Matahari bersinar terang. Tak ada angin yang masuk melalui jendela yang terbuka.”Ane
Sudah tujuh hari setelah kejadian malam itu. Gatra bahkan nyaris melupakan kejadian itu.Hidupnya kembali ke rutinitas yang sama membosankannya seperti sebelum kecelakaan itu. Bangun, kerja, pulang, tidur. Ia bahkan sudah mulai meyakinkan diri bahwa toko tua di ujung jalan itu hanya efek syok akibat nyaris celaka.Hingga suatu pagi di akhir pekan, bel pintu rumahnya berbunyi. Gatra membuka pintu dengan handuk masih tersampir di leher.Seorang pria berpakaian rapi berdiri di depannya, membawa tas kerja kulit dan map cokelat tebal. Rambutnya disisir ke belakang, kacamatanya berbingkai tipis, dan senyum profesionalnya membuat Gatra menilai bahwa ia adalah orang penting.”Saudara Gatra?” tanya pria itu.”Iya, saya sendiri. Siapa, ya?””Nama saya Yasser. Saya pengacara.” Ia menyodorkan kartu nama. ”Boleh saya masuk sebentar? Ada urusan penting yang harus saya sampaikan.”Gatra menatap kartu nama itu, lalu menatap wajah Yasser. Gatra merasa heran. Ia tidak sedang berurusan dengan masalah hu
Gatra berjalan terseok-seok. Sikunya berdenyut setiap kali lengannya beradu dengan pakaian dan telapak tangannya masih mengeluarkan darah yang bercampur air hujan. Ponselnya sudah tidak bisa dihidupkan lagi, layarnya retak menyilang seperti jaring laba-laba. Ia memasukkannya ke saku celana dan mulai berjalan. Menyeret kakinya mendekati toko itu.Jalanan sangat sepi. Truk yang tadi hampir menabraknya sudah lama menghilang di ujung tikungan, seolah tidak pernah ada insiden yang hampir membuatnya kehilangan nyawa.Gatra tidak sempat mengingat warna truk apalagi nomor polisinya. Yang ia ingat hanya suara klakson dan tubuhnya yang terguling ke aspal.Hanya satu bangunan di ujung jalan itu yang masih menyala terang, seperti sengaja dibiarkan hidup untuk menunggu pengunjung yang mungkin akan datang.Gatra tidak berpikir panjang. Kakinya bergerak semakin cepat ke arah cahaya itu.Papan nama di atas pintu sudah pudar, hurufnya nyaris tak terbaca kalau bukan karena lampu kuning yang menyorot d
Gatra baru saja keluar dari gang sempit menuju jalan raya ketika bemper motornya menyerempet bagian belakang mobil sedan hitam.Bukan kecelakaan besar, hanya sedikit tersenggol. Tapi pengemudi mobil itu langsung berhenti mendadak dan turun dengan wajah merah padam.”Kamu nggak lihat apa gimana?!””Maaf, Pak. Saya nggak sengaja.””Nggak sengaja gimana? Lihat nih catnya!” Pria itu menunjuk goresan yang sebenarnya nyaris tak terlihat. ”Kamu tahu ini mobil baru?”Gatra melirik jam tangannya. Tujuh lewat empat puluh. Rapat pagi dimulai jam delapan.”Pak, saya buru-buru. Kita tukeran kontak aja, nanti saya…””Enak aja mau kabur! Kamu kira aku bego?”Sepuluh menit habis hanya untuk berdebat di pinggir jalan. Pria itu akhirnya melepaskannya dengan gerutuan panjang setelah Gatra merelakan KTP-nya dibawa laki-laki ituGatra tancap gas secepat mungkin, tapi kemacetan lalu lintas pagi itu tidak peduli kalau Gatra terlambat. Ia sampai kantor jam delapan lewat dua puluh.Pak Hardi, atasannya, sudah







