Inicio / Horor / MISTERI TOKO KERAMAT / Bab 4 — Empat Puluh Hari

Compartir

Bab 4 — Empat Puluh Hari

Autor: A. Rietha
last update Fecha de publicación: 2026-09-28 13:18:11

”Jika dalam tempo 40 hari Anda tidak mau menerima warisannya, maka akan ada hal buruk yang akan terjadi.”

Kalimat itu masih menghantui Gatra ketika ia duduk sendiri di ruang tamu. Dalam empat puluh hari sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia mendengus, lalu melempar map dokumen yang ditinggalkan Yasser itu ke atas meja seolah benda itu sumber semua kesialannya hari ini.

”Warisan toko barang antik,” gumamnya sambil melepas sepatu dengan kasar. ”Dari orang yang bahkan tidak pernah kutemui.”

Tanpa ia sadari bulu kuduknya meremang. Hawa dingin muncul tiba-tiba dan membuat Gatra tersentak kaget. Sesaat Gatra merasa ruangan itu tak hangat seperti biasanya.

Gatra lalu menuju kamar mandi, membersihkan tangan, dan mencuci mukanya. Air dingin menyentuh kulitnya, dan untuk sesaat ia merasa lega. Tapi begitu ia keluar dari kamar mandi, rasa dingin itu tidak hilang.

Gatra menepuk-nepuk pipinya dengan telapak tangan. Matahari bersinar terang. Tak ada angin yang masuk melalui jendela yang terbuka.

”Aneh,” gumamnya. Ia lalu mengabaikan hawa dingin dan merebahkan diri di kasur.

Malam itu Gatra tidak bisa tidur. Bukan karena memikirkan pekerjaan, gaji yang dipotong, atau utang ibunya. Ia terus memikirkan wajah tua Uzair yang tersenyum aneh, dan kalimat Yasser yang diucapkan dengan nada serius.

Empat puluh hari.

Gatra menggeleng, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

”Orang-orang zaman sekarang mana ada percaya kutukan,” bisiknya, seolah kalimat itu bisa mengusir rasa tidak nyaman yang melingkupi hatinya.

Pukul sebelas malam, Gatra hampir tertidur lelap. Namun, telinganya tiba-tiba mendengar ketukan di dinding.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan itu pelan tapi jelas terdengar. Gatra membuka mata, menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Ia menunggu, berharap itu hanya suara pipa air atau tetangga sebelah yang sedang memasang paku. Tapi ketukan itu datang lagi, kali ini dari sisi dinding yang berbeda.

Tok. Tok. Tok.

Gatra bangkit, menyalakan lampu, dan berdiri mematung di tengah kamar. Dinding kamarnya langsung mengarah dengan tembok luar. Tidak ada unit lain di sisi itu.

Tidak mungkin ada tetangga yang bisa mengetuk dari sana. Apalagi ia tinggal di unit rumah susun lantai tiga.

Gatra memasang telinganya baik-baik. Mencoba meyakinkan pendengarannya kalau suara ketukan itu tidak berasal dari arah yang salah. Namun, tidak ada yang terjadi ketika ia menunggu suara ketukan itu lagi. Ketukannya berhenti begitu saja.

Gatra memutuskan untuk tidak ambil pusing. Ia menyalakan televisi, membiarkan suara siaran berita malam mengisi ruangan sampai matanya benar-benar berat, dan akhirnya tertidur dengan lampu masih menyala.

Pagi harinya ia terbangun dengan leher kaku dan kepalanya pening.  Gatra merasa seperti orang yang belum tidur sama sekali. Ia memaksakan diri berangkat kerja, berharap rutinitas harian bisa membuatnya lupa pada kejadian semalam. Ia bermaksud mampir ke minimarket sebelum kerja untuk membeli obat sakit kepala

Tapi di minimarket, sesuatu yang lain terjadi lagi bahkan lebih sulit untuk dijelaskan. Seorang wanita yang Gatra kenal sebagai penghuni di lantai bawah tengah mengantre di kasir sebelahnya.

Gatra tersenyum sekilas, mencoba beramah-tamah. Namun, wanita itu hanya diam saja. Matanya menatap lurus ke jendela kaca minimarket di belakang Gatra, seolah tidak ada siapa-siapa yang berdiri di depannya.

Gatra menepis pikiran itu. Mungkin wanita itu pagi ini memang tak mau beramah-tamah dengan tetangga yang jarang berinteraksi dengannya. Gatra hanya mengangkat bahunya dan kembali mengantre di depan kasir.

Sialnya, kasir di minimarket itu malah membuatnya naik darah. Ia sengaja melewati antrean Gatra dan mendulukan pelanggan yang mengantre di belakang Gatra.

Gatra melempar bungkus obat sakit kepala ke meja kasir. Ia segera keluar dari minimarket itu sambil menyumpah-nyumpah.

Di kantor, hal serupa terulang. Rendi, rekan kerjanya yang biasanya selalu melempar candaan begitu berpapasan di lorong, kali ini lewat begitu saja tanpa menyapanya. Tidak ada candaan atau tepukan di punggung seperti biasa seolah-olah Gatra hanya bagian dari udara yang lewat begitu saja.

Gatra berdiri diam beberapa detik, menunggu Rendi berbalik dan menyadari kehadirannya. Tapi langkah kakinya terus menjauh sampai belok di ujung koridor.

Gatra menggeleng pelan, memilih untuk tidak ambil pusing. Mungkin memang cuma kebetulan. Ia terlalu lelah, terlalu banyak pikiran, sampai hal-hal kecil pun terasa aneh.

Namun, sampai siang hari rasa dingin di tubuhnya tidak juga hilang. Bahkan ketika matahari menyengat dan rekan-rekannya mengipas-ngipas wajah dengan map berkas, Gatra malah menggosok kedua lengannya sendiri, mencoba menghangatkan diri yang terasa seperti berdiri di dalam kulkas.

Ia menatap orang-orang di sekelilingnya, bertanya-tanya dalam hati mengapa tak satu pun yang bertanya kenapa wajahnya sepucat itu, padahal biasanya selalu ada yang usil menegur. Kali ini tidak ada. Semua sibuk dengan urusan masing-masing, seolah ia benar-benar tidak terlihat di antara mereka.

Gatra berusaha menghibur dirinya sendiri supaya otaknya tidak memikirkan peringatan Yasser tempo hari.

Malam berikutnya terasa lebih buruk. Ketukan itu datang lagi, kali ini lebih keras. Bukan hanya dari dinding, tapi juga dari langit-langit kamar mandinya saat ia sedang menggosok gigi. Gatra keluar dengan mulut masih berbusa pasta gigi, jantungnya berdebar kencang.

Ia duduk di tepi kasur, menatap ponselnya yang menampilkan nomor ponsel Yasser. Ia berniat mengkonfrontasi pengacara itu. Untungnya kartu nama Yasser masih ada di atas meja. Jemari Gatra melayang di atas layar. Ia masih ragu untuk menekan tombol panggil.

”Konyol,” gumamnya, lalu melempar ponsel ke kasur.

Ia tidak mau mengakui kalau ancaman itu nyata. Menelepon Yasser sama juga mengakui kalau Gatra mulai percaya dengan segala omong kosong tentang kutukan dan kejadian mistis.

Ketukan itu akhirnya berhenti. Bukannya membuat Gatra tenang, tapi kali ini digantikan oleh suara gesekan pelan, seperti sesuatu diseret di atas langit-langit kamar. Suara-suara itu membuat kamarnya makin lama makin seram.

Gatra menarik selimut sampai ke dagu, seperti anak kecil yang ketakutan pada monster di bawah ranjang. Ia tahu itu berlebihan, tapi tidak bisa menahan ketakutannya sendiri.

Keesokan paginya, Gatra bercermin sebelum berangkat kerja. Wajahnya terlihat lelah, ada lingkaran gelap di bawah matanya yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Ia menyentuh pipinya sendiri, masih terasa dingin, seperti menyentuh lapisan es.

Di perjalanan menuju kantor, ia lewat di depan toko kelontong langganan tempat biasa membeli rokok. Penjaga toko itu, yang selalu menyapanya dengan ramah setiap pagi, kali ini justru sibuk mengelap etalase tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun ketika Gatra lewat tepat di depannya.

Gatra memperlambat langkah, hampir berhenti. Ia ingin memastikan bahwa dirinya masih ada di dunia yang sama dengan orang-orang di sekitarnya. Tapi ia buru-buru menepis pikiran itu, terlalu sibuk memikirkan hal-hal aneh sampai ia jadi paranoid sendiri.

Sepanjang hari kerja, Gatra berusaha menyelesaikan pekerjaannya meski pikirannya mengembara tak tentu arah. Ia mencoba mengabaikan rekan-rekannya yang selama beberapa hari terakhir tak menyapa atau mengajaknya bicara. Ia mencoba meyakinkan diri semua ini cuma efek kurang tidur.

Malam berikutnya, Gatra terbangun jam dua pagi karena suara benda jatuh dari atas meja. Ia menyalakan lampu dan mendapati bingkai foto keluarganya, satu-satunya yang tersisa dari mendiang ayahnya, tergeletak pecah di lantai. Kacanya berhamburan di atas lantai.

Gatra berjongkok, memungut pecahan kaca dengan tangan gemetar. Tidak ada angin yang bisa menjatuhkan bingkai seberat itu dari atas meja. Gatra juga yakin kalau malam itu tidak ada gempa, tidak ada getaran apa pun malam itu.

Rasa dingin di tubuhnya semakin menjadi, menusuk sampai ke tulang meski ia sudah mengenakan jaket tebal. Ia menatap sekeliling kamarnya, merasa seperti diawasi dari sudut-sudut yang tidak bisa ia lihat.

”Ini cuma kebetulan,” ucapnya dalam hati, mencoba meyakinkan diri sendiri lebih dari siapa pun.

Tapi jauh di dalam hatinya, sebuah keraguan mulai tumbuh, keraguan yang lebih menakutkan daripada ketukan atau suara gesekan.

Bagaimana jika Yasser benar? Bagaimana jika memang ada sesuatu yang terjadi pada dirinya hanya karena ia menolak warisan toko barang antik itu. Dan waktu empat puluh hari itu bukan sekadar waktu yang diucapkan untuk menakut-nakuti orang bodoh sepertinya.

Gatra membuang pecahan kaca ke dalam tong sampah dan berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Rumahnya sunyi, hanya suara langkah kakinya sendiri yang terdengar di lantai keramik.

Saat melewati ruang tamu, matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu dari balik jendela. Gatra tinggal di rumah susun di lantai tiga. Jadi mustahil kalau ada seseorang yang berdiri di luar jendela.

Gatra membeku. Sosok itu tidak bergerak, tidak juga menghilang saat ia mengerjapkan mata. Hanya berdiri di sana, dalam gelap, seolah-olah sedang menunggu reaksi Gatra. Lalu hal yang lebih mengerikan terjadi. Bayangan itu tiba-tiba bergerak, makin lama makin dekat.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 5 — Rumah yang Terbakar

    Gatra tersadar di lantai dapur, pipinya menempel pada lantai yang dingin. Kepalanya berdenyut nyeri lebih parah dari sebelumnya. Ia meraba wajahnya sendiri, memastikan ia masih hidup, masih tinggal di dunia nyata.Matanya kemudian menatap sekelilingnya dengan panik. Ingin memastikan bahwa tak ada makhluk lain yang ada di rumahnya.”Cukup,” bisiknya, lalu berteriak semakin keras. ”Cukup!”Gatra bangkit dengan terhuyung-huyung, tubuhnya gemetar. Amarah dan ketakutan bercampur jadi satu, mendorongnya untuk berteriak ke arah langit-langit, ke dinding, dan ke jendela yang tadi menampakkan sosok menyeramkan.”Aku nggak minta ini! Aku nggak mau tokonya, aku nggak kenal Uzair, aku cuma mau hidupku kembali normal!”Suaranya memantul di ruangan kosong. Tidak ada jawaban. Hanya detak jam dinding yang terdengar terlalu keras di telinganya.Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja, jarinya gemetar mengetik pesan untuk Yasser.Gatra: Apapun yang kaulakukan, hentikan. Aku nggak akan terima toko i

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 4 — Empat Puluh Hari

    ”Jika dalam tempo 40 hari Anda tidak mau menerima warisannya, maka akan ada hal buruk yang akan terjadi.”Kalimat itu masih menghantui Gatra ketika ia duduk sendiri di ruang tamu. Dalam empat puluh hari sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia mendengus, lalu melempar map dokumen yang ditinggalkan Yasser itu ke atas meja seolah benda itu sumber semua kesialannya hari ini.”Warisan toko barang antik,” gumamnya sambil melepas sepatu dengan kasar. ”Dari orang yang bahkan tidak pernah kutemui.”Tanpa ia sadari bulu kuduknya meremang. Hawa dingin muncul tiba-tiba dan membuat Gatra tersentak kaget. Sesaat Gatra merasa ruangan itu tak hangat seperti biasanya.Gatra lalu menuju kamar mandi, membersihkan tangan, dan mencuci mukanya. Air dingin menyentuh kulitnya, dan untuk sesaat ia merasa lega. Tapi begitu ia keluar dari kamar mandi, rasa dingin itu tidak hilang.Gatra menepuk-nepuk pipinya dengan telapak tangan. Matahari bersinar terang. Tak ada angin yang masuk melalui jendela yang terbuka.”Ane

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 3 — Kedatangan Yasser

    Sudah tujuh hari setelah kejadian malam itu. Gatra bahkan nyaris melupakan kejadian itu.Hidupnya kembali ke rutinitas yang sama membosankannya seperti sebelum kecelakaan itu. Bangun, kerja, pulang, tidur. Ia bahkan sudah mulai meyakinkan diri bahwa toko tua di ujung jalan itu hanya efek syok akibat nyaris celaka.Hingga suatu pagi di akhir pekan, bel pintu rumahnya berbunyi. Gatra membuka pintu dengan handuk masih tersampir di leher.Seorang pria berpakaian rapi berdiri di depannya, membawa tas kerja kulit dan map cokelat tebal. Rambutnya disisir ke belakang, kacamatanya berbingkai tipis, dan senyum profesionalnya membuat Gatra menilai bahwa ia adalah orang penting.”Saudara Gatra?” tanya pria itu.”Iya, saya sendiri. Siapa, ya?””Nama saya Yasser. Saya pengacara.” Ia menyodorkan kartu nama. ”Boleh saya masuk sebentar? Ada urusan penting yang harus saya sampaikan.”Gatra menatap kartu nama itu, lalu menatap wajah Yasser. Gatra merasa heran. Ia tidak sedang berurusan dengan masalah hu

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 2 — Toko di Ujung Jalan

    Gatra berjalan terseok-seok. Sikunya berdenyut setiap kali lengannya beradu dengan pakaian dan telapak tangannya masih mengeluarkan darah yang bercampur air hujan. Ponselnya sudah tidak bisa dihidupkan lagi, layarnya retak menyilang seperti jaring laba-laba. Ia memasukkannya ke saku celana dan mulai berjalan. Menyeret kakinya mendekati toko itu.Jalanan sangat sepi. Truk yang tadi hampir menabraknya sudah lama menghilang di ujung tikungan, seolah tidak pernah ada insiden yang hampir membuatnya kehilangan nyawa.Gatra tidak sempat mengingat warna truk apalagi nomor polisinya. Yang ia ingat hanya suara klakson dan tubuhnya yang terguling ke aspal.Hanya satu bangunan di ujung jalan itu yang masih menyala terang, seperti sengaja dibiarkan hidup untuk menunggu pengunjung yang mungkin akan datang.Gatra tidak berpikir panjang. Kakinya bergerak semakin cepat ke arah cahaya itu.Papan nama di atas pintu sudah pudar, hurufnya nyaris tak terbaca kalau bukan karena lampu kuning yang menyorot d

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 1 — Hari yang Buruk

    Gatra baru saja keluar dari gang sempit menuju jalan raya ketika bemper motornya menyerempet bagian belakang mobil sedan hitam.Bukan kecelakaan besar, hanya sedikit tersenggol. Tapi pengemudi mobil itu langsung berhenti mendadak dan turun dengan wajah merah padam.”Kamu nggak lihat apa gimana?!””Maaf, Pak. Saya nggak sengaja.””Nggak sengaja gimana? Lihat nih catnya!” Pria itu menunjuk goresan yang sebenarnya nyaris tak terlihat. ”Kamu tahu ini mobil baru?”Gatra melirik jam tangannya. Tujuh lewat empat puluh. Rapat pagi dimulai jam delapan.”Pak, saya buru-buru. Kita tukeran kontak aja, nanti saya…””Enak aja mau kabur! Kamu kira aku bego?”Sepuluh menit habis hanya untuk berdebat di pinggir jalan. Pria itu akhirnya melepaskannya dengan gerutuan panjang setelah Gatra merelakan KTP-nya dibawa laki-laki ituGatra tancap gas secepat mungkin, tapi kemacetan lalu lintas pagi itu tidak peduli kalau Gatra terlambat. Ia sampai kantor jam delapan lewat dua puluh.Pak Hardi, atasannya, sudah

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status