Home / Horor / MISTERI TOKO KERAMAT / Bab 5 — Rumah yang Terbakar

Share

Bab 5 — Rumah yang Terbakar

Author: A. Rietha
last update publish date: 2026-09-28 13:18:48

Gatra tersadar di lantai dapur, pipinya menempel pada lantai yang dingin. Kepalanya berdenyut nyeri lebih parah dari sebelumnya. Ia meraba wajahnya sendiri, memastikan ia masih hidup, masih tinggal di dunia nyata.

Matanya kemudian menatap sekelilingnya dengan panik. Ingin memastikan bahwa tak ada makhluk lain yang ada di rumahnya.

”Cukup,” bisiknya, lalu berteriak semakin keras. ”Cukup!”

Gatra bangkit dengan terhuyung-huyung, tubuhnya gemetar. Amarah dan ketakutan bercampur jadi satu, mendorongnya untuk berteriak ke arah langit-langit, ke dinding, dan ke jendela yang tadi menampakkan sosok menyeramkan.

”Aku nggak minta ini! Aku nggak mau tokonya, aku nggak kenal Uzair, aku cuma mau hidupku kembali normal!”

Suaranya memantul di ruangan kosong. Tidak ada jawaban. Hanya detak jam dinding yang terdengar terlalu keras di telinganya.

Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja, jarinya gemetar mengetik pesan untuk Yasser.

Gatra: Apapun yang kaulakukan, hentikan. Aku nggak akan terima toko itu. Titik.

Yasser ternyata belum tidur. Tak sampai dua menit pesan balasan dari Yasser muncil.

Yasser: Bukan aku yang melakukan ini. Ini di luar kendaliku. Semakin lama kamu menolak, semakin buruk jadinya. Terimalah sebelum semua terlambat.

Gatra melempar ponselnya ke atas meja dengan geram.

”Omong kosong,” gumamnya, meski jauh di dalam hatinya sesuatu berbisik bahwa Yasser mungkin benar.

Ia butuh udara segar. Ia butuh menjauh dari rumah susun ini barang sejenak. Gatra menyambar jaketnya, mengunci pintu, dan berjalan turun ke warung kopi di ujung gang, satu-satunya tempat yang masih buka sampai larut malam.

Ia duduk di sana lebih dari satu jam, duduk di depan cangkir kopi yang sudah dingin, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanya efek kelelahan dan stres.

Ketukan tengah malam, suara-suara aneh, bahkan bayangan menyeramkan cukup untuk membuat siapa pun berhalusinasi.

Tapi jauh di dalam hati, ia tahu itu bohong. Halusinasi tidak mengetuk dinding secara berulang-ulang. Halusinasi tidak meninggalkan rasa dingin yang tidak bisa dijelaskan.

Gatra ingin lebih lama tinggal di warung kopi itu. Ia merasa lebih aman daripada di rumahnya. Namuan, melihat pemilik warung yang sudah mulai berkemas membuat Gatra harus tahu diri.

Setelah meninggalkan uang di atas meja, Gatra melangkah keluar. Kakinya melangkah gontai menyusuri trotoar.

Gatra menatap jalanan yang lengang saat melihat langit di ujung jalan terlihat berwarna kemerahan. Asap pekat terlihat bahkan aroma benda yang terbakar sudah tercium dari tempatnya berdiri.

Ia berlari lebih cepat sampai dadanya sesak. Asap pekat itu berasal dari rumah susun tempat ia tinggal.

Sesampainya di rumah susun, Gatra melihat bangunan di lantai 3 sudah diselimuti asap tebal. Para tetangga banyak yang sudah berkumpul di halaman rumah susun. Ada yang menelepon layanan darurat untuk meminta bantuan.

Gatra tercekat. Rumahnya ada di lantai 3. Melihat nyala api dan asal asap yang mengepul, Gatra memperkirakan kalau yang terbakar itu adalah rumahnya.

Kobaran api menjulur tinggi dari jendela rumahnya. Jendela yang sama tempat ia melihat sosok mengerikan. Kerumunan warga berdiri di seberang jalan, beberapa merekam dengan ponsel, beberapa lainnya berteriak mengumpati pemadam kebakaran yang belum juga tiba.

Gatra tidak bisa bergerak. Matanya menatap kobaran api yang melahap semua yang ia punya. Membakar habis tempat ia bernaung selama ini. Semuanya berubah jadi abu dalam sekejap.

Petugas keamanan kompleks menyuruh orang-orang menjauh saat bagian atap selasar mulai runtuh dengan suara gemuruh. Percikan api beterbangan ke udara malam seperti kunang-kunang yang menyala.

”Untung nggak ada orang di dalam rumah itu,” kata petugas itu sambil menatap bagian bangunan yang habis terbakar.

Gatra hanya bisa berdiri diam, tubuhnya kaku, pikirannya kosong. Ia menatap reruntuhan tempat tinggalnya yang masih menyala, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak lagi merasa marah.

Ia hanya merasa kalah.

Gatra duduk sendiri di trotoar seberang jalan. Orang-orang masih banyak yang berkumpul di halaman rumah susun Petugas pemadan kebakaran masih menjalankan tugasnya dan memastikan tak ada lagi bara api yang akan memicu kebakaran selanjutnya.

Ponsel Gatra bergetar di sakunya. Nama Yasser muncul di layar. Ia menatapnya lama sebelum akhirnya mengangkat panggilan Yasser.

”Gatra.” Suara Yasser terdengar tenang, sepertinya ia sudah menduga apa yang akan terjadi. ”Aku turut prihatin soal kebakarannya.”

”Kau tahu ini bakal terjadi?” Gatra bertanya dengan suaranya yang serak.

”Aku cuma tahu ini akan terus terjadi selama kamu menolak warisan itu,” jawab Yasser. ”Empat puluh hari itu bukan ancaman kosong, Gatra. Ini peringatan. Mau tidak mau kau harus menerima warisan itu.”

Gatra memejamkan matanya, menahan amarah yang tak bisa ia lampiaskan. Ia sudah kehilangan tempat tinggal, hampir kehilangan akal sehatnya, dan ia tidak punya tenaga lagi untuk melawan.

”Aku nggak punya tempat tinggal lain lain," kata Gatra pelan, hampir tak terdengar. ”Aku akan terima warisan itu.”

Ada jeda singkat di ujung telepon sebelum Yasser menjawab. ”Kalau begitu, aku jemput kau sekarang. Tunggu di sana.”

Mobil Yasser berhenti persis di depan trotoar tempat Gatra duduk, lampunya menyorot wajahnya yang lelah dan kotor. Gatra masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara, membiarkan tubuhnya jatuh ke jok penumpang seperti karung beras.

Sepanjang perjalanan, Yasser tidak banyak bicara. Hanya sesekali melirik lewat kaca spion, seolah memastikan Gatra masih baik-baik saja.

Mereka tiba di depan toko sebelum subuh. Bangunan tua itu berdiri sama seperti malam pertama Gatra menemukannya. Lampu di dalamnya menyala terang, seolah tidak pernah dipadamkan sejak kunjungan pertamanya.

Yasser menyerahkan seberkas dokumen dan pena. ”Tanda tangan di sini, dan semua teror akan berhenti. Kau akan menjadi pemilik sah toko ini.”

Tangan Gatra gemetar saat menggoreskan tanda tangannya. Begitu tinta terakhir menyentuh kertas, rasa dingin yang selama ini membuatnya menggigil pun berhenti. Rasa hangat pelan-pelan mulai menjalari tubuhnya.

Yasser tersenyum tipis. Ia menyerahkan sebuah kunci tua berukir dengan corak keemasan ke tangan Gatra.

Gatra menatap kunci itu di telapak tangannya, lalu menatap pintu toko di hadapannya. Ia melangkah mendekati pintu dan memutar kuncinya. Gatra kemudian mendorong pintu kayu yang berderit pelan.

”Selamat datang, pemilik baru.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 6 — Kitab Penjaga

    "Awas kepala," kata Yasser mengingatkan Gatra saat mereka melewati lorong suram toko barang antik itu.Gatra menunduk. Sebatang balok kayu melintang rendah di atas lorong, nyaris menyentuh ujung kepalanya. Lampu di langit-langit bersinar suram.Ini lorong yang sama dengan yang ia lewati tadi menuju toilet. Bedanya, Yasser tidak berbelok ke pintu toilet. Ia terus berjalan sampai ke ujung, tempat sebuah tangga besi menurun ke bawah lantai yang gelap."Mau ke mana?" tanya Gatra."Basement. Kau akan tinggal di sana." Yasser mulai turun sambil tangan kananya meraih sakelar yang ada di dekat pintu basement. Nyala lampunya tidak sesuram lorong di atas.Gatra melangkah pelan. Anak tangga yang terbuat dari besi hitam berderit keras begitu diinjak. Di bawah, Yasser kembali menekan sakelar dan sebuah bohlam kuning menyala.Ruangan di basement itu cukup besar. Di dekat tangga ada ruang santai dengan sofa tunggal berlapis beludru. Di sisi sofa ada meja katu berukir yang cukup besar. Di sisi lain a

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 5 — Rumah yang Terbakar

    Gatra tersadar di lantai dapur, pipinya menempel pada lantai yang dingin. Kepalanya berdenyut nyeri lebih parah dari sebelumnya. Ia meraba wajahnya sendiri, memastikan ia masih hidup, masih tinggal di dunia nyata.Matanya kemudian menatap sekelilingnya dengan panik. Ingin memastikan bahwa tak ada makhluk lain yang ada di rumahnya.”Cukup,” bisiknya, lalu berteriak semakin keras. ”Cukup!”Gatra bangkit dengan terhuyung-huyung, tubuhnya gemetar. Amarah dan ketakutan bercampur jadi satu, mendorongnya untuk berteriak ke arah langit-langit, ke dinding, dan ke jendela yang tadi menampakkan sosok menyeramkan.”Aku nggak minta ini! Aku nggak mau tokonya, aku nggak kenal Uzair, aku cuma mau hidupku kembali normal!”Suaranya memantul di ruangan kosong. Tidak ada jawaban. Hanya detak jam dinding yang terdengar terlalu keras di telinganya.Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja, jarinya gemetar mengetik pesan untuk Yasser.Gatra: Apapun yang kaulakukan, hentikan. Aku nggak akan terima toko i

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 4 — Empat Puluh Hari

    ”Jika dalam tempo 40 hari Anda tidak mau menerima warisannya, maka akan ada hal buruk yang akan terjadi.”Kalimat itu masih menghantui Gatra ketika ia duduk sendiri di ruang tamu. Dalam empat puluh hari sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia mendengus, lalu melempar map dokumen yang ditinggalkan Yasser itu ke atas meja seolah benda itu sumber semua kesialannya hari ini.”Warisan toko barang antik,” gumamnya sambil melepas sepatu dengan kasar. ”Dari orang yang bahkan tidak pernah kutemui.”Tanpa ia sadari bulu kuduknya meremang. Hawa dingin muncul tiba-tiba dan membuat Gatra tersentak kaget. Sesaat Gatra merasa ruangan itu tak hangat seperti biasanya.Gatra lalu menuju kamar mandi, membersihkan tangan, dan mencuci mukanya. Air dingin menyentuh kulitnya, dan untuk sesaat ia merasa lega. Tapi begitu ia keluar dari kamar mandi, rasa dingin itu tidak hilang.Gatra menepuk-nepuk pipinya dengan telapak tangan. Matahari bersinar terang. Tak ada angin yang masuk melalui jendela yang terbuka.”Ane

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 3 — Kedatangan Yasser

    Sudah tujuh hari setelah kejadian malam itu. Gatra bahkan nyaris melupakan kejadian itu.Hidupnya kembali ke rutinitas yang sama membosankannya seperti sebelum kecelakaan itu. Bangun, kerja, pulang, tidur. Ia bahkan sudah mulai meyakinkan diri bahwa toko tua di ujung jalan itu hanya efek syok akibat nyaris celaka.Hingga suatu pagi di akhir pekan, bel pintu rumahnya berbunyi. Gatra membuka pintu dengan handuk masih tersampir di leher.Seorang pria berpakaian rapi berdiri di depannya, membawa tas kerja kulit dan map cokelat tebal. Rambutnya disisir ke belakang, kacamatanya berbingkai tipis, dan senyum profesionalnya membuat Gatra menilai bahwa ia adalah orang penting.”Saudara Gatra?” tanya pria itu.”Iya, saya sendiri. Siapa, ya?””Nama saya Yasser. Saya pengacara.” Ia menyodorkan kartu nama. ”Boleh saya masuk sebentar? Ada urusan penting yang harus saya sampaikan.”Gatra menatap kartu nama itu, lalu menatap wajah Yasser. Gatra merasa heran. Ia tidak sedang berurusan dengan masalah hu

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 2 — Toko di Ujung Jalan

    Gatra berjalan terseok-seok. Sikunya berdenyut setiap kali lengannya beradu dengan pakaian dan telapak tangannya masih mengeluarkan darah yang bercampur air hujan. Ponselnya sudah tidak bisa dihidupkan lagi, layarnya retak menyilang seperti jaring laba-laba. Ia memasukkannya ke saku celana dan mulai berjalan. Menyeret kakinya mendekati toko itu.Jalanan sangat sepi. Truk yang tadi hampir menabraknya sudah lama menghilang di ujung tikungan, seolah tidak pernah ada insiden yang hampir membuatnya kehilangan nyawa.Gatra tidak sempat mengingat warna truk apalagi nomor polisinya. Yang ia ingat hanya suara klakson dan tubuhnya yang terguling ke aspal.Hanya satu bangunan di ujung jalan itu yang masih menyala terang, seperti sengaja dibiarkan hidup untuk menunggu pengunjung yang mungkin akan datang.Gatra tidak berpikir panjang. Kakinya bergerak semakin cepat ke arah cahaya itu.Papan nama di atas pintu sudah pudar, hurufnya nyaris tak terbaca kalau bukan karena lampu kuning yang menyorot d

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 1 — Hari yang Buruk

    Gatra baru saja keluar dari gang sempit menuju jalan raya ketika bemper motornya menyerempet bagian belakang mobil sedan hitam.Bukan kecelakaan besar, hanya sedikit tersenggol. Tapi pengemudi mobil itu langsung berhenti mendadak dan turun dengan wajah merah padam.”Kamu nggak lihat apa gimana?!””Maaf, Pak. Saya nggak sengaja.””Nggak sengaja gimana? Lihat nih catnya!” Pria itu menunjuk goresan yang sebenarnya nyaris tak terlihat. ”Kamu tahu ini mobil baru?”Gatra melirik jam tangannya. Tujuh lewat empat puluh. Rapat pagi dimulai jam delapan.”Pak, saya buru-buru. Kita tukeran kontak aja, nanti saya…””Enak aja mau kabur! Kamu kira aku bego?”Sepuluh menit habis hanya untuk berdebat di pinggir jalan. Pria itu akhirnya melepaskannya dengan gerutuan panjang setelah Gatra merelakan KTP-nya dibawa laki-laki ituGatra tancap gas secepat mungkin, tapi kemacetan lalu lintas pagi itu tidak peduli kalau Gatra terlambat. Ia sampai kantor jam delapan lewat dua puluh.Pak Hardi, atasannya, sudah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status