Se connecterSudah tujuh hari setelah kejadian malam itu. Gatra bahkan nyaris melupakan kejadian itu.
Hidupnya kembali ke rutinitas yang sama membosankannya seperti sebelum kecelakaan itu. Bangun, kerja, pulang, tidur. Ia bahkan sudah mulai meyakinkan diri bahwa toko tua di ujung jalan itu hanya efek syok akibat nyaris celaka.
Hingga suatu pagi di akhir pekan, bel pintu rumahnya berbunyi. Gatra membuka pintu dengan handuk masih tersampir di leher.
Seorang pria berpakaian rapi berdiri di depannya, membawa tas kerja kulit dan map cokelat tebal. Rambutnya disisir ke belakang, kacamatanya berbingkai tipis, dan senyum profesionalnya membuat Gatra menilai bahwa ia adalah orang penting.
”Saudara Gatra?” tanya pria itu.
”Iya, saya sendiri. Siapa, ya?”
”Nama saya Yasser. Saya pengacara.” Ia menyodorkan kartu nama. ”Boleh saya masuk sebentar? Ada urusan penting yang harus saya sampaikan.”
Gatra menatap kartu nama itu, lalu menatap wajah Yasser. Gatra merasa heran. Ia tidak sedang berurusan dengan masalah hukum apa pun. Jadi, untuk urusan apa sampai seorang pengacara menemuinya.
”Urusan penting apa?”
”Tentang warisan,” jawab Yasser singkat. ”Boleh saya masuk?”
Gatra menatap Yasser dengan wajah kebingungan. Warisan? Dari siapa? Ayahnya sudah tiada sejak ia SMP, dan keluarga dari pihak ibu tidak punya apa-apa selain utang.
”Warisan siapa? Mungkin Anda salah. Keluarga saya tak mungkin memberi warisan,” tukas Gatra.
Meskipun tak percaya, tapi Gatra mempersilakan Yasser masuk ke ruang tamunya yang sempit.
Yasser duduk di kursi plastik yang ada di ruang tamu. Ia membuka map cokelatnya dan meletakkan dokumen di atas meja.
”Terima kasih atas waktunya. Saya di sini mewakili almarhum klien saya, Bapak Uzair.”
”Uzair?” Gatra mengernyit. ”Saya enggak kenal nama itu.”
”Saya tahu.” Yasser mengangguk seolah sudah menduga jawaban itu. ”Tapi Bapak Uzair mengenal Anda. Beliau meninggal minggu lalu, dan sesuai surat wasiat yang beliau tinggalkan, seluruh aset beliau, termasuk sebuah toko barang antik, diwariskan kepada Anda.”
Untuk sesaat, Gatra hanya diam. Lalu ia tertawa.
Tawa yang keluar begitu saja karena otaknya menganggap kalimat barusan sebagai lelucon.
”Maaf, Pak. Ini semacam prank, ya? Kamera tersembunyi ada di mana?”
”Ini bukan lelucon, Saudara Gatra.” Yasser menyodorkan setumpuk dokumen ke arah Gatra. ”Ini surat wasiat resmi, sudah dilegalisir notaris. Ini sertifikat kepemilikan toko. Dan ini…” ia menunjuk satu lembar lagi, ”… dokumen identitas Anda yang beliau lampirkan sebagai pewaris tunggal.”
Gatra meraih lembar terakhir yang diberikan Yasser dengan malas, masih setengah yakin ini bagian dari modus penipuan. Tapi begitu matanya membaca isi kertas itu, senyum sinisnya perlahan hilang.
Nama lengkapnya tertulis di sana, benar. Tanggal lahirnya, benar. Nomor induk kependudukannya, alamat rumahnya sekarang, bahkan alamat lama sebelum ia pindah ke rumah susun ini tiga tahun lalu. Nama ibunya. Nomor telepon ibunya yang bahkan Gatra sendiri kadang lupa mengingatnya di luar kepala.
”Ini...” Gatra membalik kertas itu, mencari kesalahan, mencari celah bahwa ini semua hasil rekaan. ”Ini dari mana kalian dapat data segini lengkap?”
”Bapak Uzair yang menyusunnya sendiri sebelum beliau meninggal,” jawab Yasser tenang.
”Enggak masuk akal,” Gatra melemparkan kertas itu ke atas meja. ”Saya enggak pernah kenal orang ini seumur hidup. Kami nggak pernah kenalan. Enggak pernah kasih KTP, enggak pernah ngisi formulir apa pun pada orang bernama Uzair. Terus tiba-tiba orang ini meninggal dan mewariskan tokonya buat saya, apa nggak aneh?”
”Saya paham ini terdengar aneh,” kata Yasser. Nada suaranya tidak berubah, tetap tenang meskipun Gatra menyangkal ucapannya berkali-kali. ”Tapi begitulah adanya. Saya hanya menjalankan tugas untuk menyampaikan wasiat beliau.”
Gatra bersandar ke kursi, mencoba berpikir jernih. Ada dua kemungkinan. Pertama, ini penipuan yang entah bagaimana berhasil mengorek data pribadinya, mungkin dari kebocoran data, mungkin dari orang dalam kantor kependudukan. Kedua, semua ini benar, dan itu jauh lebih menakutkan dibanding kemungkinan pertama.
”Toko yang dimaksud,” Gatra bertanya pelan, ”Toko usang yang di ujung jalan? Yang tokonya penuh barang antik?”
Untuk pertama kalinya, raut wajah Yasser sedikit berubah. Ada senyum tipis yang menghias wajahnya. ”Jadi benar Anda sudah pernah ke toko itu dan bertemu Pak Uzair,”
”Kebetulan,” jawab Gatra, tidak ingin cerita lebih banyak soal malam hujan itu. ”Hanya numpang berteduh.”
”Kalau begitu Anda sudah tahu tempat dan isi tokonya.” Yasser mengangguk, seolah menganggap itu penjelasan yang cukup. ”Toko itu, seluruh isinya, dan bangunan di atasnya, sekarang menjadi milik Anda. Yang perlu Anda lakukan hanya menandatangani beberapa dokumen ini.”
”Enggak.” Gatra menggeleng cepat. ”Saya enggak mau tanda tangan apa-apa sebelum tahu ini semua beneran atau enggak. Toko punya orang yang saya bahkan enggak kenal namanya sampai sepuluh menit yang lalu. Kenapa ia harus mewariskan tokonya pada saya, bagaimana kalau keluarganya menuntut saya?”
Yasser diam sejenak, seperti menimbang kata-kata yang akan keluar.
”Bapak Uzair tidak memiliki keluarga. Beliau adalah orang yang sangat berhati-hati soal siapa yang akan meneruskan usahanya. Beliau pasti sudah memikirkannya matang-matang sebelum memutuskan.”
”Begitu ya? Lalu kenapa harus saya. Dia pasti kenal banyak orang yang jadi pelanggan tokonya. Saya ke tokonya pun nggak sampai setengah jam. Apa itu yang dimaksud memikirkan dengan matang?” Suara Gatra naik satu oktaf.
Pengacara itu tampaknya gigih supaya Gatra mau tanda tangan dan menerima warisan toko barang antik itu.
”Saya tidak bisa menjelaskan banyak hal,” Yasser menjawab, kali suaranya lebih tegas dari sebelumnya. ”Saya hanya menjalankan instruksi beliau.”
Jawaban itu, alih-alih menenangkan, justru membuat Gatra makin meradang. Ia menatap tumpukan kertas di meja. Surat wasiat, sertifikat, dokumen berisi seluruh hidupnya yang terangkum rapi seolah seseorang sudah menyusun berkasnya sejak bertahun-tahun lalu.
”Saya tetap enggak mau terima,” kata Gatra akhirnya, suaranya lebih tegas. ”Saya enggak butuh toko barang antik yang enggak jelas asal-usulnya. Bapak bawa aja balik semua kertas-kertas ini.”
”Saudara Gatra, Pak Uzair…”
”Cukup! Saya enggak akan mau menerimanya. Saya serius.” Gatra berdiri, memberi isyarat bahwa pertemuan ini sudah selesai.
”Kasih saja ke orang lain. Saudara jauhnya, mantan pegawainya, pelanggannya, atau siapa pun. Saya enggak kenal orangnya, enggak mau ribet ngurus warisan yang enggak jelas.”
Yasser menatapnya lama, ekspresinya wajahnya semakin kaku. Kemudian ia mengangguk pelan, mulai mengumpulkan kembali kertas-kertasnya dan memasukkannya ke dalam map, tapi dokumen itu sengaja ia tinggalkan di atas meja.
”Baik. Saya hormati keputusan Anda.”
Ia berdiri, merapikan tasnya, lalu berjalan menuju pintu. Tapi sebelum keluar, ia berhenti sejenak, tangannya terdiam di gagang pintu.
”Satu hal yang perlu saya ingatkan,” katanya, tanpa menoleh. ”Bapak Uzair meninggalkan pesan khusus, jika dalam tempo 40 hari Anda tidak mau menerima warisannya, maka akan ada hal buruk yang akan terjadi. Saya hanya menyampaikan pesan saja, mungkin Anda ada berubah pikiran.”
Lalu Yasser meninggalkan Gatra yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Gatra masih berdiri mematung beberapa detik, jantungnya masih berdebar karena percakapan terakhir itu terasa lebih seperti ancaman.
Ia menghela napas, mencoba mengusir rasa tidak nyaman yang memenuhi dadanya, lalu melangkah ke meja dan menatap map dokumen yang ditinggalkan Yasser.
Tatapan matanya lalu beralih ke lantai lantai. Tepat di bawah kursi yang barusan diduduki Yasser, selembar kertas tergeletak di sana. Mungkin jatuh tanpa disadari pengacara itu. Gatra memungutnya, mengira itu salah satu salinan dokumen wasiat yang tertinggal. Tapi ternyata bukan.
Itu foto. Fotonya sendiri, tergeletak di tepi jalan malam kecelakaan tujuh hari lalu. Tubuhnya basah kuyup, tubuh berdarah, dan ponsel pecah tergeletak tak jauh darinya.
Sudut pengambilan gambar itu persis dari arah truk yang hampir menabraknya, seolah seseorang berdiri di tempat itu dan sempat mengabadikan momen sepersekian detik sebelum ia berhasil menghindar.
Di bagian bawah foto, ditulis tangan dengan tinta merah menyala:
Empat puluh hari, terhitung dari malam ini.
Tanggalnya yang tertera sama persis dengan malam kecelakaan itu. Tujuh hari sebelum Yasser datang ke rumahnya.
"Awas kepala," kata Yasser mengingatkan Gatra saat mereka melewati lorong suram toko barang antik itu.Gatra menunduk. Sebatang balok kayu melintang rendah di atas lorong, nyaris menyentuh ujung kepalanya. Lampu di langit-langit bersinar suram.Ini lorong yang sama dengan yang ia lewati tadi menuju toilet. Bedanya, Yasser tidak berbelok ke pintu toilet. Ia terus berjalan sampai ke ujung, tempat sebuah tangga besi menurun ke bawah lantai yang gelap."Mau ke mana?" tanya Gatra."Basement. Kau akan tinggal di sana." Yasser mulai turun sambil tangan kananya meraih sakelar yang ada di dekat pintu basement. Nyala lampunya tidak sesuram lorong di atas.Gatra melangkah pelan. Anak tangga yang terbuat dari besi hitam berderit keras begitu diinjak. Di bawah, Yasser kembali menekan sakelar dan sebuah bohlam kuning menyala.Ruangan di basement itu cukup besar. Di dekat tangga ada ruang santai dengan sofa tunggal berlapis beludru. Di sisi sofa ada meja katu berukir yang cukup besar. Di sisi lain a
Gatra tersadar di lantai dapur, pipinya menempel pada lantai yang dingin. Kepalanya berdenyut nyeri lebih parah dari sebelumnya. Ia meraba wajahnya sendiri, memastikan ia masih hidup, masih tinggal di dunia nyata.Matanya kemudian menatap sekelilingnya dengan panik. Ingin memastikan bahwa tak ada makhluk lain yang ada di rumahnya.”Cukup,” bisiknya, lalu berteriak semakin keras. ”Cukup!”Gatra bangkit dengan terhuyung-huyung, tubuhnya gemetar. Amarah dan ketakutan bercampur jadi satu, mendorongnya untuk berteriak ke arah langit-langit, ke dinding, dan ke jendela yang tadi menampakkan sosok menyeramkan.”Aku nggak minta ini! Aku nggak mau tokonya, aku nggak kenal Uzair, aku cuma mau hidupku kembali normal!”Suaranya memantul di ruangan kosong. Tidak ada jawaban. Hanya detak jam dinding yang terdengar terlalu keras di telinganya.Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja, jarinya gemetar mengetik pesan untuk Yasser.Gatra: Apapun yang kaulakukan, hentikan. Aku nggak akan terima toko i
”Jika dalam tempo 40 hari Anda tidak mau menerima warisannya, maka akan ada hal buruk yang akan terjadi.”Kalimat itu masih menghantui Gatra ketika ia duduk sendiri di ruang tamu. Dalam empat puluh hari sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia mendengus, lalu melempar map dokumen yang ditinggalkan Yasser itu ke atas meja seolah benda itu sumber semua kesialannya hari ini.”Warisan toko barang antik,” gumamnya sambil melepas sepatu dengan kasar. ”Dari orang yang bahkan tidak pernah kutemui.”Tanpa ia sadari bulu kuduknya meremang. Hawa dingin muncul tiba-tiba dan membuat Gatra tersentak kaget. Sesaat Gatra merasa ruangan itu tak hangat seperti biasanya.Gatra lalu menuju kamar mandi, membersihkan tangan, dan mencuci mukanya. Air dingin menyentuh kulitnya, dan untuk sesaat ia merasa lega. Tapi begitu ia keluar dari kamar mandi, rasa dingin itu tidak hilang.Gatra menepuk-nepuk pipinya dengan telapak tangan. Matahari bersinar terang. Tak ada angin yang masuk melalui jendela yang terbuka.”Ane
Sudah tujuh hari setelah kejadian malam itu. Gatra bahkan nyaris melupakan kejadian itu.Hidupnya kembali ke rutinitas yang sama membosankannya seperti sebelum kecelakaan itu. Bangun, kerja, pulang, tidur. Ia bahkan sudah mulai meyakinkan diri bahwa toko tua di ujung jalan itu hanya efek syok akibat nyaris celaka.Hingga suatu pagi di akhir pekan, bel pintu rumahnya berbunyi. Gatra membuka pintu dengan handuk masih tersampir di leher.Seorang pria berpakaian rapi berdiri di depannya, membawa tas kerja kulit dan map cokelat tebal. Rambutnya disisir ke belakang, kacamatanya berbingkai tipis, dan senyum profesionalnya membuat Gatra menilai bahwa ia adalah orang penting.”Saudara Gatra?” tanya pria itu.”Iya, saya sendiri. Siapa, ya?””Nama saya Yasser. Saya pengacara.” Ia menyodorkan kartu nama. ”Boleh saya masuk sebentar? Ada urusan penting yang harus saya sampaikan.”Gatra menatap kartu nama itu, lalu menatap wajah Yasser. Gatra merasa heran. Ia tidak sedang berurusan dengan masalah hu
Gatra berjalan terseok-seok. Sikunya berdenyut setiap kali lengannya beradu dengan pakaian dan telapak tangannya masih mengeluarkan darah yang bercampur air hujan. Ponselnya sudah tidak bisa dihidupkan lagi, layarnya retak menyilang seperti jaring laba-laba. Ia memasukkannya ke saku celana dan mulai berjalan. Menyeret kakinya mendekati toko itu.Jalanan sangat sepi. Truk yang tadi hampir menabraknya sudah lama menghilang di ujung tikungan, seolah tidak pernah ada insiden yang hampir membuatnya kehilangan nyawa.Gatra tidak sempat mengingat warna truk apalagi nomor polisinya. Yang ia ingat hanya suara klakson dan tubuhnya yang terguling ke aspal.Hanya satu bangunan di ujung jalan itu yang masih menyala terang, seperti sengaja dibiarkan hidup untuk menunggu pengunjung yang mungkin akan datang.Gatra tidak berpikir panjang. Kakinya bergerak semakin cepat ke arah cahaya itu.Papan nama di atas pintu sudah pudar, hurufnya nyaris tak terbaca kalau bukan karena lampu kuning yang menyorot d
Gatra baru saja keluar dari gang sempit menuju jalan raya ketika bemper motornya menyerempet bagian belakang mobil sedan hitam.Bukan kecelakaan besar, hanya sedikit tersenggol. Tapi pengemudi mobil itu langsung berhenti mendadak dan turun dengan wajah merah padam.”Kamu nggak lihat apa gimana?!””Maaf, Pak. Saya nggak sengaja.””Nggak sengaja gimana? Lihat nih catnya!” Pria itu menunjuk goresan yang sebenarnya nyaris tak terlihat. ”Kamu tahu ini mobil baru?”Gatra melirik jam tangannya. Tujuh lewat empat puluh. Rapat pagi dimulai jam delapan.”Pak, saya buru-buru. Kita tukeran kontak aja, nanti saya…””Enak aja mau kabur! Kamu kira aku bego?”Sepuluh menit habis hanya untuk berdebat di pinggir jalan. Pria itu akhirnya melepaskannya dengan gerutuan panjang setelah Gatra merelakan KTP-nya dibawa laki-laki ituGatra tancap gas secepat mungkin, tapi kemacetan lalu lintas pagi itu tidak peduli kalau Gatra terlambat. Ia sampai kantor jam delapan lewat dua puluh.Pak Hardi, atasannya, sudah