MY BOYFRIEND'S GRANDFATHER: YES DADDY SERIES

MY BOYFRIEND'S GRANDFATHER: YES DADDY SERIES

last updateDernière mise à jour : 2025-11-24
Par:  ELComplété
Langue: English
goodnovel18goodnovel
10
1 Note. 1 commentaire
160Chapitres
13.5KVues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Christy thought her boyfriend was just nonchalant and unromantic person, but a text and a photo sent by an anonymous changed everything. That was when she realised, she was never the one in his heart, but he had been leading her all along. This shattered her completely, and she couldn't get over being hurt and her trust brutally bruised. In anger, she made his grandfather who was in his mid-sixties fall in love with her. "You don't mean it, Christy right? My grandfather is too old and weak for you, I know you are mad at me for cheating and deceiving you, end this wedding, I will marry you" Franklin proposed, his face creased with frustration. His grandfather Winchester said "Kid, our wedding is already fixed" Then Christy raised her eyebrow and said "What makes you think marrying your grandfather because of you?" Franklin retorted "If I didn't cheat on you, would you have?" Christy beamed and then said in response "If you had not cheated on me, I would have been blind and still stick to you, but you opened my eyes and I realise the man for me, and he is your grandfather, I love him and I will marry him" "My girlfriend can't become my step-grandmother!" Franklin yelled aggressively.

Voir plus

Chapitre 1

Chapter 1: I Will Make Him Regret

"Selamat, ya. Semoga kamu menjadi pemimpin yang amanah. Bisa membawa komisariat ini lebih maju dari sebelumnya. YAKUSA (yakin usaha sampai) sampai akhir kepengurusan nanti." Menangkupkan kedua tangannya. Gadis yang aneh menurut Haidar karena dia sudah bersikap acuh padanya. Namun, dia tetap bersikap sebaliknya.

Haidar baru saja ditetapkan sebagai ketua umum komisariat organisasi ekstra di fakultasnya. Dia mengalahkan gadis yang memberinya selamat tadi. Sebenarnya, rasa kagum terhadap gadis itu telah menghampiri hatinya. Namun, sisi egois seorang laki-laki telah mengalahkan semua perasaan pada sang gadis.

Sikap lelaki yang tak bisa dikalahkan oleh seorang perempuan telah mengakar kuat dalam hatinya. Bagaimana tidak, jika setiap mata kuliah yang diambil oleh Haidar nilainya selalu dibawah sang gadis. Bahkan pemilihan ketua senat kemarin, dia juga dikalahkan olehnya.

"Ya, terima kasih. Selamat juga buat kamu." Memandang sinis pada sang gadis, lalu pergi begitu saja. Melewatinya tanpa ucapan salam perpisahan. Selalu saja, hati dan perilakunya tak selaras terhadap sang gadis.

Gadis itu bukan tak mengerti arti tatapan sinis Haidar, tetapi dia sengaja mengabaikan semua. Sudah terlalu sering dia mendapat pandangan sinis dari Haidar. Namun, dia tak pernah menggubris semua itu, baginya menjalin sebanyak mungkin pertemanan jauh lebih baik daripada pusing memikirkan sikap sinis Haidar. Nyatanya, sikap humble yang dia tawarkan tak mampu meluluhkan hati Haidar.

"Hei! Lagi ngelamunin apa sih? Segitunya ngeliat ketum baru. Jangan katakan kamu naksir dia?" celetuk salah satu sahabat gadis itu.

"Ish, amit-amit kalau aku sampai naksir cowok kayak dia." Ia mengepalkan tangan kanan kemudian memukulkan pada keningnya sendiri beberapa kali.

Seolah-olah apa yang diperbuatnya bisa menghindari perkataan sahabatnya tadi.

Suara tawa sontak terdengar dari keduanya.

"Emang aneh dia. Kalau sama kamu juteknya minta ampun, tapi sama yang lain kok dia ramah banget, ya. Curiga nih, jadinya? Jangan ... jangan ...," ucapnya menggoda. Cubitan keras akhirnya melayang di lengan sahabatnya itu. "Aduh, ampun! Sakit, Ima, sayang."

"Makanya, kalau ngomong yang bener! Awas, sekali lagi aku dengar kayak tadi! Gak bakal mau aku jadi sahabatmu," ancam Hazimah. Mereka masih terus tertawa mengingat percakapannya.

Perbincangan dua sahabat itu sebenarnya tertangkap oleh indra pendengaran Haidar, tetapi dia acuh saja.

Dalam hatinya, ada rasa bahagia seandainya hal yang diungkap sahabat Hazimah itu benar adanya.

Namun entah mengapa setiap percakapan yang melibatkan mereka berdua, Haidar senantiasa menampakkan rasa sinis dan benci terhadap Hazimah.

Haidar tahu  perbuatannya itu akan menyakiti gadis itu, tetapi dia tidak bisa bersikap manis padanya seperti pada teman-temannya yang lain.

Dan Haidar menelan pil pahit itu sekarag.

Duduk termenung di sebuah kafe, Haidar mencoba menikmati rinai hujan yang turun ditemani secangkir coffelatte.

Salahkah jika pria itu masih berharap suatu keajaiban akan mempertemukannya dengan perempuan yang selama ini tak pernah diumbar namanya. Namun, selalu ia sematkan dalam bait-bait doa di sepertiga malamnya.

Berharap Rabbnya menuliskan dan menakdirkan Hazimah menjadi pendamping hidupnya.

Haidar mulai menyesali apa yang telah dilakukannya pada gadis itu.

Menyimpan cinta sendiri ternyata tak semudah bayangannya.

Lima tahun sudah berlalu, tetapi perasaannya masih sama.

Namun perbincangan dengan sang ibu membuatnya bimbang. 

"Le, kowe ngenteni opo meneh, tho. (Nak, kamu nunggu apalagi). Umurmu wis cukup gawe omah-omah (Usiamu sudah cukup untuk berumah tangga). Opo ra mesakne Bunda (apa gak kasihan Bunda)? Ayahmu wis sedo, mengko lak Bunda keburu sedo pisan, piye (sekarang Ayah sudah meninggal, nanti jika Bunda meninggal juga, bagaimana)?" ucap Bunda Haidar. Satu titik bening siap terjatuh dari kelopak mata bundanya. Tangan kanannya diletakkan di atas tangan kiri Haidar. Tangan kirinya mengusap lengan putranya, seolah berkata mengertilah posisi Bunda saat ini.

"Pun ngoten, Bun (jangan begitu, Bun)." Semua kata sanggahan untuk menolak bundanya serasa tercekat di tenggorokan Haidar. Bagaimana dia harus mengucap keberatan hatinya? Jika melihat kesedihan pada paras bundanya saja dia sudah kesakitan.

"Awakmu kie wis ngerti yen Bunda sakit-sakitan. Bunda mung pingin sak durunge sedo ndeleng awakmu omah-omah (kamu sudah tahu keadaan Bunda yang sakit-sakitan. Bunda cuma ingin melihat kamu berumah tangga sebelum Bunda meninggal)." Bulir-bulir bening itu telah jatuh mengaliri pipi bundanya, kala dia mengatakan hal itu.

Haidar, hanya mampu terdiam seribu bahasa melihat bundanya. Wajahnya dia palingkan agar tak melihat tangisan orang sangat dicintainya itu karena jauh di sana, hatinya, lebih sakit melihat keadaan ini. Tak disangka, diamnya itu dianggap sebagai jawaban iya oleh sang Bunda.

Tanpa mengikutsertakannya dalam penyampaian niat tersebut, wanita yang dihormatinya itu telah berkunjung ke rumah sang gadis bersama kakak iparnya.

Sekarang apa yang harus dia lakukan?


Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

commentaires

Real
Real
damn......️ hooking
2025-11-08 21:31:35
0
0
160
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status