Share

2

Author: Elios
last update Last Updated: 2021-10-03 15:40:02

Udara dingin menerpa kulit wajah Mikaila. Dengan di sertai rasa nyeri. Rasanya, udara dingin makin memperparah rasa sakitnya. Tapi sentuhan lembut di dahinya, dan kemudian merambat ke lehernya. Dan berlanjut ke lengannya. Membuat Mikaila mau tak mau merasakan nyaman. Sentuhan tangan yang sangat asing baginya, tapi membuatnya nyaman. Dan dalam sekejap, rasa nyeri di dadanya yang tadinya membuncah itu. menghilang secara ajaib, mistrius.

                “Kalau pasien sudah sadar, secepatnya.” Ucap suara bariton yang sangat maskulin di telinga itu. membuat telinga Mikaila yang sangat menikmati lantunan suara selanjutnya dari orang yang sama.

                “Jangan lupa, beri suntikan obat penenang setiap empat jam sekali untuk mengurangi rasa sakit bekas jahitan operasi kemarin.”

                “Baik Dok.” Jawab suara perempuan kali ini. Mikaila belum bisa membuka matanya. Padahal ia ingin sekali membuka matanya dan melihat sosok si pemilik suara bariton yang sangat maskulin itu. Mikaila, sangat penasaran. Sungguh!

                Dan suara pintu yang di tutup secara perlahan membuat Mikaila sadar kalau pemilik suara itu sudah pergi. Dan pemilik suara perempuan itu juga sudah pergi, Mikaila yakin. Perempuan itu adalah salah satu perawat.

                Setelah berjuang beberapa lama untuk membuka mata. Mikaila akhirnya bisa melihat sekarang. Di mana ia berada. Tepat sekali, seperti dugaanya. Bukan lagi hal yang mengejutkan kalau ia sedang berbaring di ranjang rumah sakit dengan banyak sekali alat penopang kehidupan yang menempel padanya.

                Bahkan Mika bisa melihat demografi jantungnya yang sangat menyesakan.

                “Heran, jantung cuman satu tapi nyusahin.” Pekik Mika pada dada kirinya yang selalu nyeri dari kapan tahun itu. ia meremas dadanya dengan pelan karena merasakan ada remasan yang menghimpit dadanya itu.

                “Dasar, jantung ambekan! Di omelin dikit langsung ngambek!” hentak Mika lagi pada jantungnya yang mulai menyerangnya. Tanpa sadar Mika merasakan kalau udara di rumah sakit kian memuakan.  Membuat ia tak bisa bernafas sekaligus merasa frustasi.

                Mika melihat ke arah kalender, sudah tanggal dua puluh empat febuari. Padahal Mika sangat yakin kalau tanggal terakhir yang ia ingat adalah tanggal dua puluh febuari. Jadi .....? Mika sudah tak sadarkan diri empat hari setelah paska operasi.

                Di samping Mika, ada nakas yang sudah terisi penuh dengan bunga bunga. Pastilah dari keluarganya yang sudah pergi untuk bekerja lagi. Tanpa sadar, Mika menghirup nafas dalam dalam. Makin menyesakan saja.

                Rasanya sudah mau mati, tapi tak ada keluarganya yang peduli. Jadi apa bedanya, hidup dan mati untuk Mika? Mungkin sama saja. Tapi Mika belum siap untuk mati.

^^^

                Raka berjalan keluar dari ruangan pasien yang ke lima yang harus ia monitori secara langsung. Dengan perasaan yang tak karuan. Raka menarik kursi kerjanya dan duduk dengan sangat marah. Brian, si pengacau yang mengatakan kalau ia yang akan menghandle beberapa operasi Raka beberapa hari yang lalu itu. Ternyata malah pergi meninggalkan rumah sakit untuk berpacaran.

                “Heh! Setan!” teriak Raka pada Brian yang mendatanginya dengan senyuman yang tak kalah setan. Julukan itu sangat cocok untuk Brian yang mendatangi Raka tanpa permintaan maaf ataupun rasa bersalah. Gara gara Brian, empat operasi harus di tunda dengan resiko akan ada salah satu pasien yang tidak selamat. Atau malah? Mereka tidak akan selamat?

                “Maaf maaf.... “ akhirnya Brian mengucapkan kata kata pamungkasnya. Setelah di pukuli Raka, tidak di pukul dengan kekerasan tentunya. Raka akan sangat menyayangkan kalau tangannya yang terluka. Ia takan bisa melakukan operasi lagi nantinya.

                “Kita bagi pasien jadi dua.” Potong Raka sebelum Brian membuat alasan yang sudah pasti adalah bualan untuk mengelak dari kesalahannya.

                Brian tak mau menolak. Ia tau, gara gara kejadian itu pasti Raka jadi kebanjiran pasien. Pasti sangat melelahkan, hanya bisa beritirahat selama tujuh jam dalam sehari dengan pasien sebanyak itu. Bekerja dua shift sekaligus dalam sehari. Pasti.

                “Jangan nyimpen dendam kawan.” Kekeh Brian dengan sangat santai tanpa bisa menyadari kesalahan fatalnya itu. Raka menghirup nafas dengan cepat. Tersenyum simpul dan menunjuk ke pintu keluar ruangannya.

                “Keluar sekarang.” Perintah Raka yang di balas dengan tatapan enggan oleh Brian.

                “Keluar sekarang, dasar setan!” dan semprotan Raka itu membuat Brian sadar. Kalau ia takan selamat sekarng ini. Sudah, yang penting selamat saja sekarang. Dengan cepat Brian berlari menuju ke pintu keluar, sedangkan di sebrang sisi sana. Raka menghempaskan punggungnya ke leher kursi. Merasakan bagaimana rasanya itu istirahat setelah tenaganya di pacu begitu keras untuk melakukan operasi dan pemantauan beberapa pasien tentunya.

                Raka memutuskan untuk keluar berjalan jalan dari ruangannya. Menatap jam tanganya, sudah pukul delapan malam yang harusnya, shiftnya bekerja sudah berakhir. Raka melirik ke sudut ruangan. Tepatnya di tempat ia biasa menggantungkan jas kerjanya. Jas putih selutut yang berlogokan Rumah Sakit Alexandria.

                Mata Raka memicing sekarang, ia mengingat berapa jumlah jas kerja yang ia miliki. Jumlahnya tak kurang dari tiga. Tapi di sana hanya satu, terhitung dua dengan yang ia kenakan. Lalu? Kemana perginya jasnya yang satu itu?

                Mata Raka tertutup dengan usaha untuk mengingat, tempat mana yang harusnya menjadi tempat paling potensial ia meninggalkan jasnya.

                “Bukan ruang operasi...” tutur Raka dengan sangat yakin. Karena ia sudah bolak balik ke ruangan operasi tanpa melihat kain putih itu di sana. Kembali, Raka makin berpikir keras. Mencoba mengingat hari terakhir ia memakai jas yang menghilang. Dan itu sudah jauh sekali mungkin sekitar empat hari yang lalu.

                Saat itu Raka sangat gerah setelah berlari menuju ke ruang operasi dan langsung memakai pakaian oeparsi tanpa melepaskan jasanya saat melakukan operasi. Dan saat Raka melepaskan setelan pakaian operasinya. Dia juga ikut mengantarkan pasien itu ke ruangannya.

                Dengan berdecak sangat keras. Raka menjentikan jarinya karena akhirnya mengingat di mana letak jas ketiganya itu.

                “Di ruangan cempaka VIP tiga!” ucap Raka dengan sangat yakin. Dengan gerakan cepat, Raka melepaskan jas yang ia kenakan, berjalan ke arah pojok ruangan dan menggantungkannya di sana, bersama satu jas lainnya. Dengan cepat Raka menuju pintu ruang kerjanya. Ia akan mengambil satu lagi jasnya. Dan setelah itu pulang.

                Langkah Raka yang menyusuri lorong lorong itu bergema karena jam besuk sudah habis sejak dua jam yang lalu. Waktu malam adalah waktu tenang untuk pasien. Mereka harus beristirahat dengan tenang tanpa di ganggu. Dan juga, staff rumah sakit akan lebih bisa bekerja dengan fokus di malam hari tanpa kebisingan suara orang orang.

                Raka berjalan dengan sangat santai. Tak nampak sebagai dokter karena sudah melepaskan atribut profesinya. Tapi tubuh tegap Raka dengan sepatu hitam mengkilatnya sudah cukup untuk membuktikan ketampanannya. Dan sayangnya. Di usia yang hampir menginjak usia tiga puluh tahun itu. Raka belum juga memiliki calon istri. Calon kekasih juga tak ada. Raka seperti terjun bebas ke dunia laki laki lajang yang hidup tanpa permpuan.

                Bahkan sasat Dokter cantik di Rumah Sakit Alexandria. Dokter Pevita terang terangan mengejarnya. Raka justru menjauhi perempuan berparas sangat ayu itu dengan sama terang terangan juga.

                Begitu langkah kaki Raka sampai di ruangan Cempaka VIP Tiga. Raka langsung membuka pintu dengan sangat tenang, ia takut mengganggu pasien. Karena Raka sendiri yang mengoperasi pasien yang sekarang berbaring di ranjang itu.

                Raka masuk dengan sangat hati hati. Ia mengamati ruangan sambil meningat ingat, di mana ia melemparkan jas itu karena gerah. Gerah karena marah, berlari dan juga mengoperasi pasien itu. dengan ingatan yang sangat tajam, Raka jadi sedikit ragu. Jangan jangan Jasnya sudah berpindah tempat. Tapi ternyata, Raka bisa bernafas dengan lega. Karena jasnya masih berada di posisi yang sama bahkan terlalu sama seperti tak tersentuh sedikitpun. Seperti tak ada orang yang datang ke ruangan ini sama sekali. Tapi Raka tak ambil pusing, ia langsung berjalan ke arah sofa cokelat beludru khas ruangan VIP. Dengan tangan kirinya yang bergerak sangat lihai, Raka sudah mendapatkan jas putihnya dengan sekali hentak.

                Senyum simpul Raka terukir karena ia berhasil menemukan jas itu. tapi suara di sebrang sana membuat Raka mengernyitkan dahinya.

                “Kamu maling...?” tanya suara itu dengan nada yang sangat merendahkan harga diri Raka. Jelas jelas dia mengambil barang miliknya sendiri. Bukan maling namanya! Berbalik dengan tampang dingin yang kian dingin, Raka melihat kalau pasiennya itu sudah sadar setelah hampir hari ke limanya memejamkan mata.

                Langkah dinging dengan aura yang dingin pula. Membuat Mika meneguk ludahnya dengan sangat ketakutan. Orang yang dia kira maling barusan, mendekatinya tanpa suara. Apa jangan jangan, ia akan di bunuh untuk menghilangkan bukti hidup atas tindakan kejahatan barusan? Tapi apa yang di curi dari ruangan VIP rumah sakit? TV Plasma? Mata Mika melirik TV yang masih utuh di tempatnya.

                Tapi seringai Raka justru membuat Mika ngeri. Begidik lebih tepatnya.

             “Dua puluh delapan jahitan dengan tulang rusuk yang di patahkan, pemasangan ring jantung untuk mengurangi penyempitan arteri di katup jantung yang bermasalah dan juga kebodohan karena addict dengan kafein padahal memiliki masalah jantung.” Ucap Raka dengan nada dingin tapi makin menegaskan kalau itu adalah kecerdasan yang sangat mulia karena mengetahui penyakit Mika dan tau apa yang terjadi pada wanita itu. tapi bukan itu poin utamanya. Lebih karena Mika sangat terkejut karena suara amat sangat sombong, menyombongkan kecerdasannya barusan. Sama seperti suara pagi tadi yang ia dengar.

                “Kamu masih mengira kalau saya maling?” ucap Raka sambil menunjukan jas putih yang ia ambil dan kemudian Raka berlalu. Meninggalkan Mika yang melongo tanpa bisa berbicara ataupun berkomentar padanya. Mika  masih terkejut dengan ketampanan Raka barusan.

                Apa benar? Itu adalah dokter yang merawatnya selama beberapa hari iin? Ketampanannya, tidak manusiawi!! Kesombongannya juga tak kalah manusiawinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MY Doctor - Bahasa Indonesia   66

    66Raka duduk di ruang tunggu, bersama Morgan, Marcell dan Keyzia.Suasana begitu sangat canggung, apalagi suasana diantara Marcell dan Morgan. Keduanya sama - sama tak menyangka akan bertemu di sini. Apalagi Marcell, ia tak menyangka akan tertangkap basah disini."Aku tidak kalau Ayah punya niatan untuk datang kesini.." celetuk Morgan memecah keheningan.Marcell melirik pelan, "Memangnya aku tau." Balas Marcell dengan nada pedas, toh kalau ia tak langsung berjanji, mana mungkin ia mau mengantar Ayahnya kesini dan menemui Mika. Morgan mengedikan bahunya, mungkin hanya hati nurani Ayahnya yang terbuka sedangkan Marcell masih tertutup. "Ya baguslah kalau begitu..." Ucap Morgan."Ibu mungkin akan membunuhku kalau tau aku mendaratkan kaki ditempat ini..." Marcell berkata dengan gelisah. Kakinya tidak bisa tenang, menunggu ayahnya keluar dari ruangan Mika.Marcel melirik ke arah Keyzia, pandangan matanya turun ke arah perut Keyzia yang sedikit buncit, ia sudah tau dari ibunya kalau keyz

  • MY Doctor - Bahasa Indonesia   65

    Raka duduk dengan gusar, pandanganya masih tetuju ke ruang operasi. Operasi masih berjalan... Dan ini masih berlangsung lama. Brian sudah berpesan pada Raka, ia akan melakukan pekerjaanya sebaik mungkin. "Tuhan.... Tolong selamatkan cintaku." Bisik Raka sembari mengigit kukunya, sebuah kebiasaan dari kecil pertanda kalau ia sedang gugup, takut dan cemas. Langit menggelap, operasi yang berlangsung hampir lima jam itu akhirnya selesai. Degan cekatan, Raka bangkit dan melihat pintu ruang operasi terbuka. Miki segera di pindahkan ke ruang perawatan intensif sembari menunggu kesadaranya kembali.Raka setengah berlari mengikuti perawat yang membawa Mika. Selang infus, oksigen menempel padanya. Tapi matanya masih terpejam, wajah yang pia itu semakin menambah ketakutan Raka.Saat Raka hendak masuk ke ruangan, Brian menghentikan langkah Raka."Aku harus bicara sesuatu padamu..." Ucap Brian dengan hati - hati.Sekujur tubuh Raka langsung dingin, "Aku mohon. Sebaiknya ini bukan kabar buruk...

  • MY Doctor - Bahasa Indonesia   64

    Mika menghabiskan sisa watunya dengan penuh ketenangan. Sisa - sisa harinya di rumah Raka hanya disii dengan jalan - jalan singkat, menilik segala tempat yang ingi Raka tunjukann padanya. Menikmati sore lagi - lagi di kebun bunga matahari. "Kamu yakin kita pulang hari ini?" Tanya Mika diambang pintu, sementara itu Raka tengah mengemasi barangnya yang hanya sedikit.Raka menatap ke arah Mika, wajah Mika tidak terlihat jelas karena membelakangi cahaya, hanya siluetnya hitam. Raka tak bisa melihat ekspresi keberatan dan sedih di wajah Mika, meski begitu terdengar jelas sekali kalau Mika tak ingin meninggalkan rumah Raka. "Kenapa? Kamu sudah bertanya untuk yang ke sepuluh kalinya... Ayo kemasi barangmu..."Raka bangkit dari rajang sembari meggendong tasnya, berjalan ke arah pintu dan melihat Mika tertunduk lesu."Kita bisa pulang ke rumah ini kapanpun kamu inginkann...". Bujuk Raka. Tapi Mika masih tertunduk lesu. Raka meremas bahu Mika pelan dan mentoel pinggang Mika, mencoba untuk m

  • MY Doctor - Bahasa Indonesia   63

    "Temanmu tadi cantik juga yaa..." Raka melirik ke arah Mika, ia tengah fokus menyetir mobil, "Maksudnya?" Tanya Raka tak mengerti. Mika memutar bola matanya, sembari jemarinya meremas telapak tanganya, "Yah.... Cantik." Ucap Mika, "Memang menurut kamu dia jelek?" Tanya Mika lagi.Pandangan Raka fokus ke jalan, "Yah tidak jelek juga." Jawab Raka.Mika berdecak kesal, "Jadi cantik kan?" Tegas Mika. Raka menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Yah semua perempuan itu cantik." Jawab Raka. "Lebih cantik mana? Temanmu atau aku?" "Kamu." Jawab Raka tanpa pikir panjang."Alah pasti terpaksa." Mika meninggikan suaranya dan nada bicaranya seolah tak percaya. Raka mengernyitkan dahinya, "Terpaksa kenapa? Kamu kan memang cantik," ujar Raka. Ia tak tau kenapa setiap jawabanya malah semakin membuat Mika terdengar kesal. Mika malah melempar pandangan keluar jendela, tidak mau menatap Raka. Entahlah... Mika sendiri tidak tau kenapa ada rasa gemuruh di dadanya yang terasa seperti amarah tak beral

  • MY Doctor - Bahasa Indonesia   62

    "Aku belum pernah makan sebanyak ini..." Ucap Mika dengan nada puas sembari tangan kirinya mengusap perutnya yang kekenyangan. Bagaimana tidak? Mika menghabiskan hampir seluruh jajanan yang di belinya, ini seperti membeli kepuasan masa kecil karena dulu ia di larang makan sembarangan. Tapi hari ini semua terbalaskan. Raka hanya bisa tersenyum geli karena Mika berusaha mengedurkan roknya, tapi tidak bisa, perutnya buncit mendadak dan ia merasa tak bisa berjalan sekarang ini. "Mau kemana lagi?" Tanya Raka.Mika berpikir keras, ia tak tau tujuan selanjutnya."Biasanya kamu kemana? Setelah makan es krim dan jajan di sini?" Tanya Mika."Pulang," jawab Raka. Mika berdecak kesal, "Mana mungkin...." Ucap Mika dengan nada tak percaya...."Ada tempat lain lagi?" Tanya Mika, berusaha mengulur waktu agar mereka tidak cepat pulang. Lagi pula... Mika masih sangat betah di sini. "Aku tidak melakukan hal lain selain pergi bersama temanku, makan di sini, dan membeli buku. Hanya itu, setelah itu

  • MY Doctor - Bahasa Indonesia   61

    Mika terpukau dengan penampilannya saat ini, mengenakan kemeja berwarna putih dan rok abu - abu panjang khas SMA. Mika berputar pelan."Bagaimana?" Tanya Mika meminta pendapat Raka. Raka bertepuk tangan kecil dan tersenyum lebar."Cocok..." Ucap Raka.Mata Mika membulat, "Benarkah? Bohong.... " Tuduh Mika. Usia tidak bisa bohong, mana mungkin ia terlihat seperti anak sekolah belasan tahun?"Aku tidak berbohong, bukan gayaku." Raka menyikapkan tanganya. Mereka tengah berada di dalam toko sepatu, Mika menggati sepatunya dengan sepatu yang menurut Raka lebih nyaman untuk berjalan lama. Karena Raka akan mengajak tour kecil. Mengajak Mika berjalan - jalan di kota kecil ini sebagai anak sekolah. Toh tidak ada yang mengenali Mika di kota ini. Raka yakin dengan penampilan Mika ini, orang - orangpun akan percaya kalau Mika mengaku sebagai anak sekolah pindahan. "Mau berjalan ke taman kota?" Tanya Raka."Dimana itu?" Mika bertanya dengan tak sabaran, ia melebarkan roknya dan memasang ekspres

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status