LOGINApartemen Raka sangat sepi. Dingin dan tak berpenghuni. Bagaimana bisa di sana ada kegiatan manusia kalau Raka hanya berada di rumah sakit dalam tujuh belas jam dalam sehari hidupnya. Hanya pulang untuk tidur dan mandi serta berganti baju.
Dengan langkah yang sangat terseok sekok karena lelah, Raka memaksakan diri untuk berjalan lebih jauh ke arah dapur untuk mengambil minuman di kulkas karena kerongkongannya terasa sangat kering setelah ingat dia belum minum ataupun makan dari sore tadi.
Tangan Raka memegang gagang pintu dan membuka kulkas yang hanya berisi udara kosong, dingin dan tak ada makanan sama sekali. Saking seringnya hanya pulang untuk mandi, tidur dan berganti pakaian. Raka sampai lupa kapan terakhir kali ia berbelanja untuk mengisi kulkas super besarnya dengan makanan. Sayang, decak Raka dalam hati. Kulkas besar itu hanya berisi udara kosong tak terisi apapun.
Di ujung rak kulkas, Raka melihat satu botol air mineral yang hanya tersisa beberapa tegukan saja. Dan Raka meraih botol itu dengan menimang apakah isinya dapat menghilangkan dahaganya. Dan nyatanya, Raka membukanya dan hanya sekali tenggak, dan sialnya. Raka belum terobati dahaganya.
Melihat ke penjuru ruangan, Raka jadi ingat kapan kali terakhir ia membersihkan apartemen, kapan kali terakhir dia berbelanja dan memasak. Dan kapan kali terakhir ia menjalankan hidup seperti manusia normal yang punya waktu istirahat, waktu bekerja, dan waktu bersenang senang. Tidak seperti sekarang yang hanya di dominasi waktu bekerja dengan sedikit istirahat dan tak ada waktu bersenang senang.
Rasa dahaga Raka yang belum juga habis, membuat laki laki itu nekat untuk mengisi botol kosong tadi dengan air kran sampai setengah botolnya terisi air tak matang itu. tapi Raka nyatanya memang berniat menghilangkan rasa dahaganya dengan cara itu.
Dengan beberapa kali tenggakan, air itu habis. Dan Raka nampak tak menyesal sudah mengisi perutnya dengan air kotor itu. nampak bersyukur malah. Ia tak harus ke super market malam malam seperti ini hanya untuk membeli air minum di botol dengan jumlah yang banyak tentunya.
“Jam sepuluh malam ....” desis Raka pada dirinya sendiri. Ia tak mau mengisikan apapun ke dalam perutnya. Ia tak butuh makan hari ini. Hanya butuh istirahat.
Dan Raka melangkahkan kakinya yang masih terseok seok karena kelelahan itu ke kamarnya. Membaringkan diri dengan melepaskan kemejanya hingga tak memakai apapun di bagian atas tubuhnya. Menampakan tubuh Raka yang sangat keras karena susunan ototnya yang sangat terlatih.
Raka memejamkan mata. Tapi otaknya sudah berpikir untuk mengisi banyak makanan ke kulkasnya besok. Setidaknya, mulai esok, ia takan bekerja extra karena Brian yang akan membagi pekerjaan dengannya. Sekarang ada bagian di hidup Raka yang bernama bekerja dan beristirahat. Tapi Raka akan bingung, bagian hidupnya akan terisi dengan bersenang senang?? Mungkin tidak, mungkin juga belum.
^^^
Raka terbangun sangat pagi, pukul empat pagi hanya untuk bersiap untuk bekerja? Tentu tidak. Jangan salahkan Raka kalau dia gila berolahraga tepatnya berlari. Raka akan berlari sangat pagi dan berujung pada makan sarapan berupa bubur ayam sampai dua mangkok, bahkan tiga mangkok untuk mengisi perutnya. Jadi, itulah alasan Raka kuat bekerja sampai siang. Dan itu juga alasan Raka memiliki masa otot yang sangat keras. Ia berolahraga setiap hari, bahkan saat hari sedang hujan. Menempuh jarak sampai lima kilometer untuk membunuh waktu sampai pukul tujuh pagi ia harus bekerja. Dengan rutinitas yang sama seperti itu sampai hari harinya berakhir.
^^^
“Dokter, pasien cempaka VIP tiga sudah bangun.” Lapor seorang asisten perawat yang selalu bersama Raka, namanya dokter Mega. Perempuan di usia penghujung tiga puluhan. Dengan rambut yang keriting menggantung dan tatapan mata keibuan. Dengan jiwa kerja yang sangat produktif, membuat Raka sangat senang bisa bekerja dengannya karena terasa efisien.
“Saya sudah tau kalau pasien cempaka VIP tiga sudah sadar.” Jawab Raka dengan sangat tenang, membuat Mega sangat bingung. Dari mana Raka mengetahui kalau pasien yang baru saja melakukan pegecekan darinya itu sudah sadar? Sedangkan Raka baru saja sampai di rumah sakit?
Tanpa banyak kata, sekali lagi, Mega adalah tipikal pekerja yang sangat profesional dan efisien. Jadi ia takan bertanya hal penting seperti, kenapa doktr sudah tau? Apa dokter ini cenayang? Atau apapaun itu.
Mega hanya mengikuti langkah Raka. Raka tak melakukan pekerjaanya kemarin. Saat melihat pasiennya itu bangun. Tapi dari penglihatan sekilas Raka. Ia tau kalau pasiennya baik baik saja. Apa lagi mulut sadis perempuan itu yang mengatainya, Maling?!! Sudah pasti Raka menjamin. Kalau operasi yang di lakukannya berjalan dengan amat sangat lancar tanpa ada kendala sedikitpun.
Ruangan Cempaka VIP tiga itu di datangi Raka dan dua perawat. Membuat mata Mika membulat. Ia harus bersitatap dengan orang yang sama. Dan sialnya, kemarin ia salah kira. Menyangka kalau dokter itu adalah seorang maling.
Mika nampak gugup dengan gelagat dokter itu. tapi dua perawat di sampingnya terlihat sangat santai dan nampak sangat mempercayai dokter itu. membuat Mika sangat berpikir, sehandal itukah dokter yang menanganinya??
Tangan Raka mengeluarkan stetoskopnya, menaruh bagian bercabang itu ke telinganya dan menangkupkan kepala stetoskop ke arah Mika.
Mika bungkam saat Raka menekankan tangannya untuk mendengarkan jantungnya. Alat pemantau, atau demografi detak jantungnya sudah di copot tadi pagi karena entah alasan apa itu. toh alat itu membantu untuk memantau kondisi pasien yang tak sadarkan diri. Sedangkan sekarang Mika sadar, berarti alat itu tak berguna bukan?
“Ada gejala rasa sakit di dada selama beberapa saat terakhir?” tanya Raka dengan nada super dingin, ia tak mau terlibat banyak interaksi dengan pasien pasiennya. Image dingin selalu ia nomor satukan.
Mika menggeleng, bukan karena rasa sakit itu tiba tiba ada. Tapi aroma mint dari mulut Raka yang sangat segar membuat Mika berpikiran yang tidak tidak, terlebih tangan Raka yang tiba tiba meraih tangannya dan menyentuh pergelangan tangannya seolah memastikan sesuatu.
“Denyut nadi normal, sembilan puluh per menit.” Raka selesai mengatakan itu, ia menatap Mika dengan sangat tajam. Mata tajam dan rahang yang runcing itu membuat Mika jadi makin gugup.
“Kamu sedang gugup atau memang ini masih terkena pengaruh obat?”
Dan seperti ledakan dinamit. Nyatanya Raka diam saja saat Mika menatapnya dengan kebingungan harus berkata apa. Ya! Jawabannya karena dia sedang gugup tiba tiba mendapatkan sentuhan di tangan. Siapa yang tidak gugup?
Tapi seringai tajam Mika tak di lihat Raka. Mana bisa dia ia tinggal diam saja saat ada seorang yang menjatuhkan martabatnya di depan dua orang perawat pula! Mikalia Abraham yang ini, anak bungsu dari keluarga Abraham tidak akan tinggal diam saat tau, Raka tersenyum sinis karena keupasan di atas awan yang sementara.
“Ternyata Bapa itu, Dokter? Bukan maling ya....?” Mika membuat Raka marah dengan sangat tepat di ulu hati.
“Kemarin saya kira, saya sedang ngelindur karena efek obat bius. Melihat ada laki laki yang mendendap endap ke ruangan saya. Ternyata setelah saya lihat lebih seksama, itu Bapa....”
Kata kata Mika barusan membuat Mega, perawat yang bekerja dengan profesionalitas itu menjadi mengerutkan dahinya. Begitu juga Abila. Perawat di sampingnya. Raka bahkan terkejut mendapatkan serangan dari Mika yang membuatnya tersudut. Karena Mika dengan sengaja tidak mengatakan kalau ia mengambil jas yang tertinggal.
Raka menatap dingin Mega dan Abila yang tak berkutik begitu mata dinginnya menatap mereka. Bergantian dengan Mika yang harus mendapatkan tatapan dingin itu. tangan Raka sudah sangat cekatan memberikan beberapa suntikan ke dalam infus Mika.
“Banyak orang yang bilang, malaikat kematian akan terlihat tampan untuk orang yang banyak berbuat kebaikan. Akan terlihat menakutkan untuk orang yang jahat. Dan kenapa mereka punya dua sisi, karena tidak akan ada yang tau kapan mereka akan mati.”
Setelah mengatakan itu, Mika makin ketakutan kalau yang di maksudkan untuknya adalah suntikan kematian. Kematiannya berhenti pada Raka yang tampan tapi mematikan.
“Saya harap kamu segera sembuh.” Ucap Raka dengan gamang karena baru kali ini mendapati pasien kurang ajar yang bahkan umurnya lebih muda darinya. Tapi Mika masih mengatupkan bibirnya tak berusara.
Mega dan Abila saja sudah sejak tadi kehilangan rohnya karena di tatap mata tajam Raka. Apalagi Mika yang berhadapan langsung dan berperang langsung dengan mata tajam Raka. Setelah Raka pergi dengan dua perawatnya, membawa beberapa hasil pemeriksaan dan beberapa sempel darah untuk di teliti di labolatorium. Mika kembali di ranjangnya dengan sangat kesepian. Bunga yang terakhir yang ia lihat itu belum berganti. Sekarang mungkin akan mengering karena tak pernah di ganti. Karena nyatanya, Mika tak mendapatkan kunjungan dari keluarganya.
Menghempaskan diri ke atas ranjang rumah sakit. rasanya Mika sudah siap untuk mati, tapi kapan kalau begini? Mati juga butuh orang lain, sedangkan keluarganya tak peduli. Harus mati di mana Mika ini agar tidak merepotkan orang orang yang bahkan tak peduli padanya. Mati di rumah sakit pun, akan membutuhkan tanda tangan keluarga untuk persetujuan.
Hempasan nafas berat Mika dengan tangan kiri yang di aliri selang infus itu menyentuh dadanya yang berdetak tak karuan itu.
“Kenapa tadi tiba tiba gugup?” tanya Mika pada dirinya sendiri, mengingat kejadian barusan. Saat Raka mengatakan kalau detak jantungnya tak normal karena gugup, dan nyatanya memang benar. Ia gugup. Tapi kenapa? Harus gugup saat Raka menyentuh tangannya? Kenapa?
66Raka duduk di ruang tunggu, bersama Morgan, Marcell dan Keyzia.Suasana begitu sangat canggung, apalagi suasana diantara Marcell dan Morgan. Keduanya sama - sama tak menyangka akan bertemu di sini. Apalagi Marcell, ia tak menyangka akan tertangkap basah disini."Aku tidak kalau Ayah punya niatan untuk datang kesini.." celetuk Morgan memecah keheningan.Marcell melirik pelan, "Memangnya aku tau." Balas Marcell dengan nada pedas, toh kalau ia tak langsung berjanji, mana mungkin ia mau mengantar Ayahnya kesini dan menemui Mika. Morgan mengedikan bahunya, mungkin hanya hati nurani Ayahnya yang terbuka sedangkan Marcell masih tertutup. "Ya baguslah kalau begitu..." Ucap Morgan."Ibu mungkin akan membunuhku kalau tau aku mendaratkan kaki ditempat ini..." Marcell berkata dengan gelisah. Kakinya tidak bisa tenang, menunggu ayahnya keluar dari ruangan Mika.Marcel melirik ke arah Keyzia, pandangan matanya turun ke arah perut Keyzia yang sedikit buncit, ia sudah tau dari ibunya kalau keyz
Raka duduk dengan gusar, pandanganya masih tetuju ke ruang operasi. Operasi masih berjalan... Dan ini masih berlangsung lama. Brian sudah berpesan pada Raka, ia akan melakukan pekerjaanya sebaik mungkin. "Tuhan.... Tolong selamatkan cintaku." Bisik Raka sembari mengigit kukunya, sebuah kebiasaan dari kecil pertanda kalau ia sedang gugup, takut dan cemas. Langit menggelap, operasi yang berlangsung hampir lima jam itu akhirnya selesai. Degan cekatan, Raka bangkit dan melihat pintu ruang operasi terbuka. Miki segera di pindahkan ke ruang perawatan intensif sembari menunggu kesadaranya kembali.Raka setengah berlari mengikuti perawat yang membawa Mika. Selang infus, oksigen menempel padanya. Tapi matanya masih terpejam, wajah yang pia itu semakin menambah ketakutan Raka.Saat Raka hendak masuk ke ruangan, Brian menghentikan langkah Raka."Aku harus bicara sesuatu padamu..." Ucap Brian dengan hati - hati.Sekujur tubuh Raka langsung dingin, "Aku mohon. Sebaiknya ini bukan kabar buruk...
Mika menghabiskan sisa watunya dengan penuh ketenangan. Sisa - sisa harinya di rumah Raka hanya disii dengan jalan - jalan singkat, menilik segala tempat yang ingi Raka tunjukann padanya. Menikmati sore lagi - lagi di kebun bunga matahari. "Kamu yakin kita pulang hari ini?" Tanya Mika diambang pintu, sementara itu Raka tengah mengemasi barangnya yang hanya sedikit.Raka menatap ke arah Mika, wajah Mika tidak terlihat jelas karena membelakangi cahaya, hanya siluetnya hitam. Raka tak bisa melihat ekspresi keberatan dan sedih di wajah Mika, meski begitu terdengar jelas sekali kalau Mika tak ingin meninggalkan rumah Raka. "Kenapa? Kamu sudah bertanya untuk yang ke sepuluh kalinya... Ayo kemasi barangmu..."Raka bangkit dari rajang sembari meggendong tasnya, berjalan ke arah pintu dan melihat Mika tertunduk lesu."Kita bisa pulang ke rumah ini kapanpun kamu inginkann...". Bujuk Raka. Tapi Mika masih tertunduk lesu. Raka meremas bahu Mika pelan dan mentoel pinggang Mika, mencoba untuk m
"Temanmu tadi cantik juga yaa..." Raka melirik ke arah Mika, ia tengah fokus menyetir mobil, "Maksudnya?" Tanya Raka tak mengerti. Mika memutar bola matanya, sembari jemarinya meremas telapak tanganya, "Yah.... Cantik." Ucap Mika, "Memang menurut kamu dia jelek?" Tanya Mika lagi.Pandangan Raka fokus ke jalan, "Yah tidak jelek juga." Jawab Raka.Mika berdecak kesal, "Jadi cantik kan?" Tegas Mika. Raka menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Yah semua perempuan itu cantik." Jawab Raka. "Lebih cantik mana? Temanmu atau aku?" "Kamu." Jawab Raka tanpa pikir panjang."Alah pasti terpaksa." Mika meninggikan suaranya dan nada bicaranya seolah tak percaya. Raka mengernyitkan dahinya, "Terpaksa kenapa? Kamu kan memang cantik," ujar Raka. Ia tak tau kenapa setiap jawabanya malah semakin membuat Mika terdengar kesal. Mika malah melempar pandangan keluar jendela, tidak mau menatap Raka. Entahlah... Mika sendiri tidak tau kenapa ada rasa gemuruh di dadanya yang terasa seperti amarah tak beral
"Aku belum pernah makan sebanyak ini..." Ucap Mika dengan nada puas sembari tangan kirinya mengusap perutnya yang kekenyangan. Bagaimana tidak? Mika menghabiskan hampir seluruh jajanan yang di belinya, ini seperti membeli kepuasan masa kecil karena dulu ia di larang makan sembarangan. Tapi hari ini semua terbalaskan. Raka hanya bisa tersenyum geli karena Mika berusaha mengedurkan roknya, tapi tidak bisa, perutnya buncit mendadak dan ia merasa tak bisa berjalan sekarang ini. "Mau kemana lagi?" Tanya Raka.Mika berpikir keras, ia tak tau tujuan selanjutnya."Biasanya kamu kemana? Setelah makan es krim dan jajan di sini?" Tanya Mika."Pulang," jawab Raka. Mika berdecak kesal, "Mana mungkin...." Ucap Mika dengan nada tak percaya...."Ada tempat lain lagi?" Tanya Mika, berusaha mengulur waktu agar mereka tidak cepat pulang. Lagi pula... Mika masih sangat betah di sini. "Aku tidak melakukan hal lain selain pergi bersama temanku, makan di sini, dan membeli buku. Hanya itu, setelah itu
Mika terpukau dengan penampilannya saat ini, mengenakan kemeja berwarna putih dan rok abu - abu panjang khas SMA. Mika berputar pelan."Bagaimana?" Tanya Mika meminta pendapat Raka. Raka bertepuk tangan kecil dan tersenyum lebar."Cocok..." Ucap Raka.Mata Mika membulat, "Benarkah? Bohong.... " Tuduh Mika. Usia tidak bisa bohong, mana mungkin ia terlihat seperti anak sekolah belasan tahun?"Aku tidak berbohong, bukan gayaku." Raka menyikapkan tanganya. Mereka tengah berada di dalam toko sepatu, Mika menggati sepatunya dengan sepatu yang menurut Raka lebih nyaman untuk berjalan lama. Karena Raka akan mengajak tour kecil. Mengajak Mika berjalan - jalan di kota kecil ini sebagai anak sekolah. Toh tidak ada yang mengenali Mika di kota ini. Raka yakin dengan penampilan Mika ini, orang - orangpun akan percaya kalau Mika mengaku sebagai anak sekolah pindahan. "Mau berjalan ke taman kota?" Tanya Raka."Dimana itu?" Mika bertanya dengan tak sabaran, ia melebarkan roknya dan memasang ekspres







