Chapter: 33Setelah sampai di kamar, rupanya Lusia masih tertidur dengan pulas. Kini ia tak lagi bermimpi buruk, Aaron sangat yakin itu. Karena ia bisa mendengar dengkuran lembut Lusia. Meski begitu, badai di luaran sana masih bergejolak. Aaron memutuskan untuk menikmati kopi yang sudah ia buat. Memandang ke luar dan jendela yang sesekali bergetar, suara hujan yang seperti hendak menerobos masuk. Tapi Aaron masih terdiam membatu. Selang cukup lama, kopi pun telah habis. Aaron beringsut menuju ranjang. Ia menarik selimut dengan hati – hati dan memandang Lusia untuk sesaat. “Kamu menggemaskan juga rupanya.... “ gumam Aaron lirih, ia mengusap kening Lusia dan sengatan kecil menghentikannya. Tangan Aaron mengambang di udara. Ia tak tau apa yang tengah ia lakukan sekarang.&nb
Last Updated: 2021-11-03
Chapter: 32Lusia tertunduk karena menghindari kontak mata dengan Aaron. Sebenarnya, jauh di dasar hati sana, Aaron sangat tersentuh. Ia tau, betapa gemetarnya mata Lusia saat ia berbicara tentang ibunya. Kemarahan terpendam Aaron pada nasibnya, tak seharusnya ia lampiaskan pada Lusia yang tidak tau apa – apa. Aku benci diriku ketika aku marah, karena aku kehilangan kendali. Batin Aaron. Ia menyesap rasa masam di dalam mulutnya, mengulum bibir dan tak lagi menatap Lusia karena wanita itu tetap tertunduk sembari menghadap ke arah lain. “Lucu.... “ celetuk Aaron, ia belum menanggapi permintaan maaf Lusia. Sedangkan Lusia yang mendengar ucapan barusan, malah tak mengerti.&nb
Last Updated: 2021-11-02
Chapter: 31Lusia berjalan di samping Aaron, ia masih mencoba untuk mengimbangi kecepatan langkah pria itu. Namun tidak bisa, nafas Lusia malah tersengal – sengal. Dan akhirnya, Lusia tidak tahan lagi. Ia membungkuk sembari memegang lututnya. “Ber--- ah---- “ Lusia menarik nafas panjang dan Aaron sudah berbalik badan, “Berhen... ti!” rengak Lusia. Aaron yang melihat betapa kesulitannya Lusia dalam mengambil nafas hanya bisa menyilangkan tangan sembari memberikan pandangan meremehkan, “Apa kamu selemah itu?” ejek Aaron. Lusia melirik tajam, “Tidak. Aku tidak lemah, hanya saja berjalan kaki bagi kamu, sama dengan berlari untukku.... &l
Last Updated: 2021-10-12
Chapter: 30Lusia makan dengan lahap, begitu pula dengan Emma. Dan yang mengejutkan, Aaron adalah orang yang hampir menghabiskan makanan siang itu. Setelah selesai makan, Lusia bergerak cepat mengambil semua piring kotor dan bergegas mencucinya. Sebenarnya, Lusia masih ingin menemani Emma tapi karena Aaron ada di sini, Lusia jadi ingin segera pergi. Ia malah jadi melupakan niatan awalnya untuk meminta maaf pada Aaron. Gemericik air terdengar jelas, karena bangunan ini di design tanpa adanya sekat kecuali untuk kamar dan kamar mandinya. Jadi, dari sudut manapun, suara air, televisi, tidak bisa di redam. Begitu juga dengan pandangan. Aaron bisa melihat dengan jelas gerakan tangan Lusia yang mengusapkan sabun. “Kamu harus istirahat Emma,” tutur Aaron
Last Updated: 2021-10-05
Chapter: 29“Kamu makan siang barusan?” tanya Emma dengan nada yang lebih bersahabat. Dalam situasi seperti ini, Emma bukan lagi seorang yang melayani tuannya, ia akan menjadi orang terdekat Aaron. Aaron mengangguk, ia tak terlalu senang dengan topik pembicaraan ini. Dan Emma melihat dengan jelas ekspresi Aaron yang tak berminat itu. “Hanya duduk di depan meja makan tanpa menyentuh makanan,” jelas Aaron. Ia tak berselera makan sama sekali. Dan saat Aaron memikirkan makanan, ia teringat pada Emma dan tanpa sadar sudah sampai di depan bangunan tempat Emma beristirahat. Dan saat Aaron menemukan Emma, ia juga melihat Lusia yang tengah berdiri memunggunginya, dengan tangan yang bergerak lincah dan sibuk, suara pisau yang beradu.
Last Updated: 2021-10-03
Chapter: 28Begitu sampai di dapur, kesibukan terlihat sangat jelas. Semua pelayan mondar – mandir sibuk mencari, menata, memasak dan membawakan sesuatu. Dapur bising dengan bunyi kompor dan sutil yang bergesekan dengan wajan, bunyi percikan minyak goreng dan harumnya makanan. Eliona yang bertugas menggantikan Emma selagi ia belum pulih sepenuhnya, terlihat sangat cakap dalam mengatur kinerja orang – orang. Ia memerintah untuk membuatkan sesuatu, memastikan hidangan dan masih banyak lagi. Dan brak! Seseorang memecahkan piring, dan semua orang menatap cemas, karena pecahan piring itu berhasil melukai si kaki pelayan itu. “Ayo cepat bereskan, bereskan kekacauan ini.... “ gumam dua orang yang mencoba membantu yang terluka.&n
Last Updated: 2021-10-02
Chapter: 58Encounter 7 Waktu seperti berjalan sangat lambat bagi Aruna. Perjalanan pulangnya seperti berkilo kilo meter lebih jauh. Sedangkan Mahesa di samping Aruna justru tenang saja, sejak tadi memilih untuk ikut diam dan juga fokus ke jalanan. Ketika mobil putih itu memasuki jalanan yang mulai sempit. Menuju ke pemukiman yang tidak terlalu elite, tapi tidak juga terlalu padat penduduk. “Berhenti di sana...” Aruna menunjuk rumahnya, rumah dengan tembok yang di cat berwarna tosca, dengan halaman yang sempit dan gerbang yang tidak terlalu tinggi.&
Last Updated: 2021-04-24
Chapter: 57Encounter 6 Aruna merasakan kecemasan menghampirinya. Hampir semua teman teman kantornya tidak menjawab panggilan maupun pesan darinya. Semua orang mungkin sudah pulang ataupun sedang melakukan pekerjaan diluar kantor. Aruna akhirnya duduk di paving, ia mengamati dengan mata nanar, dua roda belakang yang tidak lagi terisi udara. Dan bukan hanya itu, mobil kantor ini juga mogok! Aruna menundukan kepalanya dalam dalam, ia tengah mencari cari solusi. Tapi otaknya juga ikut mogok. “Butuh tumpangan?”&
Last Updated: 2021-04-24
Chapter: 56Encounter 5 Aruna sedang menatap layar ponselnya. Mencari hiburan di layar benda canggih itu. Sesekali mata Aruna yang jeli itu memperhatikan tiap tempat yang muncul di explore instagramnya. Aruna mencari hiburan sekaligus inspirasi. Menyelam sambil minum air. Cukup lama Aruna bermain ponsel hingga ia menyadari kalau waktu makan siangnya sudah hampir habis. Aruna berdiri dan mengeluarkan uang dari sakunya, meletakannya di atas meja dengan ditindih mangkuk soto yang baru saja ia makan. Aruna berjalan dengan tergesa gesa, tangannya mengetuk kaca gerobak. Aruna tersenyum dan dengan cepat ia menunjuk ke arah mangkuk-nya. 
Last Updated: 2021-04-24
Chapter: 55Encounter 5 Aruna sedang menatap layar ponselnya. Mencari hiburan di layar benda canggih itu. Sesekali mata Aruna yang jeli itu memperhatikan tiap tempat yang muncul di explore instagramnya. Aruna mencari hiburan sekaligus inspirasi. Menyelam sambil minum air. Cukup lama Aruna bermain ponsel hingga ia menyadari kalau waktu makan siangnya sudah hampir habis. Aruna berdiri dan mengeluarkan uang dari sakunya, meletakannya di atas meja dengan ditindih mangkuk soto yang baru saja ia makan. Aruna berjalan dengan tergesa gesa, tangannya mengetuk kaca gerobak. Aruna tersenyum dan dengan cepat ia menunjuk ke arah mangkuk-nya. 
Last Updated: 2021-04-24
Chapter: 54Encounter 4 Laura melirik ke meja yang sudah Mahesa pesan. Laura jelas sekali terlihat enggan untuk menyantap beberapa makanan disana. Apalagi Chesee Croucet yang terlihat menggiurkan tapi mematikan. Mematikan karir Laura maksudnya, karena ya... terlalu banyak kalori, dan berlemak. Euhh. Sedangkan Mahesa terlihat tenang tenang saja sambil menikmati minumannya, Latte. Meskipun kafe ini VIP, Mahesa tidak memesan makanan yang terlalu mewah. Toh ia hanya sekedar menikmati minuman disini. Sedangkan Aruna sejak tadi disergap rasa gugup. Ia bahkan melakukan tindakan bodoh dengan langsung menyeruput minumannya yang masih panas.&
Last Updated: 2021-04-24
Chapter: 51Encounter 3 Sebuah Kafe di daerah Bilangan, Jakarta Barat. Benar kata Kayara, kliennya kali ini benar benar membuatnya syok dan tidak percayara. Kafe yang Aruna masuki yang sepengetahuannya hanya bisa dimasuki oleh orang yang sudah reservasi terlebih dahulu. Tanpa perlu memerlukan tanda pengenal, Aruna bisa mengetahui siapa kliennya sekarang ini. “Selamat siang....” sapa Aruna dengan nada seramah mungkin. Menyapa dua orang yang hanya terlihat punggungnya saja. “Siang...” balas si pemilik suara bariton, si perempuan nampaknya masih kesal dan mengira kalau Aruna adalah Kayara.
Last Updated: 2021-04-24
Chapter: 22 ( Bab sedikit berbahaya )*** Namun meski di dunia ini telah banyak di suarakan tentang kebebasan, setiap manusia, setiap individu bebas menentukan pilihan hidupnya. Sepertinya tidak berlaku untuk sebagian orang. Sama halnya dengan Kila, ia merasakan sendiri kalau Kama, tengah mengatur hidupnya. Kini ia di paksa untuk naik motor. Yah... Memang tidak ada pilihan lain selain mengikuti Kama. Sekarang sudah sore, sedikit sekai kendaraan yang bisa membawa Kila kembali ke rumah. Kama mengendarai motor dengan ugal - ugalan, Kila merasakan gemuruh angin yang di lewatinya. Bahkan di jalanan yang sunyi seperti ini, Kila merasa ngeri. Mesi begitu, ego Kila masih terlalu tinggi. Ia takut, tapi ia takan mendaratkan tanganya untuk menyentuh Kama. Tidak akan. Kama yang melihat situasi kali ini, malah semakin marah dan mengencangkan laju motornya. Kila makin takut, tapi mulutnya tertutup rapat, ia malah mencengkeram pahanya, mencondongan tubuhnya alih - alih berpegangan pada Kama. Namun akhirnya Kila kalah, seekor
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: 21*** Sepreti yang sudah Kila duga, ia sedikit kewalahan karena membersihkan toko dan membuat roti sendirian. Menyiapkan bahan - bahan, menguleni adonan kue tanpa alat yang canggih, serta masih mengandalkan tenaga manusia. Namun Kila tidak mengeluh, mengeluh bukanlah ciri khas dirinya. Kila adalah gadis yang pantang menyerah dan pantang mengeluh. Sejak pagi, cukup banyak pelanggan yang datang ke toko kue. Sebagian besar pelanggan yang datang pasti menanyakan kabar Kila, menanyakan kenapa ia tidak bekerja kemarin dan menanyakan keberadaan Tari. Hingga sore tiba, Kila bisa mengistirahatkan diri. Hampir seluruh roti yang ia buat hari ini, terjual. Menyisakan beberapa nampan yang masih bisa di jual keesokan hari kalau tak terjual habis hari ini. "Selamat sore.... " Suara lonceng pintu terdengar bersamaan dengan suara sapaan tadi. Tedengar suara langkah masuk dan Kila pun menjawab, "Sore... " Kila tersenyum dan di balas senyum oleh Adimas. "Seperti biasa, mengambil pesananku." Tutu
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: 20*** Kila tidak bisa tidur, ia menunggu Kama menghubunginya lewat pesan singkat. Mengabarkan keadaan Tari, tapi sampai tengah malam pun, Kila tak kunjung mendapatkan kabar dari Kama. Kila menyerah, kini rasa kantuk telah menguasainya. Perlahan matanya terpejam dan mungkin sebentar lagi... Ia akan terlelap dalam mimpi. Namun, suara dering ponsel yang tak kunjung berhenti menarik kembali Kila dari alam mimpi. Ia terbangun dengan perasaan kaget dan gugup ketika melihat layar ponselnya. Berkali - kali Kila mengucek matanya. Tapi ia tak salah lihat. Kama menelfonya. Butuh waktu sedikit lama untuk Kila berpikir, hingga akhirnya ia mengangkat telfon Kama. Kila terbaring di atas tempat tidur, beralaskan bantal dengan ponsel yang ditindih. '"Halo... " Kila tak langsung menjawab, tapi itu memang suara Kama. "Halo... Kenapa?" Tanya Kila. " Kabar temanmu, dia baik baik - baik saja. Sore tadi dia sudah siuman, namun Rafa memberikan obat penenang, jadi sekarang ia tertidur lagi." Mendenga
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: 19Kama memacu motornya, melewati hutan dan akhirnya sampai di pondok kayu. Di sana ia sudah melihat Raga dan juga Rafa yang tengah sibuk menyiapkan perapian. Melihat kedatangan Kama, mereka berdua pun melambakan tangan. Kama berhenti dan memarkirkan motornya di samping pondok kayu. Langit terlihat cerah. Garis cakrawala pasti akan terlihat sangat indah jika dilihat dari atas tebing di tepi sana. "Bagaimana? Menemukan sesuatu yang menarik?" Tanya Rafa yang tengah sibuk menyusun kayu bakar yang Raga dapatkan dari hutan. Kama duduk di samping Rafa, sembari memperhatikan Raga yang tengah membuang sisik ikan. "Yah.... Beberapa hal menarik, tapi sedikit yang aku dapatkan." Jelas Kama. Raga yang sibuk membuang insang ikan, kini mulai menguping pembicaraan Rafa dan Kama. "Yah setidaknya... Bepergian hari ini tidak sia - sia. Kita mendapatkan makan malam enak." Raga menunjuk ikan yang ukuranya sama panjangnya dengan lengannya, lebih dari cukup untuk mereka bertiga. Rafa berhasil menyala
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: 18Bibi Aini memang orang yang sangat perhitungan masalah uang, tidak dengan siapapun dan tidak akan pandang bulu, bahkan kepada Paman Zainal sekalipun. Bahkah tak jarang, BIbi Aini sering mengoel masalah pengeluaran dan pemasukan untuk kebutuhan rumah tangga. Tak jarang Paman Zainal sudah menambah uang belanja, tapi BIbi Aini sering mengeluh kekurangan uang, yang bahkan ia jarang sekali berbelanja kepasar. Tapi untunglah, Paman Zainal mengerti betul sifat istrinya satu ini. Bibi Aini gila emas, kesanalah semua uangnya dihabiskan. Para tetangga pun sudah hapal dengan tabiat Bibi Aini ini. Bibi Aini sering sekali memamerkan kekayaanya, perhiassan barunya yang baru di beli Paman Zainal dari pulau sebrang, perhiasan keluaran terbaru dan masih banyak lagi. Kila sudah menerima uang pinjaman dari Bibi Aini, setelah kila hitung - hitung uangnya mungkin cukup untuk menjenguk adik Tari. Tinggal menunggu Kama untuk datang. Ia sudah berjanji untuk memberitahu kabar Tari. Sekarang tinggal menungg
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: 17"Aku antarkan kamu pulang, berpura - puralah tidak terjadi apa - apa." Kama memberitahu. Kila mengangguk, dan mereka menuju rumah Paman Zainal. Kila sedikit menjaga jarak antara dirinya dan Kama. Ini harus dilakukan. Dengan pelan Kila mundur perlahan. Kama bisa merasakan pergerakan Kila. "Kalau kamu bergerak sekali lagi, kamu akan mati." Kila menelan ludahnya, gugup. "Kita bisa mati kalau kamu terus mencoba menjauh. Aku bisa kehilangan keseimbangan dan kita terjatuh." Jelas Kama. Yah... Benar juga. Masuk akal memang, tapi ada rasa enggan dan takut saat berdekatan dengan Kama. Meski begitu, Kila harus menepis perasaanya sekarang ini. Ini bukan waktunya. Sepanjang jalan, terlihat asri dengan peponohan yang menjulang serta sinar matahari yang mulai menerobos dedaunan, kilau - kilau keemasan itu menakjubkan untuk dilihat. Tapi jalanan ini akan mengerikan ketika dilintasi di malam hari. *** Suara deru motor Kama terdengar hingga ruang tamu di kediaman Paman Zainal. Bibi Aini yang
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: 6666Raka duduk di ruang tunggu, bersama Morgan, Marcell dan Keyzia.Suasana begitu sangat canggung, apalagi suasana diantara Marcell dan Morgan. Keduanya sama - sama tak menyangka akan bertemu di sini. Apalagi Marcell, ia tak menyangka akan tertangkap basah disini."Aku tidak kalau Ayah punya niatan untuk datang kesini.." celetuk Morgan memecah keheningan.Marcell melirik pelan, "Memangnya aku tau." Balas Marcell dengan nada pedas, toh kalau ia tak langsung berjanji, mana mungkin ia mau mengantar Ayahnya kesini dan menemui Mika. Morgan mengedikan bahunya, mungkin hanya hati nurani Ayahnya yang terbuka sedangkan Marcell masih tertutup. "Ya baguslah kalau begitu..." Ucap Morgan."Ibu mungkin akan membunuhku kalau tau aku mendaratkan kaki ditempat ini..." Marcell berkata dengan gelisah. Kakinya tidak bisa tenang, menunggu ayahnya keluar dari ruangan Mika.Marcel melirik ke arah Keyzia, pandangan matanya turun ke arah perut Keyzia yang sedikit buncit, ia sudah tau dari ibunya kalau keyz
Last Updated: 2026-01-12
Chapter: 65Raka duduk dengan gusar, pandanganya masih tetuju ke ruang operasi. Operasi masih berjalan... Dan ini masih berlangsung lama. Brian sudah berpesan pada Raka, ia akan melakukan pekerjaanya sebaik mungkin. "Tuhan.... Tolong selamatkan cintaku." Bisik Raka sembari mengigit kukunya, sebuah kebiasaan dari kecil pertanda kalau ia sedang gugup, takut dan cemas. Langit menggelap, operasi yang berlangsung hampir lima jam itu akhirnya selesai. Degan cekatan, Raka bangkit dan melihat pintu ruang operasi terbuka. Miki segera di pindahkan ke ruang perawatan intensif sembari menunggu kesadaranya kembali.Raka setengah berlari mengikuti perawat yang membawa Mika. Selang infus, oksigen menempel padanya. Tapi matanya masih terpejam, wajah yang pia itu semakin menambah ketakutan Raka.Saat Raka hendak masuk ke ruangan, Brian menghentikan langkah Raka."Aku harus bicara sesuatu padamu..." Ucap Brian dengan hati - hati.Sekujur tubuh Raka langsung dingin, "Aku mohon. Sebaiknya ini bukan kabar buruk...
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: 64Mika menghabiskan sisa watunya dengan penuh ketenangan. Sisa - sisa harinya di rumah Raka hanya disii dengan jalan - jalan singkat, menilik segala tempat yang ingi Raka tunjukann padanya. Menikmati sore lagi - lagi di kebun bunga matahari. "Kamu yakin kita pulang hari ini?" Tanya Mika diambang pintu, sementara itu Raka tengah mengemasi barangnya yang hanya sedikit.Raka menatap ke arah Mika, wajah Mika tidak terlihat jelas karena membelakangi cahaya, hanya siluetnya hitam. Raka tak bisa melihat ekspresi keberatan dan sedih di wajah Mika, meski begitu terdengar jelas sekali kalau Mika tak ingin meninggalkan rumah Raka. "Kenapa? Kamu sudah bertanya untuk yang ke sepuluh kalinya... Ayo kemasi barangmu..."Raka bangkit dari rajang sembari meggendong tasnya, berjalan ke arah pintu dan melihat Mika tertunduk lesu."Kita bisa pulang ke rumah ini kapanpun kamu inginkann...". Bujuk Raka. Tapi Mika masih tertunduk lesu. Raka meremas bahu Mika pelan dan mentoel pinggang Mika, mencoba untuk m
Last Updated: 2025-12-18
Chapter: 63"Temanmu tadi cantik juga yaa..." Raka melirik ke arah Mika, ia tengah fokus menyetir mobil, "Maksudnya?" Tanya Raka tak mengerti. Mika memutar bola matanya, sembari jemarinya meremas telapak tanganya, "Yah.... Cantik." Ucap Mika, "Memang menurut kamu dia jelek?" Tanya Mika lagi.Pandangan Raka fokus ke jalan, "Yah tidak jelek juga." Jawab Raka.Mika berdecak kesal, "Jadi cantik kan?" Tegas Mika. Raka menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Yah semua perempuan itu cantik." Jawab Raka. "Lebih cantik mana? Temanmu atau aku?" "Kamu." Jawab Raka tanpa pikir panjang."Alah pasti terpaksa." Mika meninggikan suaranya dan nada bicaranya seolah tak percaya. Raka mengernyitkan dahinya, "Terpaksa kenapa? Kamu kan memang cantik," ujar Raka. Ia tak tau kenapa setiap jawabanya malah semakin membuat Mika terdengar kesal. Mika malah melempar pandangan keluar jendela, tidak mau menatap Raka. Entahlah... Mika sendiri tidak tau kenapa ada rasa gemuruh di dadanya yang terasa seperti amarah tak beral
Last Updated: 2025-12-14
Chapter: 62"Aku belum pernah makan sebanyak ini..." Ucap Mika dengan nada puas sembari tangan kirinya mengusap perutnya yang kekenyangan. Bagaimana tidak? Mika menghabiskan hampir seluruh jajanan yang di belinya, ini seperti membeli kepuasan masa kecil karena dulu ia di larang makan sembarangan. Tapi hari ini semua terbalaskan. Raka hanya bisa tersenyum geli karena Mika berusaha mengedurkan roknya, tapi tidak bisa, perutnya buncit mendadak dan ia merasa tak bisa berjalan sekarang ini. "Mau kemana lagi?" Tanya Raka.Mika berpikir keras, ia tak tau tujuan selanjutnya."Biasanya kamu kemana? Setelah makan es krim dan jajan di sini?" Tanya Mika."Pulang," jawab Raka. Mika berdecak kesal, "Mana mungkin...." Ucap Mika dengan nada tak percaya...."Ada tempat lain lagi?" Tanya Mika, berusaha mengulur waktu agar mereka tidak cepat pulang. Lagi pula... Mika masih sangat betah di sini. "Aku tidak melakukan hal lain selain pergi bersama temanku, makan di sini, dan membeli buku. Hanya itu, setelah itu
Last Updated: 2025-12-11
Chapter: 61Mika terpukau dengan penampilannya saat ini, mengenakan kemeja berwarna putih dan rok abu - abu panjang khas SMA. Mika berputar pelan."Bagaimana?" Tanya Mika meminta pendapat Raka. Raka bertepuk tangan kecil dan tersenyum lebar."Cocok..." Ucap Raka.Mata Mika membulat, "Benarkah? Bohong.... " Tuduh Mika. Usia tidak bisa bohong, mana mungkin ia terlihat seperti anak sekolah belasan tahun?"Aku tidak berbohong, bukan gayaku." Raka menyikapkan tanganya. Mereka tengah berada di dalam toko sepatu, Mika menggati sepatunya dengan sepatu yang menurut Raka lebih nyaman untuk berjalan lama. Karena Raka akan mengajak tour kecil. Mengajak Mika berjalan - jalan di kota kecil ini sebagai anak sekolah. Toh tidak ada yang mengenali Mika di kota ini. Raka yakin dengan penampilan Mika ini, orang - orangpun akan percaya kalau Mika mengaku sebagai anak sekolah pindahan. "Mau berjalan ke taman kota?" Tanya Raka."Dimana itu?" Mika bertanya dengan tak sabaran, ia melebarkan roknya dan memasang ekspres
Last Updated: 2025-12-08