LOGIN"Lex, kamu gak sarapan dulu?" tanya Ira saat melihat Alex terburu-buru keluar dari kamar Putri untuk pamit pergi kerja.
"Nanti aja, Ma. Ada urusan mendadak," ucap Alex yang kemudian pamit pada Ira."Hati-hati di jalan, kamu gak usah buru-buru," pesan Ira pada Alex yang sudah tancap gas meninggalkan rumah. Ira lalu menghubungi Rena untuk menanyakan urusan mendadak apa yang sedang Alex urus."Iya, Bu. Selamat pagi." Rena menempelkan ponselnya di telinga."Kamu sudah di kantor?"Lex, kamu gak sarapan dulu?" tanya Ira saat melihat Alex terburu-buru keluar dari kamar Putri untuk pamit pergi kerja. "Nanti aja, Ma. Ada urusan mendadak," ucap Alex yang kemudian pamit pada Ira."Hati-hati di jalan, kamu gak usah buru-buru," pesan Ira pada Alex yang sudah tancap gas meninggalkan rumah. Ira lalu menghubungi Rena untuk menanyakan urusan mendadak apa yang sedang Alex urus."Iya, Bu. Selamat pagi." Rena menempelkan ponselnya di telinga. "Kamu sudah di kantor?" tanya Ira. "Belum, Bu. Ini baru mau jalan. Ada apa ya, Bu?""Itu tadi Alex pagi-pagi sudah pergi. Gak sempat sarapan, katanya ada urusan mendadak. Urusan apa sih?" Ira penasaran karena wajah Alex terlihat tegang."Pak Alex ke rumah sakit, Bu.""Hah, ngapain?" Ira kaget. Yang tadinya Ia berdiri, kini ia memilih untuk duduk. Takut tambah kaget mendengar jawaban dari Rena."Dapat info dari Pak Jon, kalau proyek pembangunan apartemen yang sedang berlangsung terjadi kecelakaan
Keluar dari rumah sakit Tante Bunga sekeluarga tidak langsung pulang ke Bandung, karena dokter masih harus memantau perkembangan jantung Tante Bunga. Bosan di apartemen mereka semua berkunjung ke rumah Mama."Lagi ada tamu?" tanya Alex melihat ada mobil terparkir di depan rumah Rena saat mengantarnya pulang."Kayak mobil Om Arsyad," ucap Rena memicingkan matanya, “iya itu plat mobil Om Arsyad.”"Tante Bunga sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Alex menghentikan mobilnya.Rena mengangguk sambil melepas sabuk pengamannya, bersiap untuk turun."Kenapa gak bilang?" Alex memundurkan mobilnya kemudian putar balik."Mau kemana, Mas? Kan sudah sampai di rumah?""Beli buah tangan, gak enak tangan kosong banyak orang di rumah kamu," ucap Alex.."Gak usah repot kali, Mas.""Bukan repot. Itu namanya etika bertamu ke rumah orang. Apalagi ada keluarga kamu yang lain.""Mas Alex kan cuma mau antar saya pulan
Melihat Rena tiba di ujung tangga, Manda cepat melambaikan tangan seraya memanggilnya. Melihat itu, Rena yang penasaran mempercepat langkahnya."Ada apa, Nda?" tanya begitu sampai di ruangan."Pak Alex belum datang kan?""Kan kamu duluan yang nyampe kantor, kenapa jadi tanya aku?" ucap Rena, "ruangannya sih masih gelap berarti dia belum datang. Mobilnya juga gak ada di parkiran. Emang ada apa sih?""Nih, coba kamu lihat," ucap Manda menunjukkan layar ponselnya."Ini Pak Alex sama kliennya kan? Klien yang kalau datang gak ada sopan santunnya itu kan?" tanya Manda pada Rena."Iya. Itu kliennya Pak Alex, Desita."“Throwback jaman kuliah,” baca Rena dalam hati pada postingan yang diperlihatkan Manda pagi itu."Postingan siapa sih, Nda? Kenapa bisa ada mereka di situ?" tanya Rena dengan raut wajah yang telah berubah. Tak seceria saat ia tiba di kantor tadi."Tetangga aku, Ren. Mungkin tetangga aku itu temannya Pak Alex atau nggak temannya Desita itu,"
Mama masih sibuk di rumah sakit membantu Om Arsyad merawat Tante Bunga, sehingga belum sempat berbicara banyak dengan Rena setelah ia pulang dari Bali. Rena sendiri saat bertemu Mama merasa ada yang beda dengan sikap Mama. Seperti ingin marah tapi masih tertahan. Sore ini sepulang kantor Rena langsung ke rumah sakit. "Kenapa?" tanya Om Arsyad pada Mama saat tak sengaja menjatuhkan ponsel yang sedang dipegangnya. "Mbak Dini, kenapa?" Tante Bunga juga ikut menanyakan. Rena yang berdiri di depan pintu menjadi bingung melihat situasi di dalam kamar. "Ini, tanya sama Rena apa yang terjadi?" ucap Mama memandang Rena dengan amarah. “Mama kenapa ya? Marah sama aku ya,” batinnya lalu berjalan dan duduk di sofa yang tak jauh dari Mama. Mama berjalan menghampiri Om Arsyad dan Tante Bunga kemudian menunjukkan layar ponselnya. "Saya sudah bilang sama dia jangan terlalu dekat sama bosnya itu, tapi coba liat foto ini!
Setelah mengalami delay selama dua jam, mereka akhirnya terbang juga menuju Jakarta. Masih tersisa bekas-bekas hujan di atas awan. Kadang kilatan petir hingga pesawat mereka melewati awan hitam dan membuat guncangan yang cukup memberi ketakutan."Aduh, harusnya kita pulang kemarin, Mas." Rena takut. Sedari tadi tangannya tak lepas memegang tangan Alex."Ya mau gimana, udah terlanjur," sahut Alex berusaha tenang. "Aduh. Aduh. Aduh." Rena mendekat pada Alex dengan mata terpejam. Terdengar pemberitahuan untuk mengencangkan sabuk pengaman."Naik pesawat kali ini bikin takut," rengek Rena."Aku juga takut. Tujuan aku untuk menikahi kamu belum terwujud," ucap Alex mengusap-usap keningnya."Hah? Pak Alex bilang apa? Bapak ngomong apa?" Rena meminta Alex untuk mengulangi ucapannya."Cukup sekali aku bilang," ucap Alex tegas."Mas, kamu tadi bilang apa? Coba ulangi," pina Rena lagi."Kamu tenang supaya aku juga ikut tenang. Kamu gak lihat aku juga takut!"
Benar-benar menikmati tidur malam yang nyenyak, mereka terbangun saat matahari telah mengintip dari balik tirai."Saya masih mau kamu di sini," ucap Alex kembali menarik Rena lebih dekat dengannya."Kemarin jam segini petugas hotel sudah ngantar sarapan, kenapa sekarang belum datang?""Kamu lapar?"Rena mengangguk."Kemarin aku bilang sama petugasnya jangan kirim sarapan sebelum saya minta," tukas Alex."Kenapa?""Karena mereka mengganggu aja," jawab Alex membelai rambut Rena yang berantakan.Rena tertawa sinis lalu menghubungi petugas hotel minta diantarkan sarapan pagi. Ponsel yang diletakkannya di atas nakas, tiba-tiba saja menyala."Sekretarisnya Pak Daniel ngirim tiket pulang, Mas." Rena tampak serius membaca detail tiket yang dikirim."Penerbangan terakhir," lanjutnya lagi."Kamu teruskan ke aku juga."Begitu sarapan datang, Rena mengajak Alex untuk sarapan. Di sela-sela makannya, Alex mengatakan kalau ia berencana akan mengajak







