Share

Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia
Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia
Author: Oyamanda

Hujan pertama bulan juni

Author: Oyamanda
last update publish date: 2026-09-28 17:41:57

Hujan pertama di bulan Juni sore ini. Bau tanah yang tersentuh air hujan menyeruak tajam, menusuk hidung, namun menenangkan.

Sera duduk di bangku yang mengarah ke jendela kaca. Ia menatap butiran hujan yang turun perlahan. Teh di cangkir yang ia pegang menguapkan panas yang sedikit menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan.

Rintik hujan masih menari-nari di langit berwarna jingga, sepertinya hari ini akan ditutup dengan rintikan hujan.

Bip bip bip....

Suara ponsel berdering.

Sera menggapai handphone nya dari atas nakas, nama Arini muncul di layar ponsel.

"Halo Rin, ada apa nih? Tumben nelpon? Biasanya chat doang.” Celetuk Sera sembari kembali menyeduh teh.

[Ra, Desta disini.] Suara dari seberang terdengar serius.

Sera membeku.

Nama itu, nama keramat yang bertahun tahun menjadi penyakit di hatinya, mengendap tak mau keluar meski beribu obat ia telan, namun penawarnya juga tidak ia temukan.

[Bisa kesini?] ucap suara dari seberang lagi.

Suara Arini yang panik mengagetkan Sera. Haruskah ia biarkan lelaki itu berlalu lagi?

Tidak, tentu tidak boleh, ia harus menemukannya, entah akan menjadi obat atau racun, yang jelas Sera harus mengeluarkan lelaki itu dari dalam hatinya bersama akar-akarnya.

"Lima menit lagi aku sampai," Sera menjawab tanpa ragu lagi.

Setelah mematikan sambungan telepon dan meletakkan cangkir, Sera meraih sweater lalu bergegas pergi.

Hanya lima menit Sera sudah sampai ke depan toko buku Arini.

Langkah Sera seperti mengikuti alur detak jantungnya, begitu cepat tanpa ia sadari. Bahkan ia lupa menyisir rambunya yang sejak tadi hanya tergulung asal.

Sera membeku.

Desta berdiri di hadapannya, masih sama seperti dulu, dengan senyum tipis bersahaja, tubuh tegap tinggi, kulit sawo matang, rambut ala taruna, dan tas selempang.

Sera masih membeku, langkah yang tadi cepat kini tak mampu lagi melaju.

"Sera, apa kabar?" Suaranya menggema di ruangan yang tiba-tiba senyap dengan mata berbinar menatap Sera.

"Tiga tahun, tiga bulan, empat hari. Kamu mengakar disini," Sera menunjuk dadanya, "seperti virus yang mengendap, menjadi parasit,” lanjut Sera dengan suara gemetar.

Senyum Desta lenyap.

Entah sejak kapan Arini menutup pintu toko dan memberi tanda tutup. Ia melangkah ke lantai atas seperti tidak ingin mengganggu Sera dan Desta.

Desta melangkah mendekati Sera, hanya berjarak satu meter dia kembali berhenti.

"Sera, aku menempuh jalan yang gak mudah, aku bukan pewaris yang bisa duduk manis, aku...." Bola mata Desta membulat saat wanita itu tiba-tiba menghambur ke pelukannya.

Sera memeluk Desta dengan sangat erat seolah ia tak ingin lagi melepaskan lelaki itu.

Sejurus kemudian Sera menatap wajah teduh Desta dan mencium bibir dingin lelaki itu yang masih membeku. Kehangatan yang di berikan Sera turut mengalir di aliran darah Desta.

Lelaki itu tak lagi menahan diri, ia membalas setiap kecupan bibir Sera yang berulang namun tetap terasa lembut dan mampu menghangatkan seluruh suasana yang beku.

#

Sera dan Desta duduk dilantai dan bersandar pada salah satu rak buku di toko itu. Hening, hampir dua puluh menit tanpa kata. Malam tiba, langit jingga berubah gelap, tapi hujan masih setia.

Sera menoleh pada Desta yang masih diam di sampingnya.

"Kisah apa yang kamu bawa?" Tanya Sera dengan tatapan hangat.

Ia tersenyum tapi tak membalas tatapan Sera, "gak istimewa, aku cuma laki laki biasa."

"Tapi kamu lelaki yang selalu aku cintai.” Ucap Sera dengan sedikit menegakkan tubuhnya.

Kali ini Desta menoleh, menatap Sera dengan mata teduhnya.

"Setelah dewasa ternyata cinta bukan yang utama Ra." Kata Desta dengan senyum getir.

Sera sedikit terkejut dengan ucapan Desta. Lelaki itu berubah. Senyumnya, sorot matanya, tak lagi sama di mata Sera.

"Aku gagal menjaga cinta kamu,” lanjut Desta dengan suara gemetar.

Udara di sekitar Sera tiba-tiba terasa sesak. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, seolah sedang bersiap untuk sesuatu yang tak ia sukai.

Desta meraih tangan Sera, meletakkan sepucuk kertas di atas telapak tangan wanita yang sudah terlihat rapuh itu.

Undangan.

Desta wijaya dan Melati Ariani

Mata Sera tak berkedip, tubuhnya pun sontak membeku hingga undangan itu tak mampu lagi ia genggam dan terjatuh. Pelupuk matanya perlahan di penuhi dengan cairan bening.

"Minggu depan akad dan resepsinya.” Ucap Desta dengan wajah tertunduk, “aku gak maksa kamu datang, tapi memberi kabar mungkin akan menjawab semua bimbang di hati kamu." Kali ini Desta memberanikan diri menatap Sera.

Belum sempat ia mencerna semua yang terjadi dengan begitu mendadak, lelaki itu bangkit dari duduknya.

"Aku pamit Ra.” Kata Desta sembari membenarkan tali tas selempangnya. “Mungkin gak akan ada lagi pertemuan antara kita. Jangan menunggu lagi Ra, Semuanya sudah berakhir."

"Kenapa baru sekarang?" Tanya Sera dengan suara gemetar namun tetap tak bergeming dari posisinya. "Harusnya gak perlu nunggu sekian lama buat menghancurkan hati aku,” lanjut Sera.

"Maaf Ra, aku gak punya jawabannya,” jawab Desta dengan suara berat.

Lelaki itu membalikkan tubuh, melangkah dengan sangat berat namun berusaha terlihat baik-baik saja. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Ada kepingan yang tak bisa ia bawa bersama tangis Sera.

Meski langkahnya tegap, namun pelupuk mata Desta basah, mengembun dan ia kembali berusaha menegakkan wajahnya meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.

Sera meringkuk, memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya di sana. Suara tangisnya terdengar memilukan bersama suara tetesan air hujan. Bahunya bergetar hebat seolah ia tak mampu lagi menahan tangis.

Pintu itu tertutup, Desta pergi tanpa mempedulikan tangis Sera yang kian pecah dan pilu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Persaingan yang mengakar

    Sera melipat kedua tangannya di depan dada sambil memperhatikan tangan waiters yang meletakkan teh paper mint pesanannya ke atas meja dan ice americano pesanan Jeny.Setelah waiters itu selesai dan beranjak dari meja mereka, Sera bergeming dengan meletakkan kedua lengannya ke atas meja."Apa semua dewan guru menyetujui rekomendasi Danira?" Tanya Sera dengan mata yang tak terlalu antusias."Mmm... Kaya nya gak terlalu. Mereka cuma bingung, Danira yang selama ini kelihatan benci sama kamu kenapa mendadak merekomendasikan nama kamu, bukan namanya sendiri yang begitu antusias sama jabatan itu."Sera menghela nafas yang di akhiri dengan senyum kecil di sudut bibirnya, "itu rencana yang sempurna.""Maksud kamu?" Tanya Jeny sembari mengaduk ice americano nya sesaat sebelum ia menyeduhnya."Jabatan kepala sekolah di yayasan kita gak boleh lebih dari lima tahun. Kalau aku menjabat kepala sekolah sekarang, lima tahun ke depan aku harus pensiun di usia muda atau turun jabatan kembali jadi guru b

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Kenangan yang membekas

    Sera tampak lihai menarikan jemarinya di atas senar gitar sambil bernyanyi dengan suara merdunya. Sontak hal itu menarik perhatian seisi kelas, tak terkecuali Desta yang baru masuk.Melihat Desta masuk, Sera menghentikan lagunya."Hai pacar..." Sapa Sera dengan senyum cerah khasnya.Kini semua perhatian tertuju pada Desta, menjadikan dia seperti tersangka dalam sebuah teka-teki besar."Pacar?" Tanya Sadam yang duduk di samping Sera, "sejak kapan?" Sadam bergeming dari posisinya."Kemarin kami baru jadian." Sera meletakkan gitarnya dan beranjak dari duduknya mendekati Desta yang masih berdiri mematung di depan kelas. Sera kembali merangkul kan tangannya ke lengan Desta. "Kami pacaran. Jadi, aku harap buat semua cewek yang ada di kelas ini jangan ganggu Desta ya. Dia milik Sera, dan Sera milik Desta," ucapnya seolah sedang mengumumkan hal keramat."Serius Ra?" Tanya lelaki yang berdiri di sebelah Sadam.Sera mengangguk. "Sengaja aku umumkan, biar gak ada lagi yang mengira aku jomblo."

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Bunga lily dan ceritanya

    "Cuma buku itu yang kamu bawa?" Tanya Desta dengan mata setengah melotot.Mata Sera mengikuti arah tatapan Desta, ia mengangguk sambil membuka lebar tasnya yang memperlihatkan alat make-up yang lengkap seolah itu memang tas make-up."Kamu mau kuliah atau..." Kening Desta mengernyit."Aku lebih suka lihat wajah aku yang tetap cantik daripada nilai A di kertas ujian." Sera tersenyum penuh percaya diri.Desta menutup mulutnya dengan tangannya ketika tawa tak mampu ia bendung saat melihat wajah Sera yang polos ketika mengucapkan kalimat itu."Apa itu lucu?" Senyum Sera lenyap berganti wajah kesal."Gak, bukan gitu, cuma agak aneh." Jawab Desta yang terlihat berusaha menghentikan tawanya."Kamu suka cewek aneh gak?" Sera kembali menopangkan wajah ke tangannya.Desta menghela nafas. "Yang normal aja kadang ribet, apalagi yang aneh." Senyum Desta tampak menyindir."Tapi yang aneh kan lucu tau..." Sera masih berusaha menggoda."Beda antara aneh dan lucu." Desta mulai membuka buku di hadapanny

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Kenangan yang melintas

    "Danira, akhirnya kamu kembali."Danira mengangkat dagu. "Kamu terganggu?""Apa ada alasan yang membuatku harus merasa terganggu?" Sera balik bertanya dengan raut wajah tenang.Sepatu hak tinggi Danira beradu dengan lantai ketika ia berjalan mendekat. Jarak mereka tinggal beberapa sentimeter. Mata keduanya saling menatap, dingin dan tajam.Danira tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana."Apa kamu masih mengincar posisi ketua yayasan?"Sera mempertahankan wajah tenangnya, meski jemarinya perlahan mengepal di sisi tubuh. Kedatangan Danira bukan kebetulan. Danira tidak pernah muncul tanpa membawa sesuatu yang ingin direbutnya."Dari awal kamu tau aku gak pernah menginginkan jabatan itu." Jawab Sera dengan wajah ramah.Senyum Danira menghilang."Ternyata kamu masih naif ya. Pantas saja sampai sekarang pun kamu belum bisa move on dari lelaki itu."Sera menatapnya tajam. Untuk pertama kalinya pagi itu, pikirannya tidak lagi dipenuhi Raja."Apa maksudmu?"Danira mendekatkan waja

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Setelah peristiwa itu...

    Setalah cukup lama membiarkan Raja melayangkan ciumannya, Sera mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melepaskan cengkraman lelaki itu dari tubuhnya.Beberapa kali mencoba ia gagal sampai yang terakhir kali dengan rasa amarah yang memuncak ia berhasil mendorong dada Raja hingga pria itu terhuyung mundur."Dasar kurang ajar! Kamu kira aku ini apa sembarangan kamu cium!" ketus Sera. Wajahnya dipenuhi kemarahan, sementara keterkejutan masih jelas terlihat di matanya.Raja menatapnya dengan wajah muram. Tatapan tajam Sera tidak membuatnya mundur, tetapi juga tidak membuatnya berani mendekat lagi."Aku suka sama Mbak Sera."Kening Sera berkerut, dengan sorot mata penuh emosi ia menampar wajah Raja hingga lelaki itu memegangi pipinya karna merasa pedih."Suka? Baru tadi siang kita kenal dan ngobrol, lalu kamu langsung bilang suka? Kamu kira aku perempuan kesepian yang haus kasih sayang?" tanyanya dengan nada meninggi."Sejak pertama kali melihat Mbak Sera, aku langsung—""Cukup!" Sera memoton

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Ciuman tak terduga

    Sera menelusuri setiap gang dari rak-rak buku yang tersusun rapi. Ia menghirup dalam-dalam aroma buku yang menjadi ritual setiap ia memasuki toko buku atau perpustakaan. Raja mengernyitkan kening ketika mendapati tingkah Sera yang tak biasa menurutnya."Mbak Sera ngapai?" Tanyanya dengan nada sedikit ragu.Sera tersenyum kecil sembari menoleh pada Raja yang masih menatapnya penasaran."Itu ritual ku setiap kali masuk ke toko buku atau perpustakaan." Wajah Sera seolah berubah merona."Ri—tual?" Tanya Raja dengan wajah penuh penasaran.Sera mengangguk, "menghirup aroma buku yang tersusun rapi di rak-rak itu sesuatu yang menenangkan. Bagiku, seperti aroma terapi. Ada hal yang kembali dalam sekejap setiap aku menghirup baunya." Sera kembali menghirup udara dengan dalam, seolah menikmati setiap aroma di dalam ruangan itu."Apa yang kembali?" Tanya Raja penasaran.Garis senyum wanita itu menghilang, ekspresinya terlihat kaku sembari mengalihkan pandangan dari Raja. "Kenangan misalnya," ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status