MasukDua tahun kemudian.
Sera membuka tirai jendela kamarnya, mempersilahkan cahaya matahari pagi masuk ke dalam ruangan itu. Ia menoleh ke arah kasur, dimana sahabatnya masih tertidur lelap. Namun tak bertahan lama, Jeny akhirnya tergugah, ia mulai mengerjap kan matanya karna silau dengan kilatan cahaya pagi. Sera tersenyum lucu saat melihat perempuan dengan rambut panjang bergelombang itu dengan malas bangkit dari rebahnya. "Jam berapa sih ra? Kok udah terang?" Jeny berusaha membuka matanya yang masih setengah terpejam. "Jam sepuluh." Sera melangkah mendekati kasur. "Astaga! Aku kesiangan ya?" Jeny menyibakkan selimut dari tubuhnya. "Ya udahlah, weekend juga kan? Manjain badan." Sera melangkah ke luar kamar, "sarapan yuk, aku nunggui kamu bangun loh." Jeny nyengir sembari berjalan ke luar kamar. Sera menyeduh teh paper mint favoritnya di depan meja makan berwarna putih. Jeny ikut mengambil bangku di depannya lalu duduk. "Cuci muka dulu ih…,” tegur Sera saat melihat Jeny yang langsung menyeruput teh di hadapannya dengan muka bantal. "Pahit banget mulut aku ra, ntar aja lah cuci mukanya." Sahut Jeny lalu menyeduh teh di atas meja. "Jorok tau..." Sera terlihat jijik dengan aksi sahabatnya. Jeny malah nyengir dan lanjut melahap roti isi keju dan sosis panggang yang sudah tersaji di depannya. "Hari ini mau kemana?" Tanya Jeny dengan mulut penuh terisi makanan. "Toko buku.” jawab Sera singkat. Jeny menyelesaikan kunyahannya lalu menelan makanan itu sembari meletakkan roti isi yang ia pegang ke atas piring. "Gak ada tempat lain selain toko buku?" Tanya Jeny dengan kening mengernyit. "Aku gak suka tempat yang berisik." Sera kembali menyeduh teh nya. "Toko buku Arini?" Raut wajah Sera menegang saat mendengar kalimat itu. Ia meletakkan cangkir tehnya ke atas meja sembari mengarahkan tatapan kakunya pada Jeny yang kembali melahap roti isi itu dengan tenang. "Toko buku yang lain. Di ujung jalan sini juga ada kok toko buku.” Mata Sera seolah menunjukkan arah toko buku lain. "Kamu teringat momen itu ya kalau ke toko buku Arini?" Jeny menyelidik reaksi wajah Sera sembari melipat roti di tangannya. Sera terdiam. Bayangan ia berlari terengah menuju toko buku itu dan tersenyum senang saat melihat wajah Desta yang tak banyak berubah ada di antara rak buku terlintas di ingatannya. Sera menghela nafas, "apa aku tertinggal jauh oleh masa depan ya?" "Akhirnya kamu sadar. Masa depan sudah berjalan selama dua tahun, kamu masih merasa peristiwa itu baru kemarin." Racau Jeny dengan helaan napas kasar. Sekali lagi Sera menghela nafas, "kamu punya rencana apa?" "Kita ke rumah aku aja.” Jawab Jeny dengan mata berbinar. Kening Sera mengernyit, "ke rumah kamu? Ngapai?" "Tadi malam aku ceritakan kalau Jefri bawa temen-temennya ke rumah?" Sera mengangguk, "terus kenapa?" "Hari ini mereka barbeque–an di rumah. Kita gabung aja sama mereka, lumayan kan makan gratis.” Ujar Jeny yang lalu melahap sisa rotinya, “lagian temen-temen Jefri keren-keren loh, enak dilihat.” Jeny menyelesaikan kunyahan terakhirnya. “Coba aja mereka lahirnya di tahun yang sama kaya tahun lahir kita, pasti dunia ini menyenangkan." Jeny senyum-senyum tersipu. "Memangnya kenapa?" Tanya Sera. "Cowok di bawah kita yang lebih muda lima sampai sembilan tahun itu kece-kece ra. Apa kita yang kecepetan lahir ya?" Jeny menyipitkan mata menatap langit-langit seolah sedang berpikir. "Ada-ada aja kamu Jen..." Sergah Sera dengan tawa kecil. Mata Jeny melorot ke arah Sera yang lagi-lagi hanya menyeduh tehnya. "Jadi gimana? Mau kan?" "Jeny, mereka itu masih muda, sementara kita udah tua. Kalau ikut gabung ya gak nyambung lah. Malu tau..." Kata Sera. Jeny menopahkan kedua tangannya ke atas meja, "mereka orangnya asik, beneran. Mereka gak akan mengucilkan kita hanya karna kita lebih tua delapan tahun. Percaya deh, mereka gak kaya Jefri yang nyebelin." Jeny menatap Sera dengan penuh harapan dan rayuan. Sera tertawa lucu melihat ekspresi wajah Jeny, "okey deh aku coba. Kalau suasananya canggung, kita cari tempat nongkrong aja ya." "Okey siap..." Ucap Jeny dengan senyum cerah sembari melahap potongan terakhir roti isinya. * Jeny dan Sera mengatur langkah memasuki halaman belakang rumah Jeny yang terlihat ramai. Beberapa lelaki muda berusia sekitar dua puluh tahunan sedang asik ngobrol dengan panggangan di depan mereka. Sesekali mereka membalik daging yang ada di atas panggangan sambil tetap melempar guyonan hingga suasana terlihat hangat. "Hallo semuanya..." Sapa Jeny tanpa canggung seolah sudah mengenal akrab para lelaki disitu. "Katanya mau nginep di rumah temen?" Protes seorang lelaki dengan Hoodie berwarna navy dengan wajah kurang senang. Jeny langsung menjitak kepala lelaki itu hingga ia mengaduh kesakitan. "Namanya nginep itu ya malam hari, kamu gak lihat ini udah jam berapa? Nginep bukan berarti gak pulang lagi kan?" Kata Jeny dengan gerakan tangan seolah ingin memukul adiknya. Jeny lalu menarik tangan Sera yang hanya berdiri canggung melihat pertengkaran kakak dan adik itu. "Kami boleh gabung kan? Soalnya hari ini kami gak punya rencana apa-apa,” celetuk Jeny kemudian di depan teman-teman adiknya. "Boleh kak, kami malah seneng ada cewek di sini. Dari tadi semua cowok bahasannya garing." Sahut seorang lelaki yang masih fokus dengan panggangan nya. "Tuh kan, udah aku tebak gak bakal ganggu," sambar Jeny tersenyum lega. "Tapi kak, ini kan acara kami,” protes Jefri sekali lagi namun tak berani mendekat pada kakaknya. "Mungkin kehadiran mereka bisa membuat suasana makin seru Jef.” Sahut lelaki tadi yang kemudian mengarahkan pandangannya pada Jeny dan Sera sambil mengulurkan tangan, "aku Raja. Kita harus tau nama satu sama lain kan biar gak canggung?” Ucapnya dengan bola mata yang tak bergerak dari Sera."Cuma buku itu yang kamu bawa?" Tanya Desta dengan mata setengah melotot.Mata Sera mengikuti arah tatapan Desta, ia mengangguk sambil membuka lebar tasnya yang memperlihatkan alat make-up yang lengkap seolah itu memang tas make-up."Kamu mau kuliah atau..." Kening Desta mengernyit."Aku lebih suka lihat wajah aku yang tetap cantik daripada nilai A di kertas ujian." Sera tersenyum penuh percaya diri.Desta menutup mulutnya dengan tangannya ketika tawa tak mampu ia bendung saat melihat wajah Sera yang polos ketika mengucapkan kalimat itu."Apa itu lucu?" Senyum Sera lenyap berganti wajah kesal."Gak, bukan gitu, cuma agak aneh." Jawab Desta yang terlihat berusaha menghentikan tawanya."Kamu suka cewek aneh gak?" Sera kembali menopangkan wajah ke tangannya.Desta menghela nafas. "Yang normal aja kadang ribet, apalagi yang aneh." Senyum Desta tampak menyindir."Tapi yang aneh kan lucu tau..." Sera masih berusaha menggoda."Beda antara aneh dan lucu." Desta mulai membuka buku di hadapanny
"Danira, akhirnya kamu kembali."Danira mengangkat dagu. "Kamu terganggu?""Apa ada alasan yang membuatku harus merasa terganggu?" Sera balik bertanya dengan raut wajah tenang.Sepatu hak tinggi Danira beradu dengan lantai ketika ia berjalan mendekat. Jarak mereka tinggal beberapa sentimeter. Mata keduanya saling menatap, dingin dan tajam.Danira tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana."Apa kamu masih mengincar posisi ketua yayasan?"Sera mempertahankan wajah tenangnya, meski jemarinya perlahan mengepal di sisi tubuh. Kedatangan Danira bukan kebetulan. Danira tidak pernah muncul tanpa membawa sesuatu yang ingin direbutnya."Dari awal kamu tau aku gak pernah menginginkan jabatan itu." Jawab Sera dengan wajah ramah.Senyum Danira menghilang."Ternyata kamu masih naif ya. Pantas saja sampai sekarang pun kamu belum bisa move on dari lelaki itu."Sera menatapnya tajam. Untuk pertama kalinya pagi itu, pikirannya tidak lagi dipenuhi Raja."Apa maksudmu?"Danira mendekatkan waja
Setalah cukup lama membiarkan Raja melayangkan ciumannya, Sera mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melepaskan cengkraman lelaki itu dari tubuhnya.Beberapa kali mencoba ia gagal sampai yang terakhir kali dengan rasa amarah yang memuncak ia berhasil mendorong dada Raja hingga pria itu terhuyung mundur."Dasar kurang ajar! Kamu kira aku ini apa sembarangan kamu cium!" ketus Sera. Wajahnya dipenuhi kemarahan, sementara keterkejutan masih jelas terlihat di matanya.Raja menatapnya dengan wajah muram. Tatapan tajam Sera tidak membuatnya mundur, tetapi juga tidak membuatnya berani mendekat lagi."Aku suka sama Mbak Sera."Kening Sera berkerut, dengan sorot mata penuh emosi ia menampar wajah Raja hingga lelaki itu memegangi pipinya karna merasa pedih."Suka? Baru tadi siang kita kenal dan ngobrol, lalu kamu langsung bilang suka? Kamu kira aku perempuan kesepian yang haus kasih sayang?" tanyanya dengan nada meninggi."Sejak pertama kali melihat Mbak Sera, aku langsung—""Cukup!" Sera memoton
Sera menelusuri setiap gang dari rak-rak buku yang tersusun rapi. Ia menghirup dalam-dalam aroma buku yang menjadi ritual setiap ia memasuki toko buku atau perpustakaan. Raja mengernyitkan kening ketika mendapati tingkah Sera yang tak biasa menurutnya."Mbak Sera ngapai?" Tanyanya dengan nada sedikit ragu.Sera tersenyum kecil sembari menoleh pada Raja yang masih menatapnya penasaran."Itu ritual ku setiap kali masuk ke toko buku atau perpustakaan." Wajah Sera seolah berubah merona."Ri—tual?" Tanya Raja dengan wajah penuh penasaran.Sera mengangguk, "menghirup aroma buku yang tersusun rapi di rak-rak itu sesuatu yang menenangkan. Bagiku, seperti aroma terapi. Ada hal yang kembali dalam sekejap setiap aku menghirup baunya." Sera kembali menghirup udara dengan dalam, seolah menikmati setiap aroma di dalam ruangan itu."Apa yang kembali?" Tanya Raja penasaran.Garis senyum wanita itu menghilang, ekspresinya terlihat kaku sembari mengalihkan pandangan dari Raja. "Kenangan misalnya," ja
Sera mengeluarkan ponsel dari tasnya saat Raja tengah merapikan meja bekas makanan mereka tadi. Raut serius Sera sedikit menarik perhatian Raja."Ada hal penting yang mengganggu mbak Sera?" Tanya Raja dengan wajah penasaran.Mata Sera sedikit menyipit ketika mengalihkan pandangan dari ponselnya ke arah Raja yang kemudian duduk di hadapannya."Pesen taxi online tapi belum ada yang jawab,” ucap Sera."Aku antar aja." Kata Raja sambil meletakkan kain lap yang legang ke atas meja.Kening Sera mengernyit, "jangan. Kalian pasti masih mau seru-seruan kan?"Raja menoleh pada teman-temannya yang masih sibuk membereskan halaman belakang rumah Jefri yang berantakan karna acara mereka."Setelah selesai beberes mereka pasti sibuk sama hape nya. Seharian kan mereka gak ada pegang handphone." Kata Raja yang kembali menatap Sera.Wanita itu terdiam sejenak, tampak menimbang tawaran Raja, "boleh deh kalau gak ngerepotin.”Raja tersenyum, ia meraih kunci mobil di atas meja dan berdiri, "guys, aku mau a
Sera masih mematung karna canggung, Jeny berinisiatif menggerakkan tangan Sera menjabat tangan Raja. "Sera, namanya Sera. Dia sahabat aku," ucap Jeny seolah mewakili Sera yang masih terlihat kaku.Lelaki bernama Raja tersenyum dan kembali fokus pada panggangan ya.Sesi obrolan yang di awali dengan perkenalan menjadi hangat dan akrab. Jefri yang awalnya merasa enggan untuk di campuri kakaknya lun mulai ikut terbawa suasana nimbrung dengan obrolan Sera, kakaknya dan teman-temannya.Sejenak, Sera merasa menemukan lagi dirinya yang hilang bertahun-tahun hanya karna satu nama. Ia tertawa, bertukar lelucon dan mendengar dengan serius cerita lelaki yang berusia sembilan tahun lebih muda darinya.Daging yang mereka panggang sudah matang. Nicole membawanya ke tengah mereka dan dengan cepat mereka melahap hasil olahan mereka yang rela bergumul dengan asap demi hidangan sederhana namun di nikmati bersama cerita yang saling terlontar hingga mereka memahami satu sama lain.Raja mengambil gitar d







