Share

Curhatan Viana

Penulis: Kurnia_cy
last update Tanggal publikasi: 2026-01-30 10:40:18

Seiring dengan suara teriakan itu, suara decit mobil yang direm secara mendadak ikut menambah tegang suasana.

Sementara itu Viana yang baru menyadari situasi, berdiri dengan tubuh gemetar. Bagaimana tidak, nyaris saja dia akan menjadi korban kecelakaan jika pengemudi mobil itu tidak sigap mengerem mobilnya.

Namun, Viana tidak menyalahkan pengemudi mobil itu. Dia sadar, dia yang telah salah berjalan di jalur lalu lalang kendaraan bermotor. Hal ini lantaran pikirannya yang kacau sehingga dia tida
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Madu Pemberian Ipar    Pulang Ke Kota J

    Setelah memantapkan hati untuk memilih Feyla, Yanto pun beringsut mendekati meja kecil yang tadi sempat dijungkirbalikkannya karena emosi dengan kepergian Viana yang secara diam-diam, tapi sekarang sudah ditegakkan lagi oleh Runi.Di atas meja itu terdapat sebuah kotak berisi makanan yang tadi dipesan oleh Runi dan sebotol air mineral berukuran sedang. Yanto membuka kotak makanan itu. Aroma makanan yang harum langsung menyerbu indra penciumannya dan membuat cacing dalam perutnya meronta-ronta.Yanto segera menyantap makanan itu dengan lahap. Akan tetapi, disaat dia sedang mengunyah makanannya, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di benaknya.'Tapi nanti kalau Viana bercerai dariku, itu berarti dia akan jadi janda dan tidak tertutup kemungkinan dia akan menikah lagi dengan pria lain suatu saat nanti. Tidak, aku tidak boleh membiarkan hal itu sampai terjadi. Aku tidak rela Viana dimiliki pria lain. Selamanya Viana harus tetap menjadi milikku. Aku harus mencarinya sampai ketemu dan memba

  • Madu Pemberian Ipar    Merenung

    Sementara itu, Feyla yang kini sudah berada di dalam kamar tampak menggeram kesal akibat Yanto yang berani menamparnya."Mas Yanto sungguh keterlaluan. Teganya dia menamparku seperti ini hanya demi membela perempuan munafik itu," gumamnya sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Rasa sakit bekas tamparan itu masih terasa dan hal itu kian menambah kebenciannya kepada Viana."Semua ini gara-garamu, Viana! Aku harus membalasmu, aku tidak rela diperlakukan seperti ini dan aku pastikan kau tidak akan bisa kembali lagi ke sisi mas Yanto. Kau harus enyah dari kehidupan kami," geramnya."Mudah-mudahan perempuan itu tidak akan pernah lagi kembali ke rumah ini dan kalau pun dia balik, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengusirnya dari sini," tekad Feyla sambil sesekali mengusap pipinya yang terasa perih.Kemudian Feyla meraih ponsel yang ada di sampingnya, mengirim pesan kepada Susi agar mengurus Randy dengan baik karena untuk sementara ini dia tidak mau keluar kamar. Dia juga mengirim p

  • Madu Pemberian Ipar    Pertengkaran

    Akhirnya setelah sekian detik mematung, Feyla memberanikan diri untuk bertanya, meski dia tahu saat ini Yanto tengah dikuasai emosi. Sedikit rasa khawatir menyelusup ke dalam hatinya, tetapi rasa penasaran mengalahkan kekhwatirannya itu."Mas...apa yang terjadi?" tanyanya dengan hati-hati sambil melangkah pelan memasuki kamar yang masih dipenuhi dengan pecahan kaca yang berserakan sedangkan Runi lebih memilih tetap berdiri di ambang pintu kamar.Yanto mengangkat wajahnya dan Feyla bisa melihat kilatan emosi dan kecemasan terpatri di wajah itu secara bersamaan."Viana sudah pergi, Fey. Dia benar-benar pergi dari sini, semua barangnya sudah dibawa dan dia meninggalkan sepucuk surat yang memberitahukan kepergiannya," adu Yanto dengan suara serak.Feyla terdiam, dalam hatinya bersorak gembira, tapi tak diperlihatkannya secara terang-terangan. Begitu juga hal nya dengan Runi. Seulas senyuman merekah di bibirnya kala mendengar berita tersebut.'Akhirnya dia pergi juga. Kini aku tidak perlu

  • Madu Pemberian Ipar    Yanto Mengamuk

    Apa sih kelebihan perempuan itu di mata mas Yanto sampai segitunya dia bersikap. Kaya nggak. Cantik? Lebih cantikan aku, bahkan dia itu mandul. Apa lagi yang mau dipertahanin dari perempuan model itu,' gerutunya dalam hati.Namun, tentu saja dia tidak bisa meluapkan semua itu untuk saat ini karena dia menyadari bahwa suaminya sedang dalam keadaan kesal."Viana! Viana!" teriak Yanto seraya membuka pintu kamar Viana.Kosong dan sunyi. Pemandangan itulah yang disaksikan oleh Yanto ketika pintu kamar telah terbuka.Ranjang nampak bersih dan rapi seperti tidak pernah ditiduri. Perlahan lelaki itu melangkah masuk ke dalam. Kedua matanya menyapu sekeliling ruangan. Dia melihat meja rias yang biasanya diisi oleh beberapa peralatan make up dan skincare milik Viana kini tampak bersih tanpa ada satu benda pun di atasnya.Perasaan tidak nyaman langsung menghinggapi dirinya.Dengan jantung berdebar kencang, Yanto menuju ke lemari pakaian, membukanya dengan gerakan cepat dan seketika itu juga, kedu

  • Madu Pemberian Ipar    Menanyakan Viana

    "Iya, Mbak. Soalnya aku udah blank banget. Bayang-bayang perlakuan Yanto pada diriku terus terbayang-bayang di depan mataku dan ada sebuah dorongan kuat dari dalam diriku untuk segera keluar dari rumah itu.""Lantas kau tidur dimana semalam? Kenapa tidak ke rumahku saja?""Mana berani aku ganggu orang di tengah malam kayak gitu, Mbak. Apalagi ada suami Mbak di rumah. Makin seganlah aku. Jadi malam itu, aku numpang tidur di penginapan yang terletak di ujung gang ini, penginapan yang punya bu Helen itu lho.""Pagi harinya aku langsung ke rumah sakit untuk melakukan visum dan dari sana aku langsung ke sini. Tapi sebelumnya aku menelepon Mbak dulu karena ada sesuatu hal yang ingin kusampaikan selain masalah perbuatan si Yanto itu."Pembicaraan mereka terhenti sejenak karena pelayan kafe datang mengantarkan pesanan Viana.Mika menatap pelayan yang sedang menyajikan makanan di atas meja. Dua porsi makanan dan dua gelas minuman disajikan oleh pelayan itu dengan hati-hati. Setelah selesai, pe

  • Madu Pemberian Ipar    Bertemu Mika

    "Papa kok lama kali sih datang ke sini. Randy sudah lapar tau," omelnya dengan mulut manyun."Maafkan Papa, Sayang. Tadi papa ada sedikit urusan. Sekarang kita makan aja, yuk," ajak Randy."Oke, ayok Papa.""Papa aja yang diajak makan. Mama gimana? Mama jadi sedih deh kalau Randy gak ngajakin mama." Feyla berpura-pura merajuk dan memasang raut wajah sedih."Iya, mama juga. Ayok," sahut Randy sambil menggandeng tangan Feyla dan Yanto masing-masing di sisi kiri dan kanan tubuhnya.Susi yang melihat hal tersebut hanya tersenyum tipis. Di satu sisi dia sedikit terbawa arus dalam suasana bahagia yang diperlihatkan oleh keluarga kecil itu, tetapi di satu sisi, hatinya miris mengingat bahwa kebahagiaan itu dibangun di atas penderitaan wanita lain."Mbak Susi, aku mau suap sendiri saja," pinta Randy sambil mengambil alih piringnya dari tangan Susi.Setelah menyerahkan piring kepada Randy, Susi segera undur diri untuk mengambil tas sekolah Randy sekaligus mengecek buku dan peralatan sekolahnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status