Hangatnya Ranjang Suami Pengganti

Hangatnya Ranjang Suami Pengganti

last updateLast Updated : 2026-06-10
By:  ErumanstoryUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
13views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

#Novel Romantis Dewasa 21+ Hanya satu minggu sebelum janji suci diucapkan, Adista malah memergoki tunangannya sedang bercumbu mesra dengan sekretaris pribadinya. Alih-alih meratap dan membatalkan pernikahan yang akan mempermalukan nama besar keluarganya, Adista memilih jalan yang lebih nekat, yaitu dengan mencari mempelai pengganti! Ia menemukan Fero, seorang pria asing yang sedang babak belur dihajar preman di sebuah gang gelap. Di mata Adista, Fero adalah solusi instan, pria yang menjadi suaminya selama satu tahun di atas kertas. Tapi, di saat Adista berada dalam titik terpojok, pria yang tak punya apa-apa itu malah muncul kembali dalam balutan jas mahal, diiringi para asisten dan pengawal yang memanggilnya dengan penuh hormat.

View More

Chapter 1

Sebuah Takdir

Seminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu.

"B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlambat laju mobilnya.

"Astaga, itu pengeroyokan?"

Di dalam gang, lima orang pria berbadan besar sedang membabi-buta memukuli seorang laki-laki yang terlihat sudah tergeletak tak berdaya. 

"Bu Adista, jangan bertindak macam-macam. Kita telepon polisi saja! Saya tidak mau ibu kenapa-kenapa." Hana cemas. 

Adista suka bertindak di luar dugaannya. Terkadang ide di kepalanya terlalu liar bagi Hana. 

"Kelamaan kalau nunggu polisi. Keburu mati orang itu. Aku harus menolongnya," ujar Adista.

Sebelum Hana sempat mencegah, Adista sudah melepas sabuk pengaman, dan keluar dari mobil.

"Bu Adista! Ingat, anda sekarang pakai rok span, ya Tuhan! Bu Adista! Bu, jangan!" jerit Hana histeris dari dalam mobil.

Adista tidak peduli. Dia berjalan dengan langkah tegap memasuki gang. 

"Hei, kalian! Beraninya lima lawan satu? Memalukan! Maju sini lawan aku!" teriak Adista lantang.

Kelima preman itu berbalik, menatap Adista dengan pandangan meremehkan. Salah satu dari mereka yang bertato ular di lehernya maju sambil terkekeh. 

"Wah, ada neng cantik mau minta diserang? Tidak usah sok jago, bagaimana kalau kita ke hotel saja untuk bersen—"

Brak!

Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, tendangan  Adista mendarat telak di rahangnya. Pria itu langsung terjungkal dan pingsan di tempat.

"Kurang ajar! Serang dia!" teriak preman yang lain.

Empat orang sisanya maju bersamaan. Adista bergerak dengan lincah. Dia merobek sedikit belahan rok spannya agar pergerakannya lebih bebas. 

Dalam waktu kurang dari tiga menit, kelima preman itu sudah terkapar di tanah, mengaduh kesakitan.

"Masih ada yang mau mengajakku ke hotel?" tanya Adista sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, napasnya bahkan tidak tersengal.

Melihat lawan mereka bukan manusia biasa, para preman yang masih bisa bergerak langsung tertatih-tatih melarikan diri, meninggalkan bos mereka yang masih pingsan.

Adista mengembuskan napas panjang, lalu buru-buru mendekati laki-laki yang menjadi korban. Dia berlutut di samping tubuh yang tak berdaya itu.

"Hei, kamu bisa mendengarku?" Adista menepuk pipi laki-laki itu pelan.

Laki-laki itu terbatuk pelan. Luka lebam di sekujur wajahnya. Meski dengan penampilan berantakan, Adista tahu pria ini cukup tampan. Badannya tegap dengan otot yang padat di balik kaos longgarnya, wajahnya memiliki garis rahang tegas.

Saat merapikan rambutnya yang menutupi wajah, Adista merasa wajah laki-laki itu sangat familiar.

"Bu Adista! Anda nggak apa-apa?! Ada yang luka?" Hana berlari menghampiri dengan wajah pucat pasi.

"Hana, bantu aku," kata Adista cepat, suaranya terdengar mendesak. "Kita bawa dia ke rumah sakit terdekat."

Saat Adista hendak merangkul tubuh pria itu, tangan pria itu bergerak dan sontak mencengkram lengannya.

"Jangan… rumah sakit."

Adista mengernyitkan kening. "Lukamu parah begini, apa mau dibiarkan aja?"

Pria itu tidak menjawab dan bernapas dengan berat, terlihat kesakitan. Tapi tangannya tidak melepaskan cengkramannya. Kelihatannya dia sangat tidak mau dibawa ke rumah sakit, entah apa alasannya.

"Baiklah. Kita bawa saja ke rumahku."

Hana melotot. "Apa? Ke rumah ibu? Bu Adista, kita bahkan nggak tahu dia siapa! Bagaimana kalau dia penjahat? Ibu jangan gegabah."

"Nggak papa, bantu aku papah dia ke mobil. Hubungi juga Dokter Bram, suruh dia stand-by di rumahku."

Hana menghela napas panjang, tahu bahwa jika Adista sudah mengambil keputusan, tidak ada yang bisa membantahnya. "Baik, baik. Tapi bagaimana kalau pak Stevan tahu ibu membawa laki-laki asing ke rumah seminggu sebelum pernikahan? Dia akan salah paham, Bu."

"Itu urusanku, Hana. Ikuti saja perintahku."

Satu jam kemudian, suasana di kediaman mewah Adista sudah lebih tenang. Dokter Bram baru saja keluar dari kamar tamu setelah mengobati luka-luka laki-laki itu.

"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Adista yang menunggu di luar kamar bersama Hana.

"Tidak ada luka dalam yang serius, Non Adista. Hanya memar di permukaan dan kelelahan ekstrem. Saya sudah membersihkan lukanya dan memberikannya infus nutrisi. Perawat juga sudah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Dia hanya butuh istirahat sampai besok pagi," jelas Dokter Bram ramah.

"Terima kasih banyak, Dok."

Setelah mengantar Dokter Bram keluar, Adista merasakan tubuhnya sendiri sangat lengket. "Hana, kamu bisa pulang sekarang. Terima kasih bantuannya hari ini. Aku mau mandi dulu."

"Sama-sama, Bu. Ingat, jangan sampai lupa makan malam dengan pak Stevan. Dia pasti sudah menunggu ibu," ingat Hana sebelum berpamitan.

Adista tersenyum dan mengangguk. Dia segera masuk ke kamarnya, melepaskan pakaian kerjanya yang sempat terkena debu jalanan, dan berdiri di bawah pancuran air hangat. 

Sebuah anggilan dari Stevan datang tepat di saat Adista selesai bersiap. 

"Halo, Sayang? Aku baru saja selesai bersiap—"

"Adista sayang, maaf ya, " potong suara Stevan di seberang telepon. Suaranya terdengar agak terengah-engah dan berisik oleh latar belakang suara ketikan. "Malam ini sepertinya kita harus batal makan malam."

Senyum Adista perlahan pudar. "Batal? Kenapa? Ada masalah?"

"Iya, urusan pekerjaan di kantor benar-benar mendesak. Ada audit mendadak dari investor asing, dan aku harus lembur semalaman ini untuk merapikan laporan keuangan. Maaf banget ya, Sayang. Aku benar-benar merasa bersalah."

Adista terdiam sejenak. Ada rasa tidak percaya, tetapi dengan cepat Adista menepis itu. 

"Oh, begitu ya... Ya sudah, tidak apa-apa, Stevan. Pekerjaan memang nomor satu. Jangan lupa makan malam ya, jangan sampai sakit," kata Adista lembut, berusaha menyembunyikan kekecewaannya.

"Makasih ya, Sayang, kamu memang yang paling pengertian. Aku tutup dulu ya, love you."

Telepon diputus sepihak. 

Saat berjalan melewati meja konsol di dekat ruang tamu, mata Adista tidak sengaja melihat flashdisk milik Stevan. 

Adista menepuk jidatnya. "Astaga, ini kan flashdisk dokumen tender penting milik Stevan yang ketinggalan waktu dia mampir ke rumah kemarin malam."

Adista melirik jam dinding. Masih jam delapan malam. 

"Daripada dia kelabakan mencari ini untuk lemburnya, lebih baik aku antarkan saja ke kantornya. Sekalian memberi kejutan kecil," gumam Adista bersemangat. Dia mengambil flashdisk tersebut dan langsung bergegas menuju mobilnya.

Perjalanan menuju kantor Stevan memakan waktu sekitar dua puluh menit. Gedung kantor milik keluarga Stevan tampak sepi, hanya beberapa lampu lantai atas yang menyala, menandakan memang ada yang sedang lembur.

Adista menyapa satpam penjaga di lobi yang sudah mengenalnya dengan baik, lalu naik menggunakan lift menuju lantai kerja Stevan. 

Adista berjalan berjinjit, berniat mengejutkan tunangannya.  Dia bersiap memutar knop pintu.

Tapi tiba-tiba tangannya seakan kaku. 

Dari celah pintu yang rupanya tidak tertutup rapat, terdengar suara seorang wanita yang mendesah keenakan.

"Ah... Stevan, pelan-pelan... Bagaimana kalau tunanganmu yang sok suci itu tiba-tiba datang?"

Adista berdiri terpaku, dan air matanya jatuh begitu saja tanpa komando.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status